Perjodohan?!

Perjodohan?!
|38|


__ADS_3

Setelah Rey mengantar Nata pulang kerumahnya. Dengan secepat kilat Nata berlari ke kamarnya, dan segera menggunakan make up handalannya. Dan ia mengganti baju, mustahil kan kalau seorang nerd yang menggunakan bahasa aku-kamu menggunakan baju balap, celana robek-robek.


"Duh... Gak ada pembalut, gue bawa semuanya ke apartemen," gumam Nata sambil menepuk jidat. Jika tau begini, kan tadi bisa minta Rey mampir.


Nata pun segera pergi ke kamar ibunya. Walaupun ibunya jarang dirumah, pasti adakan 1 atau 2 pembalut. Dan ya, dia dapet.


"Loh ada non Nata, mbok kira den Al..." suara Mbok Asih membuat jantung Nata berdetak tak teratur. Bukan karena perasaan yang disebut gugup saat mencintai seseorang, tapi perasaan takut layaknya terciduk sedang melakukan hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan.


"Ya tuhan, mbok Asih ngagetin aja deh... Lagian masa bang Al nyari pembalut..." ucap Nata sambil membayangkan Albara sedang mencari pembalut, pasti lucu apalagi kalau ketahuan.


"Kan mbok gak tau kalau non cari pembalut..." ucap Mbok Asih sehingga membuat Nata menyengir.


"Ya udah deh, mbok... Nata mau balik ke kamar dulu, habis itu Nata langsung ke apartemen..."


"Loh Mbok kira kamu mau nginep disini..."


"Maunya sih gitu, tapi belum minta izin sama suami," br*ngsek. Lanjutnya didalam hati.


"Oalah, udah ngakuin toh..." pipi Nata memerah.


"Apaan sih, mbok... Udah deh, Nata mau pake dulu..." Nata segera berlari ke kamarnya dengan wajah merahnya, jika lama-lama disamping mbok Asih, malah makin digoda nantinya.


"Duh, Non Nata pake Blu... blusing? bluson? blukon? ah pokoknya gitulah..." Mbok Asih segera keluar dari kamar Lina dan segera menutup kembali.


***


Nata berjalan mengendap-endap. "Duh, gue ngerasa kayak maling aja... Tunggu! palingan dia lagi di sirkuit, tadi kan bang Al cari dia..." Nata segera mengusap dadanya lega.


Namun detik selanjutnya jantung Nata berdetak sangat cepat. Lampunya tiba-tiba hidup! "Ya Tuhan! Cobaan apalagi ini... Kok lampunya tiba-tiba hidup? Hantu? Ah mustahil, setiap hari gue udah doa biar di apartemen ini gak ada penunggunya... Tunggu, ada satu penunggu... Rey! " Nata menggelengkan kepalanya. Dia masih berfikir bahwa setelah Rey mengantar Nata, ia langsung balik ke sirkuit.


"Dari mana?" suara dingin Rey membuat Nata jantung Nata tambah berdetak.


Inikah namanya cinta...


Inikah cinta...


Cinta pada jumpa pertama...


Inikah rasanya cinta...


Inikah cinta...


Terasa bahagia saat jumpa...


Dengan dirinya...


"Bukan woi!!! " batin Nata teriak.

__ADS_1


Nata membalikan badannya, hingga mata dia dan Rey bertemu. Mata Nata dengan segala kegugupannya, dan Mata Rey dengan segala kedinginannya.


"Ta-tadi dari minimarket..." jawab Nata gugup.


"Gue tadi habis dari minimarket..."


"Minimarket di deket Piz*a H*T..."


"Gue habis dari sana, gue gak liat lo..."


"**** gue kira dia habis dari minimarket di bawah," batin Nata.


"Aku tadi liat kamu, tapi ga-gak niat panggil..."


"Gue beli apa?"


"Mana gue tau, ocong !" batin Nata berteriak.


"Minuman?"


"Ditanya, malah tanya balik"


"Minuman!" untung saja semenjak Nata menikah dengan Rey, kesabaran mulai terbentuk. Jika tidak, udah dari tadi wajah Rey dicakar oleh Nata yang saat ini sedang PMS.


"Jawab jujur. Lo dari mana?" kali ini suara Rey terasa lebih dingin.


"Lo kalo mau nipu orang, lebih baik lo cari orang yang bisa lo tipu," Nata menegang.


"Pertama, gue gak beli minum. Kedua, gue gak pergi ke sekitar wilayah Piz*a H*T. Ketiga, gue gak ada pergi ke minimarket. Jadi, kok bisa lo liat gue?" Nata terdiam, ternyata dirinya sudah dibohongi. Bahkan Rey tahu dia berbohong, tapi kenapa dia tidak tahu kalau Rey berbohong juga?


"Susuai perjanjian, kamu gak boleh ikut campur urusan aku..." Dan Yap, jurus pemungkas adalah perjanjian itu sendiri. Rey terdiam.


