Perjodohan?!

Perjodohan?!
|30|


__ADS_3

"Nata!" panggil seseorang dari arah koridor selatan lapangan.


Nata menoleh, ia menggeram kesal. Ia benar-benar melupakan kehadiran mantan orang yang ia sukai, Ben.


Nata hendak pergi, namun tangannya segera ditarik oleh Ben. "Nat... Jangan menghindar dari gue, plis... Gue salah..." ucap Ben penuh sesal.


"Salah apa?" tanya Nata seolah-olah ia melupakan kejadian dulu.


"Ya salah karena udah nolak elo..."


Apa katanya? Salah karena menolak Nata? Nata saja tidak merasa kesal karena ditolak, ya walau sempat menangis, tapi tetap saja, ia menangis karena orang yang dipilih adalah Disel. Iya Disel, cewek dengan wajah topeng. Jika orang lain yang dipilih, mungkin saja Nata tidak akan menangis.


"Ge'er lo..." ucap Nata sambil tersenyum sinis.


"Gue gak ge'er, gue tau, pas gue tinggalin lo, lo nangis, kan? Udah deh, gak usah gengsi... Gue tau..." ucap Ben penuh percaya diri.


"Gengsi?" Nata bertanya dengan nada dinginnya, "Gue gak gengsi, ya! Gue emang nangis, NANGIS! puas lo!" Ben tersenyum puas saat Nata mengaku.


"Tapi, tangisan itu keluar karena gue takut lo ngebenci gue!" Senyuman Ben makin mengembang.


"KARENA APA?! KARENA GUE GAK MAU LO JADI KORBAN DARI SEORANG DISEL! GUE TAKUT, KALO SEMISALNYA ELO BENCI GUE, GUE GAK PUNYA KESEMPATAN UNTUK KASIH TAU SIFAT ASLI DARI SEORANG DISEL!" senyuman Ben memudar.


"Lo bukan nangis karena gue lebih milih Disel dari pa-"


"Untuk apa?" pertanyaan yang dikeluarkan Nata sungguh sangat menusuk hati.


"Kena-"


"Karena semenjak lo milih Disel, semua perasaan gue terhadap lo hilang layaknya sebuah uap air! Oh dan satu lagi, karena lo milih Disel, gue tahu satu hal tentang lo, lo itu gak peka! Lo gak bisa bedain yang mana baik atau buruk!" Nata berteriak sangat keras, bahkan Ben tidak berani memotong ucapan Nata.


"Nat, gue mo-"


"Lo pergi ato gue bunuh!" Kali ini bukan Nata yang berbicara, namun Albara. Albara sangat marah melihat orang yang pernah membuat kembarannya menangis.


Albara sangat benci jika melihat kembarannya sedih, begitupun sebaliknya.


"Apa hak lo ngusir gue, hah?! Ini urusan gue sama dia!" seru Ben sambil menunjuk Nata, "lo gak ada hubungannya!" lanjutnya sambil menunjuk Albara.


"Gak ada hubungannya? BANG*AT LO! Lo bilang gue gak boleh ikut campur urusan kembaran gue, gitu?! Terus gue tanya, kenapa lo ganggu adik gue, hah?! Emang lo ada hubungannya sama dia?! Enggak kan!" seru Albara sambil menatap Ben dengan jijik.


"Gue jelas ada hubungannya! GUE ITU, ORANG YANG DISUKAI ADIK LO!" ucap Ben sambil menekan kata-katanya.

__ADS_1


"Eh! Semenjak lo bilang gak suka sama Nata! Lo dan Nata gak ada hubungan apa-apa, ya! Dan lagi, Nata juga gak suka sama lo, SEKARANG!" akhirnya Aura meluapkan segala emosinya. Bukan karena Aura ingin dicap sebagai calon ipar yang baik, namun Aura memang tidak suka jika ada orang yang menjelekan atau mengganggu sahabat-sahabatnya.


"Lebih baik lo pergi deh!" usir Shella dengan nada marahnya.


"Punya hak apa lo berani ngusir gue?!" kesal Ben. Padahal niat awalnya adalah minta maaf kepada Nata, tapi kenapa jadi kayak gini?


"Emang ngusir lo perlu HAK?! perasaan ngusir lo itu KEWAJIBAN deh!" Ben menggeram kesal mendengar ucapan Aleya.


"Lo gak usah ikut campur, ya!"


"Lo juga gak usah ganggu Nata lagi, ya!"


"Gue gak ganggu Nata, asal lo tau!"


