
Sekarang mereka berada di sebuah toko penjualan VAPE. Bukan VAPE obat nyamuk, melainkan sebuah rokok elektronik.
Nata menatap tidak suka kearah Rey dan toko tersebut. Walaupun Nata seorang BadGirl, ia tidak pernah mencoba benda terkutuk tersebut. Menurutnya, menggunakan itu sama dengan bunuh diri. Bukankah jika ingin bunuh diri lebih baik langsung saja dari pada bunuh diri secara perlahan-lahan, menyiksa dirikan.
Rey masuk dengan santai, bahkan Nata saja ditinggalkan olehnya. "Dasar cowok nyebelin! Argghh... Gue masuk ato gak ya? Masa gue nunggu disini? Klo pulang, dompet gue ketinggalan... Bayar pake apa coba? Hati? Jantung? Argghhh... Gue masuk aja deh..." batinnya bingung.
Saat didalam, hal yang pertama ia cium adalah bau VAPE yang menyengat. Ah, ia pusing sekarang. Banyak pasang mata yang melihatnya bingung 'Ngapai cewek nerd kesini?'
Nata takut, ia merasa bahwa dirinya sendiri yang seorang perempuan, padahal disana ada beberapa perempuan. Namun perempuan disana menggunakan pakaian kurang bahan, bahkan ada juga yang bertato memenuhi badan.
Nata segera berlari mengejar Rey. Walau dari luar toko ini terlihat kecil, namun didalamnya sangatlah luas.
Nata memegang jaket Rey, dan hal tersebut langsung membuat Rey kaget.
"Ni cewek ngapain masuk?" batin Rey bingung.
"Kenapa?" tanya Rey to the point.
"Ikut..." jawab Nata dengan suara kecilnya. Ah, Nata pingin nangis sekarang. "Anj*r... Gue takut banget... Bantu Nata tuhan..." batin Nata takut.
Rey melanjutkan perjalannanya dengan Nata yang masih memegang jaketnya. Banyak pasang mata melihat nereka sekarang, mereka mah bodo. Sudah terlalu biasa.
"Yo!" sapa Rey saat melihat sahabat-sahabatnya.
"Eh... Ada babang Rey dan-" Robin bergeser kesamping agar wajah Nata terlihat, "Eh ada bininya Rey..." untung saja mereka ada diruang pribadi, jika tidak mungkin saja pernikahan Rey dan Nata akan ketahuan.
"Lo ngapain disini?" tanya Albara tidak suka saat Nata ada disebuah tempat terkutuk ini.
"Diajak..." jawab Nata sambil melangkah untuk duduk disamping Albara. Ia terlalu takut disini, dan saat ini ia pusing.
"Hah?! Diajak?" tanya Albara memastikan yang dibalas anggukan oleh Nata. Sedangkan Rey, ia menaikan salah satu alisnya, ayolah, kapan ia mengajak Nata untuk kesini? Tidak pernah kan.
"Ba*gs*t lo, Rey! Kok ade- maksud gue temen kecil gue diajak ke tempat terkutuk kayak gini. Lo mau ngibarin bendera perang?" Albara menatap tidak suka kearah Rey.
"Lah? Kapan gue ngajak dia... Dianya aja yang mau ikut..." jawab Rey seadanya. Ia segera duduk disamping Aska. Sedangkan Nata, ia sudah duduk disamping Albara sambil memasang wajah tidak sukanya ke Albara.
"Bener, Nat?" tanya Albara, namun Nata tidak merespon.
"Pulang, Al..." rengek Nata ke Albara. Nata saat ini sudah menarik-narik tangan Albara.
Albara mengerti kembarannya itu, pasti kembarannya itu sudah pusing dan tidak nyaman disini. "Yaudah.. Yuk.." Albara segera bangun dari tempat duduknya sambil mengandeng tangan adiknya.
"Eh? Mau kemana?" tanya Rey tiba-tiba.
"Menurut lo?" Albara segera menarik tangan adiknya agar adiknya segera bangun.
"Gak bisa gitu... Nanti yang ada gue dimarahin bunda gegara gak bareng ni cewek..." ucal Rey yang dibalas dengusan oleh Albara.
"Terus? Lo mau nganterin dia pulang? Enggak kan.. Yaudah gue aja yang nganterin..." Albara segera menarik tangan Nata untuk keluar dari ruangan tersebut, namun tangan Nata yang lagi satunya bebas malah ditarik oleh Rey.
"Lepas!" suruh Albara.
"Gak! Lo yang lepas!"
"Gak! Dia minta gue untuk nganterin, yaudah gue mau nganterin dia!"
"Dia sekarang bini gue... Dia udah sepenuhnya milik gue... Emang lu siapanya dia?" ucap Rey dangan Nada sinisnya.
__ADS_1
"Duh... Kayaknya ada cinta segitiga deh..." ucap Robin saat melihat adegan tersebut.
"Ini bukan yang pertama kalinya gak sih mereka rebutin cewek?" tanya Aska ke Robin.
