Perjodohan?!

Perjodohan?!
|09|


__ADS_3

"Ke-kenalin na-nama sa-saya Na-natasya Au..rel Cha-chandrawan..." ucap Nata dengan suara dibuat-buat gagap


"Kok suara sama namanya agak mirip sama Nata, ya?" batin Shella sambil menatap Nata penuh curiga


"Kenapa sayang?" tanya Melly melihat Shella terus saja menatap Nata, bahkan sekarang Nata sudah panas dingin takut ketahuan


"Enggak bun... Cuma rasanya Natasya mirip sama temen aku..." ucap Shella


"Masa... Emang kamu punya teman dari SMA Tunas Bangsa?" tanya Melly dengan lembut. Sebenarnya, Melly hanya mengada-ada agar calon menantunya tersebut tidak ketahuan.


"Enggak sih... Ya-"


"Sudah-sudah... Nanti aja dilanjutin bicaranya... Emang Nata kenal sama putri tante?" tanya Melly menatap Nata dengan mengedip satu matanya.


"E-enggak tan... Mus-mustahil..." jawab Nata setelah mengerti maksud Melly.


"Dengerkan sayang... Mungkin saja kamu halusinasi..." ucap Melly dengan raut wajah meyakinkan.


"Thank you... Tan... Pinter banget deh actingnya..." batin Nata senang


"Ekhem! Bukankah sebaiknya kita makan terlebih dahulu... Nanti makanannya keburu dingin..." ucap tiba-tiba Erick, dan tentu dibalas anggukan oleh semua orang.


Saat makan, Nata dan Rey tak jarang saling menatap dan juga saling menilai. Nata selalu memasang wajah ogahnya, sedangkan Rey selalu memasang wajah jijiknya. Mereka selalu berharap, semoga orang tuanya peka terhadap situasi sekarang, agar bisa dibatalkan.


"Rey dan Nata... Dengarkan om... Kalian akan menikah minggu depan..." ucap tiba-tiba Erick. Mengapa Erick selalu mengucapkan sesuatu secara tiba-tiba?


Nata yang saat itu sedang memakan kue, tersedak akibat ucapan Erick sedangkan Rey, ia menyemburkan air yang ia minum.


"Gue gak salah denger, kan?" batin mereka bersamaan


"Ta-"


"Gak ada tapi-tapian sayang... Kita semua sudah menyiapkan dari 3 minggu yang lalu... Jadi gak bisa diundur-undur..." ucap Lina sambil memegang pundak putrinya.


"Hah?! 3 minggu yang lalu? Terus klo gue pilih kuliah gimana? gak rugi tuh?" batin Nata kaget. Ia menatap tak percaya ke ibunya, ibunya tersebut benar-benar tipe orang yang anti-mainstream.

__ADS_1


"Bun... Yah... Tan... Bukankah lebih baik jika diadakan pertunangan terlebib dahulu? Biar kaminya bisa nyaman nantinya..." ucap Rey mencoba meyakinkan mereka


"Bang... Pacaran pas nikah itu lebih halal... Mau abang gini kek... Mau gitu kek... Gak akan ada dosa.." ucap bijak Shella yang langsung disetujui oleh Lina, Melly, dan Erick


"Dasar adek laknut! Bilang aja mau bantuin... Argghhh!!! Gue kagak mau kebebasan gue ke ambil..." batin Rey frustasi.


"Shella... Lo itu bener-bener ngebuat gue kesel sekarang!!! Gue ogah punya suami playboy cap jerapah!!!" batin Nata depresi.


Mereka berdua menatap tajam Shella. Dipikiran mereka, dipenuhi oleh sumpah serapah yang tentunya ditunjukan untuk Shella Lovela.


***


Dikamar Nata, Nata terus saja mengumpat. Ia sangat kesal dengan apa yang terjadi di pertemuan tadi.


"Argghhh!!! Gue kagak mau nikah!!!" teriak Nata, untung saja kamar Nata kedap suara, jika tidak mungkin saja Nata sudah dikira orang gila.


Ting...


Nata membuka pesan yang dikirimkan oleh Albara, abang kembarnya Nata.


➡ Gue balik besok, jangan macem-macem!


"Apaan sih? Balik apanya? Shit! Nanti dia ganggu gimana? Bagus sih... Cuma kan kagak enak sama Tante dan Om... Arggghh!! Au ah..." Nata memilih tidur, dia sudah pusing, dan kakaknya malah membuat ia tambah pusing.


Tak jauh berbeda dengan Nata, Rey dari tadi hanya terus mengumpat dan mencaci perihal perjodahannya. Ia masih muda, ia bahkan baru sekali pernah serius menjalin cinta, tapi tragisnya malah dikhianati oleh sang mantan pacarnya.