"Eh! Asal lo tau juga, kita gak ikut campur masalah lo! Kita cuma mau temen kita aman dari bahaya!"


"Bahaya? Maksud kalian, gue bahaya gitu?!"


"Lah? Kalo gak bahaya, apa dong?" ucap Shella yang membuat Ben mengangkat tangan untuk memukul Shella, namun segera ditahan Rey.


"Lo kalo cowok harus Gentleman, gak perlu lo pukul cewek!" ucap Rey dingin dengan tangannya masih menahan tangan Ben.


"Lapas!" seru Ben yang tidak ditanggapi oleh Rey.


"Gue bilang LEPAS!" Rey memegang tangan Ben makin keras, hingga tangan Ben mulai memerah bahkan aliran darah tidak berjalan ke telapak tangan Ben.


"Gue mo-hon lepas..." lirih Ben karena memang benar tangannya sudah sangat sakit. Rey melepas, karena memang dari awal Rey ingin Ben memohon.


"Bang! Kok Lo lepas, sih?" kesal Shella saat kakaknya melepas tangan orang yang hendak memukul dirinya. Rey diam, namun sedetik kemudia ia bertindak.


Buk...


Rey memukul Ben tepat diperutnya dengan tenaga yang tidak bisa dianggap main-main. Albara, Robin, dan Aska hanya bisa tersenyum pasrah, sepertinya sahabatnya sudah mulai melakukan pemanasan, batin mereka bertiga.


"Ini untuk lo yang berani hampir mukul adik gue!"


Buk...


Kali ini, Rey menendang Ben yang sudah tersungkur di bawah karena pukulannya tadi.


"Ini untuk lo yang berani ganggu ketenangan gue!"

__ADS_1


Rey menarik kerah baju Ben, walau Ben sudah menunjukan tanda kekalahan, wajahnya masih tanpa luka. Ya, Rey memukul wajah Ben beberapa kali, karena begitulah Rey. Rey tidak suka jika wajah lawannya belum ia tandai.


Buk...


Buk...


Buk...


"Ini untuk lo yang berani ganggu Nata!"


Buk...


"Se-stop..." lirih Ben. Rey makin bernafsu untuk memukul Ben.


"Gu-gue... Min...ta ma-af..." ucapnya terbata-bata karena menahan rasa sakit.


"STOP!" teriakan Nata mampu membuat Rey memberhentikan aksinya. Semua orang melihat Nata, wajahnya tampak sangat marah.


"Maksud lo apa, hah?!" tanya Nata kesal kepada Rey. Rey tidak menjawab, Rey terlalu sibuk memandang manik mata Nata.


Ben melirik Nata, ia tahu, pasti Nata akan menyelamatkannya. Karena ia yakin bahwa Nata masih mencintainya. Ben tersenyum ditengah sakit. Setidaknya ia ada kesempatan untuk mendekati Nata lagi.


Plak...


"Harusnya lo lebih keras mukulnya!"


Ya, Nata menampar pipi Ben dengan sangat keras. Ben syok, ia terlalu kaget mendapat tamparan keras dari Nata. Ben memegang pipinya yang masih terasa panas. Sangat panas malah.


Rey, ralat semua orang membelalakan matanya. Mereka kira bahwa Nata akan membela Ben, tapi kenyataannya, Nata malah menampar Ben dengan sangat keras.


Rey tersenyum, tapi sangat tipis. Bahkan senyumannya hampir tidak terlihat, bukan hampir lagi, tapi memang sudah tidak terlihat.


Dan entah mengapa, Rey dan Nata bekerja sama menghajar Ben. Padahal, Nata dan Rey merupakan musuh. Memang deh, jika seseorang memiliki hobi yang sama dengan orang lain, walaupun mereka musuh sekali pun, mereka pasti bisa bersatu dan bekerja sama dengan baik.


Semua orang yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum, bukan tersenyum mengejek, tapi tersenyum karena mereka bersyukur bahwa bukan dirinya yang berada diposisi Ben. Semoga saja Ben diberikan umur panjang, doa semua orang.


Vanes Hyoka


*Hy... Udh lama gak ketemu ya... 😁 Sorry banget klo ceritanya jadi aneh kayak gini ya... dan satu lagi, klo suka jangan lupa like, klo bisa di comment and share tentunya...


Dan satu lagi, bagi orang yang berbaik hati, jangan lupa follow akun ini ya, dan satu lagi, jangan lupa follow akun instagram gue dengan nama yang sama seperti akun gue disini

__ADS_1


__ADS_2