Perjodohan?!

Perjodohan?!
|04|


__ADS_3

Jam menunjukan pukul 7 malam, terjadi keheningan dimeja makan. Mereka hanya saling menatap rindu. Bahkan mereka tadi juga saling berpelukan, melepas rasa rindu.


"Apa kabar, mah?" tanya Nata dengan wajah yang sangat bahagia.


"Seperti yang kamu lihat, mama baik-baik aja..." ucap Lina sambil mencium dahi anak perempuannya tersebut, "Kamu sendiri bagaimana?" lanjutnya bertanya.


"Baik mah... Selalu baik..." ucap Nata berlebihan. Selalu baik? Bahkan setiap malam Nata terkadang menangis mengingat momen ketika semua keluarganya lengkap.


"Benarkah?" tanya Lina tak yakin dengan jawaban anaknya tersebut. Walau Lina sering tidak berada dirumah, Lina tetap memantau kedua anaknya tersebut. Bagaimanapun caranya.


"Iss... Mamah kok gak percaya sih..." ucap kesel Nata diselingi tawa Lina yang melihat wajah anaknya yang cemberut.


"Kamu ini... Sudah-sudah..." mereka akhirnya makan makanan yang telah tersedia diatas meja.


"Mama baru dapet surat wasiat dari pengacara papa kamu..." ucap tiba-tiba Lina yang menyebabkan Nata berhenti mengunyah.


"Wasiat?" beo Nata.


"Iya... Dan isinya mungkin agak, em..."


"Kenapa mah?" Nata bingung melihat tingkah laku ibunya yang agak mencurigakan.


"Jangan marah, ya sayang.... Jadi isi suratnya tersebut...." Lina menjeda ucapannya, ia takut anak gadisnya tersebut marah.


"Mama... Nata gak akan marah... Bilang aja..." Nata menatap lekat manik mata ibunya. Seolah-olah ia benar-benar tidak akan marah.


"Kamu dijodohin..."


Nata saat ini harus bilang apa coba. Sayangnya ia bukan anak lebay yang akan berteriak hanya karena sesuatu yang belum pasti. "Di-jodohin?" beo Nata yang tentu langsung dibalas anggukan oleh Lina.


"Mama gak bercanda kan!?" pekik tidak percaya Nata. Nata memang orang yang agak lambat merespon. Karena merespon terlalu cepat itu hanya akan membuang-buang energi, apalagi jika ada kesalahpahaman. Lebih baik Nata memastikannya dulu, bukan?


"Ngapain mama bohong, sayang..."


"Wait... Mama gak lupa kan, kalo Nata masih SMA?" tanya Nata memastikan, takutnya ibunya tersebut melupakan fakta bahwa Nata adalah siswi SMA.


"Mama gak pikun-pikun amat, sayang..." jawab kesel Lina. Dikira dirinya karena sudah tua jadi pikun, apa? Bahkan jika ia pikun, ia memilih melupakan kenangan bahagia bersama suaminya tersebut. Ia merindukan masa-masa saat suaminya masih hidup.

__ADS_1


"Hehe... Habis mama ngomongnya tentang nikah..." jawab Nata diselingi cengiran handal khas Nata.


"Tapi mama gak bohong, sayang... Kalau gak percaya, mama bisa telpon Pak Rodiyo agar kamu percaya... Mau mama telponi?" ucap Lina yang tentu berhasil membuat Nata jantungan.


Apakah mamanya tersebut sudah gila? Bagaimana mungkin dirinya yang baru menginjak kelas 12 harus menikah. Apa kata dunia coba, dan lagi ia hanya ingin menikah 1 kali seumur hidup. Ayolah, pernikahan itu bukan permainan konyol. Pernikahan itu melibatkan cinta, dan bahkan ia tidak tahu dengan siapa ia dijodohkan.


"Mama... Nata masih muda... Nata ingin menggapai cita-cita. Bukankah ada pepatah yang mengatakan 'Gapailah cita-cita setinggi langit!' Bukankah kalau Nata menikah, Nata tidak bisa menggapai cita-cita?" ucap panjang lebar Nata.


"Cita-cita? Emang kamu punya, sayang?" Alasan mengapa Lina menerima wasiat suaminya tersebut karena ia sangat yakin bahwa anak perempuannya tersebut tidak memiliki cita-cita. Bahkan Nata sangat tidak mau memikirkannya.


"Punya, mungkin?" ucap ragu-ragu Nata


"Sudah mama duga... Pasti kamu tidak punya..." ucap santai Lina. Wajah Nata saat ini sudah sangat pucat, ia bingung harus menyangkal dengan apa lagi.


