Perjodohan?!

Perjodohan?!
|25|


__ADS_3

Nata berlari dengan cepat, mengapa bisa ada Ben disekolahnya, pikir Nata.


"Sialan! Perioritas utama sekarang adalah kabur dari Ben sialan yang narsisnya melebihi luasnya Samudera Pasifik!" batin Nata kesal sambil menjambak rambutnya sendiri hingga kusut dan tentunya berantakan.


Bruk...


Nata menabrak Rey, salah satu orang yang paling ingin ia singkirkan. Nata terjatuh, namun tidak seperti didunia novel-novel dimana sang perempuan ditahan oleh sang lelaki agar tidak terjatuh, ataupun sang perempuan tidak sengaja mencium sang lelaki. Ingat ini dunia nyata, khayalan seperti itu sebaiknya dibuang jauh-jauh.


Nata terjatuh dengan tidak elitnya, sedangkan Rey, ia masih berdiri tegak, ya iyalah wong Rey-nya cowok dengan tenaga 100 kali lipat dari Nata yang hanya seorang gadis biasa. Bayangin aja, seekor kucing menantang seekor singa, ya sudah pastilah seekor singa yang menang.


"Eh anjing! Dari sekian banyak cowok didunia ini, kenapa harus lo yang gue liat!" Nata membentak Rey, bahkan hal itu membuat Rey terkaget. Salut untuk Nata.


"Eh! Lo gak ada niat gitu, bantuin gue bangun! Lo udah nabrak, gak mau bantuin lagi!" seru Nara.


Rey menyeritkan dahi. Bukankah Nata yang menabrak dirinya? Bukankah Rey yang seharusnya marah? Rey berjalan santai, kelewat santuy malah mengingat bel masuk sudah berbunyi, sedangkan Nata, jangan ditanya lagi lah, ia berlari layaknya dikejar setan.


"Perlu gue tegasin satu hal, gue jalan, sedangkan lo..." Rey menatap Nata dengan sinis, dan hal itu membuat Nata ingin membunuh Rey, "Lari kayak habis dikejar setan perjaka... Apalagi rambut lo mendukung hipotesis gue..." lanjut Rey sambil mengacak rambut Nata sehingga rambut Nata lebih kusut dan berantakan. Nata jengkel.


"Dan lo setan perjakanya!" seru Nata yang langsung membuat Rey terkekeh.


"Sorry ye..." Nata mengerutkan dahinya, "Mau lo panggil gue setan perjaka kek... Mumi perjaka, ato apalah yang berhubungan dengan perjaka... Sayangnya gue udah gak perjaka lagi, bahkan banyak cewek yang udah gue perawanin..." ucap Rey bangga.


Sumpah, Nata tidak mengerti. Kenapa banyak cowok jaman sekarang, bangga jika dirinya tidak perjaka lagi, dimana-mana seharusnya jika masih perjaka yang bangga, secara dia masih dapat menghormati kaum hawa. Ini lah salah satu faktor yang membuat Nata tidak suka dengan cowok playboy, modal tampang, gak punya moral berperilaku.


"Gak mutu banget lo perawanin cewek.... Yang ada lo nambah dosa!" sudah biasa Rey ditegur seperti itu oleh perempuan, tapi apa, pada akhirnya perempuan-perempuan tersebut yang malah menyerahkan dirinya ke Rey. Munafik banget. Sok alim.


"Karena pada saat ini lo belum tau rasanya ngelakuin hal itu... Oh, apa gue bantu aja lo menikmati cara bercinta orang dewa-" Nata segera membekap mulut Rey dengan tangannya. Ia muak mendengar Rey.

__ADS_1


"Yup... Gue emang gak tau, lebih tepatnya gak mau tau!" seru Nata yang langsung membuat Rey tersenyum sinis.


"Bicara aja sepuasnya... Gue yakin suatu saat lo akan menarik ucapan lo-"


"MUS-TA-HIL!" seru Nata memotong ucapan Rey.


"Pertama, sebad-badnya gue... Gue cinta diri sendiri!"


"Kedua, dari pada ngebuat diri malu, lebih baik ngebuat orang tua bangga!" untuk yang satu ini, mungkin agak sulit dipercaya.


