Perjodohan?!

Perjodohan?!
|27|


__ADS_3

Nata memasuki kediaman Agantara dengan wajah canggungnya. Bayangin aja, seorang menantu baru pulang jam 7, padahal bel pulang jam 3, apa kata orang coba, bisa-bisa dibilang menantu gak tau diri.


Nata memasuki dapur, seperti biasa, disana ada Melly dan Mbok Iyem. Nata menaruh tasnya di slaah satu kursi dapur.


Ia membuka jas sekolahnya, lalu ia mencuci tangan. "Baru pulang, non?" tanya Mbok Iyem saat melihat Nata masih dengan pakaian sekolahnya.


"Iya mbok... Maaf..."


"Gak apa-apa atuh non, setiap orang juga punya kesibukannya sendiri..." ucap Mbok Iyem sambil mencuci tangannya.


"Benar itu sayang..." setuju Melly.


"Mbok tinggal dulu ya... Mbok mau beli garam di market sebentar..." ucap Mbok Iyem yang langsung disenyumi oleh Nata. Mbok Iyem pin pergi meninggalkan Nata dan Melly.


"Nata bantu ya..." Nata pun mengambil alih penggorengan.


"Tau gak, sayang..." Nata menyeritkan dahinya.


"Tadi, suami kamu pulang-pulang bawah wajah kesal, tapi bukan itu masalahnya, masalahnya itu, dia pake tatto merah, gambar tangan lagi..."


"Puft-" Nata mencoba menahan tawa. Ah, dia tau siapa punya kerjaannya, siapa lagi kalo gak dia.


"Ketawa aja, sayang... Bunda tadi juga ketawa keras... Shella juga tau..." Melly nampak menghapus air mata yang keluar akibat tertawa.


"Terus katanya kenapa, bun?" Nata ingin tau apa yang dibilang oleh suami terbang*at-nya tentang dirinya.


"Ya katanya karyanya di buat oleh cewek super abstrak.." jawab Melly yang langsung membuat Nata menggeretakan giginya hingga terdengar lumayan keras.


"Kenapa, sayang? Kok giginya digituin..." Nata langsung tersenyum canggung.


"Gak kok... Gak kenapa-napa... Tapi bunda tau gak kok bisa ada maha karya di pipinya Rey?" Satu kesalahan terbesar Nata, yup, Nata mengucapkan letak maha karya itu, yaitu pipi, memang semenjak awal Melly tidak memberi tau letak maha karya itu.


Melly menyeritkan dahinya, lalu ia tersenyum, ternyata benar dugaannya, "Katanya sih ke kunci di gudang sama cewek abstrak melebihi hantu_"


"Awas aja tu anak... Gue disama-samain sama hantu... Aduh, cantikan juga gue... Body gue real, lah hantu hanya ilusi..." batin Nata kesal.


"_Bahkan katanya cewek abstrak itu lebih menakutkan daripada hantu..."


"Hellow... Yang ada hantu lebih serem, lah gue, serem dari mana coba, kalo gue lebih serem dari hantu, untuk apa gue takut sama hantu, toh hantu pada kabur liat wajah gue...." batin Nata sambil menghentakkan kakinya dengan keras.


"Kenapa sayang?"

__ADS_1


"Gak kok, bun... Hehe..." balas Nata sambil terkekeh diakhir.


"Kamu yang dibilang cewek abstrak itu ya?"


Deg...


Jantung Nata berdetak 2 kali lebih cepat dari biasanya. Padahal, ia berniat merahasiakan perihal kejadian di gudang itu.


"Bunda pinter kali bercandanya..." elak Nata.


"Gak bercanda loh sayang... Ini serius loh... Buktinya kamu tau kalau maha karya tangan itu ada di pipi Rey..."


Nata merutuki kebodohannya. Harusnya ia lebih teliti dalam mendengar, "****!" batin Nata.


"Kan cuma nebak, bun..." elak Nata lagi sekali.


"Yakin?" Cukup, Nata akan jujur.


"Tadi gak sengaja... Dia... Dia... Ya pokoknya dia gara-gara..." Mana mungkin Nata bilang bahwa Rey ngajak buat anak, yang ada Melly malah ketawa, dan mendukung Rey, secara Melly ingin cepat-cepat gendong cucu.


"Dia emang salah apa sama kamu?"


"Pokoknya dia salah... Yaudah bun, Nata mau mandi dulu, selesai mandi Nata bantuin lagi..." Nata cepat-cepat mencuci tangannya, lalu ia berlari meninggalkan Melly.


