
Harapan baru di hari yang baru, sebagian orang memperjuangkan hidupnya untuk hari ini, tidak ada yang tahu musibah apa yang akan terjadi dan tidak ada juga yang tahu, kebaikan apa yang akan dia terima hari ini, semua bagai sebuah buku catatan, buku catatan yang siap diukir oleh tinta, ntah itu tinta hitam atau tinta emas.
Menunggu kebahagiaan datang itu mustahil, namun untuk menjemputnya sangatlah mungkin, kebahagiaan itu tercipta bagi siapa saja yang menginginkannya, terlepas dari segala masalah yang dihadapinya. Tidak jauh beda dengan Edo, hari ini adalah harapan baru baginya dan mulai hari ini, sebuah cerita baru akan dituliskannya.
“Maaf jika kau lama menunggu, ayo naiklah...” kata seorang anak bertubuh gempal kepada Edo dari atas motor.
“Kau mencucinya? Seharusnya tidak perlu...” ucap Edo sembari memperhatikan kendaraan yang ditunggangi anak bertubuh gempal itu.
“Seharusnya kau menjaga kendaraanmu, setidaknya setiap 1 minggu sekali kau mancucinya...” jelas anak bertubuh gempal itu.
“Hahahaha, memang lebih baik jika kendaraan ini ada padamu, lagi pula... aku jarang sekali memakainya, kau lebih membutuhkannya” jelas Edo kepada sahabat barunya itu.
“Hei... kau baru dekat denganku, kenapa kau begitu percaya padaku?” tanya anak itu.
“Namamu Vandu kan? Aku sudah mengenalmu, aku sudah mengetahui rumahmu... lagi pula kita ini adalah teman, jika aku membutuhkan kendaraan itu, aku bisa menghubungimu, satu lagi, aku juga belum punya SIM kan?” kata Edo dengan senum.
“...baiklah, terima kasih sudah percaya padaku, beruntung sekali mengenalmu...” kata Vandu disusul Edo yang segera menaiki motornya.
Kebaikan itu selalu ada di sekitar, namun banyak yang tidak mengetahuinya, disaat-saat seperti ini, orang baik bukan berkurang, tapi mereka tidak terekpos. Saat ini di media manapun sering menyajikan kabar dusta dan orang-orang menikmati itu. Di situ juga sering terlihat orang yang "KATANYA" baik, namun itu hanya sebuah kamuflase agar apa yang diinginkan orang itu dapat terwujud.
Kebanyakan orang melupakan begitu banyak kebaikan saat 1 kesalahan diperbuat orang lain, bukankah satu titik kecil di sebuah kertas putih akan sangat terlihat? Sama dengan Vandu saat ini, kenakalannya di sekolah bagaikan titik hitam disebuah kertas putih.
Empat tahun lalu, seorang anak yang giat belajar, tujuannya sangat mulia dengan tekat yang luar biasa, yaitu memperbaiki ekonomi keluarga suatu saat nanti, gambar dirinya rusak dikala orang tuanya harus berpisah. Umur yang bisa dikatakan adalah umur dimana emosi sering tidak terkendali, membuat anak itu terus mencari perhatian kepada orang sekitar, baik itu kepada orang tua, saudara dan bahkan orang lain.
Sulit baginya saat itu, apa lagi pergaulannya sangat tidak baik, bukankah pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik? Mencari sebuah pengakuan yang didapatkan dari orang yang salah adalah awal dari hancurnya karakter anak itu.
Namun saat ini, anak itu kembali tersenyum, merasa sangat dihargai dan merasa berarti, itu membuatnya mengetahui, bahwa harapan itu akan terus ada. anak itu melihat ke arah kaca spion, seorang anak yang berada duduk di belakangnya yang saat ini, adalah bentuk dari sebuah kekuatan hati.
Mendengar cerita yang tidak sengaja didengarnya tadi malam di rumah sakit, membuatnya berpikir, bahwa bodohnya ia selama ini, masih ada orang yang lebih terpuruk darinya dan itu tidak sedikit, tapi sangat banyak.
__ADS_1
“Vandu, apakah ada orang yang koma atau tidak sadarkan diri selama bertahun-tahun?” tanya Edo dalam kemurungannya.
“Jujur saja, saat mendengar ceritamu tentang sahabatmu yang tidak sadarkan diri begitu lama, aku coba mencari sebuah jawaban, apakah ada orang yang seperti mereka, ternyata banyak dan ada yang sampai belasan tahun” jawab Vandu dengan terus fokus mengendarai sepeda motor.
“Ya... aku juga pernah membacanya, tapi....” ucap Edo ragu.
“Kau jangan berpikir yang aneh-aneh, aku yakin mereka akan tersadar...” kata Vandu yakin.
“Iya, aku harap semua akan baik-baik saja” respon Edo.
Hari itu sekolah berjalan seperti biasa dan saat ini, seorang yang datang di kelas Edo bukan lagi sebuah imajenasi Edo, memang bukan Hengkie ataupun Mira. Namun Vandu, seorang yang selama ini menjadi musuh bagi Edo, bahkan bagi setiap siswa di SMA Linggar.
