Perjodohan?!

Perjodohan?!
|13|


__ADS_3

Rey dan Nata berada disebuah kamar hotel bernuansa merah, sangat cocok untuk pengantin baru.


Mereka saling menatap tidak suka, akhirnya Nata memutuskan mengakhiri kegiatan tatap menatap. Nata pergi ke kamar mandi, ia sungguh gerah dengan dress-nya, untung saja baju pernikahannya sudah dicopot saat siang tadi, jika tidak mungkin saja Nata akan mati konyol gegara kepanasan.


Sedangkan Rey, ia memutuskan menelpon pacar barunya. Walau Rey sudah menikah, dia tetap saja memiliki pacar atau sekarang bisa disebut selingkuhan.


Setengah jam kemudian, Nata telah selesai dengan ritual mandinya. Ia menatap kaca kamar mandi, ia sungguh tidak percaya bahwa dirinya sekarang sudah tidak single lagi.


"Kok gue deg-degan ya? OMG!! Gue gugup pake banget!!! Okey.. tenang Nat... Don't be nervous..." batinnya gugup.


Nata akhirnya memutuskan keluar. Ia berhenti saat sudah memegang gagang pintu. Oh tidak, ia lupa bahwa saat ini ada cowok yang dari 1 Minggu yang lalu selalu membuat dirinya pusing tujuh keliling.


Ia bingung, ia sama sekali tidak memakai baju, hanya ada lilitan handuk dan foundation coklat ditubuhnya. Nata memang bad, namun ia bukan model yang selalu memamerkan badannya keseluruh orang. Walau Rey adalah suaminya, Nata sama sekali tidak mau memperlihatkan badan halusnya.


Nata ingin memanggil Rey, namun gengsi Nata setinggi langit. Akhirnya Nata memutuskan diam dikamar mandi sampai Rey tertidur. Nata lupa, bahwa Rey belum mandi yang artinya Rey akan selalu menunggu Nata hingga keluar. Rey memang cowok, namun ia selalu menjaga kebersihan badannya apalagi mengingat profesinya sebagai playboy profesional.


Satu jam telah berlalu, Rey sangat kesal menunggu Nata keluar. Bahkan sudah 40 menit yang lalu ia selesai menelpon, masih saja belum keluar.


"Lama bener ni cewek... Dia gak pingsan kan? Argghh!!! Udah malem lagi... Gue ngantuk... Badan gue keringetan lagi, gue kagak bisa tidur... Huft..." gumam Rey. Akhirnya Rey memutuskan untuk memanggil Nata.


"Cewek aneh!" panggil Rey yang tentunya langsung membuat Nata yang dikamar mandi memaki Rey, dalam hati.


"Lo lama bener, deh! Lo kagak pingsan, kan? Woi! Jawab!!" Nata sama sekali tidak menjawab pertanyaan Rey, ia memutuskan untuk diam agar kata-kata laknat tidak keluar dari mulut kecilnya.


Rey memutuskan berjalan kekamar mandi untuk mengecek istrinya itu. Sebenarnya ia malas, namun ia tidak ingin diceramahi oleh bunda tersayangnya karena istrinya kenapa-napa.


Tok... Tok.. Tok...


Nata yang mendengar ketukan pintu sekarang panas-dingin, ia takut, dan juga gugup.


"Ck! Ni cewek gak kenapa-napa, kan?"  tanya Rey didalam hati.


Tok-tok-tok... Tok-tok-tok... Tok-tok-tok...


Rey mengetuk pintu dengan tergesa-gesa, yang tentunya langsung membuat Nata panik.


"I-iya... Ke-kenapa?" Nata akhirnya memutuskan menjawab.

__ADS_1


"Ck! Kenapa gak dari tadi aja lo jawab?! Keluar! Lo udah selesai, kan? Udah deh... Cepet aja keluar, gak usah bacot!" teriak Rey.


"Gue juga pingin keluar kale! Siapa juga yang pingin lama-lama ditoilet! Argghh! Gue harus gimana coba? Kenapa dikamar mandi gak ada kimono... Harusnya tadi gue ambil aja diluar!" pikir Nata.


Setelah beberapa menit, Nata memutuskan keluar dari kamar mandi, salah satu alasannya adalah karena Rey yang sedari tadi sudah berkicau ria diluar kamar mandi.


