
Danau Linow disore hari tidak begitu ramai, apa lagi dihari Senin. Saat itu, ada perasaan takut dalam hati Edo, terlihat ia meremas tali ransel yang ada di dadanya, nafasnya tidak beraturan dan tangannya gemetar, dia
berusaha mengontrol dirinya untuk tetap tenang dengan cara mengatur
pernafasannya.
Wanita yang dilihatnya di luar perpustakaan, sama dengan wanita yang ia lihat di lapangan serbaguna sore ini, begitu asing buatnya. Entah mengapa, ada sesuatu yang menyuruhnya pergi dan jangan bertemu wanita itu.
“Kenapa kau berlari, apakah ada seseorang yang mengejarmu?” Tanya Devi dengan wajah cemas.
“Ah… tidak apa-apa” jawab Edo dengan kepala yang tertunduk lemas dan kedua tangan yang tidak berhenti bergetar.
Melihat Edo yang seperti itu membuat kedua sahabatnya cemas, pikirnya akan lebih baik jika Edo segera pulang.
“Mari kita pulang, sepertinya kau akan sakit, melihatmu seperti itu sungguh tidak menyenangkan, apa lagi lingkaran hitam di matamu itu terlihat menakutkan” kata Devi yang langsung memegang tangan Edo.
“Apakah aku mengacaukan hari ini?” tanya Edo yang masih saja terlihat cemas.
“Tidak, dari pertama aku melihatmu hari ini, kau nampak sedang sakit” jelas Devi
“Maafkan aku” jawab Edo dengan kepala tertunduk.
“Tidak perlu minta maaf, apakah menjadi sahabatmu harus seformal ini?” tanya Devi sedikit kesal.
“….” Edo hanya diam, tidak ada yang dapat dikatakannya sore itu.
Kali ini, perjalanan mereka ke rumah Edo tidak dibarengi dengan canda-tawa seperti biasa, bahkan sampai didepan rumah Edo, tidak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya.
“Aku minta padamu untuk beristirahat, jangan sampai kau sakit” ucap Devi yang sedari tadi memegang tangan Edo.
__ADS_1
“Terima kasih untuk kepedulianmu” jawab Edo singkat dan segera berlalu meninggalkan kedua sahabatnya itu.
“sudah aku bilang jangan terlalu formal padaku” marah Devi.
“Maafkan aku” baiklah kalau begitu, aku masuk dulu. ucapnya sembari meninggalkan kedua sahabatnya itu.
Didalam rumah yang teramat sepi tanpa siapapun, edo memandang tangan kanannya, keringat dingin membasahi tubuhnya, dia merasa seperti bagian dalam dirinya ada yang hilang, dia menyeka pipinya yang mulai basah, pikirannya mulai hanyut dalam kesedihan, teman sekolah yang menjauhi dan ayah yang tidak kunjung pulang, perasaan itu terasa sangat memilukan baginya.
“Ayah, mengapa kau lakukan ini padaku, aku selalu sendiri menunggumu” tangis Edo pecah saat itu, tidak ada yang dapat menghiburnya atau sekedar memberikan bahu untuk bersandar, itu tidak ada, yah… tidak akan ada.
Malam itu seorang gadis mudah berjalan disebuah koridor rumah sakit, langkahnya begitu cepat, gadis itu memakai aksesoris yang begitu banyak pada pergelangan tangan. Setibanya gadis itu di depan ruangan ICU, didapatinya seorang wanita setengah baya duduk sebuah kursi panjang di ruang tunggu.
“Tante bagaimana keadaan mereka?” tanya gadis itu cemas.
“Tidak apa-apa Mira, kau tenang saja” jawab wanita itu sambil mengelus bahu gadis yang bernama Mira di hadapannya.
Mira, seorang gadis cantik yang sedikit tomboy. Mira bersekolah di SMA Binsus, sekolah yang terkenal dengan olah raga basket putrinya, hampir setiap tahun diadakan kejuaraan basket antar sekolah yang meliputi seluruh sekolah dari provinsi Sulawesi Utara, dan nama SMA Binsus selalu menjadi yang nomor satu dalam tiga tahun ini.
“Tidak mungkin…” gumam gadis itu dengan mata yang menatap tajam dan helm terpasang di kepalanya.
Mira adalah seorang pendatang, dia berasal dari Jakarta dan menempuh pendidikan di SMA Binsus, dia lebih memilih SMA Binsus dikarenakan SMA tersebut sarat akan prestasi dibidang olah raga basket. Satu hal lagi, ada alasan yang sangat pribadi sampai-sampai Mira harus datang ke Tomohon.
