
Mereka menyajikan makanan yang mereka buat dimeja makan yang ukurannya cukup untuk 10 orang lebih.
"Wah... Buat apa, nih?" tanya Erick yang baru saja pulang dari kerjanya.
"Buat makanan lah... Yaudah sana mandi, yah... Malu loh diliat menantu..." suruh Melly dengan tangan yang masih sibuk menyajikan makanan. Nata hanya tersenyum melihatnya, ia jadi mengingat kenangan dulunya bersama ayah, ibu, dan kakaknya.
Erick pergi dari ruangan makan dengan wajah cemberutnya. "Bukannya disambut baik-baik, eh malah diusir..." batin Erick kesal, namun setelah itu ia tersenyum.
Rey datang dengan wajah bingungnya melihat ayahnya yang pertamanya wajahnya asam tiba-tiba menjadi manis. "Bun, ayah kenapa?" tanya Rey.
"Tau deh... Mungkin aja lagi mabuk..." jawab Melly asal, "Kamu udah mandi, sayang?" lanjutnya saat melihat rambut anaknya basah.
"Seperti yang bunda lihat" Rey duduk dikursinya. Ia menatap makanan-makanan yang sudah ada di meja makan tersebut, sungguh menggoda. Saat Rey ingin mencicipi salah satu makanan yang sudah disajikan, tangan Rey ditepis kasar oleh Shella.
"Maksud lo apaan sih?!" kesal Rey melihat kembarannya hampir saja melukai tangan indahnya itu.
"Eh! Lo harusnya nunggu semua tau... Habis itu belum semua makanan ada di meja... Sabar dikit apa!!" seru Shella sambil meninggalkan Rey yang masih kaget dengan suara Shella yang hampir membuat gendang telinganya pecah.
"Punya adik kok gini banget sih..." gumam Rey sambil mengelus-elus dadanya.
"Gue denger!!" ucap Shella dengan wajah cemberutnya.
"Gue kangen..." batin Nata sedih.
***
"Gimana bang? Masakan gue..." ucap Shella bangga. Mereka saat ini sudah selesai makan, dan mereka semua makan sampai perut mereka penuh, apalagi Nata si pencinta makanan.
"Eleh... Sok anda... Gue gak yakin kalo lo yang buat..." ucap Rey malas.
"Enak aja!... Denger, ya... Yang cuci piring gue, yang ngupas bawang gue, yang goreng gue, yang nyiapin air gue, pokoknya masih banyak lagi..." balas Shella sombong.
__ADS_1
Rey memutar matanya malas, "Lo kebanyakan ngehayal deh... Palingan juga lo yang mecahin piring, lo yang ngerusak bawang-bawang sampek ditong sampah banyak bawang, lo yang ngegosongin ikannya, lo yang banjirin dapur, dan masih banyak masalah yang lo buat. Iya, kan?"
Semua tertawa, kecuali Shella tentunya. Semua yang dibilang oleh Rey benar. Berkat Shella, dapur yang awalnya bersih dan tertata rapi menjadi kotor dengan banyak benda-benda berserakan.
"Ck! Yang penting gue bantu!" Shella mendengus, "Masih mending gue dari pada lo! Emang lo mau bantu didapur, huh?!" lanjut Shella sambil menatap Rey meremehkan.
"Udah-udah... Kasihan mantu bunda, bingung dia..." lerai Melly dengan Nata sebagai alasan. Nata hanya tersenyum menanggapinya.
"Huft... Yaudah..." Shella lalu beralih menatap Nata dengan lekat, "Sya... Lo belajar masak darimana?" tanya Shella yang langsung membuat Nata mengerutkan dahinya, seolah-olah ia bekata 'kenapa?'
"Em... Ya masakan lo mirip Nata, sahabat gue..." jawab Shella sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Deg...
Nata lupa bahwa sahabatnya, Shella sering mencicipkan masakannya. "Aduh... Gue kok bisa lupa, ya? Kalau ketahuan gimana... Argghh... Tenang, okey..." batin Nata gugup sambil mengeluarkan keringan dingin. Melly menyadari kegugupan Nata.
"Yang bisa masak kayak gitu kan bukan cuma sahabat kamu aja, Shella sayang..." jawab Melly menggantikan Nata.
