Perjodohan?!

Perjodohan?!
|19|


__ADS_3

Nata sampai disekolah dengan selamat, dan tentunya dengan sehat juga. Ia menatap kesal kearah pintu gerbang yang sudah tertutup rapat, yaiyalah tertutup wong Nata telat. Berangkat aja jam 8 lebih, sedangkan bel masuk jam 8.


Sebenarnya Nata bisa saja bolos, cuma mengingat ayah mertuanya menceramahi pentingnya sekolah kemarin malam jadi, hal itu membuat dirinya mengurungkan niatnya. Dan bisa saja ia memanjat tembok walau rawan ketahuan, tapi mobilnya mau ditaruh dimana, coba? Dikolong jembatan? Di selokan? Enggak kan, apalagi sekarang ada peraturan dilarang keras memarkirkan kendaraan sembarangan. Nata sungguh bingung.


Inilah alasan Nata tidak terlalu sering membawa kendaraan kesekolah.


Nata segera keluar dari mobilnya yang tepat berada didepan gerbang sekolah. "Pak! Pak Bambang ganteng!" Nata memanggil Satpam yang menjaga gerbang sekolah.


Pak Bambang segera menghampiri Nata. "Eh ada neng Nata... Ada apa?" tanya Pak Bambang santai padahal ekspresi Nata sudah tidak santai. Dasar Pak Bambang.


"Ck! Bukain dong, pak Bambang ganteng..." rayu Nata sambil mengedip-ngedipkan matanya.


"Neng Nata kenapa? Matanya kemasukan sesuatu, ya?" tanya Pak Bambang bingung saat melihat Nata mengedip-ngedipkan matanya. Nata langsung kesal dibuatnya.


"Iss... Pak Bambang masa gak ngerti... Bukain dong, nanti Nata traktir bakso deh... Gimana?" tanya Nata dengan menaik-turunkan kedua alisnya.


"Aduh kalau yang itu, bapak gak bisa walau neng Nata nyogok bapak... Bapak kerja disini, gak bisa seenaknya..." jawab Pak Bambang bijak sambil memegang kumisnya yang panjang. Nata menatap malas.


"Pak... Plis..." Nata menggunakan jurus yang katanya ampuh untuk keadaan seperti ini, yaitu puppy eyes. "Semoga berhasil..." batin Nata memohon.


"Aduh... Gimana, ya... Gini loh neng... Neng kan sering bolos atau gak manjat tembok... Kenapa sekarang gak? Kan sama-sama enak..." solusi Pak Bambang. Nata segera memasang ekspresi dinginnya.


"Pak... Maunya sih bolos, ya cuma gitu... Habis itu kalau manjat tembok, mobilnya diapain coba... Dibuang?"


"Kasih bapak aja..." jawab Pak bambang yang langsung membuat Nata mendengus.


Dengan terpaksa Nata mengeluarkan dua lembar uang merah, bisa dibilang uang tersebut adalah uang terakhirnya mengingat Nata sudah menikah. Dan suaminya belum memberikan bekal. Sungguh menyusahkan.


Nata menggunakan kedua uang tersebut seperti kipas. Ia segera menatap Pak Bambang, lalu ia menaik-turunkan kedua alisnya.


"Gimana nih, pak?" tanya Nata masih mengipas.


Pak Bambang tergiur dengan uang 200 ribu rupiah tersebut. Dengan cepat Pak Bambang membuka gerbang lebar-lebar. Nata tersenyum, ia segera masuk ke mobilnya.

__ADS_1


"Makasih ya, pak... Nih..." ucap Nata sambil menyerahkan uang terakhirnya. Nata segera menjalankan mobilnya. "Emang deh... Uang emang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang..." batin Nata tersenyum getir. Itu uang terakhirnya, nanti ia harus makan apa coba. Habis itu, kalau dia ingin belanja gimana? Memikirkannya saja sungguh membuat Nata merinding. Ia berharap semoga suaminya sadar bahwa Nata saat ini sedang gulung tikar.


Nata keluar dari mobilnya, ia menatap tempat parkir yang biasanya banyak orang, sekarang malah tidak ada penghuninya. Nata yakin bahwa guru-guru BK semuanya mengecek ditempat-tempat yang bisanya banyak terdapat siswa-siswi bolos dan terlambat. Sedangkan tempat parkir, siapa coba yang mau ketempat parkir wong kalau ketempat parkir harus melewati penjaga yang katanya lebih serem dari guru BK, Pak Bambang. Tapi kenyataanya, dikasih uang sedikit aja pintu gerbang langsung terbuka lebar. Serem dari mana, coba?


Nata berjalan santai dikoridor, ia tidak takut jika ditilang oleh guru ataupun osis. Sebab hal tersebut sudah menjadi makanan setiap harinya. Dan juga mereka manusia bukan hantu, lalu apa yang harus ditakuti oleh seorang Natasya?


