Perjodohan?!

Perjodohan?!
|36|


__ADS_3

"Sel... Mampir kuy, gue haus..." ajak Rani, sepupu Disel. Sedangkan Disel hanya mengangguk sambil tersenyum, padahal di hatinya udah kesal.


"Dasar! Gak tau apa kalo gue pingin cepet-cepet pulang, pake mampir segala lagi!" batin Disel kesal. Jangan lupa bahwa Disel itu cewek baik diluar, jahat didalam.


Rani mengendari motornya hingga sampai disebuah Cafe kecil namun tak dapat dipungkiri bahwa menu didalamnya enak-enak, Cafe Laksmana Sari.


Rani dan Disel memasuki Cafe tersebut. "Mau pesan apa, dek?" tanya pelayan disana.


"Cappucino dan—" Rani melirik Disel.


"Em... Gue es jeruk aja," ucap Disel sambil tersenyum.


"Minum disini atau dibawa pulang?"


"Bawa pulang aja deh, mbak... Udah malem lagian," jawab Rani. Jangan kira bahwa Rani itu anak gak baik-baik seperti Disel, nyatanya Rani itu cewek baik dan polos sampek gampang dibodohi sama orang.


Sambil menunggu pesanan, mata Disel tidak sengaja menangkap Feya, adik kelasnya. "Ran, bukannya itu Feya..." sambil menunjuk menggunakan dagunya.


"Eh iya, padahal ini udah malem loh, setau gue dia itu anak mami banget, manjanya gak ketulungan..."


"Ooo..." mata Disel beralih ke orang yang duduk didepan Feya.


Deg... Deg... Deg...


Jantung Disel berdetak cepat. "Duh, ganteng banget sih... Padahal gue gak pernah kayak gini..." batinnya sambil terus menatap Rey dengan tatapan memuja.


"Yang didepannya siapa, Ran?"


"Oh, dia kalo gak salah sih pacarnya Feya, namanya Rey, cowok pindahan sama kayak lo... Dan asal lo tau aja, dia nembaknya didepan siswa-siswa, bayangin aja... So sweet banget kan, gue aja iri sama Feya..." jawab Rani sambil mengingat-ingat ucapan temannya disekolah.


"Duh, gue iri... Pokoknya gue harus dapetin dia, udah romantis, ganteng lagi... Hadeh, si Ben lewat..." batin Disel sambil tersenyum licik, namun senyuman tersebut tidak bertahan lama karena ia takut dilihat.


Samar-samar, Disel dan Rani mendengar ucapan Rey dan Feya.


"Gue mau nelpon dulu, lo tunggu disini..." ucap Rey yang langsung diangguki oleh Feya.


5 menit kemudian Rey datang kembali sambil mengambil kunci motornya yang tertinggal dimeja.


"Eh, kamu mau kemana?"


"Mau jemput seseorang," jawab Rey tanpa menoleh Feya. Lagian Feya tidak bisa protes, bisa-bisa langsung diputusin sama Rey lagi, kalau dirinya protes. Resiko berpacaran dengan Rey ya gitu deh. Rey boleh protes tapi pacarnya gak boleh, karena sudah pasti akan langsung diputusi. Yang rugi juga buka Rey, Rey mah banyak cewek, saking banyaknya bahkan nama aja sering lupa.

__ADS_1


"Permisi, dek... Ini pesanannya..." ucap seorang pelayan membuat fokus mereka terhadap Feya dan Rey pecah.


"Eh, iya mbak..." ujar Rani sambil tersenyum kaku, layaknya habis tertangkap orang mengintip orang mandi. Tak jauh berbeda dari Rani, Disel pun sama.


Rani dan Disel segera pulang karena memang mereka tidak bisa berlama-lama dikarenakan waktu. Ingat, sudah malam. Padahal mah Disel udah sering keluar malam-malam, tapi yang jadi masalahnya mah Rani-nya. Mana mungkin Disel membongkar image nya sebagai cewek baik nan polos.


***


Nata keluar dari toilet dengan wajah gugupnya. Saat keluar, ia dapat mendengar cacian dari orang-orang yang menunggu giliran ke toilet. Tapi Nata mah bodo amat, dirinya terlalu fokus sama ketakutannya kalau semisalnya dirinya bocor.


10 menit kemudian, Rey datang. Pertamanya Nata tidak sadar karena helm Rey yang full face ditambah lagi warna kacanya hitam. Tapi setelah dibuka, Nata dengan seluruh kekuatannya segera berlari sambil menarik-narik bajunya kebawah agar terlihat lebih panjang.


