Perjodohan?!

Perjodohan?!
|29|


__ADS_3

Rey menatap kesal sebuah kaca didepannya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali.Ia melihat pantulan dirinya, lebih tepatnya wajahnya yang penuh dengan sepidol.


Ia menggeram kesal melihat wajah tampannya ternodai. Sombong memang, tapi memang pada kenyataannya wajahnya tampan. Jadi, gak papa lah sombong, ralat maksudnya memuji diri sendiri.


Rey bersumpah akan membalas perbuatan istrinya lebih dari ini, ya walaupun dirinya yang duluan mengibarkan bendera perang.


***


Rey, Aska, Albara, dan Robin melongo melihat banyak siswa-siswi berlari di lapangan.


"Ka... Ada acara ya, kok gue gak tau, ya?" binggung Robin.


"Sama bin, gue juga gak tau..." balas Aska.


"Al, Rey.. lo pada tau gak?" tanya Robin yang dibalas gelengan kepala oleh mereka yang ditanya.


"Al, Rey! Itu bukannya kembaran lo pada!" seru Robin saat melihat Nata dan Shella.


Sekarang Albara mengerti kenapa mereka semua berlari dengan Nata memimpin. Pasti Nata sedang badmood atau kesal.


Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Nata adalah orang yang akan melakukan sesuatu yang mengeluarkan keringat jika sedang kesal, badmood dan sebagainya.


Jika dilihat kembali, orang yang berlari bukan hanya orang-orang yang tadi menonton Nata saat ditembak. Saat Nata berlari, ia terus memaksa orang-orang yang dipinggir lapangan untuk ikut berlari.


Tidak ada yang menolak. Iya lah, wong tanduk iblis Nata udah keluar dari tempat persembunyiannya, bercanda deh.


Nata saat ini sangatlah seram mengalahkan iblis, makanya semua pada takut dengan dirinya. Nata yang tidak marah saja sudah seram, apalagi yang sekarang. Jangan dibayangin deh, nanti gak bisa tidur.


Itulah salah satu alasan tidak ada yang berani mengganggu Nata. Ya Nata sendiri sebenarnya punya julukan, yaitu Devil Queen. Cantik layaknya seorang ratu, seram melebihi iblis.


"Na...ta...h Gue se-stop, ya?..." ucap Shella sambil terengah-engah. Nata hanya menatap Shella dengan malas, yang waktu itu bilang berat badannya naik siapa? Nah, makanya sekarang Nata membantunya. Membantu menyiksa.


"Baru juga 9 putaran, Shel... Yaelah, cemen lo!" seru Nata yang langsung membuat Shella ingin memakan Nata hidup-hidup.


"Itu elo! Sedangkan kita, 3 putaran aja belum sampek..." kesal Shella.


"Udah-udah... Nat, marahnya dipending dulu deh..., Ini mau bel ma-"


"Ada acara apa, nih?!" seru Robin memotong ucapan Aura. Aura menatap sinis Robin.

__ADS_1


"Eh para monyet main dateng aja..." sinis Aura.


"Ra, berarti gue monyet juga dong?" tanya Albara dengan wajah cemberutnya. Aura lalu merasa bersalah, ia lupa, dimana ada para monyet, pasti ada doinya.


"E-engga ko... Lo pawang monyetnya maksudnya..." Albara segera tersenyum lebar, ia sangat-sangat puas dengan jawaban Aura.


"Najis!" gumam sahabat-sahabat mereka berdua.


***


"Ja...di?" Nata menyeritkan dahinya saat sahabat-sahabatnya serta sahabat-sahabat suaminya mengelilinginya.


Suaminya mana? Oh, kalo dia mah ga peduli. Dia lebih memilih chat-an dengan pacar-pacarnya.


"Ya, elo kenapa sebel gitu tadi pagi? Adeh, capek kaki gue ini... Tanggung jawab dong..." rengek Aleya saat dirasa kakinya masih sakit dan pegal.


"Biar gue aja yang tanggung jawab, le... Yuk ke KUA!" ajak Robin bersemangat. Aleya yang tadinya memasang wajah sedih ala bayi, sekarang berubah menjadi judes kayak topeng monyet.


"****! Ogah gue punya suami kayak lo, yang ada gue bisa masuk rumah sakit jiwa, ato lebih parahnya gue masuk kuburan mak lampir..." ucap Aleya dengan nada kesalnya.


"So, lo tadi kenapa, Nat?" Nata tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Aura karena ia fokus terhadap sesuatu yang mengganggunya sedari tadi.


