
Selesai berias dan memakai baju seragam SMA Tunas Bangsa, Nata memutuskan untuk turun mengingat waktu sudah menunjukan pukul 15.39 WIB. Setidaknya ia harus sudah dirumah keluarga Agantara jam 4.
Nata keluar dari kamarnya, tapi seketika ia terkaget mendengar pekikan Aura.
"Is sakit!" pekik Aura.
"Astaga! Gue kira kambing melahirkan..." gumam Nata sambil mengelus dadanya.
Nata ke tangga, namun yang ia lihat bukanlah Aura yang kesakitan, namun Aura yang tertawa bahagia bersama kakaknya.
"Modus..." batin Nata melihat Aura menyentuh kakaknya, namun Nata tidak marah, ia malah tersenyum melihat kedekatan kakak dan sahabatnya.
"Semoga aja cepet-cepet teken..." batin Nata sambil tertawa memikirkannya.
"Akhem!"
Aura dan Albara seketika terkaget, mereka berdua menoleh kesumber suara, dan mendapatkan Nata dengan senyum yang sulit diartikan.
"Na-nata..." ucap Aura dengan gugup.
"Gue pergi dulu, ya..." Albara segera pergi, alasannya tentu saja karena malu dan juga gugup pastinya.
"Kok pergi? Baru aja gue dateng..." Nata berkata dengan dramatis. "Lo gak suka gue ganggu kebersamaan lo dan sahabat gue tecayang, ya bang?" Albara menatap tajam Nata, dan hal itu langsung membuat Nata tertawa terbahak-bahak, sedangkan Aura, jangan ditanya wajahnya sudah merah seperti tomat busuk. Albara segera neninggalkan kedua perempuan yang sebaya itu
"Sorry lama..." Aura tersenyum menanggapinya, padahal hatinya sudah kesal karena diganggu.
"Jadi gak ?" Nata duduk disebuah sofa single. Aura menyeritkan dahi, Nata segera memutar matanya malas.
"Tentang gue loh..." jawab Nata malas. "Pikun banget sih..." lanjut Nata bergumam, untung saja Aura tidak mendengar.
__ADS_1
"Oh... Jadilah...!" seru Aura semangat, Nata pun segera melangkahkan kakinya kemobil Aura.
"Loh? Ngapain?" Aura bingung, bukannya bercerita, Nata malah pergi kemobilnya yang terpakir rapi di pekarangan rumah Nata.
"Ya... dimobil aja ceritanya... Gue setidaknya jam 4-an harus ada dirumah si Shella... Btw, rumah Shella, rumah gue juga sih, sekarang...." jawab Nata sambil terkekeh diakhir.
"Gue ngaterin lo? Nanti si Shella liat gimana?"
"Bilang aja gak sengaja ketemu dijalan, kan kita udah kenalan pas dinikahan gue..." jawab Nata enteng sambil memasukan dirinya kemobil. Aura pun ikut masuk.
"Rumah gue sama si Shella beda arah, Nat... Nan-" Nata segera menutup mulut Aura menggunakan jari lentiknya.
"Bilang aja lo mau main kerumah dia lah..." Nata berucap sambil memandang Aura masam. Semenjak kapan sahabatnya menjadi cerewet seperti ini, setaunya Aura hanya akan cerewet disaat penting, bukan kayak gini, unfaedah banget, batin Nata.
"Lo Aura, sahabat gue, kan?" Belum ada 1 detik semenjak pertanyaan itu dilontarkan Nata, Nata langsung dicubit oleh Aura dengan sadis.
"Som*lak lo! Lo kira gue apa, huh?!" kesal Aura. Nata tampak berfikir serius.
***
"Serius?! Lo berani sumpah apa?!" Aura tidak percaya dengan cerita yang Nata katakan.
"Sumpah... Ini si Nata-nya yang terlalu bodoh atau dianya yang terlalu polos? Kalau gue yang jadi Nata, gue gak bakal pake nyamar-nyamar jadi nerd kayak gini, secara suaminya ganteng, eh? Aduh tobat, Ra... Maaf Al... Hatiku padamu, Al..." batin Aura sambil tersenyum diakhir, tentunya hal itu langsung membuat Nata takut, takut sahabatnya kerasukan atau gak gila, kan bisa jadi.