“Hei... benarkah apa yang aku lihat?” kata seorang anak di kelas Edo.
“Waduh... apakah anak itu sudah berkomplot dengan anak-anak pembuat onar di sekolah ini?” seorang yang lainnya berkata.
“Dia yang hanya diam di kelas dan sering berbicara sendiri saja sudah membuatku kesal, apa lagi bergabung dengan anak berandalan itu?” sahut anak lainnya.
“Adakah yang bisa jelaskan ini semua?”
“Bisakah seseorang meminta kepada wali kelas untuk memindahkan si gila itu?”
“Nama baik kelas kita tercoreng gara-gara dia”
“Sial...”
Suasana kelas riuh seketika, celaan dan fitnah mengalir bagai air disetiap lidah anak-anak di kelas itu. Begitupun disetiap lorong sekolah, mata-mata bagai menindas dan perkataan kasar terus terdengar kala itu, ini adalah hal yang baru bagi Vandu.
Sekolah Linggar, adalah sekolah dengan setiap anak-anaknya memiliki nilai pelajaran di atas rata-rata, namun kesombongan, iri hati dan dengki, mengalahkan rasa kemanusiaan mereka. Seorang anak yang tertinggal bukan untuk ditinggalkan, seorang anak yang salah bukan untuk dijauhi dan seorang anak yang bodoh bukan untuk dikucilkan, bukankah itu sifat manusiawi yang bermartabat?
__ADS_1
Manusia yang bersosial, berakal, berilmu dan beragama, sangat berbeda dari sekumpulan hewan yang hidup berkelompok. Sadar atas kesalahan yang pernah dibuatnya, membuat Vandu menerima apa yang saat ini dihadapinya, pikirnya ini adalah awal memulai suatu hal yang baik dan cara yang baik pula, untuk menempah mentalnya dalam bersosial.
“Apakah kau tidak apa-apa?” tanya Edo yang sudah duduk di kantin sekolah.
“Sama sekali tidak apa-apa, kau tenang saja hehehehe” jawab Vandu.
“Sudah sekian lama aku tidak datang ke tempat ini” kata Edo sambil memperhatikan setiap sisi kantin sekolah, walau setiap mata terus memperhatikan mereka.
“Kau tidak datang kemari, itu semua karena aku kan?” tanya Vandu dengan wajah menyesal.
“Hahaha, tidak juga, aku lebih suka berada diperpustakaan...” jawab Edo.
"Oh yah... 3 bulan lagi ujian kelulusan akan tiba, kau sudah mempersiapkannya?” tanya Edo.
“Mungkin akan sulit bagiku untuk lulus, tapi mau bagaimana lagi? Semuanya salahku... aku sudah siap dengan segala konsekuensinya” ucap Vandu yang terlihat sedih saat itu.
“Apakah kau tidak mau berusaha?” tanya Edo.
“Aku menerima segala kemungkinan yang ada, tapi bukan berarti aku tidak ingin berusaha, walaupun kemungkinannya kecil untuk lulus, aku pasti akan berusaha” jawab Vandu bersemangat.
“Baiklah, aku akan nmembantumu... datanglah ke rumahku setiap jam 7 malam, bila perlu ajak teman-temanmu yang duduk di sana untuk datang juga, kita akan belajar bersama” kata Edo sambil menunjuk ke arah dua orang anak laki-laki.
Dua orang anak itu bernama Andri dan Fajri, mereka adalah teman sekelas Vandu. Keduanya masih takut berhadapan dengan Edo, dibalik wajah yang terlihat baik milik Edo, mereka tahu betul bahwa Edo adalah seorang yang kejam, jika mengingat kejadian waktu itu, membuat mereka selama ini enggan untuk berpapasan atau sekedar saling memandang.
Saat ini, mereka memberanikan diri untuk duduk bersama dan saling bercerita. Bagi Edo, membantu anak-anak itu adalah tugas yang mulia, melihat perubahan sikap mereka adalah nilai penting baginya. banyak yang mencela, banyak yang mengolok dan banyak pula yang memaki. Tapi semua itu tidak dibalas berupa fisik, namun sebuah bentuk nyata yang dapat merobohkan pola pikir, karakter dan moral setiap orang yang rusak.
Sementara itu, disebuah ruangan rumah sakit, duduk dua orang wanita, yang satu memakai pakaian berwarnah putih dan satu lagi seorang ibu dengan mantel berwarna coklat, wajah ibu itu terlihat terlihat cemas menunggu informasi terbaru dari dokter yang duduk di hadapannya.
“Mukjizat itu memang selalu ada, mereka sangat kuat dan terus berjuang... ada tanda-tanda baik dari kedua anak anda, kami harap semakin hari keadaan mereka semakin membaik” ucap salah seorang dokter saat itu.
__ADS_1
“Benarkah... terima kasih dokter...” ucap ibu Desti dengan kebahagiaan penuh harapan di wajahnya.