Perjuangan Istri Yang Tersakiti

Perjuangan Istri Yang Tersakiti
Suami Idaman


__ADS_3

***


Tak terasa sebulan sudah Ayu tinggal di rumah mewah yang di hadiahkan sang suami atas pernikahan kedua nya. rumah yang akan menjadi saksi perjalan kehidupan Ayu dan sang suami dalam membina rumah tangga.


Kini hanya ungkapan rasa syukur yang selalu Ayu panjatkan di setiap doa nya, setelah sempat berada di titik paling rendah selama hidup nya, kini seiring dengan waktu yang berjalan Allah kembali memberikan Ayu kebahagian.


Diri nya kembali di berikan kesempatan untuk menjalani kembali kehidupan dalam rumah tangga. dengan sosok suami idaman yang insya Allah akan membawa nya menjadi lebih dekat dengan sang pencipta. walaupun pernikahan kedua nya hanya karna sebuah amanah dari almarhumah istri pertama sang suami.


" Sarapan dulu by." ujar Ayu yang kini tengah menyiapkan makanan untuk sarapan di atas meja makan.


Di rumah ini, Ayu memang memiliki asisten rumah tangga, hanya saja untuk keperluan sang suami Ayu memang meminta untuk diri nya sendiri saja yang mengerjakan nya. mulai dari urusan memasak hingga pakaian yang akan di kenakan sang suami Ayu lah yang menyiapkan.


" Iya my .. " dengan mendekat ke arah sang istri dan tak lupa memberikan kecupan di kening Ayu.


Kini ustadz Ahmad pun duduk di meja makan dengan Ayu. tidak lupa pula Ayu mengambilkan nasi serta lauk pauk yang ada di atas meja makan ke dalam piring sang suami.


Kini kedua nya pun makan dalam keheningan, hanya beberapa detingan dari peralatan makan saja yang berbunyi. sedang saat ini, dede Ayla masih tertidur di kamar setelah subuh tadi sempat menjadi pengganggu keromantisan kedua orang tua nya.


" My, boleh aby bicara sebentar." ujar ustadz Ahmad pada Ayu, saat kedua nya telah selesai sarapan.


" Ada apa by ? kaya nya serius ?."


" Iya, kita bicara di ruang keluarga saja. tapi, selesaikan perkerjaan ummi dulu, aby akan tunggu di sana." dengan beranjak dari tempat duduk nya.


Cup


" Terimakasih makanan nya, aby suka."


Sedangkan Ayu hanya menganggukan kepala dengan tersenyum saja mendengar perkataan sang suami. karna Ayu memang mulai terbiasa dengan apa yang di lakukan suami nya itu.


Sejak awal menikah dengan ustadz Ahmad, banyak hal yang Ayu ketahui dari sang suami. mulai dari kebiasaan sang suami yang selalu memberi kecupan dan mengucapkan terimakasih pada Ayu, saat sang istri selesai menyiapakan semua keperluan nya.


Setelah mendapatkan respon dari Ayu, ustadz Ahmad pun berlahan meninggalkan ruang makan menuju ruang keluarga. menunggu sang istri yang tengah sibuk membereskan sisa sarapan kedua nya.

__ADS_1


Sedangkan Ayu pun langsung bergegas membersihkan meja makan, agar setelah nya diri nya dapat cepat menemui sang suami yang telah menunggu di ruang keluarga. apalagi setelah melihat raut wajah serius dari sang suami membuat Ayu semakin penasaran dengan apa yang ingin di sampai suami nya itu pada nya.


Hampir sekitar lima belas menit Ayu menyelesaikan pekerjaan nya, kini Ayu pun bergegas menemui sang suami dengan membawa teh hangat untuk suami nya itu.


" Teh nya by." ujar Ayu dengan meletakan gelas di meja yang berisikan air teh, dan menyodorkan nya ke hadapan sang suami.


" Makasih mi." dengan tersenyum ke arah Ayu dan langsung meminum nya.


Setelah meminum teh yang telah di buatkan sang istri, kini ustadz Ahmad pun duduk menyamping dengan mengarah pada Ayu.


" Emm .. sebelum nya aby minta maaf, jika apa yang akan aby sampaikan mungkin tidak berkenan di hati ummi." ustadz Ahmad pun menjeda perkataan nya, melihat bagaimana reaksi sang istri.


" Ada apa by ? tolong jangan bikin ummi merasa takut." kini perasaaan Ayu pun menjadi tidak tenang.


" Ini tentang aa Ilham, aby mempunyai keinginan untuk memindahkan aa Ilham ke pondok pasantren di mana tempat aby mengajar saat ini. banyak keunggulan dari pesantren tempat aby mengajar mii, baik segi kurikulum belajar dan mengajar, serta di bidang tehnologi yang berbasih modern. bahkan ada beasiswa bagi santri yang berprestasi, dan dapat melanjutkan studi hingga ke luar negri. lagi pula, jika aa pindah aby akan bisa mengawasi aa Ilham secara full di sana." ujar ustadz Ahmad dengan memandang lekat ke arah sang istri.


Mendengar perkataan sang suami, membuat Ayu terdiam. diri nya bingung ingin menjawab apa saat ini.


" Mi ..." setelah melihat sang istri yang terdiam cukup lama.


