Perjodohan?!

Perjodohan?!
|31|


__ADS_3

Nata memandang tempat yang akan ia tempati mulai sekarang. Terkesan sederhana, namun modern. Nata berjalan kearah teras apartemen, ia melihat pemandangan kota Jakarta yang begitu menawan, apalagi mengingat sekarang adalah malam hari. Pemandangannya sungguh seperti melihat bintang-bintang dari dekat.


"Udah selesai ngeliatin semuanya?" tanya Rey dengan dingin. Nata melirik Rey sebentar, lalu ia kembali melihat pemandangan kota Jakarta pada malam hari.


Rey menghampiri Nata, "Kenapa?" tanya Nata saat melihat Rey tidak marah.


"Ni cowok kenapa sih? Kok gak marah, ya? Padahal gue gak jawab dia... Aneh!" batin Nata sambil melihat wajah Rey yang terkesan dingin.


"Tas!" panggil Rey. Nata menoleh, sehingga membuat mereka saling bertatapan. Entah mengapa, Rey sangat suka menatap manik mata hitam milik Nata. Sangat indah.


"Ke-kenapa?" tatapan Rey membuat Nata salah tingkah. Siapa sih cewek yang gak salah tingkah kalau ditatap secara mendalam oleh seorang cowok apalagi sang cowok adalah orang tampan.


"Lo gak kepo kenapa gue dimarahi bunda sebelum kesini?"


Yup, sebelum Rey dan Nata pindah ke apartemen, Rey sempat dimarahi oleh sang bunda karena Rey membuat masalah disekolah. Kalau Nata, juga sama dimarahi oleh bunda, tapi bedanya Nata dimarahinya secara diam-diam, agar orang rumah gak curiga.


Kenapa Melly marah? Jelas lah, siapa yang gak marah, saat pulang-pulang, anak dan menantu bawa surat skors dari sekolah selama 3 hari, apalagi kasus mereka sama. Kalau Lina marah ato gak? Jelas marah lah, tapi marahnya gak sebesar Melly, karena Lina sudah malas dengan anaknya itu, dan lagi Lina udah gak ada di Indonesia, jadi ya gitu, Lina malas marah karena gak ada orang yang mau dimarahi didepannya.


Kalau Nata dan Rey di skors, kalau Ben? Tenang aja, dia cuma masuk rumah sakit. Gak masuk kuburan kok. Jadi, Rey dan Nata gak akan dipenjara.


"Gak... Untuk apa aku kepo?" jawab Nata. Rey hanya mengangkat bahu, lalu pergi masuk kedalam.


"Ikut gue!" Nata menyeritkan dahi, namun ia tetap mengikuti langkah kaki Rey masuk kedalam.


Rey duduk disebuah sofa single, dan Nata mengikuti Rey untuk duduk di sofa single yang berhadapan dengan Rey. Lagi-lagi mereka saling bertatapan.


"Gue..." Rey berbicara secara lambat, membuat Nata sangat kesal.


"Gue?" tanya Nata ingin tahu.


"Gue sebenarnya..."


"Sebenarnya?"


"Ni cowok ngomongnya kok ngegantung terus sih? Ck! Bikin kesel banget..." batin Nata jengkel.

__ADS_1


"Gak bisa dipercepat, ya?!" tanya Nata dengan nada yang sangat kesal.


"Guesebenarnyamaungajuinperjan-" Nata memberhentikan ucapan Rey yang sudah seperti kereta api, sangat cepat.


"Bisa tidak di lambatin?" Nata tersenyum paksa, ia sangat jengkel. Tolong kuatkan dirinya tuhan, pikirnya.


"Gue...-"


"Yang normal!" seru Nata tidak sabar. Toh percuma jika ia sabar, untuk menghadapi orang seperti Rey itu ya gak perlu sabar. Harus ngegas kayak sepeda motor.


"Ok! Berhenti main-mainnya, sekarang serius..." ucap Rey yang membuat Nata menggeram kesal.


"Lo yang dari tadi main, ocong!" ingin sekali Nata berkata seperti itu, namun mana bisa, mengingat dirinya adalah seorang nerd yang penyayang dan baik hati tentunya, kalau dia ngegas, mungkin identitas asli Nata akan diketahui. Ya, walau cepat atau lambat, identitasnya akan ketahuan juga, tapi setidaknya dia ada usaha untuk menutupi.


"Ja-di?"


"Gue sebenarnya mau ngajuin perjanjian" Nata menyeritkan dahinya, ia tidak mengerti dengan ucapan Rey.


