Perjodohan?!

Perjodohan?!
|23|


__ADS_3

Aleya tampak sedang tiduran di sebuah Queen bad-nya Shella, yang bercorak bunga-bunga. Sedangkan Shella, ia tiduran disebuah sofa panjang tepat didepan kasurnya.


"Le... Lo ngerasa kayak ada yang aneh, gak?" tanya Shella tiba-tiba, yang sudah pasti membuat Aleya bingung.


"Apanya?" Aleya segera mendudukan dirinya.


"Ya... Tentang Tasya..." jawab Shella yang langsung membuat Aleya berfikir keras.


"Tasya siapa coba?!" batin kesal Aleya. Memang benar, nama Tasya bukan hanya dimiliki oleh satu orang, namun mungkin ribuan orang.


"Ck!" Shella menyadari bahwa Aleya tidak tau siapa Tasya yang ia bilang, "Tasya ipar gue loh... Istri dari abang gue... Yang nerd..." Aleya mengangguk memahaminya.


"Kenapa, emangnya?" Ingin rasanya Shella mengajak Aleya gelut.


"Ada yang aneh, gak sih?" Aleya tampak berfikir, semenit kemudian ia mengangguk menyetujuinya.


"Lo itu slow respon banget sih... " kesal Shella yang membuat Aleya memutar matanya malas, Aleya kembali membaringkan dirinya dikasur.


"Bodo amat, Shel..." balas Aleya sambil melanjutkan aktivitasnya tadi, yaitu bermain game online.


"Emang deh, sahabat satu ini, paling bikin hati kesal... Mau curhat, eh gak bisa gegara orang yang diajak curhat gak ngerti apa-apa... Gue mendadak ingat Aura sama Nata... Jadi kangen..." batin Shella drama banget. Kagen dari mana coba? Wong mereka hampir setiap hari bersama, best friend forever.


***


"Nat... Gue gak papa kan masuk?" Aura ragu untuk memasuki kamar Rey dan Nata, mungkin jika ini kamar Nata, ia tidak akan ragu untuk masuk, tapi ini kamar dari seorang Reynald, tentunya ia harus bisa menjaga privasi dari seorang Reynald.


"Lo sok suci banget, sih... Masuk aja, tenang aja, kamarnya 100% gak akan merusak privasi si cowok songong itu... Yaudah masuk aja..." Nata menarik tangan Aura.


Aura menatap takjub kamar dari seorang Reynald, satu kata untuk menggambarkan kamarnya, rapi.


"Don't judge a book by its cover" gumam Aura yang tentunya didengar oleh Nata. Nata mengangguk menyetujuinya.


"Gue mau ganti baju, lo kunci pintu, okey?" Aura mengangguk tanpa sadar, ia masih mengagumi kamar tersebut. Aura segera menutup pintu tanpa mengunci pintu, dan langsung duduk manis disebuah sofa single.


Nata mulai membuka satu-persatu bajunya, tanpa sadar bahwa Aura belum mengunci pintu.


Ceklek...

__ADS_1


Terlihat dua orang, tidak lebih tepatnya empat orang namun dua orangnya masih fokus bicara, sedangkan dua orang lainnya, yaitu Rey dan Albara melongo melihat pemandangan didepannya.


Nata tidak memakai baju atasan, yang sudah pasti memaparkan lekukan tubuh Nata yang indah. Nata hanya memakai bh polos yang menutupi tubuh bagian atasnya.


Albara tersadar, ia segera menutup pintu kamar dengan cepat, agar dua orang dibelakangnya yang sedang sibuk bicara tidak melihat tubuh adiknya. Rey masih melongo, padahal pintu sudah ditutup oleh Albara, sungguh menguji imam.


Albara bersyukur bahwa hanya dirinya dan suami adiknya yang melihat hal itu. Albara mungkin cowok, namun yang namanya adik tetaplah adik, ia tidak doyan.


"Eh... Kok ditutup lagi?" tanya Robin yang tersadar saat Albara menutup pintu dengan cepat. Rey sudah tersadar dari terkagumnya terhadap tubuh Nata.


"Lo tadi gak liat apa-apa, kan?" tanya Albara dengan nada mengintimidasi. Seketika Robin menjadi takut.


"Li-liat apa, sih?" tanya Robin dengan takut.


"Buka apa-apa!" bukan Albara yang menjawab, melainkan Rey yang menjawab.


"Lo liat gak, ska?" Rey beralih ke Aska, tentunya Aska memang jujur tidak melihat, jadi ia menggelengkan kepalanya.


"Mendingan kalian pergi kekamar si Shella, main bareng aja dulu sama dia..." usul Rey yang langsung membuat Robin protes.