Nata mencakup wajah suaminya tersebut menggunakan tangannya. Semua orang yang melihat cukup kaget dengan aksi Nata yang terbilang wow.


Rey kaget tentunya, namun ia segera menyeritkan dahinya saat melihat wajah Nata yang fokus melihat wajahnya. Apa sebegitu gantengnya 'kah, hingga Nata melihat dirinya sampai seperti ini?


"Lo bersiin wajah lo pake apa?"


Rey diam, ia tau maksud dari pertanyaan Nata. Wajahnya masih ada bekas sepidolnya, dan ia tidak bisa membersihkannya, padahal ia sudah menggunaka berbagai sabun wajah yang ada dikamar mandinya, termasuk sabun wajah milik istrinya.


Semua orang bernafas lega karena pertanyaan yang sedari tadi ingin mereka ajukan saat melihat wajah hitam bergaris Rey sudah diwakilkan oleh Nata.


Ya sebenarnya mereka bisa saja tanya sendiri, cuma ya gitu, bisa kena amuk dari seorang Reynald Nathaniel Agantara. Bahkan pernah ada seseorang yang masuk rumah sakit karena mengejek dan memaki Rey.


"Pake sabun muka bini gue..." jawab Rey dingin. Ya, Rey berani mengucapkan kata bini, karena memang saat ini hanya ada sahabat-sahabat dirinya serta sahabat-sahabat adiknya. Yang artinya tahu bahwa dirinya telah menikah.


Nata menggeram, tentulah, baginya sabun adalah temannya saat sedang kotor dan bau. Dan apa katanya, sabun wajah? Ingin rasanya Nata menghajar Rey dengan keras. Karena apa? Tentu saja karena sabun wajah Nata yang harganya cukup terbilang mahal, dan ingatlah bahwa Nata telah menikah, mana berani ia merengek minta sabun ke suaminya. Bukannya tidak berani sih, tapi gengsi lah.


Nata membuang nafasnya dengan kasar, ia tidak boleh bertindak gegabah tentunya, agar orang didepannya tidak tau bahwa ia adalah istrinya. "Harusnya kalo elo mau bersihin sepidol dari wajah lo... Lo pake pembersih make-up, ato alcohol..."

__ADS_1


"Tunggu...tunggu... Kok gue ngerasa salah ngomong, ya?" batin Nata


"Lo tau dari mana wajah gue kena sepidol?" tanya Rey dengan nada mengintimidasi.


Kan Benar, ia salah berbicara. Nata merutuki mulutnya yang asal bicara tanpa berfikir. Iyalah, wong mulut gak punya otak.


"Emm... Istri... Iya, istri lo yang kasih tau gue... heheh" ucap Nata asal.


"Elo?" tanya Rey tak yakin.


"I-iya lah... Masa hantu..." jawab Nata gugup, bahkan Nata ingin pipis sekarang saking gugupnya.


"Lo punya kontak sama bini gue?"


Ini Nata bingung mau jawab apa. Kalau jawab punya, nanti diminta, kalo enggak, kebohongan yang Nata buat akan ketahuan.


"Pu-punya lah..."


"What!!!" pekik Shella yang membuat gendang telinga semua orang menjadi sakit.


"Anji*g lo, Shel!" kesal Aleya masih memegang kupingnya yang terasa panas.


"poor my ears..." gumam Aura yang tentunya didengar oleh semua orang. Shella hanya bisa mendengus kesal.


"Lo ngapain ngeluarin suara toa lo, Shel?" tanya Nata kesal.


"Mungkin ia bosan hidup..." jawab Aleya ngaco.


"Nj*y... Udah deh, gue cuma kaget aja, kalo elo punya kontak with her... Gue aja yang iparnya aja gak punya, bahkan abang gue yang suaminya aja gak punya... Lah elo, siapanya?" jelas Shella yang membuat Nata makin gugup.


"Gu-gue... mantan kembaran Tasya yang belum pernah kalian liat orangnya..." jawab Nata sambil tersenyum paksa.


Albara tersedak ludahnya sendiri. Ia terlalu kaget dengan jawaban adiknya. Mantan pacar katanya, bahkan membayangkan saja membuat Albara bergidik ngeri berpacaran dengan Nata yang terkenal galak bin cerewet. Cukup Aura saja.


Sedangkan Aura, ia membelalakan matanya lebar-lebar. Sahabtanya ini sungguh ajaib. Masa kakak sendiri dibilang mantan.


Vanes Hyoka


*sampai bab ini, masih ada yg baca gak? masih suka gak? klo gak, gpp kok... wajar malah... heheh...

__ADS_1


__ADS_2