Perjodohan?!

Perjodohan?!
|28|


__ADS_3

Nata memasuki kelas dengan perasaan kesal. Alasannya ada dua, yang pertama karena Rey seenak jidatnya ingin pindah rumah tanpa berbicara dengan dirinya, yang kedua karena Rey bikin Nata naik tensi pagi-pagi buta, gimana enggak saat jam 4 pagi, entah karena apa Rey membangunkan Nata, dan setelah ditanya, jawabannya hanya


Emang salah kalo bangunin istri?


Ingin sekali Nata mencelupkan badan Rey ke tong bahan kimia. Untung saja Nata ingat statusnya sebagai istri dari seorang Reynald, jika tidak mungkin Rey akan beneran dicelupkan ke tong berisi bahan kimia.


Lalu saat Nata ingin tidur kembali, dengan cepat Rey mencegahnya. Katanya


Mau ngapain?


Kali ini Nata hanya mendiamkan Rey, ia terlalu malas merespon. Dari pada melayani suaminya yang entah karena kesambet apa jadi aneh, Nata memutuskan melemparkan bantal ke wajah Rey, dan kembali tidur.


Namun ketika ia bangun, sekitar jam 5 pagi, wajahnya sudah penuh dengan sepidol dan untungnya sepidol tersebut tidak permanen, jadi ia dapat menghapusnya dengan pembersih make-up. Tapi sebelum itu, ia mengamuk bahkan setelah ia mengamuk, Rey masih saja tidak terbangun, sempat terlintas dibenaknya Nata bahwa Rey adalah putri tidur, ralat, maksudnya pangeran tidur.


Dengan kesal, Nata mengambil sepidol yang dipakai Rey untuk menghias wajahnya hingga menjadi cantik seperti ini. Lalu, ia mencoret wajah Rey, bahkan lebih banyak dari dirinya.


"Nata, ini..." ucap seorang lelaki berkaca mata tebal, sambil menyerahkan secarik kertas. Lelaki tersebut bukan berasal dari kelas Nata.


Dari penampilan, Nata yakin 100% bahwa lelaki tersebut memakai kaca mata tebal karena bermain game atau sejenisnya dengan waktu yang lama.


Alasan Nata yakin, karena lelaki didepannya tidak sekelas dengan dirinya, yaitu kelas unggulan. Mengingat lelaki didepannya memakai kaca mata tebal karena belajar, pasti seharusnya ia bisa mendapat kelas unggulan, tapi kenyataannya, sudah pasti lelaki didepannya kebanyakan bersama kekasihnya, yaitu benda elektronik yang memancarkan radiasi.


Nata saja yang pencinta anime tidak sampai pake kaca mata, Nata bergidik ngeri membayangkan apa saja yang dilakukan oleh lelaki didepannya hingga memakai kaca mata tebal.


Nata menerima kertas tersebut, namun tidak ia baca, Nata terlebih dahulu mengajukan pertanyaan, layaknya sedang mewawancarai pelamar kerja.


"Lo kelas berapa?" tanya Nata dengan nada jutek. Bukan karena tidak suka dengan orang didepannya, namun Nata masih kesal dengan Rey.


"Ke-kelas... XII IPA-5..." jawab lelaki tersebut gagap.


Kan benar tebakan Nata, bahwa lelaki didepannya hanya seorang pencinta pacar –benda elektronik beradiasi–. Kelas IPA-5 sendiri merupakan kelas dengan orang-orang memiliki otak dibawah rata-rata di jurusan IPA. Ya, memang SMA Bima Sakti menggunakan sistem tes penentuan kelas yang dilakukan setiap tahun ajaran baru.


Nata segera membaca isi dari surat tersebut. Mood Nata semakin bertambah jelek saat membacanya.


Natasya....


Kenalin, nama gue Evin... E-V-I-N.


Gue dari kelas XII IPA-5.


Eits, kelas gue emang terbawah di jurusan kita, tapi jangan salah, gue punya bakat terpendam...


"Bakat terpendam? Palingan juga main game..."


Gue selalu dapet uang rata-rata senilai Rp.1.000.000/bulan. So, gue bisa beliin lo apa aja, tanpa pake uang ortu. Hebat 'kan gue...


"Yaelah... Cuma gitu aja? Idih, untuk sesaat gue bersyukur suami gue Rey bukan ni anak lebay..."


Lo minta baju, gue beliin.


Lo minta uang, gue kasih.

__ADS_1


Lo minta mobil, pasti gue beliin... Tapi kalo uang gue udah cukup...


Hehe...


"Dikira gue matre apa! Kalo gue matre, semua laki-laki udah gue porotin dari dulu, apalagi face gue terbilang bagus..."


Buah Nanas, Buah Kedondong...


Gue ganteng, elo cantik...


Neng gelis cantik ngalahin emak...