"Nata punya mah..." ucap Nata keukeuh, "Dan lagian... Gak bisa yang lain apa selain nikah?" tanya Nata


"Bisa..." ucap Lina yang tentu langsung membuat Nata sumringah. "Kuliah..." lanjut Lina yang langsung membuat wajah bahagia Nata luntur seketika.


"Hah? Ku-liah?" tanya Nata tidak mengerti.


"Iya... Kalau kamu tidak ingin nikah, pilihan satu-satunya agar kamu bisa batalin pernikahan ini, ya dengan kuliah..." jelas Lina yang membuat Nata melongo. Pilihan apa itu, ia tidak ingin masuk kuliah, tapi ia juga tidak ingin menikah.


"Yasudah... Nanti saja kamu jawab... Nanti malam sebelum tidur mama akan kekamar kamu..." ucap Lina sambil meminum air. Saat Lina ingin beranjak pergi, Nata memanggil Lina


"Kenapa, sayang?"


"Mah... Emang siapa yang mau dijodohin sama Nata?" tanya Nata, pasalnya ibunya dari tadi tidak memberitahu siapa yang akan dijodohkan dengan dirinya


"Em... Kalo gak salah sahabat papa kamu..." ucap Lina sambil mencoba mengingat-ingat lagi.


"Hah?!" pekik Nata


"Kenapa sayang?" kaget Lina mendengar pekikan Nata


"Sa-sahabat pa...pa?" tanya Nata memastikan, yang langsung dihadiahi anggukan oleh Lina.


"Gak mau mah!!!" ucap Nata tak terima.

__ADS_1


"Gile!! Sahabat papa? What!!! Umur berapa coba dia? Mama aja udah kepala lima... Masa gue nikah sama orang tua, yang ada gue dikira anaknya coba... G.A.K M.A.U!!!!!!" pekik Nata didalam hati


"Kenapa? Kamu bahkan belum liat wajahnya.... Dia ganteng kok..." ucap Lina tanpa merasa bersalah


"Itu kan menurut mama!!!" Nata langsung pergi dari meja makan tanpa menghiraukan panggilan Lina


"Lah?" bingung Lina melihat anaknya yang tiba-tiba berteriak lalu pergi meninggalkan dirinya sendiri.


***


Dikamar, Nata hanya menatap kosong jendela kamarnya. Ia tidak akan menangis layaknya gadis-gadis dinovel saat dijodohkan, menurutnya, itu terlalu lebay. Dia bukan gadis novel, bukan si protagonia, bukan disebuah film-film, lalu kenapa sekarang dirinya seperti gadis dinovel, drama atau lainnya?


"Gue harus pilih yang mana, coba?" lirihnya. Antara kuliah atau menikah, keduanya sama-sama pilihan yang buruk.


"Nata... Tenang..." gumamnya menenangkan diri, "Okey... Coba pikir... Kalo gue kuliah, bisa-bisa gue masuk rumah sakit jiwa saking stresnya, tapi kalo gue nikah, yang ada gue perlu kesabaran mental untuk menghadapi suami tua gue, dan mungkin berakhir di rumah sakit jiwa juga... Kenapa semua pilihan ujung-ujungnya di RSJ? Emang gak ada yang lain apa? OMG... Apa ini karma gue?" Nata berbicara dengan dirinya sendiri layaknya orang gila. Mungkin sebelum Nata memilih kedua pilihan tersebut, Nata sudah dikirim ke Rumah Sakit Jiwa.


Tok... Tok... Tok...


Lina mengetuk pintu kamar anak gadianya tersebut, ia khawatir dengan kondisi Nata yang tidak keluar daei kamarnya selama 2 jam lebih.


"Are you okey, Nata?" tanya Lina dari luar kamar. Nata tidak menjawab pertanyaan Lina, bukannya ia tak mau, hanya saja ia tidak mendengarnya, karena terlalu sibuk dengan pikirannya.


Lina semakin khawatir dengan anaknya tersebut, ia takut anaknya melakukan hal nekat seperti didrama korea yang sering ia tonton.


Tok... Tok... Tok...


Tok... Tok... Tok...


Tok... Tok... Tok...


Lina terus mengetuk pinta tanpa jeda. Ia tidak mengetahui bahwa pintu anaknya tidak dikunci. Ia mengira, Nata mengunci pintu karena kesal.


Tentu saja Nata geram dengan suara ketukan pintu tanpa jeda. Ia akhirnya mulai sadar saat suara pintu mulai memenuhi kamarnya.


Cklek...


"Heh? Kamu... Gak kun-ci?" kaget Lina melihat pintu kamar anaknya langsung terbuka tanpa ada banyak suara yang artinya pintu kamar tidak dikunci.

__ADS_1


Vanes Hyoka


__ADS_2