" Ayu bingung by, Ayu tidak akan mampu bayar jika aa Ilham di pindahkan ke ponpes tempat aby mengajar. aby kan tau sendiri, jika biaya di ponpes itu mahal, untuk biaya perbulan saja kita harus bayar tiga juta, belum lagi untuk iuran dan keperluan pribadi santri. selama ini semua biaya sekolah serta kebutuhan aa Ilham memang masih di tanggung sang abah, kecuali dede Ayla. karna sejak usia tujuh bulan dalam kandungan, abah nya tak pernah menjadi abah yang bertanggu jawab hingga saat ini. bahkan aa Ilham pun sering mengeluh jika sang abah mengurangi jatah pribadi nya, dan sering terlambat jika akan mengirim. jika saja Ayu memiliki penghasilan yang besar mungkin Ayu mampu, tapi aby tau sendiri kan penghasilan Ayu sebagai freelance engga menjamin dan engga menentu." ujar Ayu dengan menundukan kepala nya.


" Angkat kepala ummi dan tatap wajah aby, sebenar nya aby ini siapa buat ummi dan anak - anak ?." dengan suara yang lembut ustadz Ahmad berkata pada sang istri. bahkan kini kedua tangan nya menggenggam erat tangan sang istri.


Mendengar perkataan suami nya Ayu pun langsung mengangkat kepala nya dan menatap wajah sang suami dengan lekat.


" Katakan mi .." ujar ustadz Ahmad yang masih belum mendapatkan jawaban.


" Tampan ..."


Menatap lekat wajah sang suami, sungguh membuat otak Ayu tak singkron saat ini. diri nya seolah - olah lupa akan pembicaraan kedua nya. sedangkan ustadz Ahmad hanya tersenyum mendengar perkataan istri nya itu.


" Benarkan aby tampan ?."

__ADS_1


" Hmm .. aby tampan." ujar Ayu yang masih terus menatap wajah tampan sang suami.


Cup


" Terimakasih pujian nya sayang, aby tau kalo aby tampan. tapi, tolong hentikan menatap aby seperti itu. jika tidak, maka aby khawatir kita akan berlanjut di kamar, bukan di ruang keluarga lagi." ujar ustadz Ahmad dengan tersenyum.


" Eh .. ah.. iya .." Ujar Ayu yang justru terlihat linglung, bahkan diri nya sungguh malu setelah sadar apa yang telah di ucapkan nya barusan.


Selama menikah, Ayu memang mengagumi sosok pria yang ada di hadapan nya saat ini. sosok suami idaman, tidak hanya paras nya yang tampan, akan tetapi, ahlak dan cara dirinya mempelakukan sang istri sangat lah berbeda dari mantan sebelum nya. yang jelas suami nya itu mampu menjadi seorang suami yang benar - benar selalu mengingatkan Ayu kepada Allah.


" Bagaimana mau lanjut di sini apa di kamar ?." ujar ustadz Ahmad menggoda sang istri.


" Di sini saja by, kalo di kamar ummi tidak yakin kalo pembicaraan kita akan berlanjut." ujar Ayu cepat, bahkan dengan masih menahan malu.


" Yakin mau di sini saja ? di kamar pun kita masih bisa bicara lho .. dapat nya malah plus - plus he .. he .."


" Iihh .. udah ah by, lanjut engga ini bicara nya ? bukan nya aby juga ada jadwal ke kampus kan ?." ujar Ayu mengingatkan.


" He .. he .. okey kita lanjut, soalnya aby sebentar lagi ke kampus. engga sempat kalo kita ngamar dulu, apalagi dede Ayla sebentar lagi pasti bakal bangun he .. he .."


" Abyyy ..." ujar Ayu menggeram kesal dengan celotehan sang suami.


" He .. he .. Okey - okey, sekarang mode serius. ehem .. ummy engga usah fikirin masalah biaya, yang penting ummi setuju dan aa Ilham juga setuju. bagaimana ?."


" Tapi by, menurut agama kan anak - anak ummi buka ...." belum sempat Ayu melanjutkan kata - kata nya, ustadz Ahmad langsung menyela.


" Bukan tanggung jawab aby maksud nya ? mi .. aby tau, kalo tanggung jawab anak - anak memang di tanggung ayah kandung nya jika masih hidup, kecuali jika sang ayah telah meninggal, maka tanggung jawab itu akan beralih pada wali nya. akan tetapi, aby hanya ingin menjadi seorang aby yang menyayangi kedua anak - anak aby. jadi, selama itu demi kebaikan kedua nya, maka aby akan mendukung seratus persen tanpa terkecuali. untuk abahnya anak - anak, biarlah diri nya bertanggung jawab dengan porsi nya sendiri, dan aby dengan porsi aby sendiri."


" Aby yakin ? biaya untuk aa Ilham itu engga murah by. maaf bukan Ayu meragukan kemampuan aby, hanya saja Ayu malu jika terus merepotkan aby." ujar Ayu menundukan kepala nya.


" Insya Allah aby yakin, ummi cukup doakan yang terbaik saja untuk aby dan anak - anak. karna kedua nya memang sudah menjadi anak - anak aby saat ini. jadi aby mohon, jangan larang aby buat menyayangi kedua nya dengan cara aby sendiri."


Mendengar perkataan sang suami, membuat Ayu benar - benar bahagia sekaligus bingung secara bersamaan. bagaimana tidak, bahagia karna mendapatkan seorang suami plus seorang ayah idaman dalam keluarga baru nya.

__ADS_1


Ayu hanya bingung, bagaimana jika mantan suami nya itu justru akan lepas tangan dari tanggung jawab nya sebagai ayah pada putra nya. karna selama ini saja, mantan suami Ayu itu memang tak pernah menjadi ayah yang bertanggung jawab pada putri nya.


***


__ADS_2