
Awan gelap dan kilatan petir memenuhi langit kota Tomohon, cuaca yang tadinya cerah berubah menyeramkan. Angin bertiap kencang, seakan mencoba mengangkat atap rumah yang berdiri kokoh, demikian juga dengan pepohonan yang seakan dahannya ingin melepaskan diri dari batangnya.
“Untung kita sudah sampai” kata Hengki sambil berdiri melihat keluar jendela.
“Seram sekali di luar sana” sambung Devi yang juga memandang keluar jendela.
“Mana Edo?” tanya Hengkie.
“Mungkin sedang ke toilet” jawab Devi dengan mata yang masih terus melihat keluar jendela.
Didalam kamar, seseorang membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut. Tangannya gemetar, wajahnya pucat dan jantungnya berdetak kencang seolah ingin meledak.
Setiap bunyi yang dihasilkan petir membuatnya berteriak kencang, tidak ada yang mendengar, suara teriakannya tertutup suara hujan dan angin. Cukup lama dia mengurung diri di dalam kamar saat itu, sampai pada akhirnya, terdengar suara pintu yang diketuk dari luar.
“Edo, apakah kau ada di dalam?” tanya gadis itu.
Tidak ada suara balasan dari balik pintu, wanita itu mulai cemas dengan Edo yang berada di dalam kamar.
“Aku lupa, dia phobia dengan cuaca seperti ini. Sudah, kita masuk saja” tegas Hengkie yang tanpa permisi membuka kamar Edo.
Mereka mendapati Edo yang meringkuk di atas ranjang, seluruh tubuhnya ditutupi selimut tebal dan wajahnya pucat, matanya seolah baru melihat sesuatu yang sangat mengerikan.
“Hei kau, tenanglah... kami ada di sini” kata Hengkie menyadarkan sahabatnya.
“Bisakah kau ambilkan air?” lanjut Hengkie menyuruh Devi sambil terus melihat sahabatnya Edo.
Dengan sesegera mungkin Devi berlari ke dapur, sebuah gelas besar diambilnya dan secepatnya menuangkan air hangat ke dalam gelas itu.
Hujan adalah cuaca yang paling menakutkan bagi Edo, traumanya masih belum sembuh sampai saat ini, melihat hujan dan angin kencang, mengingatkannya pada kecelakaan yang dialaminya waktu itu.
Hampir tiga tahun berteman dengan Edo, Devi dan Hengkie tentu mengerti dengan Phobia Edo pada hujan. Phobia Edo dengan hujan pertama kali dirasakan Edo setelah hujan turun di sekolah Linggar, hujan itu turun disaat Edo baru masuk sekolah lima hari lamanya.
Pada waktu itu, kelas yang tadinya hening berubah ramai, Edo yang duduk di sebelah jendela tiba-tiba berlari ke sudut kelas, dia meringkuk di sana dengan wajah penuh ketakutan, keringatnya membasahi rambut dan wajahnya.
Saat itu pula Edo menjadi tontonan anak-anak di kelasnya, mereka yang awalnya melihat Edo yang berlari ke sudut sekolah, menjadi sangat penasaran dan berdiri dari tempat duduk mereka. Satu dengan yang lainnya bertanya “ada apa dengan dia?” sambil terus mendekati Edo kala itu.
Teriaknya terdengar terus menerus di dalam kelas, semua mata yang memandangnya seolah melihat seorang yang sakit jiwa. “Dia gila mungkin karena benturan di kepalanya”, “Orang gila ini kenapa masuk di kelas kita?”, “Apakah sekolah ini menerima anak sinting seperti ini”, “Lihatlah, dia sangat aneh”, kata-kata itu terdengar jelas ditelinga Edo dan mulai saat itu, seluruh siswa menganggap Edo anak yang aneh dan bahkan gila.
Terkadang Edo bertanya pada dirinya, apa benar dia orang yang sakit? Melihat dan merasakan perlakuan siswa maupun siswi sekolah membuatnya berkecil hati dalam bergaul, tidak ada teman untuk berbagi, baik di sekolah maupun di rumah.
__ADS_1
Seorang gadis dengan wajah cemas terus memandang wajah Edo, tangannya memegang gelas besar yang sudah kosong.
“Edo, amu sudah baikan?” tanya gadis itu kepada Edo yang duduk di pinggir tempat tidur.
“Terima kasih Devi” jawabnya dengan memandang keluar jendela kamar.
Cuaca kembali cerah sore itu, langit yang gelap telah berganti biru, di atas langit terbentuk sebuah garis berwarna-warni, garis itu tepat berada diatas danau Linow.
“Hei lihat itu ada pelangi” kata Devi yang segera menarik lengan Edo, agar mengikutinya berdiri di depan jendela.
“Indah bukan?” lanjutnya sambil melihat wajah Edo yang masih terlihat khawatir.
“Setelah cuaca buruk tadi, tercipta pelangi yang indah. Kau tahu Edo, tidak selamanya hal buruk yang kau alami berakhir buruk pula, tidak selamanya hal indah yang kau alami berakhir indah pula” nasihat Devi dengan tangan kanan yang masih menggenggam tangan Edo.
“Jadi aku harus bagaimana?” tanya Edo lirih.
Mendengar ucapan Edo, mebuat Devi tersenyum manis, saat itu kedua tangan Devi menggenggam tangan Edo.
“Jalani harimu dengan membuang semua kekhawatiranmu, kekhawatiranmu hanya akan merusak dirimu sendiri. Jika kau tidak bisa membuang semuanya itu, ingatlah aku dan dia” lanjut Devi dengan matanya melihat ke arah Hengkie yang berdiri di belakang Edo.
