Perjuangan Istri Yang Tersakiti

Perjuangan Istri Yang Tersakiti
Penawaran


__ADS_3

***


Setelah pembicaraan yang terjadi malam itu, Ayu menjadi tak bersemangat, memikirkan diri nya yang hanya di beri waktu seminggu untuk kembali merasakan bangku sekolah. jika ingin menyalahkan, Ayu harus menyalah kan siapa ? harus kah Ayu menyalahkan gosip yang beredar hingga membuat sang mama kecewa. sungguh Ayu merasa bahwa ini tak adil untuk diri nya.


Menjelang hari keberangkatan Ayu ke kabupaten untuk kembali bersekolah, Ayu pun berusaha mengembalikan semangat nya kembali. walau pun hanya seminggu, setidak nya dengan waktu seminggu Ayu akan mampu mengukir kenangan selama hidup nya. waktu seminggu akan mampu meredam rasa kecewa nya. dan waktu seminggu akan mampu mengembalikan senyum bahagia nya.


Malam nya saat Ayu tengah merapikan pakaian dan memasukan nya ke dalam tas, sang kakak ipar pun menghamipiri Ayu.


" Yu .. ngapain bawa banyak pakaian, lagian kamu kan cuma seminggu disana. entar tambah repot, belum lagi bawa barang yang di sana." ujar kakak ipar Ayu.


Kembali Ayu harus di ingatkan bahwa diri hanya bersekolah selama seminggu, bahkan karyawan training saja menjalani waktu nya selama tiga bulan. lantas sekolah apa yang hanya di beri waktu seminggu.


" Iya .. Ayu tau, lagian ini engga banyak. cuma seragam Ayu aja yang terlihat banyak." ujar Ayu menjelaskan pada kakak ipar nya.


" Oh .. kira' in kamu bawa banyak pakaian. yu .. apa yang akan kamu lakukan setelah putus sekolah ? kalo menurut kakak, kamu terima saja tawaran lamaran yang di ajukan si Lutfi itu. menurut kakak dia baik, bertanggung jawab, yang pasti sudah mampan. kamu engga kasihan sama mama yu .. lagian kalo kamu putus sekolah mau cari kerja di mana ? siapa yang mau nerima karyawan yang cuma lulusan SMP ? jangan kan lulusan SMP, yang sarjana aja susah kerja. setidak nya, dengan kamu menikah, kamu engga akan susah cari uang. kan sudah ada yang memberi nafkah, dan mama juga tidak akan terbebani kalo kamu sudah menikah." dengan panjang lebar kakak ipar Ayu memberikan sebuah nasehat dan pengertian pada Ayu.


Mendengar perkataan sang kakak ipar membuat hati Ayu serasa di remas, hati yang baru saja Ayu tata kembali, hati yang baru saja ingin bahagia walau hanya sesaat. tapi, kini hancur sudah, harapan Ayu, masa depan Ayu hancur tak tersisa.


" Kak, Ayu baru umur enam belas tahun, apa harus secepat itu Ayu menikah. Ayu masih pengen ngerasa' in masa - masa remaja Ayu, walaupun Ayu sudah tak bersekolah lagi." ujar Ayu menunduk dengan butiran air mata yang jatuh membasahi kedua pipi nya.

__ADS_1


" Yu .. kakak engga maksa Ayu, lagian kamu sama si Lutfi itu kan memang ada hubungan. jadi kalian berdua bukan di jodoh kan secara paksa. dan kakak cuma nyaranin Ayu, pikir baik - baik apa yang kakak omongin ke Ayu. selagi ada laki - laki baik dan mau bertanggung jawab sama Ayu. masalah umur, banyak di kampung kita ini, yang nikah nya lebih muda dari Ayu. dan coba lihat pernikahan mereka, sampai sekarang masih baik - baik saja. dan yang paling penting fikirkan mama yu .." ujar sang kakak sambil berlalu pergi dari hadapan Ayu.


Sedang kan Ayu masih saja menangis, diri nya bingung apa yang harus di lakukan kan nya. bahkan diri nya saja sempat bingung jika di tanyai dengan masalah status diri nya dengan bang Lutfi. hanya jika ada yang bertanya apakah Ayu menyukai bang Lutfi, maka jawaban nya iya, diri nya memang menyukai sosok bang lutfi yang baik dan bertanggung jawab.


Ayu tidak pernah berfikir untuk menjalani hubungan dengan bang lutfi dengan serius. bagaimana mungkin seorang remaja berumur enam belas tahun seperti Ayu harus memikirkan hubungan yang serius, apa lagi jika sampai tahap pernikahan. hal itu sungguh di luar ekspetasi seorang Ayu.


Keesokan hari nya, Ayu pun bersiap - siap untuk kembali ke kabupaten, di mana tempat diri nya bersekolah selama setahun ini. sekolah kejuruan yang menjadi keinginan nya selama ini.


" Ma .. Ayu pergi dulu ya .." ujar Ayu yang berpamitan dengan sang mama.


" Iya, hati - hati di jalan. akhir pekan mama nyusul Ayu." ujar sang mama.


Setelah berpamitan Ayu pun bergegas naik ke sepeda motor yang akan mengantarkan diri nya menuju kacamatan. letak kampung Ayu berada jauh dari jalan utama, serta jalanan menuju kampung Ayu pun belum beraspal hanya amparan batu - batu pada jalan. maka Ayu harus mengendarai sepeda motor untuk sampai ke kacamatan, dan dari kacamatan lah Ayu baru bisa menumpangi angkot menuju kabupaten.


