Perjodohan?!

Perjodohan?!
|20|


__ADS_3

Nata dan Aura kembali kemejanya dengan membawa sebuah nampan yang berisi pesanan-pesanan. Mereka seperti seorang pengantar makan saja.


Nata dan Aura bingung melihat mejanya yang dikerumuni oleh banyak orang. Tidak seperti biasanya saja.


"Ra... Kok meja kita dikerumunin, sih?" tanya Nata sambil menoleh keAura.


"Mana gue tau, Nat... Gue kan dari tadi sama lo..." jawab Aura meninggalkan Nata. Nata pun menyusul Aura dengan wajah kesalnya.


"Permisi-permisi!" ucap Nata yang langsung direspon cepat oleh semua orang yang mengerumuni meja mereka. Semua orang membuka jalan untuk Nata dan Aura.


Nata dan Aura membulatkan mata. Nata membulatkan mata karena melihat suami plyaboynya sedang duduk dimeja mereka dengan seorang wanita cabe disampingnya dan parahnya mereka bermesraan. Dan Aura membulatkan mata karena melihat doinya duduk dimeja mereka dan tentunya sambil bercanda ria dengan salah satu osis ganjen.


"Cih! dasar..." batin mereka kesal.


Mereka sekarang mengerti kenapa meja mereka dikerumuni oleh orang-orang kurang belaian kasih sayang.


"Nih!" Nata menyerahkan nampan dengan nada kesal, sedangkan Aura ia langsung menaruh diatas meja.


Satu kata untuk meja mereka, full. Sial, apakah Shella dan Aleya melupakan bahwa dua sahabatnya juga duduk disana? God, sekarang Aura dan Nata harus duduk dimana, coba?


"Eh! Kalian ber delapan pergi, deh!" usir Nata sambil menlipat tangannya didepan dada.


Mereka semua melihat Nata. Mereka semua itu adalah Reynald, Albara, Robin, Aska, Cesil, Manda, Selly, Sinta, serata kedua sahabatnya, Shella dan Aleya dengan wajah bersalahnya.


"Eh- sorry, Nat... Tadi kita berdua udah bilang kalau ada kalian berdua disini" Shella melirik mereka berdelapan sekilas, " tapi lo tau sendiri kan, mereka maksa..." ucap Shella yang langsung dianggukin oleh Aleya.


Nata memutar matanya malas, "Oh... Yaudah usir!" jawab Nata enteng, sedangkan Aura ia menyetujuinya. Ia tidak melarang walau ada doinya karena ia tengah dibutai dengan api cemburunya melihat doinya sedang bercanda ria dengan Manda, salah satu anggota osis yang paling ganjen.


Brak...


Cesil memukul meja makan tersebut dengan keras. Anggap saja Cesil ingin menjadi pahlawan kesiangan.


"Eh! Elo itu gak bisa seenaknya dong ngusir kita berdelapan! Kalau gitu, kenapa gak elo berempat aja yang PERGI!" bentak Cesil yang langsung membuat Nata dkk tersenyum miring.


"Cuih... Mau jadi pahlawan kesiangan, tan?" Nata memanggil Cesil dengan sebutan tan bukan tanpa alasan, bagaimana pun penampilan Cesil sungguh sudah seperti seorang tante janda.


"Apa lo bilang?!! Lo manggil gue apa tadi? Tan? Maksud lo apa, hah?!!!" Cesil tidak terima Nata memanggilnya begitu.

__ADS_1


"Slow dong.... Elo kan bisa ngaca... Bahkan gue sempet kaget pas ngeliat elo pertama kali, gue kira gue salah masuk SMA. Bahkan dulu gue kira kalau SMA ini terima seorang tante janda..." ucap sinis Nata yang langsung membuat Cesil geram.


"Ka-"


"Kenapa, huh?!" bukan Nata yang berbicara, tapi Shella yang berbicara.


"Eh! Gue bingung, deh... Sarah CS aja kalau mau berhadapan sama kita aja perlu mikir-mikir dulu... Salut gue sama lo pada!" Aleya yang sudah kesal dengan Cesil akhirnya ikut berbicara.


Dibandingkan dengan Cesil dkk, Sarah dkk lebih berkuasa disekolah. Bahkan Cesil dkk pernah dibully oleh Sarah dkk karena dulu ia sempat menantang Sarah dkk, dan tentunya Sarah dkk yang menang.


"Eh! Gue yang sekarang, udah beda sama yang dulu!" murka Cesil.


"Benar! Jangan deh banding-bandingin kita lagi!" tambah Manda dianggukin oleh Selly dan juga Sinta.


