
Rey berjalan mendekati Nata yang tentu langsung membuat Nata berjalan mundur.
"Ni cowok kok kesini, sih?" batin Nata takut.
"Ka-kamu mau nga-ngapa....in?" Rey tidak menjawab pertanyaan Nata. Ia semakin berjalan mendekati Nata.
Oh tidak, Nata sudah mentok tembok, "Shit! Mentok lagi... Duh, makin lama makin deket aja, ni cowok..." batinnya masih takut.
Rey berdiri tepat didepan Nata, ia segera membungkukan badannya yang tentu langsung membuat Nata memejamkan mata.
"Gue mau dicium? Aduh... Gimana ini..." batin Nata gugup.
"Jangan ge-er..." bisik Rey tepat disamping telinga Nata.
Ah, tolong tenggelamkkan Nata saat ini juga. Ia malu pake banget. Mukannya memerah, namun tidak terlihat karena make-up tebal.
"A-aku ga ge-er... Kok..." elak Nata sambil membuka matanya.
"Terus tadi apa?" tanya Rey dengan senyum mengejek.
"Ta-tadi... Em... Kaget? Iya, kaget... Ta-tadi aku kaget..." ucap Nata sambil tersenyum kaku. Rey hanya tersenyum sinis menanggapi Nata. Ia segera membungkuk lagi sekali.
"Kali ini gue gak boleh ge-er... Buka mata lebar-lebar, Nat..." batin Nata. Nata membuka matanya dengan lebar, ia tidak ingin dibilang ge-er lagi.
Cup...
Rey mengecup Nata sekilas. Walau sebentar, jantung Nata sudah berdisko. Nata mematung, pikirannya blank.
"Bibir dia manis..." batin Rey. Walau dia sudah sering mencium cewek, ini pertama kalinya ia merasakan bibir seperti ini. Manis dan lembut.
"I-itu ciuman, kan?... Argghh! First kiss gue... Eh-tapi gitu ternyata rasanya ciuman... Stop! Jangan bahagia dicium... Inget, Nat... Dia itu PlayBoy cap jerapah... Tapi mulutnya... Argghh! Tobat, Nat... Jangan khilaf..." pikiran Nata kacau.
"Ciuman pertama...ku..." gumam Nata tiba-tiba yang tentunya langsung membuat Rey terkaget.
Sejelek-jeleknya Nata, pasti sudah pernah ciumankan apalagi badannya bagus dan mengingat perkembangan anak muda zaman sekarang, yang tidak peduli etika pergaulan. Kok ini belum pernah ciuman, ya?
"Serius? Kok gue seneng ya.. Aduh...." batin Rey senang.
"Akhem!" batuk Rey memecahkan keheningan yang melanda. Nata kembali kedunia nyata.
"Lo-lo tadi bingungkan kenapa gue mau pergi pas.. Lo kentut..." ucap Rey mengalihkan pembicaraan.
"Eh? I-iya..." jawab Nata. Dia masih gugup.
__ADS_1
Rey membisikan keadaannya tadi dan saat ini, bahkan berkat ciuman tadi keadaannya makin tegang. Sangat malah.
"Hah? Burung?" bingung Nata. Sebad-badnya Nata, ia masih cukup terbilang polos apalagi mengingat kakaknya selalu mengawasi tingkah Nata.
"Ka-kamu punya burung?" kata-kata Nata sungguh menyakitkan. Jika Rey tidak punya burung, lalu bukankah dia sekarang adalah cewek bukannya cowok gagah nan tampan.
Rey menepuk jidat. Istrinya ini sungguh polos. "Menarik..." batin Rey.
"Lo mau bantu ngurus burung gue, gak?" tanya Rey sambil tersenyum jahil.
"Bo-boleh... Kapan?" okey, Nata belum menyadari maksud sebenarnya dari Rey.
"Sekarang..." jawab Nata sambil menarik Nata menuju kamar mandi.
"Se...karang? Emang di-dimana burungnya? Habis itu, ke-kenapa kekamar mandi... Kan disana ti-tidak ada... Tadi akukan juga ha-" Rey menaruh jari telunjuknya dibibir peach Nata.
"Lo mau bantu, kan?" tanya Rey yang langsung diangguki oleh Nata.
Rey segera menarik Nata untuk memasuki kamar mandi, namun Nata segera memberhentikan dirinya tepat didepan pintu kamar mandi, sedangkan Rey sudah didalam.
"Kenapa?" tanya Rey saat merasa Nata memberhentikan dirinya.
"Kok kekamar man...di?" tanya Nata bingung.
