
"Yang..." panggil gadis berwajah polos, mungkin.
"Em" jawab Rey sambil tetap fokus dengan handp
"Kok em aja sih?" protes gadis tersebut.
"Terus gue harus gimana?" tanya Rey sambil menatap manik mata gadis tersebut.
"Ya... Em... Ya... Kamu kan bisa bilang... Iya sayang... Atau apalah, kan gak perlu em," ujar gadis tersebut. Jangan salahkan jika saat ini Rey minta putus, sebab Rey paling anti sama gadis cerewet, gak tahu diri, apalagi cuma pinter nge-bacot.
Rey menarik nafasnya dalam-dalam, "Fey, udah kenyang?" tanya Rey sambil melihat jam tangannya.
"Belum... Ini masih laper," jawab Feya sambil berusaha memasukan makanan ke mulutnya. Berusaha? Tentu saja, bagaimanapun ia sudah makan 3 piring, dan sekarang adalah piring ke 4.
Feya gendut? Enggak lah, masa Rey si Playboy mau pacaran sama orang gendut, citranya hancur dong. Intinya, Feya itu cuma mau cari perhatian aja, dan caranya adalah dengan makan banyak.
Alasan? Tentu saja ada. Feya itu siswi SMA Bima Sakti, dia disekolah termasuk siswi biasa, gak seperti Nata dkk dan Rey dkk yang famous. Dia suka cogan, dia suka Drakor, dan dia suka mimpi ditembak cowok tampan, dan yup, mimpinya menjadi kenyataan, ditembak oleh Rey. Nah, bagi dia, Nata itu bisa aja jadi PHO diantara dia dan Rey, maka dari itu, ia mengikuti kebiasaan Nata yang suka banyak makan.
Anehnya, apa hubungannya coba antara cari perhatian dan makan banyak? Bukan perhatian yang didapat, malah hinaan gegara gendut yang didapet. Menurut Feya, jika ia mengikuti kebiasaan Nata, mungkin ia akan seperti Nata, cantik dan body goals plus ia akan mendapat perhatian Rey. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.
Satu kata untuk Feya, Bodoh.
Emang deh, bodoh dan polos beda tipis.
***
"Nat! Lo mau balap gak?" tanya Shella.
"Gak deh, gue mau taruhan aja... Gue lagi gak bawa motor," jawab Nata apa adanya.
"Ya udah, lo bisa pinjem motor gue, ato siapa lah... Disini bukan 1 ato 2 orang aja yang bawa motor balap, Nat..." bujuk Shella.
"Ogah! My baby lebih baik dari pada punya orang lain!" tolak Nata. My Baby itu nama motor Nata, motor yang telah ia rawat semenjak SMP.
"Nat, lo bilang mau taruhan?" tanya Aura.
"Ya begitulah..."
"Ya udah, lo taruhan aja sebagai pemain, kan untungnya lebih banyak!"
"Tapi gue maunya taruhan sebagai penonton! Uda deh, hus sana!" usir Nata.
Sebenarnya Nata mau aja ikut balap, cuma seperti yang dibilang oleh Aura, untungnya banyak, yang artinya jika ia kalah, ia akan rugi banyak juga. Tapi bukan itu masalahnya, masalahnya adalah ia tidak punya sesuatu yang besar untuk dipertaruhkan. Ingat, Nata udah nikah.
"Nata, ayolah... plis.." bujuk Aleya sambil menggunakan jurus puppy eyes.
Shella, Aura, dan Aleya membujuk Nata untuk ikut karena mereka yakin Nata akan menang. Yang artinya, mereka juga akan untung banyak. Seperti biasa, mereka bertiga setiap Nata balap, mereka selalu mempertaruhkan setengah uang bekal selama 1 bulan mereka, bayangin aja kalau Nata menang. Ya pasti untunglah.
"Apaan sih! Pergi sana! Gue mau kencing dulu, udah di ujung tanduk ini..." Nata segera berlari menuju toilet terdekat.
__ADS_1
***
"Eh kamvret! Gue bocor..." gumam Nata di dalam toilet saat melihat celana dalamnya. Untung saja tidak tembus celana luar, maklum lah baru hari pertama.
Tapi yang jadi masalahnya, dimana ia akan mendapatkan pembalut? Walau tidak tembus hingga keluar, tapi kan takut juga.
