
Dikediaman Agantara, semua penghuni sibuk dengan kegiatan masing-masing sambil menunggu waktu makan.
Nata terlalu sibuk dengan PR-nya yang akan disetor minggu depan, walau begitu, jangan kira bahwa Nata orangnya rajin, salah besar jika mengira Nata adalah orang yang rajin, nyatanya PR untuk besok belum ia buat, dengan alasan yang sangat simpel, ia lupa PR-PR nya kapan akan disetor, jadi ia memilih random buat. Begitulah Nata.
Sedangkan Rey, ia terlalu sibuk dengan pacarnya yang berada di banyak tempat berbeda. Begitulah Rey, tidak pernah puas dengan 1 perempuan, mungkin.
Shella sendiri saat ini sedang bersantai ria dengan Aura dan Aleya. Fyi; Aura dan Aleya memutuskan menginap, padahal yang sebenarnya berencana menginap hanyalah Aleya, sedangkan Aura, ia memutuskan menginap karena ada Albara, orang yang paling ia sembah. Bukan hanya Albara, namun Robin dan Aska juga ikut menginap, karena memang dari awal tujuan mereka adalah menginap, lebih tepatnya merepotkan Rey.
Robin dan Aska saat ini sedang bermain PS dikamar Rey, yup bisa dibilang karena itu Nata terpaksa buat PR, karena ia saat ini adalah seorang nerd yang rajin. Kalau Albara, jangan ditanya lah, ia saat ini sedang chat-an dengan Aura. Padahal kamarnya hanya berbatas tembok.
"Rey... Lo kok jahat bener..." ucap Robin dengan suaranya yang sengaja dibesarkan.
"Kenapa?" tanya Rey masih sambil berchatan ria dengan pacarnya yang berada di Perancis.
"Ya... Lo dengan santuynya chatan ria dengan cewek lain didepan istri lo.." merasa tersindir, Nata menjatuhkan kotak pensilnya dengan keras.
Brak...
Semua perhatian mengarah ke Nata, Nata tersenyum manis, sangat manis malah sampai membuat orang meleleh, bercanda deng.
"Maaf... Gak sengaja..." ucapnya sambil mengambil kotak pensil.
"Gak sengaja dari hongkong!" batin Robin, Rey, Aska dan Albara kompak.
Nata segera melanjutkan buat PR-nya dengan perasaan jengkel. Ingin rasanya ia mengajak semua orang gelut.
📞 Telephone masuk
âž¡ +62 8** **** *20
*🎶Cause baby you're my number-number-number-number one...
🎶And you're the only-only-only-only one*...
"Siapa?" batin Nata bingung saat ada nomber telphon tidak dikenal masuk.
Nata memutuskan mengangkat telphone tersebut, karena ia tidak ingin menarik perhatian dari 4 pangeran (bang*at) itu karena terlalu ribut, padahal Nata bisa silent, tapi ia terlalu malas.
__ADS_1
"Iya sia-"
"Nat! Ini gue... Ben!"
Deg...
Jantung Nata mulai berdetak keras. Bukan karena cinta, namun lebih kerasa benci. Ia muak dengan nama Ben.
"Maaf, anda siapa, ya?" Nata memutuskan pura-pura tidak kenal.
"Ini gue... Ben, orang yang lo sukai dulu... Orang paling tamvan..." ucap cowok tersebut dengan nada sombongnya.
"Cuih.... Bisa-bisanya gue suka sama orang narsis melebihi suami playboy gue..." batin Nata bergidik ngeri.
"Maaf sekali lagi saya tidak kenal ataupun ingat..."
"Nat... Sorry... Gue tau lo masih inget sama gue, karena gue tamvan... Plis maaf, kasih satu kesempatan aja..."
Mendengar hal itu langsung membuat Nata takut, takut akan mimpi seram nanti malam.
"Disel gimana?" dari seberang handphone, Ben tersenyum karena akhirnya Nata berhenti berpura-pura.
Albara segera turun dari kasur, dan segera mengambil handphone Nata dengan kasar, hatinya saat ini sedang kacau. Semua orang kaget dengan perilaku Albara, yang tiba-tiba terlihat marah.