Nata membuka pintu dengan pelan, namun Rey langsung menariknya dengan cepat yang tentunya langsung membuat Nata menarik pintunya untuk ditutup. Akhirnya terjadi aksi tarik-menarik pintu kamar mandi.


"Buka, gak!" Suruh Rey.


"Gak!" Bantah Nata.


"Buka!''


"Enggak!"


Akhirnya pintu kamar mandi terbuka dengan lebar. Bukan karena Nata mengalah, namun karena kekuatan Rey yang sangat besar. Lekukan tubuh Nata terpampang jelas. Walau wajah Nata sekarang terbilang jelek, namun bodynya sangat lah bagus.


Nata malu. Wajahnya saat ini sudah seperti kepiting rebus, jika saja Nata tidak menggunakan foundation yang tebal nan coklat, sudah pasti wajah merahnya tersebut akan terlihat jelas.


Rey menelan ludah. Ia juga seseorang lelaki biasa, sudah pasti akan tergoda dengan tubuh Nata yang terbilang bagus, sangat malah walau wajah Nata termasuk katagori jelek.


Rey melewati Nata dengan tatapan dinginnya. Nata menunduk, ia takut dan malu. Akhirnya Nata memutuskan untuk menggunakan baju tidurnya.


Nata menggunakan tanktop dan juga menggunakan celana pendek sepaha. Sungguh menggoda imam. Sejelek-jeleknya Nata, asalkan bodynya bagus, pasti akan diterima.


Nata membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia melihat banyak sekali notifikasi dari Aura. Ia membaca satu-persatu pesan yang dikirim Aura.


From : Maura.ra


➡Ping


➡Ping


➡Lo kok bisa nikah


➡Jawab woi!

__ADS_1


➡lagi malam pertama pengantin, ya?


➡Lo harus cerita...


➡Titik...


➡Gak isi koma!


➡Gue tadi cemburu ngeliat Lo sama Albara barengan, eh tau-taunya itu lo! Anj*r banget! Gue cemburu sama kembaran doi!!


➡Jawab woi!


➡Cangkacang-kacang2..


➡Bodo amat!


Nata hanya mengeread saja, ia sangat malas menjelaskan kondisinya saat ini. Besok saja dijelaskan.


Rey keluar dari kamar mandi dengan keadaan topless dengan boxer sebagai pelengkap. Dan juga dengan rambut basah serta handuk yang tergantung dilehernya. Pemandangan yang sungguh langkah.


Sekarang giliran Nata yang menelan ludahnya. Ini pertama kalinya ia melihat cowok seperti itu, kecuali Albara tentunya. Walau Nata sering melihat Albara dengan keadaan yang sama persis dengan Rey, namun entah mengapa kondisi saat ini beda. Kalau liat Albara bikin muak sedangkan liat Rey bikin ngiler.


"Aduh... Ciptaan mu sungguh hebat ya tuhan... Hamba bersyukur dapet suami kayak gini..." batin Nata, namun ia segera tersadar.


"Astugong! Jangan khilaf, Nat... Tarik nafas, buang lewat pantat.... Hah..." seperti yang Nata batinkan, ia beneran membuang nafas lewat anus.


Tut...


Terjadi keheningan antara mereka berdua. Pikiran mereka mulai melayang bebas.


"**! Gue beneran kentut! Duh malu... Masa malam pertama isi acara kentut... Apa kata dunia coba*..." batin Nata malu.


"Punya bini kok gini amat... Cantik? kagak. Jelek? Iya malah... Untung aja bini gue punya badan ekhem! Gue tegang... Masa gue ketoilet lagi... Huft..." bagin Rey. Rey segera melangkah kekamar mandi untuk menenangkan juniornya.


"E-eh! Dia pergi... Sebegitu baunya kah kentut, gue? Perasaan wangi deh... Aduh, nanti pasti canggung banget..." batin Nata pesimis.


"Ma..af.... Gak se-sengaja... Tapi kentut a-aku gak ba..u.... Kok... Wa-wangi malah... Walau bau, ka-kamu ti-yidak usah pergi... Se-sebentar lagi... Ju-juga hilang..." ucap Nata sambil memperlihatkan senyum kakunya. Rey memberhentikan langkahnya, sepertinya Nata telah salah paham.

__ADS_1


Vanes Hyoka


__ADS_2