Perjodohan?!

Perjodohan?!
|17|


__ADS_3

Nata berjalan turun dengan malas, ia sungguh sangat-sangat mengantuk. "Dasar cowok sialan!" maki Nata didalam hati.


Sekarang waktu menunjukan pukul enam lebih lima belas menit pagi. Bukankah sangat langka melihat Nata bangun jam segitu.


"Eh ada Nata... Udah siap aja..." ucap Melly saat melihat Nata turun dengan baju seragam SMA Tunas Bangsa.


Nata tersenyum menanggapi Melly, "Pagi, bun..." sapa Nata.


"Pagi juga, sayang..." balas Melly sambil berjalan menuju dapur. "Bunda denger dari mama kamu, kamu biasanya jam setengah delapan baru bangun, kok masih jam enam udah bangun, sayang?" tanya Melly.


Nata segera mendudukan dirinya disebuah kursi yang memang segaja diletakan didapur. "Bunda kan tau... huahem.... Kalau Nata harus-"


"Iya-Iya... Bunda tau, kamu mau bersiin make-up tebal kamu, kan...." Nata hanya tersenyum tidak enak.


"Maaf ya, bun..." ucap tulus Nata.


"Untuk apa, sayang?" Melly menghampiri Nata yang wajahnya sudah kusut.


"Karena udah ngerepotin..." jawab Nata seadanya.


Melly tersenyum, "Ngerepotin gimana? Jelas-jelas bunda yang ngerepotin kamu, sayang..."


"Enggak... Emang bunda udah ngerepotin kayak gimana? Perasaan Nata yang ngerepotin deh..." ucap Nata jujur.


"Ya maksud bunda, kamu rela dandan kayak gini karena an-" Nata mengeleng-gelengkan kepalanya mendengar penuturan ibu mertuanya.


"Ini kan kemauan Nata, bun... Huahem..." Nata mengucek mata kanannya, "Yaudah... Nata mau pergi, takutnya lama bersiin make-up nya..." Nata segera bangun dari kursinya.


"Daa sayang... Jangan samoek telat ya..." Melly segera menganterkan Nata keluar.


"Iya,Bun... Daa bun... Ojol nya udah nunggu..." Nata pun berlari menghampiri ojek online sambil melambaikan tangan ke Melly.


***


Lina menatap horror anaknya, padahal baru saja ia tinggal satu jam yang lalu, eh udah masuk ke alam mimpi saja anaknya itu.


Lina menatap anaknya yang sudah bersih tanpa make-up, ia melihat jam dinding yang berada dikamar Nata, jam menunjukan pukul 07.55 WIB, yang artinya lagi 5 menit, bel sekolah akan berbunyi.

__ADS_1


"Na-NATA!!!" suara Lina menggema keras dikamar Nata, namun sang empu bukannya bangun, ia malah mencari posisi yang lebih nyaman.


Lina menatap anaknya dengan mata seperti seekor singa lapar. "Dasar! Udah bersih, udah lengkap seragam, udah pake sepatu, eh malah molor..." Lina mengeleng-helengkan kepalanya. Ia sungguh ingin membuang anaknya ke sumur saat ini.


Dengan segala kekuatan yang tersisa, Lina berteriak. "NATA!!! SUAMI KAMU MAU NYIUM KAMU!!!" Nata terbangun dengan perasaan kaget dan takut mendengar kata 'nyium' dan 'suami'.


"Mana? Mana?" tanyanya masih dengan kondisi setengah sadar. Lina langsung menjewer anaknya. Kalau masalah seperti ini, eh langsung bangun, coba kalo masalah sekolah, bukannya bangun eh malah makin molor kayak ****. Lina menggelengkan kepalanga.


"Aduh-aduh, mah... Sakit-"


"Liat jam! Kamu mau sekolah ato gak, huh?! Cepet pergi!" Lina segera menarik Nata keluar dari kamarnya, padahal Nata masih lemes karena serpihan nyawanya masih belum masuk ketubuhnya.


"Aduh mah... Nata bisa jalan sendiri!!!" kesal Nata saat ibunya terus saja menariknya, bahkan ibunya tidak peduli saat Nata terbentur meja, ibunya terlalu asik menarik Nata.


Nata menjalankan mobilnya dengan perasaan kesal. Ibunya benar-benar keterlaluan, bukannya baik-baikin gegara saat ini Nata udah nikah, eh malah ibunya makin jahat sama anak gadianya itu. Padahal, Lina melakukan hal tersebut karena rasa peduli dan sayangnya terhadap Nata. Kan banyak orang bilang, ibu mengungkapkan rasa pedulinya lewat amarah.


