Perjodohan?!

Perjodohan?!
|07|


__ADS_3

"Apa dijodohin?!" pekik tidak terima Rey mendengar penuturan ayahnya tersebut. Gila apa, dia bahkan baru kelas 3 SMA, sudah dijodoh-jodohin aja.


"Gak ada bantahan!" tegas Erick. Beginilah sifat asli Erick saat serius, sangat tegas dan dingin.


"Bun..." Rey ingin mengeluh ke ibunya, namun yang ia dapat hanya senyuman tulus. Ibu macam apa itu, anaknya saat ini sedang susah, bukannya dibantuin, eh malah disenyumin.


"Kenapa bun, yah, bang?" Shella baru saja pulang dari sekolah, jadi ia tidak mengerti arah pembicaraan mereka.


"Itu loh... Abang kamu mau dijodohin..." ucap Melly sambil melirik sinis putranya sebentar. Orang yang paling setuju tentang perjodohan ini adalah Melly, ia sangat antusiasi ingin cepat-cepat menggendong seorang cucu. Bahkan teman-teman arisannya sudah banyak yang membawa cucu mereka untuk dipamerkan. Sungguh membuat iri.


"Itu si bunda kok gak suka banget klo gue bantah ni perjodohan... Dari tadi klo gak senyum ya sinis... Au ah..  Capek..." batin Rey kesal melihat sikap ibunya yang sangat sulit dimengerti.


"Dijodohin?" beo Shella, entah mengapa ada rasa sedih dan senang dihatinya. Sedih karena abang kembarnya sedih, senang karena akan punya teman main dirumah.


"Iya, sayang... Ceweknya cantik kok... Bunda sama ayah aja kagum ngeliat fotonya..." ucap Melly santai tanpa menghiraukan orang yang akan jadi korbannya, Rey.


"Foto?" beo Shella dan Rey bersamaan, "Mana?" ucap mereka serempak lagi. Saudara kembar emang sehati walau beda fisik. Ciptaan tuhan memang hebat dan perlu dihargai, kapan lagi tuhan akan memberikan anugrah seperti ini, tidak ada yang tahu kan.


"Kalo yang itu... Eee... Bunda sama Ayah liatnya dari hp sahabat bunda plus istri dari almarhum sahabat papa... Jadi ya gitu... Gak ada..." ucap Melly dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Hah... Padahal udah seneng bisa liat mukanya calon istri abang..." ucap Shella dengan nada sedihnya, padahal tadi ia sudah sangat senang untuk melihat calon iparnya tersebut.


"Dasar Bunda... Kalo gk punya ya gak usah bilang... Tambah bikin kepo aja..." batinnya mengeluh


"Nanti juga bakal liat..." ucap enteng Melly


"Bener?!" tanya Shella antusiasi, yang tentu langsung dibalas anggukan oleh Melly.

__ADS_1


"Yasudah... Ayah mau keatas... Pokoknya nanti sebelum jam 7, kamu harus siap..." Erick berjalan melewati mereka yang tentunya diikuti oleh Melly dengan senyum mengejeknya kearah putra sulungnya.


"Duh... Udah gak sabar gendong cucu..." batin Melly seneng. Semenjak 1 bulan yang lalu, saat surat wasiat suami sahabatnya diumumkan, ia terus saja memimpikan menggendong cucu. Bahkan ia yang paling semangat mengurus semua persiapan pernikahan anaknya, apalagi mengingat dia adalah seorang desainer terkenal, tentunya ia yang merancang baju pernikahan anaknya tersebut.


Lina saat itu sudah bilang bahwa bisa saja ia membatalkan pernikahan ini, tapi Melly tetap keukeuh, ia bilang pasti pernikahan ini jadi dilaksanakan, walaupun tidak jadi, rancangan baju bisa dipajang dibutik, dan juga ini adalah pernikahan kecil tanpa undang kerabat jauh dan orang lain, jadi tidak terlalu besar keruginya. Sultan mah bebas.


***


Nata turun dengan elegannya tapi tidak dengan penampilannya, ia saat ini berbaju dress cantik namun sayang, tubuhnya dipenuhi foundation coklat, sehingga tubuhnya yang putih dan bersih tertutupi, ia memakai behel palsu, kaca mata bulet non-min/plus, ikat rambut cupu, flatshoes, intinya dia saat ini sangat terlihat cupu.