"Jadi kalian pada ngerasa kalo kalian lebih hebat dari pada Sarah CS?" tanya Nata yang langsung dianggukin oleh Cesil dkk. Nata tersenyum sinis mendengarnya.


Nata segera mengambil HandPhonenya. Ia segera menagmbil sebuah buku mininya yang selalu ia bawa kemana-mana. Ia segera memasukan salah satu nomber telpon sesorang. Nata segera menelpon dengan mode speaker yang hidup.


"Hallo..." jawab sesorang disebrang telpon.


"Hallo, cabe..."


"Sewot amat deh, be... Gak penting dari mana gue dapet... Eh lo dimana sekarang?"


"Gak pen-"


"Ck! Gak usah bacot deh... Jawab aja..."


"Dibelakang sekolah... Kenapa?"


Nata melirik Cesil dkk dengan senyum miringnya. Cesil dkk seketika keringat dingin.


"Oh... Lo inget Cesil and the genk, gak?"


"Hah?! Gue gak kenal... Siapa sih? Duh, To the point aja deh..." Nata tersenyum mendengarnya.


"Gue juga gak kenal sih... Cuma mereka bilang, bahwa gank mereka lebih hebat dari pada lo, nih... "

__ADS_1


"Kamvret!! Dimana lo?!"


"Kantin-"


Tut... Tut... Tut...


Sarah mematikan telpon sepihak.


"Kok kayak deja vu, ya?" batin Rey, Albara, Robin, dan Aska serempak.


Cesil dkk segera pergi meninggalkan Nata dengan perasaan takut, kesal, yang menjadi satu.


Nata dan sahabat-sahabatnya segera tertawa karena berhasil mengusir Cesil dkk. Mereka bertos ria. Semua orang yang sejak tadi menonton, bubar. Mereka takut kena semprot dari seorang Nata.


"Terus... Sekarang tinggal kalian aja..." ucap Nata dengan nada tidak suka melihat Rey dkk masih dimeja makan Nata dkk, "Kok kalian gak pergi?" lanjut Nata yang langsung membuat Rey dkk kesal.


"Terserah kita dong..." jawab Rey dingin. "Dan juga, lo pada udah ngusir hiburan kita... Tanggung jawab, dong!" jawabnya dengan senyum miringnya.


"Tanggung jawab?! Untuk apa, huh! Harusnya kalian yang tanggung jawab, waktu makan kita kebuang sia-sia, tau!" Akhirnya Nata bisa berteriak bebas didepan suaminya tanpa takut ketahuan.


"Udah lah, Nat... Yang penting lo kan dapet tempat duduk..." ucap Shell yang langsung dihadihi oleh pelototan oleh Nata.


"Bener kata Shella, iya gak, Ra?" ucap Aleya dengan memaksakan senyuman.


"Gak!" Ternyata Aura masih marah dengan Albara. "Bener kata Nata... Usir aja mereka berempat, ganggu tau! Mata gue sakit!" Shella dan Aleya kaget dengan jawaban Aura. Hari ini Aura benar-benar aneh, pikir Shella dan Aleya.


"Ekhem! Udah lah Nata sayang... Sorry aja kita disini... Habis itu sebentar lagi bel, lo gak makan?" Nata yang mendengar ucapan Albara langaung memilih duduk dan makan, perutnya benar-benar lapar. "Dan juga lo, Ra... Lo kenapa, sih? Ganteng-ganteng kayak gini dibilang ngerusak mata..." lanjut Albara yang langsung membuat Aura jengkel. Walau Aura suka Albara bukan berarti Aura akan memaklumi semua sifat jelek Albara, kan?


Akhirnya mereka semua disatu meja. Nata sekarang sudah tidak peduli, yang penting makan aja dulu. Sedangkan Aura, kemarahannya sudah hilang karena Albara ngebaperin Aura. Basi banget sih.


"Oh iya... Kok lo tadi manggil Nata pake kata sayang, Al?" tanya Robin yang memang sudah kepo sedari tadi.


"Oh... Kenalin dia adik gue sekaligue kembaran gue..." jawab Albara yang langsung membuat Robin tersedak.


"Serius?" tanya Robin yang langsung dianggukin oleh Albara dan Nata dkk.


"Hebat deh... Albara sama Rey temenan terus kembaran mereka juga temenan... Apakah itu hubungan batin?" pikir Robin sedikit lebay yang langsung membuat ia tersenyum sendiri memikirkannya, semua orang dimeja makan langsung menjauhi Robin, mereka takut ketularan gila.

__ADS_1


Vanes Hyoka


__ADS_2