
Aleya mengendarai motornya dengan sangat amat pelan, bahkan jika pejalan kaki disuruh lari, sudah pasti Aleya akan disalip. Alasan? Entahlah, ia mendapat feeling kalo ia harus mengendarai motor dengan pelan.
"Mah! Kakaknya naik motor gede, tapi kok lambat sih?" ucap seorang anak yang sedang berjalan kaki dengan ibunya.
"Mungkin baru belajar, sayang..." jawab ibu anak tersebut sambil menarik-narik tangan anaknya, agar cepat berjalan.
"Tapi masa sih, mah? Itu pakaian kakak-nya udah kayak preman, masa baru belajar?" ucap anak kecil tersebut sambil menunjuk Aleya. Aleya diam, tapi dalam hati ia sudah marah-marah.
"Preman katanya? Cantik-cantik gini dibilang preman, mana ada preman kayak bidadari kayangan! Sabar, Aleya... Ini itu anak kecil..." batin Aleya.
"Diem, nak..." ibu tersebut menutup mulut anaknya sambil mencoba menarik-nrik tangan anaknya.
"Tapi, mah.... Itu kakansa epang kaya premann.. Mah lepass!" ucap anak tersebut sambil mencoba melepas tangan ibunya yang berada di mulutnya.
Aleya menatap curiga kepada pasangan anak dan ibu tersebut. "Eh, kok si anak mulutnya dibekap sih? Jangan-jangan penculikan lagi! Tapi si anak manggil dia mama, waduh jangan-jangan si anak mau dijual sama si ibunya, makanya anaknya memberontak!" pikir Aleya kemana-mana.
Aleya memberhentikan motornya, dan tentu saja hal tersebut membuat jantung sang ibu berdetak lebih kencang. "Ya gusti... Selamatkan lah anakku ini..." batin ibu tersebut.
"Permi—"
"Maaf saya tidak punya uang! Dan ini anak saya satu-satunya! Maaf!" ibu tersebut segera menggendong anaknya, dan berlari sekencang-kencangnya menjauhi Aleya.
"Hah?" Aleya mematung, Aleya tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Bisa dibilang, Aleya tidak tahu bahwa ia penyebab dibalik ketakutan sang ibu.
"Ale... Gue baru tahu lo ganti profesi..." sebuah suara berhasil membuat Aleya tersadar. Aleya memutar kepalanya agar melihat wajah pemilik suara.
"Kenapa?"
"Nata?" kaget Aleya.
"Apaan sih... Sok kaget segala... Tapi sumpah, gue baru tau kalo lo itu preman," ucap Nata yang langsung membuat Aleya mendengus.
"Apaan sih! Preman-preman... Cantik-cantik gini masa di—"
"Lo tau gak kenapa tadi ibu-ibunya ketakutan?" tanya Nata sambil tersenyum, tersenyum mengejek.
"Mungkin baru aja liat setan..." jawab Aleya ngasal.
"Yup! Dan lo setannya!" Aleya segera melotot. Nata terkekeh, sudah lama ia tidak membuat Aleya melotot. Wajah Aleya seperti banteng.
"Nat! Lo sekarang jahat!" ucap Aleya sambil memajukan bibirnya.
"Le, sayangnya gue bukan lesbian, ogah gue cium lo!" ucap Nata sambil menarik tangan Aleya.
__ADS_1
"Lepas!"
"Lepas, Nat!"
"Woy, lo budeg?!"
"Ck! Udah cepet lo bawa motornya, gue butuh tumpangan..." ucap Nata yang langsung membuat darah Aleya mendidih.
"Na—"
"Kapan-kapan gue traktir makan deh, sebagai permintaan maaf..." Aleya terdiam, namun detik selanjutnya ia tertawa terbahak-bahak.
"Hahah! Nat, gue itu bukan lo yang kalo ditraktir makanan, langsung gak marah! Dan lagi, lo itu bukannya kekurangan uang?" Nata terkekeh mendengar ucapan Aleya.
"Makanya, gue kan bilang kapan-kapan, bukan sekarang... Udah deh, buruan! Ini udah mau jam 10..."
"Lo kira gue ojek!"
"Gak tuh, kan lo supri gue, Le..."
"Apaan tuh?"
"Supir pribadi gue"
"Gue manusia, Le..."
Sepanjang perjalanan menuju sirkuit, mereka terus berdebat. Lebih tepatnya Aleya yang mengegas, sedangkan Nata hanya menjawab dengan segala kesantuyan yang ada. Mood Nata hari ini sangat baik, akhirnya ia bisa bebas seperti dulu, ya walau hanya beberapa jam saja. Tapi, itu udah sangat amat cukup untuk seorang istri.
