
***
Semenjak kepulangan Ayu dari rumah sakit kini kondisi Ayu sedikit lebih baik dari sebelum nya. dengan semangat serta dukungan keluarga dan orang - orang terdekat Ayu, kini diri nya mulai bangkit dari keterpurukan yang di rasakan nya. di mana Ayu harus mengalami keterpurukan, di tinggalkan, sekaligus pengkhianatan sang suami pada nya.
Walau pun masih dalam kondisi lemah karna hormon kehamilan nya, setidak nya Ayu akan mencoba untuk kuat dan sabar. diri nya benar - benar telah menyadari segala kesalahan yang di lakukan nya saat itu, adalah suatu tindakan yang teramat bodoh.
Bagaimana tidak, jika saja saat itu diri nya benar - benar kehilangan nyawa nya. akan kah masalah nya selesai ? jangan kan selesai, justru Ayu akan mendapatkan murka Allah. bahkan di hadapan sang pencipta, Ayu harus mempertanggung jawabkan semua tindakan nya yang telah berani membunuh nyawa yang telah Allah berikan, terutama janin yang ada di dalam rahim nya.
Tidak hanya itu saja, keluarga serta putra pertama nya tentu akan kehilangan sosok Ayu sebagai anak, adik, serta sosok ibu bagi anak nya. dan yang paling membuat Ayu merasa bodoh, tentu suami nya akan merasa senang. diri nya akan merasa, bahwa Ayu tidak mampu hidup tanpa diri nya, dan pasti diri nya akan berfikir Ayu selalu bergantung hidup padanya.
Ayu bertekad dalam diri nya, akan berjuang untuk tetap berdiri kokoh pada kedua kaki nya sendiri, karna Ayu yakin di balik semua ujian yang Allah berikan pasti ada kebahagiaan yang telah Allah persiapkan.
" Yu .. kakak mu Usep yang ada di kota R telpon mama barusan." ujar mama memberitahu perihal putra pertama mama, yang kini tinggal di kota R mengikuti sang istri.
" Kakak ngomong apa ma ?." Ayu pun bertanya pada mama.
" Kak Usep mu bilang, apa Ayu mau kalo kak Usep jemput ? dan tinggal sementara di sana sampai kondisi Ayu lebih tenang. kak Usep juga bilang Ayu bisa memperdalam ilmu agama di sana." ujar mama menjelaskan tentang perihal kakak pertama Ayu menelpon diri nya.
" Huh ... " Ayu menghela nafas nya.
" Menurut mama Ayu harus bagai mana ?." Ayu justru meminta pendapat sang mama.
" Menurut mama apa yang di katakan kak Usep mu benar, kalo Ayu tetap di sini, Ayu pasti akan tetap memikirkan yang seharus nya tidak Ayu fikirkan. apa lagi kenangan di rumah ini pasti banyak, dan Ayu pasti sulit untuk tenang." dengan membelai kepala Ayu dengan sayang.
__ADS_1
" Mama benar, sampai saat ini pun Ayu masih tetap tidak bisa tenang. Ayu kadang masih merasa tertekan ma, Ayu masih merasa beban Ayu sangat berat." kali ini Ayu mencoba mengatakan apa yang dirasakan nya saat ini. tidak seperti sebelum - sebelum nya, Ayu lebih sering memedam perasaan nya itu sendiri.
" Maka dari itu, bagai mana kalo kita hijrah dulu mengikuti kakak mu di sana, sampai kondisi Ayu lebih baik dan lebih tenang. dan setelah itu, kita bisa kembali lagi ke sini. dan kalo Ayu setuju kakak mu akan menjemput kita dua hari lagi. bagaimana ?" ujar mama meminta persetujuan Ayu.
" Terus a'a Ilham bagai mana ma ?." Ayu masih memikirkan putra nya yang saat ini sedang menimba ilmu di pondok pesantren yang ada di kota B.
" Nanti biar mama suruh kakak mu Putra saja yang mengunjungi a'a Ilham di ponpes, selama kita berada di kota R." kali ini mama memberikan usulan pada Ayu, agar Ayu tidak terlalu banyak bebam fikiran
" Baiklah ma .. Ayu setuju, setidak nya biar Ayu mencari suasana baru, agar Ayu sedikit lebih tenang dalam menjalani proses kehamilan Ayu." ujar Ayu setuju.
Setelah memikirkan semua perkataan mama, akhir nya Ayu pun menyetujui pendapat serta saran dari mama dan sang kakak nya.
Tepat dua hari setelah Ayu menyetujui untuk mengikuti sang kakak, saat ini pun kak Usep telah tiba di rumah Ayu. diri nya sengaja datang dari kota R untuk menjemput sang adik dan sang mama.