“Yah... jika kau butuh bantuan, kami siap membantumu, persahabatan itu ada bukan untuk berbagi kesenangan saja bukan?” Sambung Hengkie dengan memegang pundak Edo dari belakang.
"Yang kami harapkan dari kamu adalah kebahagiaanmu, bukankah kami ada di sini karenamu?" kata Devi dengan senyum manisnya.
Sesaat wajah Edo tersenyum, seperti ada sebuah kekuatan besar dari kalimat yang disampaikan Devi dan Hengkie.
Mereka saling memandang satu dengan yang lainnya, tidak ada yang menyuruh atau memberi code ketika mereka saling berpegangan tangan.
Devi dan Hengkie terlihat lega dengan keadaan sahabatnya itu yang sudah kembali tenang, namun ketenangan tidak berangsur lama, suara Hengkie mengubah senyum mereka bertiga.
“Hoi... apakah kita sudah bisa nonton drama Korea?” tanya Hengkie dengan suara pelan.
“..... Eh Gorila, sejak kapan kau suka dengan korea-koreaan?” tanya Devi sedikit jail.
“Ehehehehe kan tanggung tinggal 3 episode lagi” jawab Hengkie sambil menggaruk kepalanya.
"Jujur saja, kamu suka kan denggan drama korea?” tanya Devi lagi dengna menusuk-nusuk pinggang Hengkie seolah merayu Hengkie untuk jujur.
“Ahhhh tidak sama sekal” jawab Hengkie mengelak malu-malu.
__ADS_1
“Akhh jujur saja kau, itu apa yang kau pakai?” tanya Devi yang sedari tadi memperhatikan kain yang mengitari leher Hengkie.
“A.. a.. anu.....” suara Hengie tertahan seolah ragu dengan apa yang akan dikatakannya.
Devi mendekatkan wajahnya, seakan membuat sahabatnya itu salah tingkah, alis matanya sebelah kiri sedikit terangkat, alis itu seperti menekan Hengkie, Devi terlihat sangat jail dan membuat Hengkie semakin salah tingkah.
“INI KAN MUSIM HUJAN-KOTA INI KAN DINGIN-MASA TIDAK BOLEH PAKAI SYAL!?” jawab Hengkie dengan satu tarikan nafas tanpa titik tanpa koma.
“......hmmmm....” wajah Devi datar mendengar perkataan sahabatnya itu.
“APA LAGI!?” gertak Hengkie yang sudah berkeringat dingin.
“Tidak apa-apa” sahut Devi, sambil berjalan melewati Hengkie yang tangannys masih menggenggam tangan Edo.
“.......”
“Oh yah, sebelum menonton, ambil tissue dan kecilkan suara sesenggukan mu jika kau menangis nanti” ucap Devi yang berhenti melangkah.
“Satu lagi, di sini tidak ada salju, jadi tanggalkan sarung tangan serta sepatu Bot mu itu” sambung Devi kembali yang memang mengejek pakaian yang dipakai Hengkie saat itu.
Pada saat itu jiwa Hengkie seakan hilang, dadanya bagaikan tertusuk lembing Moskov (mobil lejen). Seorang yang selalu terlihat macho, gagah berani dengan muka sangar ala Arnold Schwarzenegger ternyata memiliki hati Hello Kitty.
Sesaat Hengkie bagaikan manusia yang tidak tahu arah jalan pulang, untuk keluar dari kamar Edo saja tidak mampu, perkataan Devi barusan membuatnya seperti butiran debu, ia cukup lama berada di dalam kamar Edo merenung tentang dirinya dan berpikir betapa Hello Kitty nya dia.
“Gorila...!!!” teriak seorang gadis dari lantai satu rumah Edo.
“Kau mau nonton tidak!!? Cepatlah sudah mau dimulai...!!!” teriak gadis itu.
Hengkie berjalan menuruni tangga, tubuhnya seakan tidak bergairah.
“Hoi... kau seperti anak kecil saja, sifat-sifat jelekmu banyak sekali yang aku tahu dan sampai sekarang tidak tersebar, apa mau aku sebutkan satu persa.......?” tanya Devi yang mulutnya langsung dibungkam oleh Hengkie.
“Hehehehe sudah-sudah, hentikan” jawab Hengkie yang kembali tersenyum dan berlahan melepas tangannya dari mulut Devi.
“Hmmm makanya tidak usah sok macho atau kuat didepanku, sini kau duduk di sini” kata Devi sambil tangan kirinya memukul-mukul sofa, itu adalah tanda menyuruh Hengkie duduk disebelah kirinya.
Suasana kembali seperti semula, semuanya tampak baik. Edo yang kembali bersemangat juga Devi dan Hengkie yang ribut tanpa henti. Malam minggu itu mereka habiskan dengan menonton dan bermain game dari jam 7 malam sampai jam 9 malam.
Didinding sebelah kiri ruang tamu terpajang beberapa foto masa kecil Edo dengan teman-temannya, di sampingnya ada foto keluarga Edo.
__ADS_1
Berbeda dengan dinding sebelah kanan, dinding itu hanya digantung satu foto saja, foto yang sangat besar dengan gambar seorang laki-laki, tubuhnya tegap berambut klimis lengkap dengan setelan jas hitam.
Mata Edo memandang foto laki-laki itu, foto itu adalah ayahnya yang bernama Handoko, teman-teman bisnisnya memanggilnya Bapak Han atau Mr. Hans.