Dan masalah feeling Aleya, untuk pertama kalinya ia benar. Biasanya feeling Aleya selalu salah, bahkan sangat tidak ber logika. Misalanya, pas upacara tahun lalu, ia mendapat feeling bahwa ia harus membawa gunting kuku, dan ia beneran membawa, tapi pada akhirnya namanya tercatat jelas di buku sidak. Dan 1 bulan yang lalu, ia mendapat feeling kalo ia berdiri selama seharian di lapangan sekolah, besoknya akan ada cogan yang menembak dirinya. Tentu saja ia melakukannya, hanya 2 jam setelah berdiri ia pingsan, dan parahnya besoknya ia ditembak oleh seorang kutu buku yang terkenal sering meludah sembarangan. Bayangin aja coba.
***
"Woy! Kita disini!" teriak Shella. Aleya segara memarkirkan motornya. Sedangkan Nata, jangan tanyakan ia kemana, karena sudah pasti ia akan berlari ke kakaknya untuk minta ditraktir di warung Pak Usop.
"Bang, minta uang... Gue mau beli jajan," ujar Nata sambil mengedip-ngedipkan matanya. Mungkin jika Nata seperti itu ke cowok lain, akan mempan, tapi ini itu kakaknya, mustahil mempan, malah Albara terlihat jijik sambil berpura-pura muntah.
"Bang..."
"Suami lo aja mintain..." untung aja ditempat tersebut sangat amat ramai, jadi suara Albara tidak begitu terdengar.
"Gue mutilasi baru tau rasa lo, bang!"
"Gue bantu kok, Nat..." ucap Aura sambil menepuk pundak Nata, sepertinya Aura juga denger percakapan mereka, ya walau tidak jelas.
__ADS_1
"Gue gak yakin lo rela kalo abang gue..." ucap Nata sambil menggerakkan tangannya memotong leher.
"Apaan sih... Selama gue yang ngelakuin, rela gue... Banget malah!"
"Cielah, rela sih iya, soalnya lo bisa ngegrepe-gr*pe badan abang gue..." sindir Nata yang langsung membuat Aura mendengus kesel. "Tau aja ni anak..." batin Aura.
"Woy! Si Rey kok belum dateng? Dia gak tersesat, kan?"
"Lo kali yang tersesat! Tadi pake nangis-nangis bilang salah jalan dan tembusnya di kuburan..." ejek Albara.
"Nangis pantat lo! Gue emang salah jalan, tapi gue cuma kaget aja! Gak nangis, elah!" jujur Robin, dia emang gak nangis, cuma air matanya tadi mau keluar, inget mau keluar, bukan udah keluar.
"Ska, coba lo telpon dia... Mungkin tebakan si Robin ada benernya..." suruh Albara. Sedangkan Aska hanya terdiam tanpa ada niat menelpon.
"Lo kok diem?"
"Gak punya pulsa, dodol!" kesal Aska. Sahabatnya ini benar-benar deh, padahal mereka yang paling tahu kalau seorang Aska paling malas beli pulsa. Bahkan pernah Aska lupa beli pulsa listrik, dan berakhir dimarahi oleh ibunya.
"Eh sorry lupa, lo kan misquen..." ucap Albara sambil mengeluarkan handphone bermerek apel ke gigit, keluaran terbaru. Dengan gaya sombongnya, Albara mendekatkan handphone-nya ke telinganya.
"Bin, kita misquen gak apa-apa, dari pada merek mahal-mahal eh malah t*lol! Gimana mau ke sambung, nelpon aja belum..." sindir Aska.
"Eh iya, pantes gak ada suaranya..." ucap Albara sambil melihat layar handphone-nya.
Disini harusnya Albara yang malu, tapi kenapa jadi Aura yang malu, ya?
"Sorry, Ra... IQ abang gue mulai keganggu semakin bertambahnya usia..." ucap Nata bersalah.
"Gak papa kok, gue tetep cinta... Eh? Aduh kalian gak denger kan, eh maap gue salah ngo—"
"Ekhem!" -Nata.
"Ekhem!" -Robin.
"Ekhem!" -Aska.
"Ekhem!" -Shella.
"Ekhem!" -Aleya.
"Sorry... Entah mengapa tenggorokan kita sakit berjamaah..." ucap Shella sambil menaik-turunkan alis kanannya.
"Anj*ng lo pada!" gumam Aura yang berhasil membuat mereka ber-5 tertawa. Sedangkan Albara masih speechless.
__ADS_1
Vanes Hyoka