***


Nata memasuki kamarnya lebih tepatnya kamar suaminya dengan cara mengendap-endap.


"Kenapa baru pulang?" Rey bertanya dengan nada mengintimidasi. Nata terdiam, lalu ia lanjut melangkah.


"Kalau orang bicara, ya ja-"


Ceklek...


Nata masuk dan menutup pintu kamar mandi. Ia sungguh gerah selama setengah harian di gudang bersama salah satu cowok yang ia benci, bayangin aja coba.


"Dasar... Padahal gue mau bicara penting, yaudah... Gak usah dikasih tau aja... Salah sendiri..." batin Rey. Rey segera meninggalkan kamarnya.


Didalam kamar mandi, Nata merasa bahwa ia sungguh err... Sangat sulit untuk djelaskan. Pokoknya ia kesal.


Iya kesal, gimana engga coba, baru aja melangkah masuk, eh udah dikasih pertanyaan, ya bukan pertanyaannya sih yang bikin kesel. Tapi itu, nada mengintimidasi nya.

__ADS_1


Gak Nata yang nerd gak Nata yang cantiknya kayak bidadari. Sinis aja tuh cowok. Mungkin saja Rey punya dendam kesulut dengan dirinya.


Tapi kenapa harus dirinya?


Pertama, Nata baru pertama kali ketemu dengan seorang Reynald. Walau Shella adiknya.


Kedua, Jujur, kesan pertama mereka emang jelek, apalagi ketemunya saat perjodohan. Aduh, bikin mental sakit. Tapi, gak gini juga kan, sampek sinis banget ngeliatnya.


Ketiga, nah yang ini kesan pertama Rey ngeliat Nata cantik. Dimana semua cowok tergila-gila dengan Nata, eh dia dengan secara terang-terangan tidak suka dengan Nata, keliatan banget dari muka dinginnya. Emang sih, pada awal ketemuan mereka dikantin, dan itu salah Nata karena ngusir. Tapi gak perlu bawa dendam juga kan. Nata ngusir karena ia tidak suka diganggu, udah itu aja.


Nata menghembuskan nafasnya dengan kasar. Di satu sisi ia membenci Rey, dan di satu sisi ia harus hormat dengan Rey, yang notabenya suaminya. Aduh, meledak lama-lama kepala Nata.


***


"Kita mau pindah ke apartemen..."


Nata tersedak saat mendengar ucapan Rey. Mengapa Rey tidak berbicara terlebih dahulu kepada dirinya. Emang Rey kepala keluarga dari keluarga kecil mereka, tapi setidaknya hanya sedikit pendapat tidak akan merugikan Rey kan?


Ya, Melly tau Rey akan meminta hal itu. Dan Melly tidak mempermasalahkannya, bagaimana pun Rey sudah punya keluarga kecil, ia sebagai ibu tidak punya hak untuk merusak keluarga kecil itu. Mereka udah bebas, jadi semua keputusan mereka harus diputuskan oleh mereka sendiri. Persetan sialan sama ibu-ibu sok ngatur, Melly bukan ibu seperti itu, buktinya Melly membiarkan Rey sekolah diluar negeri.


"Bunda ikut kamu aja..."


"Ayah juga... Kamu udah punya keluarga sendiri, kita sebagai orang tua juga gak boleh terlalu mengekang kalian..."


"Tapi kamu yakin, Rey?" Rey mengangguk mantap.


"Yah, baru aja bahagia punya temen serumah... Tapi sama kayak bunda dan ayah, Shella mah ikut-ikut aja..."


Tunggu-tunggu, ini kenapa pendapat Nata tidak ditanyai? Nata merasa diasingi.


Nata ingin ngamuk, nanti dibilang mantu gak tau diri. Nata diem, hatinya gak tenang. Kalau gitu Nata harus apa?


"Jadi kapan?" tanya Erick to the point.


"Rencananya sih kita pindah besok atau lusa"


"Rencananya sih kita pindah besok atau lusa... Rencananya sih kita...kita woy!... Gue bahkan gak pernah buat rencana... Aduh pusing 7 keliling gue..." batin Nata.


**Vanes Hyoka


Jadi, disini aku cuma mau bilang bahwa ternyata setelah aku cek ulang novel ini dari chapter 1. ternyata banyak ada kesalahan, jadi rencananya aku bakal revisi ulang tapi saat ada mood...

__ADS_1


jadi kalo ada yang janggal, kalian bisa komen ato gak biarin aja... nanti pasti gue rubah klo gue ngeh....


ngomong-ngomong kalian nyadar gak klo banyak yang janggal**?


__ADS_2