
Malam saat itu terasa sangat panas, seorang gadis terlihat sangat gelisah disebuah kamar, sesekali gadis itu mengintip dari jendela kamarnya.
Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB, sebuah mobil sedan terlihat memasuki pekarangan rumah gadis itu, segera gadis itu beranjak dari tempat tidur untuk segera turun ke lantai satu rumahnya. Tidak berapa lama dari arah pintu, masuk seorang lelaki setengah baya, wajahnya terlihat lelah dengan tas laptop di tangan kanannya, laki-laki itu memakai kaca mata dengan kumis tipis menghiasi wajahnya.
"Ah... belum tidur kau Mira?" tanya laki-laki itu sembari berjalan melewati anaknya.
"Belum ayah..." jawab Mira yang sedari tadi menunggu kepulangan ayahnya.
"Hmm... tidak biasanya... apakah sulit untuk tidur?" tanya ayah Mira sambil membuka minuman yang baru diambilnya di kulkas.
"..."
"Kenapa dengan wajahmu itu dan kenapa pula kamu masih berdiri di situ?" tanya ayah Mira yang saat itu melihat wajah Mira yang terlihat ragu, serta Mira yang masih berdiri di bawah tangga.
“Aku ingin ke Manado” kata Mira dengan menundukkan kepala.
Gelas yang menempel di bibir ayah Mira terhenti sejenak, ayahnya melihat ke arah Mira dengan botol mineral di tangan kanannya dan gelas yang terisi sedikit air di tangan kirinya.
“Hmmm maaf ayah tidak bisa, walau sekarang sekolah libur, nanti kita cari waktu liburan yang terbaik dan kita sama-sama ke sana” ucapnya yang mengira Mira meminta libur bersama di Manado.
“Maaf ayah... tapi aku kesana bukan ingin berlibur” kata Mira dengan jari-jemarinya mulai bergerak, ayahnya tahu dengan gerak-gerik anaknya, matanya tertuju kepada jari-jemari Mira kala itu, ia meletakkan botol dan gelas di sebuah meja dan berusaha mendengar keinginan anaknya.
“Lalu jika tidak berlibur, kamu kesana dalam rangka apa?” tanya ayah Mira dengan suara lembut.
“...aku ingin melanjutkan SMA di sana ayah...” jawab Mira ragu.
Dahi ayahnya mengerut, Mira dapat melihat rasa tidak senang ayahnya, mendengar apa yang baru dia katakan, semua orang tua pasti tidak akan suka, jika anak perempuannya pergi jauh dari rumah. Mira melihat ayahnya memejamkan mata, kemudian ayah Mira mendekatinya, pikir Mira apakah ayahnya begitu marah kepadanya? Namun, semua itu terjawab dengan pelukan hangat ayahnya.
“Maafkan ayah Mira, selama ini tidak dapat menjadi ayah yang baik untukmu” kata ayah Mira dengan terus memeluk puterinya.
“Ayah tidak ingin kehilangan seseorang yang ayah sayangi, kamu adalah harta milik ayah satu-satunya” kembali ayah Mira berucap.
“...jika tidak ingin kehilangan orang yang ayah sayangi, kenapa ayah tidak pernah ada untukku?” tanya Mira dengan nada yang teramat datar.
“Mafkan ayah, itu memang kesalahan terbesar ayah, ayah melakukan ini agar keluarga kita tidak berkekurangan, ibu kamu pergi karena dulu kita hidup berkekurangan” jawab ayah Mira lirih.
"Maafkan ayah Mira, sangat sulit bagimu 2 tahun ini, sungguh ayah minta maaf" sambung ayah Mira.
“Aku sudah memaafkan ayah, selama ini aku tidak pernah meminta kepada ayah, apakah ayah bisa mengabulkan permintaanku?” tanya Mira yang belum membalas pelukan ayahnya.
__ADS_1
“Apa permintaanmu, bersekolah di Manado? Ayah mengijinkanmu sayang” jawab ayah Mira dengan melepas pelukannya dan kembali melihat wajah anaknya.
“Benarkah ayah? Terima kasih” Mira begitu amat bahagia, dipeluknya ayahnya sambil terus mengatakan terima kasih kepada ayahnya.
Ayah Mira terlihat sedih namun dalam hati kecilnya sangat bahagia, bisa melihat senyum anaknya adalah sebuah kesenangan sendiri baginya, pikirnya hanya 3 tahun dan akan segera berakhir, kalaupun ada waktu ia bisa mengunjunginya di sana.
------
Hari Valentine di hari Senin, sekolah SMP 1945 yang harusnya libur semester. Namun hari ini, sekolah masih dipenuhi siswa SMP 1945 itu sendiri dan siswa-siswa SMP lainnya, pertandingan Final antara SMP 1945 dan SMP Garuda, adalah tujuan para siswa berkumpul di sekolah SMP 1945.
Di dalam kantin, seorang gadis cantik berambut panjang terus memperhatikan layar telphone genggamnya, banyak sekali pertanyaan dalam hatinya, sehingga begitu nampak dari wajahnya yang begitu gelisah, satu minggu tidak ada kabar dari sahabatnya, ini adalah hal yang tidak biasa.
“Hoiiiii.... melamun saja...!!!” suara Mira tiba-tiba terdengar dari arah belakang gadis itu.
“Aaaakkkkkkkk......!!! kamu gila yah Mira!!” teriak gadis itu dengan memegang dadanya.