"Mah!" panggil Nata yang tentu membuat Lina berbalik badan. Betapa kagetnya ia melihat penampilan anaknya yang berbanding balik dengan dirinya saat ini.


Nata berjalan mendekat kearah ibunya, yang tentu langsung membuat ibunya berjalan mundur. Ia terlalu syok dengan penampilan absurud anaknya tersebut.


"Ka-kamu... Ngapain?" tanya Lina dengan wajah syok yang masih menempel.


"Nata!!! Kamu ini, suka banget buat masalah!!!" bentak Lina sambil mencoba membuka kaca mata bulat anaknya, namun nihil, Nata tidak ingin melepaskannya. Ayolah, ia sudah capek-capek berdandan ala nerd, masa langsung dilepas.


"Mah!!! Berhenti!! Dengerin Nata dulu!!!" Lina menghentikan aksinya, ia harus mendengarkan penjelasan anaknya tersebut.


"Nata punya syarat!" Nata mengacungkan ketiga jarinya tepat didepan wajah Lina. Lina mengerutkan dahinya, ia sungguh tidak mengerti jalan pikiran anaknya.


"Syarat apa sih... Udah cepet sana benerin muka kamu, nanti telat loh.." Lina menarik tangan anaknya kearah kamar Nata, tapi Nata sama sekali tidak bergerak.


"Mah... Dengerin dulu.." ucap Nata sambil menepis lembut tangan ibunya, "Nata cuma mau nikah kalau mama nurutin ketiga syarat yang Nata bilang..." lanjutnya dengan wajah serius


"Hah... Baiklah, sebutkan!" Lina pasrah, setidaknya jika dengan hal itu Nata bisa bahagia, Lina akan menurutinya.

__ADS_1


"Satu, Nata mau jadi nerd kayak gini..." ucapnya tegas sambil mengacungkan telunjuknya.


"Kenapa? Bukannya kamu anti sama hal yang berbau nerd?"


Nata nampak memikir-mikirkan alasan yang cocok agar ibunya menyetujui, namun nihil, ia tidak ketemu. Ia akhirnya lebih memilih mengungkapkan tujuan aslinya.


"Biar dianya gak doyan sama aku, mah..." jawab jujur Nata


"Kasihan toh... Punya istri cantik tapi dianya gak tau..." ucap Lina sambil memegang pundak anaknya


"Biarin... Yang penting happy!" begitulah Nata, pasti jawabannya selalu begitu jika ia tidak punya sebuah alasan.


"Baiklah... Terus yang kedua?" Lina menyerah, jika anaknya sudah membuat keputusan, pasti tidak bisa diubah bagaimanapun caranya.


"Entah mengapa gue kok punya firasat klo mereka gak boleh tau klo abang sodara gue, ya?" batinnya


"Em... Nata gak mau sampek mereka tau kalo Albara alias abang adalah kakak Nata..." ucap Nata dengan sedikit nada keraguan


"Kenapa-" Lina langsung bungkam melihat sorot mata anaknya, "Oke!" ucap tiba-tiba Lina, bahkan ucapan tersebut lolos dengan sendirinya dari mulut Lina.


"Yang terakhir... Nata gak mau ada yang tau perjodohan ini... Termasuk kerabat jauh..." ucap Nata dwngan mata penuh keyakinan, tanpa keraguan.


Lina tersenyum, "Tentu sayang... Kalian berdua masih SMA, mana mungkin mama berani mengekspos hubungan kalian.." jawanya tanpa keraguan juga.


Mereka saling tatap-menatap, lalu entah mengapa mereka langsung tersenyum puas. Mungkin karena mereka telah berhasil melakukan kesepakatan.


Nata benar-benar tidak percaya, bahwa mungkin sebentar lagi ia akan menyandang status sebagai istri. Bahkan Rey pun juga sama, ia tidak akan mengira bahwa dalam waktu dekat, ia akan menyandang status sebagai suami. Mereka berharap semoga perjodohan ini akan diawali dengan sebuah pertunangan dan setelah tamat SMA baru menikah. Setidaknya biarkan mereka melakukan pendekatan diri terlebih dahulu agar nantinya saling nyaman.

__ADS_1


Vanes Hyoka


__ADS_2