
"Pokoknya 10 menit!" kesal Nata sambil turun dari motor Rey. Sedangkan Rey hanya mendiamkan Nata, energinya habis gegara debat di motor.
Rey memasuki Cafe Laksmana Sari diikuti Nata dengan wajah kesalnya. "Tenang, Nat... Jangan esmosi, inget kalo cowok itu makhluk paling gak peka sedunia!" batin Nata sambil memandang punggung Rey dengan penuh amarah.
Dari kejauhan, Feya melambaikan tangannya dengan penuh semangat. Mungkin karena tubuh Rey yang lebih besar daripada Nata, dari depan Nata sama sekali tidak terlihat.
"Kamu dari mana aja? Aku nunggu 30 menit lebih loh..." ucap Feya sambil menatap manik mata Rey dengan lembut.
Dikarena emang dari sananya Nata orangnya masa bodo, akhirnya ia langsung duduk. Sedangkan Feya masih belum menyadari kedatangan Nata.
"Awas aja ni cowok lama, gue mutilasi dia! Dasar cowok, gak ngerti perasaan cewek yang lagi bocor!" batin Nata kesal sambil memandang keromantisan Rey dan Feya. Padahal kenyataannya Rey sama sekali tidak menanggapi Feya yang bertanya layaknya rel kereta api.
"Fey, udah stop. Gue mau ngenalin seseorang," ucap Rey datar dan dingin.
"Lo dan gue sampek sini aja," Feya menahan nafasnya. Jantung nya berdetak sangat keras, bahkan kepalanya terasa pusing.
" Dan dia–" sambil menunjuk Nata, "–pacar baru gue". Tanpa sadar, Feya mengikuti arah tunjuk Rey, Nata!
Nata memelototi Rey. Pacar katanya? Hello, mana mungkin dia, seorang Natasya mau pacaran dengan seorang Playboy kayak Reynald. Pacaran aja gak mau, apalagi nikah! Big no!
Ya, tapi Nata emang gak bisa lari dari kenyataan sih. Dia, seorang Nata sudah nikah dengan cowok playboy.
"Ga-gak bisa gitu do..ng..." mulut Feya bergetar. Air matanya mulai keluar, bahkan otaknya bukan hanya pusing, tapi mau pecah.
"Kok gue ngerasa kayak pelakor ya?" batin Nata, "Ah, Enggak! Yang ada dia yang pelakor, kenyataan istri statusnya lebih tinggi... Eh buset dah, secara gak langsung berarti gue ngaku dong punya hubungan sama dia... Enggak, Nat! Tenang... Tenang..."
Plak...
Feya menampar Nata dengan sangat keras, bahkan bayak pengunjung yang pertamanya masa bodo jadi ikut nguping.
"Ih cantik-cantik kok pelakor..."
"Cewek cantik emang gak bisa dipercaya..."
"Keteraluran banget yang nampar, kan kasihan mukanya..."
"Apaan sih, yang... Cewek gak tau diri kayak dia emang harus ditampar!"
Akhirnya baru sekarang Nata menyesal meminta bantuan Rey. Kalau gini ceritanya, kapan Nata bisa pulang coba? Untung baru hari pertama.
__ADS_1
"NATA! LO JAHAT BANGET, SUMPAH! GU-GUE.. GAK PERNAH CARI MASALAH SAMA LO, KENAPA LO MALAH REBUT REY.. hiks... hiks.."
"GU..GUE.. SAYANG SAMA REY, KENAPA LO REBUT, HAH?! hiks.. hiks..."
Nata menatap mata Feya. Tatapan mata Nata sungguh dingin. Orang tuanya bahkan tidak pernah menamparnya, terus kenapa Feya yang notabenenya adalah orang asing boleh menampar dirinya? Dan parahnya, Rey sama sekali tidak berniat membantu Nata. Padahak Rey lah yang bertanggung jawab atas masalah yang menimpa Nata saat ini.
"Jal*ng..." gumam Nata namun masih bisa didengar oleh Feya.
"JAL*NG LO BILANG?! GUE BARU TAU KALO LO ITU TERNYATA 'JAL*NG TERIAK JAL*NG'!" teriak Feya dengan mata melotot nya. Nata berdiri, tentu saja membuat Feya sedikit mundur.
"Lo tau gak, alasan kenapa gue gak pernah jadi target bully? Gak kan..."
"Lo tau gak, alasan kenapa gue selalu menang? Gak kan..."
"Lo tau gak, alasan kenapa gue ada disini sekarang? Gak kan..."