Jika saja Rey tidak pernah dikhianati oleh Zera, mantan pacar Rey, mungkin sampai saat ini ia akan percaya dengan yang namanya cinta. Lebay memang, tapi itu kenyataan. Zera tersangka utama yang membuat Rey menjadi sosok Playboy dan Badboy, padahal dulu Rey adalah orang baik dan selalu menghargai setiap wanita, tapi sekarang hanya Shella dan Melly yang ia hargai. Zera juga yang selama ini selalu menghantui Rey. Bahkan karena Zera, Rey pernah hampir mencoba narkotika, dan untungnya saat itu Rey masih mempunyai akal sehat. Karena Zera, Rey berubah menjadi sosok yang berbeda.


Padahal kejadian dengan mantan pacarnya sudah lama, lalu mengapa Rey masih mengingatnya, sebegitu cintanyakah Rey dengan Zera sampai Rey berubah total.


"Ra... Gue mau nikah... Tapi gue gak bisa ngelupain lo... Gue gak mungkin masih cinta sama pengkhianat kayak lo, kan? Cinta itu hanya omongan kosong aja, kan? Gue cuma terobsesi sama lo aja, kan? Gue harap begitu..." gumamnya lirih


***


Albara Rionley Chandrawan, kakak kembar dari Natasya Aurel Chandrawan. Dia orangnya Playboy dan juga Badboy, dunia malam hobbynya, tapi ia tidak pernah mengizinkan Nata kedunia malam. Egois memang, tapi ia dan Nata berbeda, Nata hanya seorang gadis remaja yang manja nan polos, sedangkan dirinya jauh dari kata manja apalagi polos.

__ADS_1


Albara definisi dari sosok kakak yang over-protektif dengan adiknya. Bahkan sampai sekarang, Albara selalu mengawasi adiknya bahkan dari tempatnya sekarang, New York.


"Lo mau kemana?" tanya Aska, salah satu sahabat Rey. Albara dan Rey sudah bersahabat dari kecil, bahkan mereka layaknya saudara kandung.


"Gue mau pulang..." ucap Albara sambil cepat-cepat mengemas barangnya.


"Pulang? Lo kan udah dirumah?" cerocos Robin.


"Ke indo, ogep..." kesal Albara


"Lah... Lo sebegitu pingin cepet-cepetnya ngeliat si Rey nikah? Masih minggu depan tau... Masih lama.." ucap Robin dengan nada sok taunya


"Ini jauh lebih penting dari pada nikahannya si Rey.." ucap Albara dengan nada agak kesal.


Mereka semua mengetahui bahwa Rey akan menikah, karena Rey yang mengundang mereka. Bahkan kerabat jauh Rey saja tidak diundang, yang artinya mereka jauh lebih penting dari pada kerabat.


"Emang ap-" Albara memotong ucapan Robin dengan tatapan mata mengancam.


Tadi malam, Albara mendapatkan pesan bahwa adiknya akan segera menikah minggu depan, dan tentunya hal tersebut langsung membuat Albara cepat-cepat memesan tiket pesawat. Dan yang lebih mengagetkan adalah adiknya tersebut akan menikah dengan sahabatnya, Rey. Bukannya makin setuju, Albara malah makin tidak setuju mengingat sifat Playboy Rey. Mana ada seorang kakak yang akan menyerahkan Adiknya kekandang singa.


"Sialan lo Rey!! Awas aja lo macem-macem sama adek gue... Gue pastiin lo dikubur hidup-idup!!!" batin kesal Albara. Bahkan dari tadi Albara sudah membayangkan hal yang tidak-tidak tentang Rey dan Nata. Albara masih belum mengetahui bahwa Nata sedang menyamar menjadi nerd, yang artinya Rey tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak ke Nata karena terlalu jijik.


Albara segera mengambil mobilnya, ia bahkan melupakan kehadiran kedua sahabatnya. Saking cepat-cepatnya, ia mengunci pintu apartemennya yang didalamnya masih terdapat Robin dan Aska.


"Woi tokek sialan!!! Buka!!" teriak Robin sambil menggedor-gedor pintu, namun nihil, Albara sudah pergi.


"Al!! Buka!! Kita masih kekunci!!" teriak Aska


"Ka! Kita dikunci disini... Gimana gue mau pulang... Nanti gue dicariin lagi... "ucap Robin dengan nada dibuat sedih


"Anjay! Jijay gue dengerin lo! Mendingan kita nelpon si penjaga gedung..." ucap Aska memberi solusi


"Ternyata lo bisa mikir juga.." ucap Robin dengan nada mengejek


"Up to you.." ucap Aska malas. Aska menelpon penjaga gedung. Namun naas, yang mengangkat adalah seorang bencong simpanan penjaga gedung. Mereka berdua berteriak jijik mendengar suara centil bencong ditambah lagi suaranya bariton. Mereka bersumpah tidak akan pernah menelpon penjaga gedung lagi.

__ADS_1


Vanes Hyoka


__ADS_2