"Yo" Jujur aja, Nata gak tau harus ngucapin salam kayak gimana, dan akhirnya kata itulah yang keluar dari mulutnya.


"Naik" Tanpa berfikir panjang, Nata segera naik. Lagian Nata emang dari dulu kayak gitu, mikirnya belakangan.


Rey segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, jangan mikir kalau Nata biasa aja. Nyatanya Nata ketakutan.


Aneh aja gitu, padahal dia juga sering balap motor. Tapi kesannya itu beda. Dia takut kalau dibonceng, tapi dia berani kalau membawa.


"Pelan, woi!" sempet-sempetnya Nata marah dalam keadaan takut.


"PELAN!" sumpah bahkan orang-orang yang lagi mengendarai motor juga ikut menoleh kaget. Suara Nata kayak toa.


Dengan kesal Rey menambah kecepatan motornya, dan entah refleks atau sengaja, Nata malah memeluk Rey. Dan jangan kira Rey bakal senang, nyatanya dia sendiri pun kaget dengan reaksi Nata, ia kira bahwa Nata akan mengamuk karena ia menambahi kecepatan motornya, eh tapi malah dirinya untung.


Rey segera memelankan motornya, lagian dia gak suka mencari keuntungan dalam kesempitan. Dia sukanya mencari keuntungan dalam keterpaksaan. Bercanda deng.


"Mau sampek kapan lo meluk gue?" tidak ada balasan.


Bukan karena Nata marah atau gimana, hanya saja ia terlalu fokus sama bau Rey.


"Sumpah, entah kenapa gue minder jalan sama dia... Wangi banget... Kalah gue..." batin Nata.


"Woi!"


"Eh, so-sorry..." dengan cepat Nata melepas pelukannya.


"Maaf, gue fokus sama bau badan lo... Gue kira lo bau ketek..." jawab Nata jujur.


"Bau ketek? Emang lo pernah bau in ketek gue?"

__ADS_1


"Gak, tapi gue yakin lo bau..." Rey memberhentikan motornya karena jawaban Nata. Bau katanya? Rey gak terima dibilang bau.


"Loh? Ngapain berhenti, sih?"


"Lo bilang ketek gue bau?" tanya Rey sambil turun dari motor.


"Lah, emang iya kan..." jawab Nata sambil menatap Rey dengan remeh, bahkan Nata juga tersenyum mengejek.


Tanpa aba-aba Rey segera memeluk Nata menggunakan tangan kanan saja, dan parahnya dengan sengaja Rey membuat wajah Nata berada di ketek kanan Rey.


"Lepas!" teriak Nata sambil mencoba mendorong Rey, bahkan motor Rey akan jatuh jika tidak ditahan oleh Rey dengan tangan kirinya.


"Lo bilang ketek gue bau!" seru Rey gak terima.


"Emang ba– wangi..." ucap Nata sambil ngedusel-desel di ketek Rey. Sumpah, mereka kayak pasangan gak tau diri disamping jalan ngelakuin hal kayak gitu. Kalau peluk biasa mah gak apa-apa, tapi masalahnya dari sudut pandang orang yang ngeliat mereka kayak mereka ngelakuin hal mes*m, padahal cuma ya gitu.


Dengan senyum penuh kemenangan Rey segera melepas Nata. "Wangi, kan?"


"Halah! Jaket lo aja yang wangi! 100% pasti bau dalemnya!" tolak Nata mengakui bahwa ketek Rey wangi.


"Ya udah, gue lepas jaket gue, kalo perlu baju gue juga gak masalah!" kesal Rey sambil mencoba melepas jaketnya, namun ditahan oleh Nata.


"Lo berani ngelepas, gue teriak!"


"Teriak aja sana!"


"TOLO—" Rey segera membekap Nata, ia kira ancaman Nata cuma main-main saja, tapi ternyata.


"Dasar cewek gak tau diri," gumam Rey yang masih didengar oleh Nata.


"Lo yang gak tau diri! Sok playboy padahal muka lo kalah sama Conan, so bad boy padahal lo gak se-bad Light!"


Demi Tuhan, Rey gak ngerti ap yang diomongin sama Nata.


"Gila lo!"


"Bodo amat!"


Dan begitulah perjalanan mereka yang nyatanya hanya 10 menit untuk sampai ke Cafe Laksmana Sari malah menjadi 20 menit, belum lagi mereka selalu berdebat.


Vanes Hyoka

__ADS_1


__ADS_2