Sebenarnya, Nata sangat jarang membawa mobil kesekolah. Cuma karena mengingat waktu yang sudah terbilang siang, akan susah menemukan angkutan umum, dan mustahil juga ia memesan ojek online diwaktu mepet.


Nata sepanjang perjalanan, ia terus saja menguap. "Dasar cowok sialan!" makinya lagi pada suaminya. Ia sungguh sanat mengantuk.


Sepulang dari toko VAPE, Rey dimarahi habis-habisan oleh Melly bahkan Rey juga dihukum membersihkan kebun rumah yang sudah pasti sangat amat besar.


Nata hanya tersenyum melihat suaminya tersiksa baik mental dan fisik. "Rasain! Nata dilawan..." batin Nata senang.


Nata pergi meninggalkan suaminya yang sedang membersihkan kebun. Nata diantarkan kekamar Rey oleh Mbok Iyem. Nata dibuat kagum dengan kamar Rey yang terbilang elegan dan tentunya rapi. Yaiyalah rapi, wong Reynya baru beberapah hari yang lalu tinggal dikamar itu gegara Reynya di Amerika sekolah.


Nata segera membaringkan diri di King Bednya. Nata sekarang istri Rey, jadi segala sesuatu yang dimiliki Rey, sudah pasti milik dirinya. Walaupun hanya Nata yang berfikir seperti itu.


Nata tertidur dengan wajah tanpa dosa.


***


Nata terbangun karena hari sudah mulai gelap. Ia pun segera memasuki kamar mandi yang menurutnya juga tidak kalah bagus dengan kamarnya.


"Duh... Udah jam setengah tujuh... Harus bantuin bunda buat makan..." Nata segera turun untuk membantu Melly mentiapkan makan.


"Malem, bun..." sapa Nata, "Nata bantuin ya... Bi-"

__ADS_1


"Jangan kasih, bun... Nanti masakannya gak enak!" potong Rey dengan nada kesalnya. Rey baru saja selesai membersihkan kebun rumahnya, sungguh melelahkan.


Nata menatap kesal Rey. Ia memang seorang Bad Girl, namun ia tidak seperti Bad Girl yang dicerita-cerita, gak bisa masak lah, gak bisa bersih-bersih rumah lah, dan lain-lain. Nata itu pinter bersih-bersih, apalagi kalo masak-memasak, ia jagonya apalagi mengingat ia suka makan. Nata tidak ingin jika suatu saat, saat Nata menikah ia tidak bisa mengerjakan tugas sebagai istri. Sungguh memalukan bukan?


"Hus... Kamu itu, masa istri sendiri kamu gituin!" ucap Melly sambil menyentil dahi anak cowoknya itu.


"Duh... Sakit, bun..."


"Makanya... Jangan gituin istri kamu, Rey..." ucap Melly sambil menatap tajam anaknya.


"Yang anaknya siapa, yang dibela siapa..." gumam Rey yang tentunya didengar oleh Melly dan Nata.


"Apa kamu bilang?!" tanya Melly dengan wajah yang sungguh-sungguh sangat menyeramkan.


"Eh-enggak bilang apa-apa kok bun... Heheh..." jawab Rey takut.


"Bunda the best deh..." batin Nata senang.


Rey menatap tajam Nata. Rey yakin, pasti Nata saat ini senang pake banget. "Inget aja nanti, cewek sialan..." batin Rey kesal.


"Hallo everyone! Eh ada ipar ku sayang!..." teriak Shella.


"Ribut!" ucap sinis Rey sambil meninggalkan mereka. Rey ingin mandi sekarang, badannya bau keringat.


"Biarin... Weleee..." balas Shella sambil menjulurkan lidahnya.


"Ada apa ini... Kok rame-rame didapur?" tanya Shella kepo.


"Katanya Natanya mau bantuin bunda buat makan... Gak kayak kamu yang masuk dapur aja perlu dipaksa..." sindir Melly yang langsung membuat Nata tertawa, sedangkan Shella jangan ditanya lagi, ia sudah sangat kesal dan marah.


"Iss bunda jahat! Iya-iya... Shella bantu..." ucap Shella yang langsung disenyumi oleh Melly.


"Yaudah ayuk..." mereka masak bersama-sama, bahkan Bik Iyem saja disuruh jangan bantu.


Sejak pertama memasak, Shella terus saja melakukan kesalahan, bahkan ia hanya disuruh memotong bawang saja tidak becus. Namun Melly tidak menyuruh Shella pergi dari dapur karena sangat jarang Shella mau bantu masak. Biarkanlah Shella banyak salah, nanti kalau udah sering-sering, pasti bisa.


Vanes Hyoka

__ADS_1


__ADS_2