"Iya... Tapi ini mah beda... Yang direbutin mah bininya Rey, udah pasti Rey lah yang menang..." jawab Robin.
"Kan bisa ditingung, bin..." jawab Aska.
"Kalian bisa diem gak sih!" teriak Nata yang langsung membuat semuanya diam. "Lepas!" suruh Nata yang langsung membuat Rey dan Albara melepaskan tangan Nata.
Nata segera menelphone Melly. Nata menggunakan mode Speker.
"Hallo, bun..."
"Iya kenapa sayang?"
"Ini loh bun, Reynya malah ngajak aku ke tempat ngeVAPE..." Nata melirik Rey sekilas.
"Bener sayang? Aduh... Maaf ya sayang... Nanti sampek rumah bunda hukum dia... Bilang aja ke Reynya, bundanya nyuruh pulang..."
"Makasih Bun..."
"Nanti kalo ada apa-apa telphone bunda lagi, ya..."
Tut.. Tut... Tut...
Albara menahan tawanya. Aduh, adiknya emang the best deh. Albara mengacungkan jempolnya ke adiknya itu. Sedangkan Rey, ia menatap kesal kearah Nata.
"Dasar! Tukang lapor!" batin Rey kesal.
Nata segera menelpon Lina, tentunya dengan mode speker.
"Ini loh mah... Tolong bilang kemamanya Albara, kalo Albaranya ngeVAPE.."
"Apa?! NgeVAPE? Oke sayang... Nanti mama bilang, biar tau rasa Alnya.."
Tut... Tut... Tut...
Sekarang giliran Rey yang menahan tawa. "Rasain tuh!" batin Rey senang.
"Nat... Kok lo jahat banget... Kan niat gue baik..." ucap Albara namun tidak direspon. Nata malah berjalan kearah Robin dan Aska.
Nata mengacungkan tangannya. "Mana no hp orang tua kalian?" tanya Nata dengan nada garangnya.
"Eh? Gak punya..." jawab Robin dengan senyum kakunya.
"Sama..." jawab Aska.
"Oh... " Aska dan Robin bernafas lega. "Turut berduka ya... Kalian gak punya orang tua, kan?" Aska dan Robin langsung membulatkan matanya sedangkan Rey dan Albara tertawa terbahak-bahak.
"Bukan gitu mak-" ucapan Robin langsung dipotong oleh Nata.
"Duh... Gak usah bacot deh... Gu-maksudnya aku buru-buru ini! Dasar manusia kurang kerjaan..." ucap Nata kesal. Aska dan Robin terpaksa memberikan nomber telpon orang tuanya.
Nata pertama memasukkan nomber telpon orang tua Robin, dan ternyata nomber tersebut sudah tercatat dihpnya dengan nama 'Tante Rose'
"Hallo tan.."
__ADS_1
"Eh Nata... Kok tumben nelpon?"
Robin membulatkan mata saat Nata dan ibunya, Rose saling kenal.
"Gini loh, Tan... Anak tante yang bernama Robin..."
"Kenapa?"
"Dia masa ngeVAPE tan... Padahal masih SMA loh..."
"Serius?"
"Iya tan... Nata pusing banget disini loh... Bau banget..."
"Makasih, Nat... Atas infonya... Nanti tante hukum dia sampek rumah."
"Enggak... Harusnya Nata yang berterima kasih karena tante mau ngehukum... Daa tan..."
"Daa sayang..."
Tut... Tut... Tut...
Nata menatap remeh kearah Robin. Sedangkan Robin, sudah panas-dingin dibuatnya.
Nata segera memasukkan nomber telpon orang tua Aska, tentunya nomber tersebut ternyata sama dengan Robin. 'Tante Antari'
"Sore Tan..."
"Sore juga, Nata... Kenapa? Kangen ya?"
"Iya nih tan... Tapi bukan aku yang kangen..."
"Terus?"
"Ini loh, tan... Anak tante yang cowok, Aska..."
"Kangen kenapa? Biasanya juga hampir setiap hari ketemu..."
"Kangen hukuman tante, loh..."
Aska menatap tidak percaya ke Nata. Aska mulai membayangkan hukuman apa yang akan ia dapatkan. Pasti mengerikan.
"Kok?"
"Dia ngeVAPE nih... Disamping aku..."
"Serius? Awas aja tu anak, pulang tante hukum... Tq sayang..."
"Sama-sama tan..."
Tut... Tut... Tut...
Ini pertama kalinya mereka kalah telak berbarengan. Semuanya menatap kesal ke arah Nata. Namun Nata tidak peduli.
Ia berjalan dengan santai keluar dari toko tersebut, dan tentunya diikuti oleh mereka berempat.
Dan pada akhirnya, Nata pulang bersama Rey, karena mereka satu arah, pulang kekediaman Agantara.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Rey terus saja menatap tidak suka kearah Nata. Ia sungguh sangat kesal.
Vanes Hyoka