"Lo tau gak, alasan kenapa kalau cewek PMS itu galaknya kayak singa betina? Gue yakin lo tau, makanya jangan salahin gue..."
Plak...
Nata menampar Feya dengan tenaga yang lebih keras.
"Yang namanya jal*ng tetep jal*ng!" ucap Feya tak mau kalah.
"Lo tau maksud dari kata jal*ng yang lo bilang?"
"Ta-tau lah! Jal*ng sama kayak pelakor!"
"Pikiran lo sempit, tapi gak salah... Gue tanya, pelakor itu apa?"
"Lo bacot banget!"
"Jawab!" Feya merinding mendengar suara Nata yang sangat seram itu.
"Pe-pelakor itu orang yang ngerusak hubungan orang, masuk dipertengahan hubungan orang..."
"Tapi setau gue, pelakor itu kepanjangannya Perebut laki orang... Tapi lo sama dia gak nikah... Jadi?"
"Tapi dia tetep cowok gue!"
__ADS_1
"Ok, gue setujuin aja dah biar lo seneng... Tapi tadi lo bilang kalo pelakor itu orang yang ngerusak hubungan orang atau masuk dipertengahan hubungan orang, gitu?" Feya tidak mengerti maksud dari pertanyaan Nata, namun ia tetep mengangguk setuju.
"Ck! Selamat... Gelar jal*ng gue ato pelakor gue diserahkan kepada lo..." ucap Nata sambil tersenyum evil.
"Hah?! Maksud lo apa, jelas-jelas lo ya—"
"Asal lo tau aja, gue sama Rey udah punya hubungan sebelum dia masuk sekolah, dan kayaknya sih lo pacar barunya... Entah yang ke berapa... Jadi, disini yang jal*ng gue atau lo?" tidak sepenuhnya Nata berbohong, bahkan 100% Nata jujur, tapi menurut Rey mungkin Nata berbohong.
Rey tersenyum, diantara semua mantannya hanya Nata saja yang berhasil membuat seseorang yang mau protes karena diputusin, diam atau lebih tepatnya kalah.
"Lo pasti bo—"
"Fey, lo niatnya balikan sama gue, tapi malah bikin gue tambah ilfeel sama lo," ucap Rey tiba-tiba. Rey segera merangkul Nata, dan menggiring Nata keluar dari Cafe tersebut.
***
Disepanjang perjalanan, baik Rey ataupun Nata sama sekali tidak ada niat untuk membahas kejadian di kafe tadi. Lagian kejadian yang sudah berlalu, biar lah berlalu. Jika diungkit lagi, malah bukanya berlalu tapi malah belarut dipikiran mereka.
"Lo tau rumah gue?" pertanyaannya Nata sungguh sangat bodoh. Lagian Albara dan Rey merupakan sahabat, so suatu kewajiban bagi sahabat untuk mengetahui minimal alamat rumah lah. Walaupun Rey tau rumah Albara, tapi Rey belum pernah masuk. Hanya sebatas tau saja.
"Mustahil kalo gue gak tau," jawab Rey sambil tetap fokus ke jalanan. Sedangkan Nata, tidak ada hujan ataupun angin, ia malah menyengir.
"Lo keliatan kayak orang gila..." Rey dapat melihat ekspresi wajah Nata dari spion. Wajah Nata jadi cemberut lagi, padahal moodnya sudah mulai membaik.
"Bercanda, udah senyum lagi," bukannya senyum, Nata malah makin cemberut. Ucapan Rey itu kayak perintah, dan sayangnya Nata paling benci di perintah.
Hening...
"Gue boleh peluk lo gak..." Fiks, Nata saat ini sedang kerasukan hantu. Rey melihat wajah Nata melalui spion.
"Em, boleh." Rey sendiri sepertinya juga kerasukan hantu. Entah kenapa, Rey tidak bisa menolak Nata.
"Sekali saja..." batin Mereka berdua.
Vanes Hyoka
*Hay para reader, sorry baru up... kehabisan ide soalnya... Dan akhir-akhir ini gue juga jarang buka aplikasi ya... wkwkwk. Faktor utama gue buka aplikasi ini adalah karena komik, dan akhir-akhir ini komik yang gue suka up-nya 1 minggu sekali... Jadi, gue rada males buka aplikasi... Akhirnya gue ngabisin waktu gue Nonton anime deh. Persentase kegiatan gue dirumah. 1% mikirin jalan cerita novel ini, 4% belajar, 20% baca novel, 35% baca komik, 40% nonton anime... wkwkw unfaedah banget... Dan asal kalian tau, gue ngelakuin semua itu sambil rebahan...
#Always_Rebahan
__ADS_1