Perjodohan?!

Perjodohan?!
|32|


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul 08.13 WIB, namun hal tersebut tidak membuat Nata bangun dari tidurnya, padahal alarm Handphone-nya sudah berbunyi semenjak 3 jam yang lalu. Untung saja bunyinya tidak sampai ke kamar sebelah.


Kring... Kring.... Kring...


Kring... Kring... Kring...


Andai saja jamnya bukan benda mati, pasti sedari tadi sudah bilang, "Bangun, woy! Lo kira gue gak capek bunyi terus?! Capek hayati membangunkan kebo..."


Kring... Kring.... Kring...


Kring.... Kri—


Alarm dimatikan. Nata mengucek matanya, lalu duduk di kasurnya. Ia bangun dari kasur dan memilih membuka gorden. "Jam berapa sih? Terang banget...Hohem.." gumamnya sambil menguap.


Saat Nata hendak mandi, suara telepon membuatnya berhenti. Ia mengangkat telepon dari Aura. "Dasar! pagi-pagi ganggu banget," batin Nata.


"Hall—"


"Hallo-Hallo! Lo gak inget jam? Lo bolos?" Nata memegang telinganya yang sakit.


"Apaan sih... Siapa juga yang mau bolos, gue masih dirumah, belum juga mandi," diseberang telepon, Aura melotot. Astaga, sahabatnya sangat tidak tahu waktu.


"Eh! 'Itu' lo aja udah disini, masa lo masih disana... Dan lagi, anak gadis mana yang bangunnya jam segini... Jam 8 lebih loh ini! " ucap Aura sambil menekan kata itu, tanpa disebutkan namanya pasti sudah tau, kan?


"Apaan sih, ita-itu... Gak jelas, dan lagi lo kayak nyokap gue aja, Ra... Baru juga jam 8..." ucap Nata, namun detik selanjutnya ia langsung melotot.


"Ja-jam 8?" gumam Nata, lalu ia segera melihat jam handphone-nya, dan dengan kecepatan penuh ia langsung menggunakan seragam, bodo amat gak mandi, di jepang aja kebanyakan penduduknya gak mandi pagi.


"Hallo! Lo masih ada, gak?"


"Ha—"


Tut... Tut... Tut...


"Dasar mak lampir!" gumam Aura kesal.


***


Nata keluar dari angkot yang sangat sesak. Memang bukan pertama kalinya ia naik angkot, hanya saja ia tetap kesal saja naiknya. Sesak lah, pakaiannya jadi bau lah, bahkan aktivitasnya di angkot hanya duduk tapi keringatnya sangat banyak yang keluar. Tapi walau begitu Nata tetep mau menggunakan angkot.


Sebenarnya tadi ia ingin memesan Ojek online atau Taxi. Namun saat ia mengingat kembali uangnya, keinginannya menguap. Suaminya sungguh sangat jahat.

__ADS_1


Dilihat pintu gerbang sudah tertutup rapat, iyalah wong Nata telat 1 jam. Nata memutuskan untuk lewat belakang.


"Sip... Gak ada siapa-siapa..." gumam Nata, lalu ia pun loncat.


Saat Nata hendak berjalan, suara seseorang membuat tubuhnya menegang. "Ekhem! Masih berani ternyata masuk. Bapak kira kamu bolos, loh..." ternyata suara Pak Anthon.


"Gila... Suara dia sama-sama nyeremin kayak suara hantu.." batin Nata.


"Eh, ada bapakku cayang, pagi pak..." sapa Nata ramah. Nata niat kabur? Tentu saja tidak. Bagaimana pun ingatan tentang ketangkap 2 guru BK masih membekas. Nata tidak ingin mengalami lagi.


"Gak kabur kamu?" Nata tersenyum sambil menggeleng. "Enggak, pak..."


"Biasanya juga langsung kabur... Pasti ada rencana tersembunyi, kan?" curiga Pak Anthon.


"Astaga bapak... Bapak orangnya curigaan banget sih. Saya itu udah tobat, pak... Saya kemarin kan mandi, nah pas mandi kembang bunga tujuh rupa, entah mengapa saya sadar, saya itu selalu berbuat baik kepada semuanya, tapi saya malah berbuat jahat pada diri sa—"


"Berbuat baik? maksud kamu jahat?"