"Ketiga, tubuh gue milik suami gue!" Nata tidak terlalu yakin untuk sekarang, ia belum siap.


"Keempat, gue masih ingin masa depan gue cerah!"


"Dan yang terakhir. Kelima, jika suatu saat gue menyerahkan diri gue tanpa ikatan... Yang pasti bukan lo orangnya!" Ingatkan Nata jika suatu saat ia menyerahkan dirinya secara sukarela kepada Rey.


Rey tersenyum mendengarnya. Bolehkah ia percaya? "Sok alim lo! Lo kebanyakan ngehalu..."


"Gue bilang sa-"


"Nat! Plis tunggu!!" Nata terdiam saat mendengar panggilan Ben, Nata lupa bahwa dirinya sedang dikejar oleh Ben.


"Shit" gumamnya.


Nata melanjutkan larinya, namun tangannya refleks menarik tangan Rey.


***

__ADS_1


Nata merutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya ia tadi refleks menarik Rey, sungguh memalukan. Tapi bukan itu masalahnya, masalahnya adalah saat ini ia terkunci didalam gudang, bersama Rey lagi! Tolong tenggelamkan Nata.


Nata memang bukan gadis rempong bin alay, yang akan teriak histeris saat terkunci didalam gudang. Namun ini beda, ia bersama Rey. Mungkin terkunci bersama bagus apalagi bersama Rey yang gantengnya gak bisa dinilai, tapi hal itu tidak bagus bagi Nata. Inget loh, ini Rey, playboy cap jerapah, bisa-bisa pas keluar dari gudang Nata udah kenapa-napa.


Nata melirik sinis Rey. Sedangkan Rey, ia hanya acuh. Terlalu malas menanggapi.


Tok... To-


Nata menghentikan aksi ketuk pintu yang dilakukan oleh Rey. Ia tidak ingin Ben mengetahui keberadaannya.


"Apaan sih lo... Oh gue tau, lo pasti cuma pengen berduaan aja sama gue, kan?" Nata langsung menyentil jidat Rey.


"Duh... Lo itu jahat bener sama gue... Gue gini salah, gue gitu salah... Emang deh, cowok selalu salah-"


"Emang!" seru Nata dengan judes, "Cowok itu spesies tersalah didunia! Karena apa? Itu karena cowok itu buaya darat, kalo lo mau tau!" lanjutnya dengan sengit yang langsung membuat Rey menatap Nata dengan tajam.


"Dan lo lubang buayanya, kalo lo juga mau tau!" seru Rey tak kalah sengit. Nata terdiam bingung.


"Lubang buaya? Apa hubungannya coba? dan maksudnya apa lagi? Kok gue kagak ngerti ya..." batin Nata sambil memiringkan kepalanya, dan hal itu membuat Rey menepuk jidat. Ah, Rey tau, Nata luarnya aja bad, tapi dalamnya, polos luar binasa.


Tapi entah mengapa, Rey saat ini melihat diri Tasya, istrinya didalam diri Nata. Bentuk tubuh, panjang rambut, warna rambut, semuanya sama, kecuali wajah dan warna kulitnya tentunya.


"Duh... Gila! Gue mikir apa sih... Nata dan Tasya bagaikan langit dan tanah. Padahal gue gak mabuk, loh... Atau jangan-jangan... Gue cacat mata lagi! Astugong... Jangan sampek deh!" batin Rey sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ngapain ni cowok? Aduh... Jangan-jangan udah gila lagi... Tuhan... Gue kagak mau punya suami gangguan mental.... Yang ada gue ribet ngurusinnya..." batin Nata sambil menatap Rey dengan aneh.


Mungkin sekarang ribet ngurusin, tapi jika suatu saat Nata sudah cinta dengan Rey, apakah ada kata ribet dikamus Nata untuk Rey?

__ADS_1


Entahlah, setiap orang memiliki pemikiran sendiri-sendiri. Bahkan watak sendiri-sendiri. Tapi, jika dilihat dari watak Nata yang setia dengan orang yang disayanginya, mungkin Nata tidak akan meninggalkan Rey sendiri, dalam kondisi apapun, kecuali jika itu keadaan yang sangat mendesak, bahkan sampai tidak dapat ditangani oleh Nata sendiri.


Vanes Hyoka


__ADS_2