"Gue tau, tapi lo tetep istri gue! Gue gak mau sampek orang-orang salah paham, mana ada seorang perempuan bersuami pergi keluar malem-malem entah kemana, tanpa seizin suami. Lo mau dibilang perem—"


"Terus mana ada laki-laki beristri pergi keluar dengan seorang perempuan yang bukan istrinya! Mesra-mesraan didepan istrinya!"


"Terserah gue dong... Dan lo gak berhak ikut campur urusan gue... Sesuai kesepakatan awal..." ucap Rey.


Nata menggeram, "Terus ngapain lo ikut campur urusan gue tadi, hah?!" maunya sih Nata ngomong kayak gitu, tapi dia hanya diam sambil mengepalkan tangannya.


"Gue gak salah kan? Tadi lo sendiri yang pake perjanjian sebagai temeng lo, terus kenapa gue gak boleh?" Nata terdiam, ya emang salahnya sih yang pake perjanjian sebagai pelindung nya tadi. Tapi kan beda cerita, dia cuma keluar tanpa selingkuh, lah suaminya keluar untuk selingkuh!


"Pertama, walau gue emang buat perjanjian gak boleh ikut campur masalah, tapi gue jujur. Lo tau gue selingkuh, dan gue gak ada niat untuk nutupin...


Kedua, gue nanya lo cuma demi kebaikan diri gue sendiri, bukan niat untuk ikut campur masalah lo! Kita nikah, baik secara hukum ataupun agama, kita udah sah. Terus apa salahnya lo sedikit ngasih tau kemana lo tadi pergi, lo ngasih tau bukan berarti gue akan ikut campur..." ucap Rey penuh penekanan.


Ya memang benar, di perjanjian hanya berisi 'Dilarang ikut campur' bukan berarti tidak boleh bertanya. Bertanya bukan berarti ikut campur, kan?

__ADS_1


Nata kalah!


Siapa yang tau kalau seorang sedingin Rey dan jangan lupakan Rey hanya bicara jika ingin saja, bisa membalikkan keadaan.


"Aku kalah, puas kan?" semenjak kapan seorang Nata mengaku kalah?


"Lo dari mana?" kali ini Nata menjawab dengan jujur, mungkin.


"Dari rumah mama"


"Ngapain?"


"Pingin aja"


"Oh"


"Hah? Cuma segitu aja responnya 'oh' aja? Hah?! Kalo tau gitu kan dari tadi gue jawab aja! Gak usah pake debat jadinya, dan gue gak akan bilang kalah didepan dia," batin Nata kesal.


"Aku mau ke ka—"


kriyuk... kriyuk...


Suara perut Nata berbunyi sangat keras.


"Lo laper?" tanya Rey, sudut kedua bibirnya terangkat sedikit, sangat-sangat sedikit sehingga tak terlihat.


"Hah? Mana ada!" elak Nata sambil menyembunyikan wajah merahnya. Bisa-bisanya disaat seperti ini cacing-cacing di perutnya demo!


"Oh padahal baru mau gue ngajak beli makan dilu—" Tanpa menunggu Rey selesai bicara, Nata segera menarik Rey. Jangan salahkan sifat Nata yang baru denger makanan langsung semangat.


"Katanya gak laper," sindir Rey.


"Hehe... Tiba-tiba laper," ucap Nata sambil menyengir. Jika saja Rey melihat wajah Nata saat ini, pasti dia akan langsung menyadari bahwa Nata dan Tasya adalah satu kesatuan yang sama.


Vanes Hyoka


Ada yang gak ngerti jalan cerita chapter ini? Jadi, maksudnya adalah Mereka emang buat perjanjian, tapi diperjanji yg mereka buat gak ada pelarangan untuk bertanya, kan? Nah, jadi Rey gak suka Nata menghindar dari pertanyaan menggunakan perjanjian yang entah sampek kapan bakal ada. wkwkwkw...


Dan maksud Rey bertanya itu sm kyk Nata di chapter sebelum2nya :


"Bukan urusan lo, dan lo gak lupa kan kalau lo dilarang ikut campur urusan gue?" siapa pun yang mendengar suara Rey yang dingin, pasti tiba-tiba merinding, kecuali Nata tentunya. Nata itu berbeda, Nata cuma takut sama hal-hal yang tidak logis atau tidak sesuai dengan sains.


"Aku tau! Tapi kalau semisalnya ada yang tanya, aku harus jawab apa? Masa aku bilang kamu lagi selingkuh!" seru Nata kesal.


"Lo punya otak ato gak sih? bilang aja gue lagi tidur atau apalah..." Nata mengutuk dirinya, kenapa ia tidak memikirkan alasan itu.


Oh iya, ternyata pas Nata tanya, Rey juga bilang "bukan urusan lo, dan lo gak lupa kan kalau lo dilarang ikut campur urusan gue?" wkwkwkw, intinya Rey juga salah... Dan mungkin jika Nata inget klo Rey pernah bilang ~~~, pasti Nata bakal lawan wqwqwq... Digebukin dah Reynya...

__ADS_1


Oke Gak lucu!


__ADS_2