"Lo gak mulai gila kan, Ra?" tanya Nata takut. Menurutnya, orang gila dan hantu itu hanya 11 12, sama-sama tidak berfikir logis.
"Lo nyumpahin gue ya, Nat? Lo dari tadi kok kayak gimana gitu sama gue..." kesel Aura yang langsung membuat Nata senang.
"Oh iya... Ini si pendapat pribadi gue aja... Apa gak sebaiknya lo bongkar penyamaran, Nat?" Nata seketika menyerit, mungkin jika ini pendapat Shella dan Aleya akan ia diamkan, tapi ini Aura, orang yang paling bijak dan tentunya pengertian.
__ADS_1
"Ya maksud gue... Gue kasihan aja liat suami lo punya istri jelek, burik lo! Apalagi mengingat suami lo playboy... Gue gak habis pikir gimana dia baik-baik aja sampek saat ini... Nat, coba lo periksa deh kementalan suami lo..." Nata menepuk dahinya mendengar penuturan Aura yang entah antara kasihan dengan suaminya atau mengejek suaminya secara halus.
"Ra... Lo itu orang yang paling oke diantara kita berempat untuk curhat dan memberi pencerahan. Kok sekarang pencerahan lo, gak mutu banget?" Aura segera mengerem mobilnya, tentunya hal itu langsung membuat kendaraan dibelakangnya mengebel mobil Aura kesal, entah itu mobil atau motor.
Sedangkan Nata, jangan ditanya lagi, dahinya sudah membentur , walau tidak sampai berdarah-darah, yang namanya terbentur pastilah tetap sakit, kan?
"Aduh..." Nata meringis sambil memegang dahinya, lalu ia menatap Aura dengan kesal dan marah.
"Ck! Kalo lo gak bisa nyetir, ya gak usah nyetir lah, Ra... Lo bisa ngebuat penumpang lo jantungan tau... Lo mau masuk penjara karena ngebunuh orang cuma karena ngerem mendadak? Gak kan..." sindir Nata yang langsung membuat Aura merasa bersalah.
"Sorry lah... Hayati terlalu kaget dengan ucapan mu, wahai sahabat..." Nata langsung menampol Aura dengan sedikit keras.
"Sakit, Nat... Lo gak punya rasa kemanusiaan banget sih..." Nata hanya masa bodo dengan respon Aura.
"Ra... Ini cuma hipotesis gue aja sih... Apa karena abang gue, lo jadi gak kayak Aura yang gue kenal?" Aura segera memelototi Nata.
"Semerdeka lo aja, Nat... Mau nganggep gue alien, daki miper, ato apalah... Semerdeka lo aja!" kesal Aura, Aura akhirnya melanjutkan laju mobilnya yang memang sedari tadi belum jalan bahkan sampai banyak mobil atau motor mengebelnya dengan tidak sabaran.
***
Nata dan Aura memasuki kediaman Agantara dengan kagum, memang bukan pertama kali mereka datang, apalagi mengingat Nata tinggal disini, tetapi mereka masih saja kagum, mereka layaknya orang desa yang baru pertama kali melihat rumah besar saja, norak.
"Sore non Tasya... Dan" Mbok Iyem menggeserkan tubuhnya agar melihat orang yang tepat berdiri dibelakang Nata, "Eh, ada non Aura..." Mbok Iyem tersenyum ramah menyambut mereka berdua.
"Non Aura mencari non Shella, ya?" tanya Mbok Iyem yang dibalas anggukan oleh Aura, "Wah kebetulan sekali, non Aleya juga disini... kurang non Nata-nya aja sih..." Aura mangut-mangut mendengarnya. Seperti biasa, Mbok Iyem gak peka, pikir Aura.
"Non mau saya antarkan kekamar non Shella?" tanya Mbok Iyem yang langsung ditolak secara halus oleh Aura.
"Gak usah, mbok... Saya bisa sendiri, sekalian saya mau coba inget-inget rumah ini... Dan disini juga ada Tasya, biar dia aja yang anter saya, kan tadi saya sudah menganter kesini, iya kan sya?" Nata mengangguk menyetujui ucapan Aura.
__ADS_1
"Oh pantes non Tasya turun dari mobilnya non Aura..." Mbok Iyem langsung meninggalkan mereka berdua, untuk membuat beberapa minuman dingin.
Vanes Hyoka