"Serem banget deh... Tapi kok mereka gitu banget, ya? Gue kan cuma kepo aja... Bodo lah..." batin Shella dibawa easy aja.
"Gue nanti harus bilang makasih ke bunda sama ayah..." batin Nata merasa tidak enak kepada Erick dan Melly.
"Oh iya... Besok Kalian bertiga sekolah, kan?" tanya Erick yang dibalas anggukan oleh Shella, Rey, dan Nata.
"Inget belajar ya... Apalagi kalian semua udah kelas 12... Belajar itu bla-bla-bla" Erick terus saja menceramahi mereka layaknya seorang penyebar agama yang memberi pencerahan hidup.
***
Nata memutuskan kekamar terlebih dahulu, sedangkan yang lain mereka masih setia diruang tamu. Dari Rey yang sibuk dengan pacar-pacarnya, Shella yang ngestalking cogan-cogan, serta Melly dan Erick yang lagi bermesra-mesraan.
Nata memutuskan pergi karena ada banyak anime yang belum ia tonton karena perjodohan ini. Setidaknya malam ini ia harus menonton 2 samapi 4 episode anime.
__ADS_1
Nata menonton dengan menggunakan handset. Ia menonton dengan sangat-sangat semangat, bahkan tak jarang ia berteriak-teriak alay dikamar Rey. Untung saja kamar tersebut kedap suara, jika tidak mungkin saja ia dikira sudah gila.
Cklek...
Nata tidak menyadari kedatangan Rey, ia terlalu sibuk dengan animenya. Rey tersenyum melihat tingkah Nata yang pertamanya sungguh membuat ia sangat terkejut.
"Gue kira ni cewek, cewek pendiem, eh malah kayak gini... Emang deh kita gak boleh menilai buku dari covernya... Salut gue..." batin Rey saat melihat Nata teriak-teriak alay saat menonton anime. Biasanya cewek teriak alay kalau nonton drakor atau gak konser biasnya, eh yang ini malah teriak gegara anime yang 2D.
Rey segera menghampiri dan langsung memeluk Nata dan tentunya hal tersebut langsung membuat Nata kaget dan refleks teriak.
"Aaaaaa!!!!" teriak Nata yang langsung membuat Rey menutup telinganya. Gak adiknya, gak istrinya sama aja, sama-sama hampir membuat gendang telinganya pecah.
"Lo bisa diem, gak?" tanya Rey sambil menutup mulut Nata dengan sebuah bantal. Nata menatap Rey dengan perasaan yang kesal, marah, muak, yang tentunya menjadi satu.
Nata menghela nafas. Sepertinya nonton animenya cukup sampai disini saja, jika ia lanjutkan mungkin akan mengganggu manusia yang super duper menyebalkan karena teriakan alay miliknya.
Nata segera membaringkan dirinya dikasur, namun sebelum itu ia membuat batas wilayah. Rey pun membaringkan tubuhnya diwilayah yang diberikan oleh Nata.
Saat Nata ingin memejamkan mata, sebuah tangan melingkar dipinggangnya. Siapa lagi kalau bukan Rey, suaminya yang selalu membuat moodnya jelek. Nata kaget, ia segera bangun, ia melotot melihat Rey yang sudah menghancurkan batas wilayah. Rey tersenyum menanggapi tatapan Nata yang sungguh menyeramkan.
"Gue bakal ngebuat lo gak bisa tidur malam ini, cewek sialan... Siapa suruh ngebuat gue kesel hari ini... Seorang Reynald dilawan... Hahah..." batin Rey sambil tersenyum evil. Nata seketika merinding melihat senyumannya.
Nata baru tidur pukul 3 pagi, alasannya tentu karena Rey. Sedangkan Rey, ia sudah tidur dari jam 11 malam. Nata tidak bisa tidur karena Rey yang memeluknya dengan erat, jujur ia sungguh tidak terlalu dekat dengan lelaki kecuali saudaranya. Sepanjang malam, jantungnya berdebar, bahkan ia sempat mengira bahwa ia terkena penyakit jantung dadakan.
Malam itu sungguh malam yang mengerikan bagi Nata. "Tuhan!!! Nata gak kuat!!" batinnya berteriak.
Flashback off
Vanes Hyoka
*Selamat Tahun Baru 😁
__ADS_1