Sesampai nya di kabupaten Ayu harus menumpang ojek agar bisa sampai di kosan nya. dan di sini lah Ayu berada di sebuah kost yang selama hampir satu tahun ini menjadi tempat nya bernaung. menjadi saksi diri nya sebagai seorang siswa, walau pun hanya mampu dirasakan nya selama setahun saja. di sini hari - hari Ayu sebagai siswa tercipta, dan akan jadi sebuah kenangan selama hidup Ayu.


Hari demi hari pun berganti, dan selama itu pula Ayu masih terus di hantui dengan perkataan kakak ipar nya. Ayu juga bingung apa yang akan di lakukan nya setelah putus sekolah nanti. di kampung Ayu tak ada pekerjaan lain selain sebagai petani, baik itu petani di sawah atau petani perkebunan.


Apakah Ayu akan menjadi petani perkebunan, sama seperti yang di lakukan sang mama selama ini. lantas bagai mana mungkin diri nya dapat membantu perekonomian keluarga, jika diri nya saja hanya sebagai buruh di perkebunan orang. jika diri nya ingin pekerjaan lain, lantas adakah perusahaan yang akan menerima karyawan yang hanya lulusan SMP. sedang kan cleaning service saja harus lulusan SMA /sederajad.

__ADS_1


Tepat di hari ke empat Ayu berada di kost, bang Lutfi datang berkunjung. Ayu sempat kaget dengan kedatangan nya ke kosan Ayu.


" Yu .. maaf kalo kedatang abang ke mari mengganggu Ayu, Abang cuma ingin memastikan apa yang akan Ayu lakukan setelah Ayu putus sekolah ?." ujar bang Lutfi bertanya pada Ayu.


" Entah lah bang, Ayu juga masih bingung. jika yang di tanya kan apa keinginan Ayu, maka Ayu akan menjawab dengan pasti, bahwa Ayu masih ingin bersekolah dan mengejar cita - cita Ayu." ujar Ayu yang langsung menundukan wajah nya. ada perasaan sedih, kecewa, dan marah dalam hati Ayu.


Bang Lutfi yang melihat kondisi Ayu pun merasa sedih, di tarik nya tangan Ayu dan membawa tubuh Ayu ke dalam pelukan nya. Ayu merasa pelukan yang di lakukan bang Lutfi pada nya, bukan lah pelukan seorang kekasih. melain kan pelukan seorang ayah, seorang kakak, pelukan sayang sekaligus melindungi. semua perlakuan itu lah yang membuat Ayu menyukai bang Lutfi, tidak hanya itu bang lutfi kerap memberikan uang jajan pada Ayu.


" Abang tak memaksa Ayu, cuma fikirkan baik - baik lamaran abang ke Ayu. Insya Allah abang akan tanggung jawab atas diri Ayu ke depan nya. abang tak bisa jika harus menunggu Ayu terlalu lama, karna pekerjaan abang yang tak mengizinkan. jika Ayu mau menikah dengan abang, maka abang akan langsung membawa Ayu dekat dengan perkerjaan abang." masih dengan memeluk Ayu bang Lutfi memberikan penawaran pada Ayu.


" Bisa kah kasih Ayu untuk berfikir bang ?." Ayu pun meminta bang Lutfi untuk memberi nya sedikit waktu.


" Yu .. dari tempat pekerjaan abang ke rumah abang butuh waktu 4 jam perjalanan. sedangkan dari tempat pekerjaan abang ke rumah Ayu itu memakan waktu 5 jam perjalanan. apa Ayu tidak kasihan dengan abang, apa bila abang harus bolak - balik. Ayu juga tau kan Kalo masa kerja abang, enam hari full dan satu hari masa off. jika pun Ayu mengubungi abang menggunakan ponsel, itu engga akan berguna. karna di tempat abang bekerja yang ada di dalam hutan tambang sangat lah sulit jaringan." dengan panjang lebar bang Lutfi kembali menjelaskan pada Ayu, agar Ayu sedikit mengerti dengan kondisi diri nya.


" Terus Ayu harus gimana bang, jika di tanya soal menikah Ayu belum siap seratus persen bang, Ayu masih pengen nikmatin masa - masa remaja Ayu. tapi, Ayu juga kasihan dengan mama, Ayu juga tak ingin menjadi beban untuk mama." saat ini Ayu memang lebih banyak menunduk kan kepala nya di hadapan bang Lutfi.


" Yu .. dengarkan abang baik - baik, dan abang tidak akan mengatakan nya dua kali. setelah Ayu menikah dengan abang, abang tidak akan membatasi pergaulan Ayu. selama itu masih wajar. abang juga tidak meminta Ayu untuk menjadi dewasa saat menjadi istri abang. cukup menjadi Ayu yang sekarang, jangan berubah dan tak perlu berubah hanya untuk orang lain. tapi, berubah lah jika itu kehendak Ayu sendiri." masih dengan sabar bang Lutfi memberikan pengertian dan keyakinan pada Ayu.


Mendengar semua yang di katakan oleh bang Lutfi Ayu pun hanya terdiam, ada keyakinan dalam diri Ayu bahwa sosok bang Lutfi mungkin bisa menjadi suami sekaligus pelindung bagi Ayu. dari perhatian dan kasih sayang yang di berikan bang Lutfi, membuat Ayu merasa bahwa diri nya memang membutuhkan sosok itu. karna sejak perpisahan kedua nya orang tua Ayu, diri nya memang tak pernah merasakan kasih sayang dan perhatian yang utuh dari ke dua nya.

__ADS_1


***


__ADS_2