Perjodohan?!

Perjodohan?!
|21|


__ADS_3

Nata dan Aura memutuskan membicarakan hal itu dirumah Nata. Sebenarnya bisa saja mereka berbicara diluar, cuma mengingat Nata sudah menikah, jadi ia tidak bisa berlama-lama diluar seperti dulu.


"Eh... Lo mau nunggu disini atau dikamar gue?" tanya Nata sambil menunjuk sebuah sofa besar tepat didepan pintu masuk rumah. Aura tampak melihat-lihat rumah Nata yang memang besar, Aura memang sudah pernah kerumah Nata namun itu dulu.


"Eh!" Nata memukul pundak Aura, yang langasung membuat Aura meringis. "Mau dimana?!"


"Aduh... Lo jahat banget deh, Nat..." Aura masih memegang pundaknya yang baru aja dipukuli. "Abang lo mana?" tanya Aura yang langsung membuat Nata memutarkan matanya malas.


"Entar lagi aja balik..." jawab Nata malas yang langsung membuat Aura sumringah.


"Yaudah gue tunggu disofa itu aja..." jawab Aura sambil berjalan kearah sofa besar itu.


"Dasar! Kalo suka tembak aja langsung!" kesal Nata sambil meninggalkan Aura.


"Kalo gue tembak, entar mati dianya!" balas Aura dengan volume besar, mengingat Nata sudah ditangga.


"Bilang aja gengsi!" teriak Nata yang langsung membuat Aura tersenyum kecut.


Sambil menunggu Nata selesai mengganti baju dan bermake-upan. Aura memutuskan melihat foto-foto yang dipajang diruang tamu itu.


"Lucu banget deh..." gumam Aura saat melihat Albara versi mini.


"Udah berapa tahun gue gak kesini, ya? Duh lupa gue... Mungkin semenjak bokapnya meninggal..." batin Aura saat melihat sebuah foto Nata bersama keluarganya yang lengkap.


"Dan bodohnya gue bisa lupa sama wajah tante Lina... Aduh sebagai calon mantu, gue buruk banget..." gumamnya sambil tersenyum saat menyebutkan kata 'calon mantu'.


"Calon mantu siapa?"


Sebuah suara membuat Aura terkaget hingga meloncat kebelakang tentunya hal itu membuat mereka terjatuh, karena asal suara tersebut dari belakang Aura.


Mereka terjatuh dengan posisi orang yang mengagetkan Aura dibawah dengan Aura diatasnya. Tapi posisi mereka bukan kayak orang ditempat tidur ya. Aura membelakangi orang tersebut.


"Duh..." mereka berdua meringis.


Aura segera membalikan badan, dan Aura terkaget nendapatkan sosok pangerannya. Yup, orang tersebut adalah Albara Rionley. Ia terbengong memandang wajah Albara dari dekat.


Aura segera sadar, ia segera berdiri dengan wajah merahnya. Albara juga segera berdiri. Entah mengapa jantung Albara berdebar, padahal ia sudah sering bersama perempuan, bahkan ia sudah sering ONS.


"Maaf..." ucap mereka berbarengan yang langsung membuat mereka berdua saling memandang.


"Duluan.." mereka berbarengan lagi berbicara.


"Yaudah" sepertinya mereka berjodoh. Mereka berbicara besamaan lagi. Akhirnya mereka terdiam, karena gugup dan juga malu.


"Duh... Jantung gue kenapa, ya?" tanya Albara dalam hati.

__ADS_1


"Muka gue gak merah, kan? Malu banget..." batin Aura malu dan juga gugup.


"Ekhem! Men-mendingan kita duduk aja dulu..." saran Albara malu. Ini seperti bukan dirinya saja.


"Eh? Benar... Ayuk..." jawab Aura sambil berusaha menyembunyikan kegugupannya.


Mereka duduk bersebelahan, padahal masih banyak ada tempat duduk.


"Gue kenapa sih? Santuy Al..." batin Albara sambil berusaha tidak gugup.


"Ngapain lo disini?" tanya Albara dengan berusaha tersenyum.


"Nata..."


"Oh... Lo nunggu Nata?" ucap Albara, tapi setelahnya, "Eh?! Lo udah tau?!" seingat Albara, Nata memita merahasiakan pernikahannya bahkan kata Nata sahabat-sahabatnya saja tidak tau.


