Perjuangan Istri Yang Tersakiti

Perjuangan Istri Yang Tersakiti
Hari Yang Melelahkan


__ADS_3

***


Setelah kepergian aa Ilham yang kembali telah ke asrama putra, kini Ayu pun hanya mampu terdiam dan menatap nanar ke arah punggung putra nya itu. berharap bahwa jika apa yang terjadi saat ini tidak akan mengganggu metal bahkan aktifitas putra sulung nya itu.


" Kita pulang yah dek ..." dengan mengusap lembut pundak Ayu, ustadz Ahmad berujar dengan nada setengah berbisik pada istri nya itu.


Sebagai seorang suami sekaligus aby bagi kedua anak nya, ustadz Ahmad sangat mengerti dengan apa yang tengah di rasakan kedua nya saat ini. ingin rasa nya direngkuh nya tubuh rapuh sang istri dan mendekapnya dengan erat dalam pelukan nya. hanya saja diri nya tak ingin tindakan nya itu justru mendapatkan perhatian dari sekitar.


" Huh ..." hanya helaan nafas yang mampu Ayu hembuskan secara kasar. diri nya seolah tak mampu untuk berkata - kata, apalagi saat ini rasa kesal nya telah berubah menjadi amarah.


" Istigfar mii ..." dengan suara yang lembut, dan mengusap puncak kepala sang istri ustadz Ahmad kembali berujar.


" Asstagfirullah ... Asstagfirullahaladzim ... " ujar Ayu dengan suara yang lirih bahkan dengan menundukan kepala nya. diri nya terus beristigfar di dalam hati, agar mampu mengendalikan amarah yang rasa nya ingin meledak saat ini juga.


" Ayoo .. aby antarkan ummi sama dede Ayla ke mobil terlebih dahulu. ini .. biar aby yang beresin nanti." ujar ustadz Ahmad dengan mengambil alih dede Ayla yang ada di pangkuan Ayu.


Mendengar perkataan sang suami, membuat Ayu pun beranjak dari tempat duduk nya tanpa memberikan sepatah kata apa pun. bahkan diri nya seolah tak perduli pada dua orang yang hingga saat ini pun masih berada di tempat yang sama.


" Maaf mas, boleh bicara sebentar ?" melihat Ayu yang akan pergi, membuat bang Lutfi pun mendekati ustadz Ahmad dan membuka suara nya.


" Boleh mas, tapi bisakan mas nya menunggu sebentar. setelah saya mengantarkan ummi nya anak - anak terlebih dahulu ke mobil, baru kita bicara. " ujar ustadz Ahmad pada bang Lutfi yang masih mendekap tubuh dede Ayla yang tertidur.


" Baiklah .." ujar bang Lutfi dengan singkat, meski sejujur nya diri nya ingin sekali berbicara dengan Ayu. tak lupa di cium nya pipi gembul sang putri yang tertidur dalam dekapan sang aby, dan mengelus kepala putri nya itu dengan berlahan.


Ada rasa sesak yang di rasakan bang Lutfi saat melihat sang putri yang bahkan tak mengenali diri nya sebagai seorang abah. ada rasa yang teramat sakit, saat melihat sang putri yang ada di dekapan pria lain bukan berada di dekapan nya. bahkan menganggam pria lain sebagai ayah nya, bukan diri nya yang sebenarnya ayah kandung nya.

__ADS_1


Sedangkan ustadz Ahmad pun segera beranjak menyusul Ayu yang terlebih dahulu pergi menuju ke arah parkiran. diri nya ingin segera menenangkan sang istri yang saat ini, justru dalam keadaan yang tidak baik - baik saja.


" Dek Ayu baik - baik saja kan ?" setelah meletakan dede Ayla kembali di pangkuan Ayu yang saat ini telah duduk pada kursi penumpang di sebelah kemudi.


" Hmm .." dengan deheman dan anggukan kepala, Ayu merespon pertanyaan yang di ajukan sang suami pada nya.