" Insya Allah, Ayu siap kak." ujar Ayu mantap.
" Bagus kalo begitu, nanti di sana Ayu bisa memperdalam ilmu agama. mengikuti kajian - kajian yang di adakan di pesantren, biar Ayu lebih tenang. jangan sampai keadaan sekarang berpengaruh buruk pada pertumbuhan keponakan kakak di rahim mu. " ujar kak Usep pada Ayu.
Setelah melakukan musyawarah dengan keluarga Ayu yang lain, maka akhir nya keluarga pun sepakat. bahwa Ayu memang harus pergi dari rumah untuk menenangkan diri, agar tidak terlalu berpengaruh pada beban fikiran sekaligus mental Ayu. setidak nya sampai Ayu tenang atau sampai bayi yang ada di kandungan Ayu lahir.
Keluarga Ayu hanya tidak ingin kenangan yang ada di rumah Ayu, akan menjadi beban fikiran Ayu. bagai mana pun juga Ayu manusia biasa, yang bisa saja khilaf melakukan kesalahan dan berakhir dengan dosa. keluarga juga tidak ingin tindakan Ayu yang ingin mengakhiri hidup nya akan kembali terulang lagi.
' Ya Allah jika ini adalah jalan yang terbaik untuk hamba, maka berikan lah kelancaran dan kemudahan. dan berikan lah pada hamba kekuatan dan kesabaran yang tiada batas, dalam menghadapi ujian mu ya Allah. hamba pasrah kan masa depan yang belum hamba ketahui hanya pada Mu ya Allah, baik hidup serta mati hamba.'
__ADS_1
Ayu panjatkan seuntai doa di hati sesaat sebelum mobil yang Ayu tumpangi melaju menuju kota R. serta di pandangi nya rumah yang selama hampir sebelas tahun ini menjadi tempat bernaung keluarga kecil nya.
Kini Ayu harus meninggal kan rumah yang telah memberikan nya seribu kenangan dengan suami serta putra nya. serta saksi perjalanan kehidupan rumah tangga Ayu, termasuk saksi pengkhianatan sang suami.
Setelah menempuh hampir enam jam perjalanan akhir nya Ayu sampai di kota R. kota yang akan menjadi saksi perjuangan seorang Ayu, serta kota yang akan menjadi awal kehidupan baru bagi Ayu. di tatap nya sebuah rumah sederhana yang ada di depan Ayu saat ini.
" Ayu yakin mau tinggal di sini ? apa tidak tinggal satu rumah saja dengan kakak ?." ujar kak Usep pada Ayu, setelah melihat Ayu yang sedang memandangi rumah yang akan Ayu tempati bersama mama.
" Insya Allah Ayu yakin kak, di sini enak kok. lagian juga sama rumah kakak engga terlalu jauh. Ayu lebih nyaman di sini saja sama mama." Ayu pun berucap pada sang kakak, karna terlihat jelas di raut wajah kak Usep. bahwa diri nya khawatir jika Ayu dan mama hanya tinggal berdua saja, walau pun jarak rumah nya dan rumah yang akan di tinggali Ayu tidak terlalu jauh.
Sebenar nya Kak Usep sudah menyarankan Ayu dan mama untuk tinggal serumah dengan diri nya. akan tetapi Ayu menolak, diri nya tidak ingin kehadiran nya membuat beban keluarga sang kakak. karna Ayu pun cukup mengerti dengan kondisi kakak nya itu, dan Ayu ingin diri nya berdiri di kedua kaki nya sendiri.
" Baiklah kalo itu mau Ayu, nanti kalo ada apa - apa Ayu langsung telpon kakak." setelah mendengar perkataan Ayu Kak Usep pun akhirnya menuruti keinginan Ayu.
" Hhhmmm ... " ujar Ayu berdehem sambil menganggukan kepala nya, tanda Ayu mengerti dengan permintaan sang kakak.
Tempat tinggal Ayu saat ini memang masih termasuk wilayah pesantren, karna dari rumah tempat Ayu tinggal saat ini menuju ke mesjid pesantren hanya berjarak sekitar 200M. dan jarak ke rumah sang kakak pun sekitar 100M.
Mesjid pesantren memang selalu mengadakan kajian - kajian agama dua sampai tiga kali dalam seminggu.Dan rencana nya di mesjid itu lah Ayu akan menimba ilmu dengan mengikuti kajian yang di adakan oleh para pengurus serta pengasuh pondok pesantren.
Kali ini tekad Ayu sudah sangat bulat, diri nya ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah. dan Ayu akan kembali memperbaiki diri serta berjuang untuk bangkit dari keterpurakan nya serta memulai awal hidup baru nya hanya karna Allah. Karna hanya kepada Allah Ayu berpasrah segala hidup nya.
***
__ADS_1