
Dikediaman Agantara, nona muda alias Shella Lovela sedang menantikan kedatangan kakak tersayangnya yang hanya beda 20 menit dari dirinya. Jam sudah menunjukan pukul 10.25 WIB, tapi batang hidung kakaknya tersebut bahkan belum tampak, sungguh membuatnya kesal.
"Lama bat dah!!! Lagi pup dia di bandar, emangnya?" batin kesal Shella. Ia sudah sangat mengantuk, ia ingin cepat-cepat bertumu belahan jiwanya, Queen bed-nya.
Seorang laki-laki muda memasuki mension dengan wajah hangatnya. Bahkan pelayan wanita di mension tersebut pada terpana melihat tuan mudanya, Reynald Nathaniel Agantara, yang kerap dipanggil Rey. Dia adalah kakak kembarnya Shella yang sudah ditunggu-tunggu dari tadi.
"Akhirnya dateng juga..." batinnya senang. Rey dan Shella bagaikan Tom and Jerry, kadang bermusuhan, kadang juga baikan. Jika sering bertemu sering bertengkar, jika dipisahkan saling rindu.
"Abang!!!" Shella lari kedalam pelukan Rey. Ia sungguh merindukan kakaknya tersebut.
"Abang aja nih dipeluk? Ayah enggak?" ucap Erick dengan nada yang dibuat-buat sedih.
"A-ayah?" Shella bingung, bukankah ayahnya tersebut masih ada bisnis diluar negeri. Lalu mengapa ia kesini?
"Kenapa? Gak seneng ngeliat ayah?" tanya Erick kepada anak gadianya tersebut.
Shella segera menyingkirkan alasan-alasan dipikirannya yang mungkin menyebabkan ayahnya pulang. "Ayah!!!" Shella segera berlari kepelukan ayahnya. Ia sungguh dangat merindukan pelukan ayahnya.
"Masa abang sama ayah aja dipeluk... Bunda enggak?" Bundanya satu ini benar-benar irian, bukankah mereka sudah setiap hari saling tatap-menatap, lalu mengapa ibunya tersebut iri dengan hal kecil seperti ini?
"Fine... Shella peluk..." Shella memeluk bundanya dengan malas, tapi dengan penuh rasa sayang.
Walau jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas lebih, mereka masih tetap bercanda-gurau. Mereka saling tertawa, sudah lama mereka tidak berkumpul lengkap seperti ini. Dari Erick yang sibung dengan bisnisnya, Rey yang sekolah di Amerika, Melly, bundanya Rey dan Shella, yang selalu mengurus butiknya, dan terakhir, Shella yang selalu sibuk hangout bersama teman-temannya. Tapi walau begitu, hati mereka tetap terhubung, mereka masih saling menjaga satu sama lain.
Bahkan Erick lupa ingin memberi taukan sesuatu yang penting kepada Rey. Ia terlalu senang dengan perkumpulan keluarga kecilnya ini. Suatu saat, apakah hal ini bisa terjadi lagi?
***
Lina sangat bingung dengan keputusan anaknya yang memilih nikah, ia kira anakanya tersebut lebih memilih kuliah, benar-benar deh anaknya, sebegitu tidak sukanya ia dengan buku. Apakah anaknya itu alergi buku?
"Kok nikah?" tanya tiba-tiba Lina
"Ya... Karena Nata em.... Punya masalah sama buku, mungkin?" Nata pun bingung dengan pilihannya tersebut.
__ADS_1
"Katanya takut..." sindir Lina, yang dibalas cengiran oleh Nata
"Yasudah... Besok inget pulang cepat... Besok kita diner sama calon menantu... Udah gak sabar deh..." ucap antusiasi Lina
"Mah... Tua banget, ya?"
"Apanya?" Lina bingung dengan pertanyaan anaknya, 'tua' apanya?
"Mukanya..."
"Muka siapa? Ngomong yang jelas..." Lina kesal dengan anaknya yang ngomongnya gak jelas. 'Muka' muka apa coba? Anaknya ini kadang banyak bicara, kadang hemat bicara buat orang greget aja.
"Itu... Calon Su-suami..." Nata sungguh malu mengucapkan kata 'suami'. Ia masih SMA, masih kecil, masih belum cukup umur untuk menyebutkan kata terlarang tersebut, dan sekarang dengan terpaksa ia harus menyebutkan kata terlaknat itu.