"Lo siapa, huh?!" Tanya Albara membentak, tentunya hal itu langsung membuat orang yang diseberang handphone terkaget.
"Harusnya gue yang ta-"
"Oh lo Ben bang*at! Gimana? Oh gue tau, lo mau deketin Nata kan, iya kan?! Lo gak puas sama di-disal?.. di-di.. ya pokoknya itulah... Gue lupa sama ja*ang satu itu! Pokoknya lo jangan nelphone nomer ini lagi!" Albara segera mematikan telphone secara sepihak, namun belum ada 1 menit, Ben menelphone kembali.
📞 Telephone masuk
âž¡ +62 8** **** *20
🎶*Cause baby you're my number-number-number-number one...
🎶And you're the only-only-only-only one*...
__ADS_1
"Eh bang*at! Gue bilang jangan nelpon lagi!" Albara mematikan telphone, lalu ia membuang handphone Nata keluar jendela.
Nata, Rey, Robin, dan Aska melongo melihat tingkah laku Albara yang sungguh wow.
Sedetik kemudian, Nata langsung memukul Albara dengan sangat keras. Ia akui kakaknya sangatlah baik, tapi gak gini juga kan. Itu adalah sebuah handphone yang pasti sangatlah mahal, dan seenak jidatnya Albara membuangnya. Dikira uang jatuh dari langit apa. Dan juga, isi handphone Nata sangatlah penting.
Nata berlari kearah kebun, ia ingin mencari handphone-nya. Padahal, belum lama ini ia baru mengganti handphone. Mungkin saja takdir handphone Nata selalu rusak.
Langit sudah mulai menggelap, bukan Nata namanya kalau tidak keras kepala. Dari pada membeli baru, ia lebih memilih melihat kondisi handphonenya terlebih dahulu, siapa tau masih berfungsi.
"Udahlah, Sya... Gue ganti deh... Yang lebih mahal kok..." ucap Albara, namun Nata hanya melirik Albara sinis.
"Ada apa ini?" tanya Shella yang baru datang. Shella datang karena mendengar suara handphone Nata yang jatuh. Mungkin karena handphone Nata mengenai sebuah benda logam sehingga suara jatuhnya terdengar keras.
"Oh... Itu si Albara ngejatuhin HP-nya si Nata... Lebih tepatnya sih, dengan sengaja" jawab Aska yang entah semenjak kapan berada disamping Shella.
"Eh Anjing!" Shella terkaget dengan kemunculan Aska yang tiba-tiba, "Eh! Lo itu bisa gak sih, gak muncul tiba-tiba! Nanti gue jantungan gimana, huh?!" seru Shella sambil memegang jantungnya.
"Buktinya lo gak jantungan, kan?" jawab Aska sambil tersenyum meremehkan, dan tentunya membuat Shella marah layaknya gunung meletus.
"Dari pada kalian ribut... Lebih baik kalian ngebantuin Tasya cari HP!" saran Albara yang langsung membuat Rey, Robin, Shella, Aska, Aura, dan Aleya saling menoleh, sedetik kemudian, mereka memberi senyuman termanis mereka. Ah, Albara tau arti senyumannya.
"Al... Kan lo yang jatuhin..." ucap Robin sambil memainkan jari-jarinya.
"dengan sengaja lagi..." tambah Aska melengkapi ucapan Robin.
"Jadi...." ucap Shella sambil tersenyum lebar.
"Berhubung lo biang masalahnya..." Rey berucap dengan tampang meremehkan.
"Lo aja yang ngebantu..." ucap Aleya sambil berjalan kedalam diikuti Rey, Robin, Aska, dan Shella.
"Semangat!" seru Aura sambil melambaikan tangannya, lalu ia berlari menyusul Aleya kedalam.
Emang pada dasarnya sahabat sejati ya kayak gitu, jika sahabatnya lagi senang, yang lainnya juga senang. Jika sahabatnya susah, yang lainnya hanya bantu doa. Semoga makin susah. Bercanda deh.
"Dasar! Kalo masalah kayak gini aja, sambung kalimatnya lancar! Sahabat gak tau diri!" batin kembaran keluarga Chandrawan kompak.
__ADS_1
Vanes Hyoka