Selama perjalanan, sama sekali tidak ada osis atau pun guru yang berlalu-lalang. "Ck! Katanya SMA Bima Sakti itu SMA terfavorit di jakarta, paling elit lah, paling lengkap lah fasilitasnya... Lah tapi ini, tumben banget osis sama guru gak ada... Mereka males ngawas ceritanya? Bodo lah... Malah bagus kalo mereka gak ngawas... Gue pun tenang..." batin Nata sambil melihat-lihat sekelilingnya.


Nata memasuki kelasnya dengan santai, karena tidak ada guru yang mengajar. Istilah kerennya 'free class'. Nata segera duduk ditempat duduknya, disamping Aura. "Pagi..." sapa Nata dengan senyum masemnya.


"Lo kalo gak niat nyapa, ya gak usah nyapa!" kesal Aleya saat melihat senyuman Nata seperti orang yang kelebihan makan lemon.


"Pagi..." sapa Shella malas. Sedangkan Aura, ia menatap kesal Nata. Ia kesal karena Nata masih belum menjelaskan hal itu.


"Lo kenapa?" tanya Nata saat melihat salah satu sahabatnya tidak berbicara.


"Gpp..." jawab Aura malas.


Nata bingung dengan sikap Aura yang menurutnya sungguh kekanak-kanakan, tidak seperti Aura aja. Nata segera memegang dahi Aura dengan punggung tangan kanannya, "Gak panas, kok..." ucap Nata dengan wajah tanpa dosanya.


"Hus! Hus!" usir Nata. Ia segera mengambil air minumnya lalu ia segera menyipratkan airnya keAura "Makhluk halus... Segera lah keluar dari tubuh Aura!!" Apa yang dilakukan oleh Nata langsung membuat seluruh kelas tertawa tentunya kecuali Aura yang wajahnya telah basah.


Aura mengelap muka basahnya dengan perasaan kesal. "Nat... Lo kok gak bales chat gue? Padahal lo ngeread..." tanya Aura dengan nada yang masih kesal.


"Chat?" Nata segera mencoba mengingat-ingat, "Oh iya... Sorry Ra... Gue sibuk..." jawab Nata sambil menyengir.


"Sibuk buat anak?" batin Aura kesal.


"Chat apa?" tanya Aleya yang memang sedari tadi sudah kepo stadium akhir.


"Cat merah..." jawab Aura asal.


"Iss.. Gue seri-" ucapan Aleya dipotong oleh Bu Lis.

__ADS_1


"Anak-anak... Maaf atas keterlambatan ibu untuk menyampaikan tugas dari pak sudana... Tugasnya buku paket halaman 69 yang objektif... Disetor sekarang..." Bu Lis segera keluar dari kelas Nata setelah menyampaikan tugas tersebut.


***


"Sumpah, tugasnya susah banget! Kok gak dari awal aja sih kasih tugas... Kan waktunya kebuang-buang..." semenjak keluar dari kelas, Aleya terus saja mengeluh.


"Toh juga lo nyontek, Le..." ucap Shella yang langsung membuat Aleya tersenyum lebar.


Mereka saat ini duduk disalah satu meja dikantin. Kali ini giliran Nata yang memesan makanan.


"Mau mesen apa?" tanya Nata.


"Gue mie ayam sama jus mangga deh..." jawab Shella sambil memberikan uang dengan pas.


"Kalau gue, nasi goreng sama es teh..." sama seperti Shella, Aleya memberi uang pas.


"Yaelah... Lebihin kek kasih uang..." ucap kesal Nata yang langsung membuat Aleya dan Shella menyeritkan dahi. Menyadari situasi, Aura segera menarik Nata menjauh dari mereka berdua.


"Lo gak dikasih uang, ya?" tanya Aura yang langsung membuat Nata kagum, sahabatnya yang satu ini emang yang paling peka deh.


"Akhem! Berhubung lo udah tau, jadi-"


"Gak!" tolak Aura saat tau arah pembicaraan Nata.


"Lo kok jahat, sih... Lo kan sa-"


"Gue kasih-"


"Serius? Thank you, beb... Lo the best banget po-" Aura segera menatap Nata tidak seneng.


"Dengerin dulu gue... Maksud gue, gue kasih lo uang, tapi lo harus cerita tentang.... Itu loh..." ucap Aura sambil memainkan jari-jarinya.


"Cuma gitu?" tanya Nata yang dibalas anggukan semangat oleh Aura. "Oke... Nanti pulang sekolah, pas mereka berdua pulang..." lanjutnya sambil meninggalkan Aura yang senang.

__ADS_1


Nata tidak menghindar dari syarat Aura karena memang dari awal ia ingin memberi tau rahasianya ke Aura. So, sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui, kan? Uang dapet, temen curhat pun dapet.


Vanes Hyoka


__ADS_2