
Seorang gadis cantik sedang tidur di Queen Bednya. Tampak sekali nyenyak hingga lupa waktu. Natasya Aurel Chandrawan, yang kerap dipanggil Nata, namanya.
Tring...Tring...Tring...
"Ribut banget sih..." gumamnya masih menutup mata.
Prang...
Nata melempar Handphonenya hingga layarnya pecah. Ia sama sekali tidak menyadari, bahwa benda pipih kesayangannya, yang pecah.
Tring...Tring...Tring...
"Kok masih ribut?" gumamnya. Nata segera bangun dari mimpi indahnya. Ia melihat alarmnya yang sama sekali tidak tergores apapun. "Terus tadi suara apa yang pecah?" Ia melihat kearah suara pecah tersebut.
"Ha-Handphone gue!!!" Nata segera berlari kearah Handphone nya yang sudah tak bernyawa. Ia mengelu-elusnya, bahkan ia juga menangisinya. "Ini semua salah Jam sialan itu!" Nata menunjuk Alarm dengan mata penuh amarah.
"Wait... Mata gue gak salah liat kan? Ato jam nya yang rusak?" gumamnya sambil mengucuek mata.
Tok...Tok...Tok...
"Non! Udah jam delapan kurang sepuluh menit... Non gak sekolah?" teriak Mbok Asih dengan pintu sebagai batas
"Aaaa!!!! Gue telat!!!" teriak Nata hingga membuat Mbok Asih yang berada diluar kamar terkaget. "Astaga!" kaget Mbok Asih.
Nata segera berlari kekamar mandi. Butuh 15 menit untuk Nata bersiap-siap. Tak seperti gadis remaja lainnya, yang membutuhkan waktu hingga berjam-jam, Nata hanya butuh hitungan menit. Wajahnya Natural, tanpa polesan make-up tebal, hanya dipoles pupur bayi dan pelembab bibir.
"Mbok!! Nata berangkat dulu!!" pekiknya sambil menggunakan sepatu
"Ia non..." ucap Mbok Asih sambil berjalan mendekati Nata
Nata menyalim tangan Mbok Asih dengan tulus. Walau Mbok Asih tidak memiliki hubungan darah dengan Nata, Nata sangat hormat dengan Mbok Asih. Mbok Asih sudah merawatnya dari ia bayi hingga saat ini, baginya, Mbok asih sudah seperti ibu keduanya. "Daa... Mbok.. Nata pergi..." ucapnya sambil melambaikan tangan
__ADS_1
"Daa.. Non..." balas Mbok Asih dengan tersenyum tulus. Mbok Asih sangat senang dapat melayani majikan yang baik hati seperti keluarga Chandrawan. Dulu, sebelum bekerja dikeluarga Chandrawan, ia diperlakukan buruk oleh majikannya, makanya, sekarang ia bersumpah akan terus mengabdi kepada keluarga Chandrawan.
***
"Argghhh.... Sial udah telat..." gumamnya kesal. Ia melihat banyak Osis berjaga dipintu gerbang. "Osis sialan! Gak capek apa berdiri?" batinnya.
"Apa gue bolos apa, ya?" bagi Nata, bolos adalah definisi dari perintah guru. Kenapa, karena menurutnya peraturan ada untuk dilanggar. Dan guru membuat peraturan 'Dilarang bolos' yang artinya sama dengan menyuruh para siswa-siswi untuk bolos. Pikiran Nata sangat simpel.
"No! Gue gak boleh bolos... Yang ada nanti mobil gue disita kayak bulan lalu lagi sama mama. Pusing deh..." pikirnya. Jika bolos adalah pilihan yang buruk, lalu apa yang harus ia lakukan.
"Arggh... Fine! Gue manjat tembok!" putusnya. Bagi Nata, manjat tembok adalah keputusan yang paling mendesak. Selain karena ia adalah cewek, disana juga rawan ketahuan Pak Anthon, guru BK paling killer seantero SMA Bima Sakti.
Nata pun sampai dibelakang sekolah. Ia mencoba mengintip area taman belakang sekolah yang berbatas tembok dengan tempatnya saat ini.
"Sip... Gak ada guru.." gumamnya senang. Ia pun tak ragu-ragu untuk meloncat tembok tinggi tersebut. Ia mendarat dengan sempurna, mungkin karena itu nilai olahraganya sempurna.