Neng gelis mau tak jadi pacar gue?


"Ya tuhan... Semoga nanti malam Nata gak mimpi buruk"


***


Shella dan Aura memasuki kelas, namun yang mereka dapat hanyalah sebuah kerumunan orang.Mereka pun memutuskan untuk melihat.


"Woi, Za... Kenapa ni? Rame bener..." tanya Shella pada Eza, teman sekelas.


"Sahabat lo ditembak, la..." jawabnya tak lengkap.


"Sia-" ucapan Shella terpotong oleh teriakan orang-orang dikelasnya.


"TERIMA!"


"TERIMA!"


"A*JIR! TERIMA AJA ELAH!"


Kaum hawa kebanyakan mendukung, sedangkan kaum adam kebanyakan menentang, dan ada juga yang netral.


"Shel! Nata itu!" ucap Aura sambil menunjuk Nata yang berada ditengah kerumunan.


"Serius? Wah... Kita harus dukung nih!" seru Shella semangat.


Tok...


Aura memukul kepal Shella. Lalu Aura segera memelototi Shella dengan tajam.


"Auu... Sakit..." ringis Shella, "lo jahat bener deh, Ra..."


"Bodo..." jawab Aura kesal.


"Lagian kenapa juga lo malah getok kepala gue, huh?!" kesal Shella.


"Ya karena..."


"Karena?" selidik Shella, "lagian ni ya... Gue kan gak ngomongin lo, kok lo yang marah, sih!" kesalnya.

__ADS_1


"Nah, itu masalahnya..."


"Iya, tapi apa masalahnya?"


"Itu karena Nata udah jadi bini orang!" ingin sekali Aura berteriak seperti itu, namun apa daya, pernikahan Nata harus ia rahasiakan.


"Ck... Pokoknya kita harus bantu Nata!" putus Aura dengan nada tingginya. Shella menciut, sama seperti Nata, Aura jika sudah marah akan sangat seram, namun masih seraman Nata sih.


"DIAM!!!!" teriak Nata yang berhasil membuat semua warga kelas terdiam.


"DISINI GUE YANG DITEMBAK, KENAPA KALIAN YANG RIBUT, HUH?! JAWAB! KENAPA DIEM AJA, TADI KOK RIBUT?" Nata meluapkan segala kekesalannya yang terpendam sejak tadi pagi.


"Macan bangun, Ra... Gimana nih?" tanya Shella takut.


"Untung aja lo gak ikut campur tadi, see... Semua kena batu kan... Makanya jangan pernah ikut campur urusan orang lain, apalagi masalah percintaan..." jawab Aura bijak.


"Hay Everybody!!!" seru Aleya yang tidak sadar akan situasi tegang. Karena memang Aleya baru datang.


Aleya menyeritkan dahi saat dirasa semua pasang mata di kelasnnya menatapnya.


"Ke-" Shella segera membekap mulut Aleya.


"Macan tidur bangun..." bisik Shella yang langsung dimengerti oleh Aleya.


"Lanjutin aja, hehe..." ucap Aleya tak sekeras saat ia berteriak tadi.


"Semuanya! Pergi ke lapangan! Hitungan 10 semua orang yang ada dikelas ini, harus ke sana, sampek aja ada yang gak ke sana... Gue bunuh!" ujar Nata kesal. Nata pun berjalan mendahului semua.


Semua yang ada dikelas XII IPA-1 pun mengikuti Nata yang berjalan biasa, tanpa ada niat lari.


"Sa-tu!" teriak Nata.


"Du-a!"


Nata menghitung, tidak ada yang curiga dengan hitungannya. Namun, ada beberapa yang merasa janggal dengan hitungannya.


Ini semua orang kelas pada ngikutin, ngapain si Nata ngitung?


Yang merasa janggal pun segera berlari ke lapangan. Yang tidak merasa janggal hanya terus mengikuti Nata.


"Sem-bilan!"


"Se...puluh!" Nata berhenti di tangga menuju lapangan out-door. Ia melihat orang bodoh mana yang mengikutinya.


Semua berhenti saat melihat Nata berhenti. Semua orang menatap Nata heran. Lapangan ada didepan mata, kenapa Nata tidak jalan?


"Tadi gue bilang apa, huh?! Sebelum hitungan 10, semua orang yang ada dikelas tadi harus di lapangan! Lah ini dimana? Di tangga!" Nata berteriak kesal. Semua orang sadar, mereka segera berlari ke lapangan yang tepat berada didepan mata.


Vanes Hyoka


*gue nulis ini auto asal.... my inspirasi hilang... so, klo gak suka gpp... gue nulis untuk kesenangan pribadi gue juga... tapi klo suka, like aja ya.... coment juga... and share cerita ini agar makin banyak yg suka...

__ADS_1


__ADS_2