"I-iya..." jawab Aura tersenyum canggung. "Oh iya, tadi gue kaget banget disekolah, lo pindah kok gak bilang?" tanya Aura mengalihkan pembicaraan, ia sangat malas menjelaskan mengapa ia bisa tau perihal Nata.


"Biar surprise..." jawab Albara yang langsung membuat wajah Aura memerah bak kepiting rebus.


"Lo kenapa? Sakit?" tanya Albara sambil menempelkan punggung tangannya kedahi Aura.


"Badan lo panes! Lo gue bawa kerumah sakit, ya?" Sepertinya Aura akan mati kegirangan karena Albara perhatian.


"Hayati gak kuat..." batin Aura.


Ini pertama kalinya Albara perhatian dengan perempuan yang tidak memiliki hubungan darah dengannya. Albara bahkan kaget dengan dirinya yang ini. "Gue kenapa, ya?" batinnya.


"Tap-"


"Gak papa kok... Gue gak sakit kok..." potong Aura saat tau Albara masih menciba membawa Aura kerumah sakit.


"Terus, muka lo kok merah?" tanya Albara sambil menunjuk wajah Aura yang merah.


"Shit! Gue malu banget..." pikir Aura sambil menutup wajahnya.


"Eeh... Kok ditutup? Muka lo cantik kayak gi...ni..." sumpah, Albara tidak sadar ia berbicara seperti ini, bahkan ia sendiri kaget.


"Can...tik?" beo Aura. Aura serasa diterbangkan kesurga, jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan ia.


"I-iya..." jawab Albara sambil menghadap kesamping kanan, sedangkan Aura, ia berada di sebalah kiri Albara.


Krik... Krik... Krik...


Tidak ada yang membuka mulut lagi, mereka terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


"Gue dipuji?" batin Aura seneng.


"Gue kenapa sih? Tapi dia emang cantik... Bahkan pas wajahnya merah... Eh? Aduh... Gak boleh mesum, Al..." pikir Albara sambil tersenyum namun setelah itu wajahnya kembali datar.


"Non Aura... Ini minumannya..." Mbok Asih menyerahkan sebuah minuman dingin kepada Aura.


"Makasih Mbok..." jawabnya dengan senyum ramahnya, Albara yang melihat terpanah.


"Cantik..." gumam Albara yang langaung membuat Aura menyerit bingung.


"Eh... Maksud gue... Vas bunganya cantik banget!" seru Albara diakhiri senyuman kaku.


"Duh... Padahal ngarep" batin Aura sedih.


Mbok Asih yang melihat interaksi antara tuan mudanya dengan sahabat nonanya, tersenyum. Sepertinya akan ada benih-benih pasangan, batin Mbok Asih.


"Den... Perlu mbok buatin minuman juga?" tanya Mbok Asih.


"Gak usah... Nanti bisa buat sendiri"


"Yasudah... Mbok tinggal, ya..." Albara dan Aura mengangguk-angguk.


Canggung, satu kata itu memggambarkan susananya saat ini.


"Nata lama banget, ya..." Aura mencoba mendapatkan topik pembicaraan.


"Iya... Dia mah emang kayak b*bi" jawab Albara yang langsung membuat Aura tertawa terbahak. Albara tersenyum tipis melihat Aura yang tertawa.


"Gue kira cuma gue aja yang nganggep kayak gitu..." Aura menjawab sambil memegang perutnya yang sakit karena tertawa.


"Lo gak papa?" tanya Albara khawatir.


"Gpp... Ini mah bukan apa-apa..." jawab Aura sambil tersenyum lebar menunjukan gigi-gigi putihnya.


"Puft... Hahah.." Albara tertawa melihat tingkah Aura yang lumayan kekanak-kanakan. Ia segera mencubit pipi Aura yang lumayan chubby. Dan tentunya hal tersebut langsung membuat Aura meringis sakit, namun bukannya dilepas, Albara makin gemes dengan pipi Aura.


"Is sakit!" pekik Aura tak terima pipinya dicubit layaknya boneka.


"Biarin..." balas Albara sambil menjulurkan lidahnya yang tentunya langsung membuat Aura jengkel.


Aura segera menggunakan jurus rahasinya, yaitu 'jurus seribu gelitikan' ciptaan Nata. Albara langsung tertawa tanpa henti dengan serangan Aura.


Mereka tertawa tanpa sadar bahwa seseorang sedang memperhatikan.


"Akhem!"

__ADS_1


Vanes Hyoka


__ADS_2