Paginya, kain basah dan dingin menempel di kening Edo, seorang wanita yang kira-kira berumur 31 tahun duduk disebelah Edo, wajahnya terlihat cemas, dia begitu sibuk memeras dan meletakkan kain basah di kening Edo, dia adalah wanita yang sangat dikenal Edo, satu-satunya wanita yang merawatnya setelah ibunya meninggal sepuluh tahun lalu.
Tante Stefani, suaranya begitu khas berbicara kepada Edo yang pada saat itu terbaring lemah dikamar tidurnya.
“Kenapa kau tidak menelphone tante sih?” ucapnya dengan wajah yang penuh kekhawatiran.
“Maafkan aku tante, Edo sudah merepotkan tante” jawab Edo lirih.
__ADS_1
“Kau adalah keponakan tante yang sangat tante sayangi, sudah tante katakan berkali-kali telphone tante jika kau membutuhkan sesuatu” celoteh tante Stefani yang pada saat itu meremas kain basah.
“Edo takut merepotkan tante” jawab Edo yang masih terbaring lemas.
“Tante tidak dapat memaafkan diri tante jika terjadi apa-apa padamu, setidaknya kau mau bekerja sama dengan tante” ucap tante Stefani.
“Baik tante, Edo akan berusaha tidak akan membuat tante cemas seperti ini” kata Edo dengan wajah pucat.
Tante Stefani adalah saudari dari almarhum ibu Edo, sampai saat ini dia belum dikarunia seorang anak, kesibukannya menjaga toko dan rumah makan di tengah kota membuatnya tidak bisa terus menjaga Edo, sehingga terkadang ia merasa sangat bersalah jika terjadi sesuatu pada Edo yang dianggap sudah seperti anaknya sendiri.
Edo ditemukan terbaring di lantai ruang tamu, pada saat tante Stefani membawakan makan malam, badan Edo yang panas dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya membuat tante Stefani harus menginap di rumah Edo.
Pada malam itu, tante Stefani ingin melarikan Edo di rumah sakit, namun pada saat itu pula Edo terbangun dan meminta tante Stefani merawatnya di rumah saja.
Bukan soal biaya, bagi Edo rumah sakit itu adalah tempat yang teramat menakutkan baginya, bau obat-obatan, jarum suntik dan botol infus, membuat rumah sakit sangat menyeramkan di matanya, apa lagi Edo masih trauma dengan kejadian tiga tahun lalu.
Tiga tahun lalu, sebuah alat oksigen menempel di hidung Edo, terlihat tante Stefani begitu cemas berlari mengikuti Edo yang terbaring kala itu disebuah brankar UGD, para perawat membawanya disebuah ruangan dan mencegah tante Stefani untuk ikut masuk ke dalamnya.
"Ibu harap tenang, ibu tunggu disini" cegah seorang perawat kala itu.
Samar-samar terdengar tangisan dari tante Stefani, setelah itu sebuah jarum menembus kulit Edo dan seketika itu pula Edo tidak sadarkan diri.
Edo terbangun disebuah ruangan rumah sakit kelas A, ruangan yang amat rapih dan bersih, dinding ruangan itu berwarna coklat dan putih. Walaupun terlihat bersih, bau obat-obatan masih saja menghinggapi hidung Edo.
Disebelah kiri ranjang Edo, tertidur seorang wanita yang diketahuinya adalah tante Stefani, Edo berusaha menggerakkan tangan kirinya, dia berusaha menyentuh tantenya yang sepertinya tertidur kala itu.
"Akh... kamu sudah sadar Edo" kata tante Stefani yang tiba-tiba terbangun dengan wajah yang terlihat sangat lelah, namun ia tetap tersenyum melihat keponakan kesayangannya sudah sadarkan diri.
"..." tidak ada yang bisa dikatakan Edo, ia hanya menatap tantenya itu tanpa satu katapun, ia ingin berkata sesuatu namun tidak sanggup.
__ADS_1
Edo mengalami luka serius pada kepalanya, pada saat kecelakaan itu, para tim SAR menemukan Edo tersangkut disebuah ranting pohon yang menancap di tengah jurang.
Untuk menyembuhkan trauma yang dialami Edo butuh waktu yang lama, beda dengan luka yang ada di kepala Edo, lukanya semakin lama-semakin membaik dan hanya butuh waktu tiga bulan saja bagi Edo untuk kembali ke sekolah.