"Ada...ada aja kamu... Umur juga sama... Sok-sok bilang dia mukanya udah tua..." ucap Lina tanpa rasa bersalah. Nata melongo mendengarkan ibunya
"Umur sama? Terus tadi mama bilang sahabatnya papa itu apa?! Nata jantungan tau... Nata udah deg-degan..." Nata meluapkan segala hal yang ada dibenaknya kepada sang ibu
"Ngawaur kamu... Mama tadi bilang 'anak' sahabat papa kamu..." ucap Lina tidak mau disalahi dengan menekan kata anak
"Gak ada tapi-tapian... Dan juga, mana mungkin papa kamu mau menjodohkan kamu dengan orang tua.. Mama pergi dulu..." Lina segera keluar dari kamar anaknya, ia sengaja memotong ucapan Nata, ia tau ia salah ucap tadi, tapi ia tidak ingin diejek oleh anaknya yang amat sangat bandel tersebut.
"Cih...! Main lari aja..." batin kesal Nata
"Hah..." Nata menghela nafas. Setidaknya ia tidak akan menikah dengan orang tua. Apa jadinya jika ia beneran menikah dengan orang tua, membayangkan saja sungguh membuat Nata merinding ngeri.
***
Disekolah, Nata menghela nafas terus, bahkan untuk pertama kalinya, ia menggunakan seragam lengkap, seperti dasi dan pita. Mungkin otaknya sedang error. Nata sedang galau dan sedih, sebaliknya Shella terus saja memancarkan aura gembiranya. Tadi pagi, Shella diantar oleh ayah, ibu, dan kakaknya, bukankah itu adalah kejadian yang sangat jarang, kapan lagi ia bisa seperti itu, mengingat semua orang sibuk, termasuk dirinya.
"Shell... Lo kok dari tadi senyum aja... Gue merinding tau..." ucap Aleya. Untung saja ucapanya tersebut tidak melunturkan mood baik Shella.
"Tau deh..." ucap Aura sambil menyalin buku PR Nata dengan jurus kilat.
__ADS_1
"Coba tebak... Tadi pagi siapa yang nganter gue?" tanya antusiasi Shella
"Supir?"
"Mungkin mang dang-dang..."
"Doi?"
"Itu gak sih... Bencong dideket rumahnya si Shella"
"Ngawur lo, Le"
Semua tebakan Aleya dan Aura salah. Apakah temennya tersebut tidak peka, padahal mereka sudah berteman sangat lama. Dasar sahabat laknat.
"Menurut lo siapa, Nat?" tanya tiba-tiba Aura. Nata hanya melirik mereka sebentar tanpa niat membalas. Moodnya sungguh jelek, ia tifak ingin sahabat-sahabatnya menambah gemuruh dihatinya.
"Woi Nat!" panggil Aleya. Sama seperti tadi, Nata tidak berniat membalas.
"Kenapa tu anak?" Shella bingung dengan prilaku Nata yang sangat aneh. Apakah mereka melakukan kesalahan yang membuat Nata mogok bicara dengan mereka?
"Nat... Lo marah sama kita?" cerocos Aleya, "Sorry Nat... Gue minta maaf walau gak tau kesalahan gue dimana..." lanjutnya dengan wajah dibuat-buat menyesal.
"Sama Nat..." ucap kompak Shella dan Aura
"Mereka kenapa sih... Ribut amat, gak tau apa mood gue jelek banget..." batinnya kesal. Nata mendiamkan mereka. Ayolah, Biarkan dirinya menenangkan pikirannya sebentar, sebentar saja tidak masalah.
Berbagai ucapan dari A sampai Z diucapkan oleh mereka bertiga, namun Nata masih saja mendiamkan mereka, bahkan sekarang Nata menggunakan earphone dan hal tersebut membuat Aura, Aleya, dan Shella makin menjadi-jadi ributnya.
"Diem!" satu kata tersebut mampu membuat mereka bertiga langsung bungkam. Beginilah Nata jika sudah moodnya jelek, wajahnya sudah menyeramkan melebihi raja iblis.
"Goodgirls..." gumam Nata yang masih didenger oleh mereka bertiga. Aura sekarang mengerti, sepertinya bukan salah satu diantara mereka yang membuat Nata marah.
"Siapa sih yang ngebuat mood si Natasya Aurel Andresono marah? Gak takut apa tuh orang..." Batin Aura ambil menggeleng-gelengkan kepalanya
__ADS_1
Sekedar informasi, Nata dan Albara, kakak kembarnya Nata, menggunakan marga 'Andresono' semenjak ayahnya meninggal. Tetapi aktanya masih menggunakan marga 'Chandrawan'. Mereka berdua sepakat menggunakan marga keluarga ibunya, agar mereka tidak sedih atas kematian ayah mereka. Mereka ingin menghilangkan beban kesedihan mereka, walau sedikit. Ibunya juga setuju, asalkan mereka tidak lupa dengan identitas asli mereka sebagai keluarga 'Chandrawan'. Sahabat mereka tau bahwa marga aslinya mereka adalah 'Chandrawan' tapi mengingat kejadiannya sudah lama, mungkin mereka sudah lupa.
Vanes Hyoka