"Perjanjian apa yang boleh lo lakuin dan apa yang gak boleh lo lakuin..." Nata mengangguk, namun detik selanjutnya ia protes.


"Kok aku aja?!" protes nya. "Gak mau! Kamu juga ha-"


"Jadi, dari gue... Gue bakal ngasih lo bekel layaknya seorang suami pada umumnya–"


"Kenapa gak dari dulu aja, kamvret? Utang gue di Aura udah banyak!" batin Nata kesal, namun senyuman tetap mengembang.


"–dan lo juga harus memenuhi kewajiban lo sebagai istri..." senyuman Nata yang mengembang hilang. Ini maksudnya gimana, ya?


"Lo harus jadi istri yang baik, lo harus pinter masak, bersih-bersih, dan tentunya pinter melayani kebutuhan biologis gu-"


Plak...


"Kalau bicara yang benar... Dan lagi, untuk yang terakhir, aku gak bisa, masih sekolah jadi gak boleh ngelakuin hal yang gitu, harus belajar dulu, apalagi kita udah kelas 12, banyakin belajar!" ucap Nata bijak, Nata bingung, dari mana ia dapat berkata bijak seperti itu. Sepertinya, kebijakan Aura akan diwariskan kepada dirinya.


"Kita udah sah, jadi ga-"

__ADS_1


"Gak!" bantah Nata.


"Oke..." pasrah Rey, jika Nata tidak mau, masih banyak ja*ang yang mau jika ia tiduri, pikir Rey.


"Jadi, lo boleh ngelakuin apapun yang lo mau, tapi lo gak boleh ikut campur urusan yang gue punya..." Nata mengangguk.


"Kalau gitu, kamu juga sama, kamu boleh ngelakuin apa aja, dengan syarat gak boleh ikut campur masalah ku..." Rey mengangguk.


"Oh dan terakhir, gue ataupun lo dilarang keras membawa pacar, selingkuhan, atau apalah yang sejenis masuk kesini! Karena gue gak suka lingkungan gue ternodai..." Nata setuju, karena hal itu juga menguntungkan dirinya.


"Dan bagi yang melanggar, harus nurutin permintaan yang gak melanggar..." Nata ragu untuk setuju, padahal kalau masalah ikut campur, Nata sangat jarang. Namun entah mengapa, Nata ragu untuk menyetujui karena ia takut disuruh melayani kebutuhan biologis suaminya.


"Lo takut?" Rey tersenyum mengejek. Sungguh membuat Nata kesal.


"Takut? Ya eng-enggak lah..." elak Nata.


"Ya udah, berati deal, ya?" Nata mengangguk setuju, walau dimatanya masih ada keraguan.


"Kita pisah kamar" ucap Rey yang membuat Nata kaget. Jelas lah, ia kira ia dan Rey akan sekamar, mengingat sifat playboy Rey, tapi ternyata tebakannya meleset.


Bukan tanpa alasan Rey pisah kamar dengan istrinya, Nata. Karena Nata jelek? Bukan. Tapi karena didekat Nata membuat gairahnya naik. Setidaknya, ia harus menghormati keinginan istrinya, sekali-sekali tidak apa-apakan mengikuti kemauan gadis yang tidak ia cintai, walau keinginan gadis itu membuat dirinya tersiksa baik fisik ataupun mental.


"Terus, kamar aku dimana?" tanya Nata yang langsung membuat Rey menunjuk sebuah kamar berpintu putih.


"Itu kamar lo, sedangkan disampingnya ada kamar gue..." jelas Rey sambil menunjuk kamar berpintu hitam. Nata mengangguk menanggapinya.


"Oh satu lagi... Ini–" Rey menyerahkan uang berwarna ungu dengan wajah Frans Kaisiepo terlukis di uang tersebut, "–bekel lo untuk besok..." ucap Rey tanpa merasa bersalah.


Hah?!


Vanes Hyoka


*Hay... apa kabar? baik, kan? Di daerah kalian udah ada yang kena virus Corona, gak? semoga aja gak ada sih.


Gue berharap, semoga virus Corona bisa diatasi, dan semoga virus Corona di Indonesia atau seluruh dunia bisa diatasi.

__ADS_1


Dan bagi kalian yang kena gejala virus Corona, positif thinking aja ya... Berdoa pada tuhan, semoga aja bukan. Dan bagi kalian yang kena, syukuri aja, karena dengan itu, ada kemungkinan tubuh kita saat sembuh akan kebal dengan virus Corona. Don't think negative !


Semoga kita semua dilindungi...


__ADS_2