
Hari yang telah ditunggu-tunggu oleh semua orang kecuali Nata dan Rey tentunya, akhirnya tiba. Nata saat ini berada diruang tunggu pengantin, betapa gelisahnya ia hari ini. Sebentar lagi, ia akan menyandang gelar sebagai istri muda. Memikirkannya saja sungguh menggelikan.
Berbicara tentang pernikahan, Albara alias kakak dari seorang Nata, pertamanya ia sangat menentang perjodohan ini tetapi semenjak Nata menjelaskan semuanya, entah mengapa Albara menjadi setuju, banget malah.
Nata menggunakan gaun putih polos namun terkesan elegan, sangat cocok dengan tubuh Nata, tetapi tidak dengan wajahnya. Wajahnya sungguh sangat buruk.
"Mah... Nata takut..." lirihnya didalam ruangan pengantin.
"Kenapa takut, sayang?" tanya Lina lembut.
"Benar sayang... Kenapa takut, kan ada bunda..." ucap Melly menambahkan. Semenjak 3 hari yang lalu, Nata mulai memanggil Melly dengan sebutan 'bunda'.
"Tapi... Nata tetep takut..." lirihnya lagi. Air mata Nata mulai menetes, yang tentunya langsung membuat kedua ibu-ibu tersebut terkaget.
"Kenapa nagis, Nat?" tanya Lina kaget. Lina langsung memeluk putrinya itu.
"Gak usah takut, sayang... Anak bunda juga gak ngigit kok..." ucap Melly berusaha menenangkan Nata.
Tok... Tok... Tok...
Albara mengetuk pintu, ia langsung masuk tanpa menunggu jawaban orang dalam. Ia melihat adik kembarnya menangis, tentunya langsung nembuat Albara kaget.
"Nat? Lo kok nangis? Siapa yang buat lo nangis?" Nata menggelengkan kepala mendengar pertanyaan konyol kakaknya. Ayolah, ia akan menikah yang artinya ia akan pisah rumah dengan mereka berdua, otomatiskan Nata takut dan sedih.
"Yaudah... Kalo gak ada yang gituin lo... Lebih baik, lo berhenti nangis deh... Lo jelek banget, habis itu make-up lo nanti luntur, gimana?" ucap Albara panjang lebar sambil menghapus air mata adiknya.
"Hiks... Gue takut, bang..." ucap Nata masih menangis.
"Kok lo takut? Emang si Rey hantu sampek lo takut? Enggak kan... Dan juga, kalo Rey ngapa-ngapain lo, abang yang bakal maju duluan..." ucapnya sambil menghapus air mata adiknya lagi.
Nata berhenti menagis mendengar penuturan kakaknya. Benar, kenapa ia harus takut, Rey itu bukan hantu ataupun sesuatu yang menakutkan, habis itu ia akan setiap hari ketemu abangnya disekolah, kalo kangen rumah cuma tinggal pulang, terus apa yang harus ditakuti lagi coba?
"Iya..." gumamnya
Albara tersenyum tipis mendengar ucapan adiknya, "Apa? Gue gak denger?" ucapnya berpura-pura tidak mendengar.
"I-iya..." ucap Nata yang tentunya didengar jelas oleh mereka bertiga.
"Gak jelas, Nat... Gue kagak denger..." bohong Albara.
__ADS_1
"IYA!!!" pekik Nata kesal. Baru saja moodnya baik, eh malah diburukin lagi. Albara yang mendengar tersenyum bahagia, kapan lagi mereka bisa bercanda seperti ini mengingat sebentar lagi adiknya itu akan dimiliki oleh orang lain, lebih tepatnya sahabatnya.
"Sudah... Sudah... Kalian itu masih aja bercanda..." ucap Lina sambil tersenyum.
"Sudah lah, jeng... Kapan lagi coba, mereka bisa bercanda kayak gini lagi..." ucap Melly yang dihadiahi anggukan oleh Nata dan Albara.
"Yasudah... Kenapa kesini Al?" tanya Lina, padahal tadi ia sudah menyuruh Albara untuk tidak kesini sebelum acara dimulai, mengingat status Albara sekarang. Dan juga, Albara lah yang akan mengantar Nata ke altar, itu pun dengan paksaan. Jika bukan Albara yang mengantar Nata ke altar, ia akan memberitau semua orang bahwa Nata adalah fake nerd.
"Mama ngusir?" tanya Albara dengan tampang pura-pura sedihnya.
"Al..." kesal Lina.
"Iya mah... Acara udah mulai, tinggal tunggu pengantin wanitanya aja..." ucapnya datar, "Nat... Yuk..." ajak Albara dengan nada datarnya. Ia sangat kesal, kenapa harus adiknya yang duluan nikah.
***
Nata berjalan dengan anggunnya yang didampingi oleh Albara yang berjalan dengan gagah. Mungkin jika Nata tidak berpenampilan nerd, mereka akan menjadi pasangan serasi.