"Lo kira gue mau main boneka sama adik lo! Adik lo cewek, woi! se-" Robin segera menghentikan ucapannya saat dilihat wajah Rey sudah kesal dan dingin.


Rey segera beralih menatap Albara. "Entah gue harus berterima kasih atau kesel sama lo, Al..." Albara menyeritkan dahi mendengar penuturan Rey.


"Berterima kasih karena lo udah segera nutup pintu, dan..." Rey menjeda ucapannya untuk melihat respon Albara, "dan kesal karena lo ngeliat tubuh istri gue..."


Albara seketika tertawa terbahak-bahak, sepertinya Rey yang terkenal suka bergonta-ganti cewek mulai cemburu. "Duh... Tenang aja, gue gak doyan sama tubuh ade- maksud gue si Tasya, karena gue udah bosen ngeliatnya, secara gue dan dia temen kecil..." jawab Albara setengah berbohong. Entah mengapa, Rey tidak senang dengan apa yang dikatakan oleh Albara.


"Berarti sampek sekarang lo sering liat?" Albara menatap Rey dengan tatapan anehnya, sepertinya sahabatnya benar-benar cemburu.


Albara menepuk pundak Rey, "Terakhir kelas 6 SD..." Rey menatap kesal Albara, "Oh... Dan satu lagi... Gue saranin lo jangan cemburu sama kedekatan gue dan si Tasya, gue takut lo malu di akhir..." Albara segera membuka pintu kamar Rey, hal pertama yang ia lihat adalah Aura yang memohon maaf kepada Nata.


***


"A-U-RA!" Entah mengapa sekarang Nata terlihat seperti iblis, sungguh sangat menyeramkan.


"Sorry, Nat..." Aura segera mengerucutkan kedua tangannya didepan wajahnya.

__ADS_1


"Kan gue udah bilang, pintunya tolong dikunci! DI-KUN-CI! Understand?" Aura masih pada posisi pertamanya.


Nata menatap kesal Aura, lalu ia segera memakai baju agar kejadian tadi tidak terulang lagi, setelahnya ia langsung memarahi Aura lagi.


"Maaf, Nat... Lupa..." Aura menggunakan jurus puppy eyes, namun nihil. Bukannya Nata memberi keringan, Aura makin ditekan oleh Nata.


"Lo tau, gak? Gue malu pake banget! Tubuh gue ada bukan untuk diekspost, tapi dijaga kesuciannya..." Aura mengangguk-angguk mendengrnya.


Ceklek...


"Maaf..." Aura benar-benar sungguh menyesal.


Albara membuka pintu saat melihat Aura meminta maaf kepada adiknya, Albara tidak kaget lagi melihat itu, adiknya itu memang jahat, bahkan saat dulu ia pernah dimarahin oleh Nata selama 7 hari 7 malam, melelahkan.


Nata melihat Albara yang berjalan masuk diikuti Rey dengan wajah yang agak kesal (?) Albara bukannya menghampiri dirinya, eh malah menghampiri Aura.


"Udah lah, Sya... Ini kasihan Auranya, dia juga manusia kali..." bela Albara sambil merangkul Aura, seketika Aura berfikir untuk tidak dimaafkan oleh Nata, agar Albara selalu merangkulnya.


Entah mengapa, sekarang Nata bukannya kesal karena perihal tadi, ia saat ini kesal karena Aura yang keenakan dirangkul oleh kakaknya.


"Modus..." batin Nata kesal.


"Pak, buk... Mohon maaf, ini bukan tempat untuk berzinah..." sindir Nata yang langsung membuat Albara dan Aura malu.


Albara segera menarik Aura keluar, "Tau deh yang udah nikah mah bebas!" seru Albara dengan keras.


"Makanya Auranya dihalalin dulu! Kan gak dosa kalo dizinahin!" jawab Nata tak kalah keras.


"Besok gue daftar KUA!" kali ini Nata tidak dapat merespon, kakaknya memang pintar berbicara. Sedangkan Aura, jangan ditanya lagi lah.


Nata segera mengambil Handphonenya, dan mengirim pesan ke kakaknya.


To : Abang Laknat🐭


Jangan kasih harapan ke anak orang, kalo lo ga bisa bertanggung jawab atas ucapan lo... Gue yakin lo nyadar sama perasaan Aura... Walau pun lo gak sadar, gue kasih tau 'Aura suka Lo, Al!' pokoknya jangan buat Aura sedih, klo lo berani, gue yang pertama musuhin lo!


Satu hal yang perlu lo inget, 'Aura itu sahabat dari seorang Nata!'

__ADS_1


Albara membaca pesan tersebut dengan ngeri, adiknya jahat banget, bukan?


Vanes Hyoka


__ADS_2