"Ya ampun, pak... Baik pak! bukan jahat... Kan saya emang berbuat baik kepada semua, karena saya selalu membuat guru killer kayak bapak fokusnya sama saya, dan mereka ditelantarkan oleh bapak BK yang terhormat... So, kurang baik apa saya..." ucap Nata sambil memasang wajah sedihnya.


"Dasar kamu! Lama-lama kamu bisa jadi pembunuh loh!" ucap Pak Anthon sambil menjewer telinga Nata.


"Lama-lama kamu ngebunuh saya, Nata! Kamu itu bisa buat bapak sakit, habis itu bisa aja bapak stroke, habis itu bapak mati deh..." ucap Pak Anthon dengan emosinya.


"Bapak pikirannya jauh ba—"


"Diam kamu! Ikut saya!" Pak Anthon pun menarik telinga Nata agar Nata mengikutinya.


"Aduh pak, jangan telinga dong... Tangan aja..." rengek Nata.


"Bapak... bapak kan tahu kalo tindakan kekerasan fisik kepada murid bisa dilaporkan ke pihak berwajib," Pak Anthon terdiam membuat Nata tersenyum penuh kemenangan, namun senyuman tersebut memudar saat Pak Anthon kembali menarik telinga Nata.


"Lah, pak? Bapak gak takut sa—"


"Laporin aja, Nata... Lagian ibu kamu ada di pihak saya, malah ibu kamu yang menyuruh saya untuk menjewer kamu kalau kamu masih bandel..." Nata terdiam, ibunya sungguh sangat tega kepada dirinya.


"Pak, saya kan sudah tobat... Bapak gak denger ta—"


"Tobat tapi masih aja telat..." sindir Pak Anthon yang membuat Nata menyengir. Pak Anthon memutar bola matanya malas.


***

__ADS_1


Seperti biasa, jika Nata telat pasti ia menghabiskan waktunya hingga istirahat diruang BK. Tapi tidak apa-apa sih, lagian dia bisa ngadem diruang BK, ada Air Conditioner, kan lumayan.


"Sorry lama, gaes..." tanpa aba-aba, Nata segera mendudukan dirinya disamping Aura.


"Lo pada mau apa?" tanya Aleya karena kali ini giliran Aleya yang memesan.


"Ditraktir ato gak?"


"Ya enggak lah... Lebih baik gue tabung nih uang dari pada gue traktir kalian..." ucap Aura sambil menunjukan tampang ganasnya.


"Gue batagor..."


"Nasgor..."


"Lo apa, Nat?" tanya Aleya, "Akhir-akhir ini gue jarang ngeliat lo makan, loh... Lo udah bisa move-on dari makanan nih ceritanya?" lanjut Aleya.


"Dikira mantan apa..." ucap Nata malas, "Gue apa aja boleh... yang penting–" Nata menarik tangan Aleya lalu menaruh uang sebesar 5.000 rupiah ditangan Aleya, "–ni uang cukup... Kalau masalah minuman, kita bisa berbagi bersama—"


"Di Pizza HUT" sambung Shella.


Aleya menatap uang 5.000 ditangannya dan Nata secara bergantian. Aleya memasang wajah anehnya, "Nat, nyokap lo gak ngasih lo bekel?"


"Ya itu, yang lo pegang bekel gue..." jawab Nata acuh. Kali ini giliran wajah Shella yang aneh.


"Nyokap lo ada masalah keuangan? Tapi gue liat abang lo biasa aja, tuh..." tanya Shella sambil menunjuk Albara yang duduk di pojok kantin sambil bercanda dengan teman-temannya.


"Fasilitas gue disita, bekel gue cuma 10.000, terus tadi bayar angkot 2.000, sisa 8.000. sekarang 5.000 untuk beli makan, nanti 2.000 untuk pulang, 1.000 untuk ditabung..." jawab Nata yang membuat Aleya dan Shella saling memandang lalu fokus lagi ke Nata.


"Sampek kapan?"


"Sampek suami gue tau seberapa susah hidup gue cuma mengandalkan 10.000 setiap harinya!" batin Nata.


"Sampek gue mati!"


"Nata! Jangan mati!" seru seseorang. suara tersebut langsung membuat raut wajah Nata yang pertamanya biasa saja menjadi tidak biasa.


Tanpa berbalik badan pun, Nata tahu suara siap itu.


Vanes Hyoka


*Hallo kawan2, gue cuma mau bilang... Klo gak suka silahkan pergi tanpa meninggalkan jejak...

__ADS_1


__ADS_2