Saat ingin melangkah pergi, ada seseorang yang memegang pundaknya. Nata memang tidak seperti cewek alay, namun ia juga merupakan spesies cewek, tentu ia takut dengan hal yang tidak sesuai dengan logika sains.
"Ja-jangan ganggu gue..." pinta Nata dengan menutup mata. Pikirannya terus melayang kehal yang tidak-tidak
"Bagaimana kalo misalnya gue dibawa kealamnya, ato gak, gue dijadiin tumbal, ato bla-bla-bla" Nata sibuk dengan pikirannya sendiri
"Kamu!" seru orang tersebut. Nata tidak mendengar seruan orang tersebut, ia terlalu asik dengan pikirannya
"Hey!" serunya lagi, namun usahnya nihil
Akhirnya orang tersebut menyerah memanggil, ia akhirnya berjalan kedepan Nata. Nata tidak menyadari bahwa orang tersebut sudah ada didepannya
"Eh Monyet!!" kegetnya saat menyadari bahwa orang tersebut ada didepannya
"Monyet... Monyet... Kamu kira saya monyet?" pekik tak terima krang tersebut
__ADS_1
"Eh... Ada Pak Anthon... Guru BK yang paling ku sayang..." ucap Nata sambil menyengir. Ia sangat lega, bahwa yang menyentuhnya adalah manusia, bukan hantu atau apalah itu yang sejenisnya.
"Ikut saya!" perintah Pak Anthon
"Enggak ah, pak... Hari ini saya lagi males ke ruang Pak Anthon denger curhatanya Pak Anthon..." ucapnya sambil tersentum menyindir
"Kamu ini!!! Ikut saya!!!" kesal Pak Anthon tak sabaran. Walau pun sabar, jika sudah berhadapan dengan seorang Natasya yang terkenal bandelnya, itu menjadi percuma. Bukannya dapet pahala karena sabar, eh malah buat orang mati karena darah tinggi melebihi batas.
Bukan Nata namanya kalau tidak membuat masalah. Nata kabur dengan senyum yang mengembang. Tapi, belum semenit senyuman tersebut mengembang, sudah hilang.
Nata tertangkap Guru BK yang lain. Memang Pak Anthon adalah Guru BK, tetapi bukan hanya Pak Anthon saja yang menjabat sebagai Guru BK. Ada 2 orang lainnya yang menjabat sebagai guru BK. Yang tentunya tak kalah killer dari Pak Anthon. Hanya, Pak Anthon yang menjadi peringkat pertama, sedangkan Bu Sukma berada diperingkat kedua. Dan yang menangkapnya saat ini adalah Bu Sukma.
"Keluar kandang singa, eh masuk lubang buaya... Gawat!!!" pekik Nata didalam hati.
"Eh... Ada buSuk..." Nata menjeda kalimatnya denga sengaja. Ia seneng melihat gurunya naik tensi. Bu Sukma melototinya dengan tajam, "ma..." lanjutnya dengan senyum mengejek.
***
Pada akhirnya, Nata di ceramahi sebagai tawanan 2 Guru BK terkiller pake banget. Kupingnya sudah sangat panas. Kepalanya sudah hampir mau meledak mendengar ceramahan 2 guru BK-nya yang tidak ada hentinya. Jika Pak Anthon menjeda ucapannya, Bu Sukma melanjutkannya, jika Bu sukma menjedanya, Pak Anthon melanjutkannya, dan seterusnya.
"Aaa... Kuping gue sakit... Ni guru gak capek apa? Ngomong aja terus.." batin kesel Nata. Lama-lama Nata akan sakit jiwa jika berada di ruang BK.
Selama 2 jam non-stop kedua gurunya berbicara. Tanpa membiarkan Nata melawan. Memang jika adu mulut, mereka berdualah yang menang. Nata mengaku kalah dalam aspek tersebut.
Setelah keluar dari ruang BK, daripada masuk kelas, ia memutuskan kekantin. Toh sisa waktu lagi 10 menit untuk bel istirahat, percuma ia masuk kelas, yang ada ia malah diceramahi oleh guru mapel sekarang.
"Mendingan gue ke Kantin aja... Dari pada telinga gue tambah sakit gegara diceramahin sama guru mapel sekarang..." gumamnya. Nata berjalan kekantin dengan wajah lesunya, karena ia belum sarapan.
Sesampai dikantin, bukanya memesan makana, Nata lebih memilih menunggu sahabat-sahabatnya.
Vanes Hyoka
__ADS_1