"Iya.. Tapi kok di-"
"kan lo mau bantuin ngurusin burung gue..."
"Iya... Ta-tapi mana burungnya?" Rey segera menunjuk burungnya itu dengan percaya diri. Bahkan ia sama sekali tidak malu.
"Hah?" bingung Nata, "Ka-kamu... Taruh burung mu disana? Kan nanti ma-mati dia..." lanjut Nata.
Rey menepuk dahinya, sepertinya istrinya benar-benar sangat polos. Rey menghela nafas, ia segera menarik tangan Nata untuk memegang burung perkasanya.
"Sial! Gue tambah tegang..." batin Rey meringis.
Nata mematung. Ia memang polos, namun bukan berarti ia bodoh. Pelajaran biologi anatomi tubuh manusia aja nilainya terbilang sempurna.
"I-ini bu...rung... Ka-kamu?" tanya malu Nata. Ini pertama kalinya ia memegang aset berharga milik lelaki.
"Menurut lo?"
Tolong bunuh Nata sekarang. Ia sungguh sangat malu sekarang. Bahkan tangannya masih menempel disana.
__ADS_1
"Kenapa? Katanya lo mau bantu ngurusin..." ucap Rey yang langsung membuat Nata tersadar. Nata segera menarik tangannya.
"Ka-kalo ka-kamu mau kencing... Sendiri aja... A-aku tu-tunggu di lu...ar.." ucap Nata gugup. Nata sekarang terbata-bata sungguhan, bukan dibuat-buat.
Rey menaikan salah satu alisnya. "Bukan kencing sih... Tapi- ekhem! Lo tau kan kenapa bisa ada manusia didunia ini... Klo mau populasi manusia meningkat... Cowok sama cewek kan harus melakukan perkembangbiakan secara generatif. Dan cowok itukan ngeluarin sesuatu... Lo boleh polos tapi lo gak bodoh, kan?" ucap panjang lebar Rey yang langsung membuat Nata memikirkan kata-kata Rey.
"Shit!" batin Nata. Wajah Nata memerah, badannya panas-dingin, ia sangat-sangat gugup. Nata segera membalikkan badannya untuk pergi dari depan kamar mandi, namun naas tangannya segera ditarik.
"Lepas..." ucap Nata sambil berusaha melepaskan tangannya.
"Lo kan mau bantu..." ucap Rey sambil menarik Nata.
"Batal"
"Enak banget, deh... Jadi cowok... Tenaganya besar banget..." batin Nata.
Sama seperti posisi sebelumnya, Nata diluar kamar mandi, sedangkan Rey berada di dalam kamar mandi.
Nata segera melepas paksa tangan Rey dari pergelangan tangannya. Tangannya merah. Nata segera menutup pintu kamar mandi, namun sama seperti sebelumnya, sebelum pintunya tertutup sempurna Rey segera menarik pintunya. Akhirnya terjadi lagi aksi tarik menarik pintu kamar mandi.
Malam pertama mereka diawali dengan aksi tarik menarik pintu kamar mandi. Mungkin saja suatu saat kejadian malam pertama tersebut akan menjadi sejarah atau rekor dunia.
***
Mereka berdua saat ini berada direstoran hotel bersama keluarga mereka berdua. Hanya sekadar memberi tau, keluarga mereka berdua kemarin juga menginap dihotel yang sama, makanya Nata dan Rey tidak bisa pisah kamar ditambah lagi hotel ini dimiliki oleh keluarga Agantara.
"Pagi..." sapa Nata kepada seluruh orang yang ada. Sedangkan Rey, ia langsung duduk tanpa menyapa.
"Lo kok disini?" tanya Rey kepada Albara.
"Oh... Katanya sih dia udah dianggep keluarga sama keluarganya Tasya..." bukan Albara yang menjawab, tetapi Shella.
"Duh..." ringis Shella saat disentil oleh Rey.
"Yang ditanya siapa, yang jawab siapa..." ucap malas Rey, ia segera beralih pandang menatap Albara. "Kok lo disini?" tanyanya sekali lagi.
"Suka-suka gue dong... Dan juga, gue udah dianggep keluarga... Iya gak?" jawab Albara.
"Sudah...sudah... Mari kita makan..." ucap Melly mengakhiri percakapan mereka.
Nata ingin duduk disamping Albara, namun Lina mengintruksi Nata untuk duduk disamping suaminya, Rey. Nata hanya bisa pasrah saja mendengar perintah ibu negaranya.
Vanes Hyoka
__ADS_1