Semua orang yang menyaksikan acara melihat hal tersebut termasuk Aura dan Aleya. Tentunya mereka diundang oleh Shella. Sebenarnya, Nata juga diundang tapi mana mungkin Nata menjalankan dua peran diwaktu yang bersamaan, jadinya ia beralasan tidak bisa datang.
Aura menatap cemburu kearah Nata dan Albara, tapi wajahnya tidak ada raut cemburu. Aura menatap Nata bingung, ia merasa seperti melihat Nata sahabatnya disana.
Acara pun berjalan lancar, walau saat pengucapan janji, baik pengantin pria ataupun wanita beberapa kali mengulang. Bukan karena gugup, tapi mereka terlalu enggan mengucapkan kata sakral itu.
Setelah acara selesai, Nata dan Rey terlalu sibuk diceramahi oleh orang tua mereka sedangkan yang lain bebas. Mereka membuat kelompok bicara sendiri-sendiri.
"Gue kaget banget tau... Liat pengantin wanitanya..." bisik Aleya agar tidak didengar oleh Nata, si pengantin wanita.
"Gue juga sih... Mengingat abang lo playboy..." tambah Aura sambil berbisik.
"Kalian kira gue gak? Gue kaget pake banget juga waktu itu... Padahal pertamanya gue niat bantu batalin ni perjodohan, eh malah gak jadi gegara pingin tau aja kehidupan rumah tangga mereka..." balas Shella sambil berbisik.
"Tapi... Namanya mirip Nata, ya?" ucap Aleya tanpa berbisik, toh topiknya tidak terlalu menyinggung orang.
"I-"
"A-ada a-apa? Kok bi-bicara in... A-aku?" tanya Nata tiba-tiba memotong Shella. Nata yakin, mereka pasti lagi menggosipi dirinya.
"Eh-enggak kok... Tadi kita lagi bicarain sahabat kita, namanya juga persis kayak kamu, tapi sayang dia gak dateng hari ini..." gugup Shella.
__ADS_1
"Hellow... Gue dateng, ya....tentunya sebagai pemeran utama di acara ini..." batin Nata.
"Ooo... A-aku kira ka-kalian bi-bicarain aku... Tapi, ke-kebetulan se-sekali na-namanya sama... Ya... Sa-sayang banget ti-tidak bi-bisa datang..." ucap Naya sambil terbata-bata.
Aura akhirnya sadar, yang didepannya ini adalah Nata sahabatnya. Ia segera memelototi Nata. Nata lupa, jika Aura sangat peka.
"Shit! Kayaknya si Aura sadar deh... Gawat!!" pekiknya didalam pikiran
"Gini aja deh... Biar gampang, kita manggil lo Tasya aja, gimana?" solusi Shella. Aura saat ini masih saja menatap tajam Nata. Ia akhirnya mengerti, kenapa Albara sampek ngaku-ngaku jadi mantan tetangga plus teman masa kecil Nata, tentunya agar ia diperbolehkan mengantar Nata ke altar tanpa ketahuan idetitas aslinya sebagai kakak kandung Nata.
"Sial!... Gue malu banget... Masa gue cemburu sama sodaranya..." batin Aura malu
"Em... Bo-boleh, kok..." jawab Nata.
Akhirnya hanya tersisa mereka berdua, Nata dan Aura. Shella pergi karena dipanggil oleh Melly sedangkan Aleya, ia pergi ketoilet.
"Lo Nata, kan?" tanya Aura tiba-tiba.
"Kan.. A-aku me-memang Na-nata..." jawab Nata masih terbata-bata.
"Huft... Plis deh berhenti boong, buat apa lo jadi nerd yang sering lo jijikin, huh?" ucap Aura to the point.
"Ma-maksudnya a-apa sih? Aku ti-tidak me-mengerti..." ucap Nata masih mengelak.
"Nat, gue serius!" Jika Aura sudah sampai bilang kata 'serius' artinya ia sudah tidak ingin dibantah lagi, jika dibantah sudah pasti ia akan mengamuk.
"Ck! Lo gak asik banget jadi orang, Ra..." ucap sabal Nata.
"Kok lo gak cerita sama gue ato yang lain? Kok lo main rahasia-rahasiaan?" tanya kesal Aura.
"Huft... Pc gue nanti... Jangan bilang sama yang lain dulu... Terutama si Shella, nanti dikasih tau lagi ke suami gue... Kan gak asik..." ucap Nata malas. Nata mengutuk dirinya karena menyebutkan kata suami gue untuk cowok playboy tersebut. Sungguh menjijikan.
"Kalo Ale-"
"No! Kalo si Aleya keceplosan, gimana?" Potong Nata. Walau Aleya itu hanya akan keceplosan diorang-orang terdekatnya saja, tapi tetap saja berbahaya.
"Iya, calon ibu..." Nata meninggalkan Aura dengan wajah kesalnya. Calon ibu katanya, oh ayolah, ia bahkan belum tamat SMA. Jadi, mana mungkin ia hamil, ditambah lagi ia akan mencoba menjaga jarak dengan suaminya agar tidak berhubungan badan. Jika bisa, ia tidak mau mengorbankan first kiss nya kesuaminya itu.
Vanes Hyoka
__ADS_1