“Hehehehe maaf... maaf...” ucapnya sembari duduk di sebelah gadis itu.
“Kau sekarang sudah sama dengan Gorila yang jail itu” kata gadis itu sedikit kesal.
“Hehehehe... apa yang kau lakukan Devi? Apakah masih belum ada kabar dari Edo?” tanya Mira.
“Belum, sama sekali belum... aku cemas ada apa dengan dia” jawab Devi.
“Iya memang benar, tapi kami bertiga sudah sama-sama berjanji” Devi menjelaskan.
“Berjanji untuk kembali ke sana dan bersekolah bersama?” sambung Mira dengan masih saja tersenyum memandang sahabatnya.
“Kau tahu dari Hengkie yah?” tanya Devi dengan mata yang sedikit tajam melihat sahabatnya.
“Iya, kau tenang saja, tinggal satu tahun lagi dan kita akan ke sana” Mira coba menenangkan sahabatnya dengan memegang tangan sahabatnya itu.
“Satu tahun terasa lama, aku sudah tidak sabar... eh...” mata Devi kembali melihat ke arah Mira, ada satu kata yang membuatnya terkejut.
“....???” Devi tidak bisa bertanya, hanya wajahnya saja seolah menekan Mira.
“Iya kita” jawab Mira yang sudah tahu dengan mimik wajah milik sahabatnya itu.
“Kau serius?” tanya Devi yang masih kurang percaya.
__ADS_1
“Hu um....” dijawab dengan anggukan Mira.
“Aaaggghhhhh....!!! aku sangat senang mendengarnya Mira” teriak Devi dengan memeluk sahabatnya itu.
Mira menjelaskan kepada Devi bahwa ayahnya telah setuju dengan keputusannya, dia juga mengatakan akan sekolah di sana namun di sekolah yang memiliki ekskul olah raga basket, Mira juga sudah menggoogling sekolah dengan ekskul terbaik di Tomohon dan dia sudah menemukannya, walaupun bukan sekolah Linggar, baginya tidak masalah, asalkan masih dekat dengan tempat Devi dan Hengkie tinggal.
Di sebuah ruangan, seperti biasa sebelum bertanding, segerombolan anak laki-laki mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk memeriahkan pertandingan, sebuah spanduk, beberapa foto Mira dan Timnya, semuanya terkumpul dengan baik di ruangan itu.
“Hari ini Final, aku tidak mau semangat kita kendur... pokoknya beri semangat yang dapat membakar tim dari sekolah kita...!!!” teriak Hengkie berapi-api.
“Tim sekolah kita? Bukankah semua ini untuk Mira saja yah boss?” tanya Danu polos.
“Iya tim sekolah kita, Mira jugakan tim dari sekolah kita...!!!” teriak Hengkie coba menjelaskan dengan penjelasan ngawurnya.
“Ehhh iya yah boss... hehehehe” Danu hanya mengiyakan penjelasan Hengkie dengan bodohnya.
“Baik kalau begitu kita harus semangat....!!!” teriak Hengkie yang saat itu berdiri di atas meja diikuti teriakan teman-temannya.
Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB, lapangan sekolah SMP 1945 sudah dipenuhi oleh ratusan siswa, mereka datang dari berbagai sekolah untuk menyaksikan pertandingan antara SMP 1945 dan SMP Garuda. Para pemain sudah memasuki lapangan, terlihat Mira dengan kecantikannya memakai handband pemberian Hengkie, warna merah handband itu serasi dengan kuncir milik Mira.
“Dia memakainya, aku senang sekali” gumam Hengkie dalam hati.
“Apakah dia melihatnya?” tanya Mira dalam hati, berharap handband dilengannya dilihat oleh Hengkie.
Pertandingan dimulai, yell-yell yang tidak menyenangkan kembali terdengar dari selatan lapangan tepat di bawah ring basket, disana juga terbentang spanduk bertuliskan “MIRA SELALU YANG TERBAIK...!!!”, spanduk itu terlihat lebih besar 3x lipat dari sepanduk-spanduk sebelumnya.
“Anak laki-laki di sana seram-seram tapi kok aneh yah?” tanya seorang anak dari sekolah Garuda, ia melihat Danu, Rudi dan Hengkie yang memiliki wajah yang tidak biasa kala itu.
Poin demi poin dihasilkan oleh SMP 1945 dengan Mira sebagai antagonisnya, tidak ada bola yang meleset dari tembakan Mira, semuanya menjadi poin yang menguntungkan SMP 1945, riuh penonton menggelegar dengan nama Mira yang mereka ucapkan, kecantikan, kelincahan serta gayanya yang keren, membuat setiap mata tertuju kepada Mira saat itu.
“Aku datang kemari hanya untuk melihatmu Mira...!!!” teriak seorang anak laki dari pinggi lapangan.
Sontak mata para laki-laki di sebelah selatan mengalihkan pandangan mereka ke arah anak laki-laki itu, pandangan itu sangat menakutkan.
“Hoi brengsek...!!! jaga ucapanmu...!!!” teriak Danu yang memang tempranental.
“Apa salahku!!!???” jawab anak itu kesal.
“Mau mati yah...!!!???” teriak Danu yang begitu kesal, saat itu juga sebuah tangan memegang pundak Danu.
__ADS_1
“Sudah... focus saja beri tim kita semangat” kata pemilik tangan itu dengan suara yang sangat pelan.
“Oh... baik boss...!!!” jawab Danu.