"Gue gak bawa jaket lagi atau apalah yang bisa nutupin..." batin Nata.
Nata segera mengambil handphone-nya. Ia menelpon kakaknya, Aura, Aleya, dan Shella, tapi malah operator yang menjawab.
"Maaf... Pulsa anda habis, segera lakukan pengisian ulang..."
Emosi Nata meledak-ledak. Setidaknya ia sudah menelepon ke-empat orang tersebut, walau tidak punya pulsa kan mereka bisa menelepon balik.
Saat ingin mencoba menelpon lagi sekali mereka, tapi saat ingin menelpon Shella, tangannya malah kepleset jadi memencet nomor Si Pelit. Sama sama berawalan huruf S, jadinya berdekatan.
Nata tidak langsung mematikan, tapi ia terdiam, mengingat-ingat siapa sebenernya Si Pelit itu.
"Siapa sih?"
"Si Pelit... Si Pe- Omg! Itu si playboy!"
"Maaf... Pulsa anda habis, segera lakukan pengisian ulang... Maaf... Pulsa anda habis, segera—"
Tut... Tut... Tut...
Nata segera mematikan panggilan tersebut, jantungnya berdebar-debar, bukan karena gugup, tapi karena syok dan kaget.
🎶Cause baby you're my number-number-number-number one...
🎶And you're the only-only-only-only one...
Nama Si Pelit tertera di layar handphone Nata. Nata segera melemparkan handphone nya karena kaget, untung saja Handphone Nata tahan banting. Saking seringnya dibanting jadi tahan banting.
"Aduh... Gimana nih?" Nata mengambil handphonenya untuk mematikan, tapi saat ia mau mematikan, sebuah suara membuagnya berhenti.
Tok... Tok... Tok...
"Cepet dong! Ini siapa sih didalam? Lama bener keluarnya..." teriak orang yang sedang menunggu sedari tadi, diluar toilet.
"Woy! Siapa didalam!"
"Cepet! Gue Ma—"
"Sabar, mbak! Gak tau apa lagi ribet ini didalem!" jawab Nata sambil berteriak.
Maklum mereka bar-bar, namanya juga sirkuit. Orangnya 99,99% termasuk spesies manusia bar-bar.
Nata memutuskan untuk menjawab telepon tersebut, udah mepet banget.
__ADS_1
"Halo, siapa ini?" tanya Rey sopan. Andai ia tahu bahwa yang menelpon nya adalah Nata, 100% kesopanannya akan lenyap.
Alasan Rey tidak tahu bahwa yang menelpon adalah Nata padahal tadi Rey susah meng-save nomber Nata karena di Handphone Nata terdapat dua sim card, untuk Nata dan Tasya. Dan kedua-duanya tidak ada pulsa.
"Ekhem... I-ini gue, Nata..." jawab Nata berusaha menyembunyikan kegugupan.
"Nata?"
"Iya, adiknya Albara..."
"Oh"
"Oh? Cuma Oh aja? Anj*ng ni setan!" batin Nata.
"To the point aja, gue perlu bantuan lo... Mepet banget ini..." ucap Nata dengan cepet.
"Apa sih? "
"Gue. Butuh. Bantuan. lo!"
"Alba—"
"Gak dijawab!"
"Adik gu—"
"Semua gak dijawab! Lo ada dimana?"
"Cafe Laksmana sari"
"Good, gue ada ditoilet sirkuit paling pojok Utara deket sama cafe tempat lo sekarang, lo jemput gue... Gue mo-mohon..." ucap Nata gak ikhlas saat mengucapkan kata mohon.
"Tapi gue gak ada niat bantu lo, sekarang gue sama pacar gue. So lo mau jadi orang ketiga? Dan lagi gue bawa motor, lah pacar gue, gue taruh dimana?"
"Pacar-pacar! Lo lupa udah punya bini!"
"dan bininya gue..." lanjutnya didalam hati.
"Otw" Nata tersenyum penuh kemenangan.
"Tapi lo harus bantu gue..." lanjut Rey.
"Hah? Tu-tunggu mak—"
Tut... Tut... Tut...
"Sial!" teriak Nata.
"Woy yang di dalem sehat kan?!"
__ADS_1
Vanes Hyoka