Melihat respon yang Ayu berikan, ustadz Ahmad pun menghela nafas nya.


Cup


Satu kecupan di kening Ayu, di berikan ustadz Ahmad padanya.


" Jangan memikirkan sesuatu yang tidak akan membuat amal ibadah kita bertambah. serahkan semua nya pada Allah, cukup berusaha agar tetap menjadi istiqomah di jalan Allah. dan ingat ! dek Ayu punya aby untuk berbagi. jadi, jangan merasa sendiri, apalagi tentang anak - anak. karna mereka juga anak - anak aby, dek Ayu fahamkan maksud aby ?" dengan menatap lembut wajah sang istri, bahkan tangan nya pun mengelus lembut pucuk kepala Ayu.


" Insya Allah Ayu faham by, syukron by." ujar Ayu lirih, bahkan kini dari kedua sudut mata nya telah mengalir butiran - butiran bening yang membasahi cadar yang di kenakan nya.


" Aby bereskan barang - barang dulu, ummi tunggu di sini sebentar."


Setelah melihat Ayu menganggukan kepala nya, barulah ustadz Ahmad berlalu pergi meninggalkan Ayu. dan setelah sampai di pendepo pengajar, terlihat perdebatan antara bang Lutfi dan istri.


Entah apa yang kedua nya perdebatkan saat ini, yang Jelas ustadz Ahmad tak ingin mendengarkan nya apalagi sampai ikut campur masalah kedua nya. apalagi saat ini hampir memasukin waktu zuhur. diri nya pun segera membereskan wadah makanan yang belum sempat Ayu bereskan, akibat kejadian tak terduga yang mampu membuat emosi sang istri menjadi tidak stabil.


Setelah selesai memberekan semua nya, ustadz Ahmad pun ingin segera berlalu pergi. akan tetapi, baru saja ustadz Ahmad melangkahlan kaki nya, bang Lutfi langsung menghentikan nya, dan mengatakan bahwa diri nya ingin berbicara.


Kini kedua nya sudah duduk di sebuah kursi yang berada di samping parkiran. terlihat jelas raut wajah bersalah yang saat ini tercetak jelas dari wajah bang Lutfi. bahkan diri nya mampu menundukan kepala nya di depan ustadz Ahmad.

__ADS_1


" Aa Ilham sudah menceritakan semua nya pada saya, bahwa aby nya adalah seorang ustadz dan pengajar senior di ponpes tempat diri nya menimba ilmu saat ini." diri nya menjeda perkataan nya dengan menghela nafas yang terasa berat.


" Maaf .. dannn ... Terimakasih ustadz, Maaf karna mungkin ustadz akan selalu di repotkan oleh anak - anak. maaf juga, karna saya sebagai abah saya belum bisa menjadi abah yang baik dan bertanggung jawab untuk anak - anak. dan maaf juga atas ketidak nyamanan ustadz dan Ayu atas kejadian yang tak terduga yang baru saja terjadi. Terimakasih banyak ustadz, terimakasih karna sudah menjadi aby bagi anak - anak." dengan nada yang lirih bahkan masih dengan menundukan kepala nya, bang Lutfi berujar pada ustadz Ahmad.


Sedangkan ustadz Ahmad masih bingung harus menanggapi seperti apa perkataan yang di sampaikan oleh abah dari kedua anak nya itu. jika boleh jujur, diri nya memang merasa kurang nyaman saat ini. apalagi jika menyangkut istri dan kedua anak nya.


" Tak ada yang merepotkan bagi seorang ayah jika itu menyangkut anak - anak nya. bahkan sebagai seorang suami dan seorang aby, saya akan pasang badan untuk istri dan anak - anak saya jika ada yang ingin menyakiti mereka. jadi, mas tidak usah berterimakasih pada saya. jika membahagiakan sesuatu yang sulit untuk di lakukan, maka dengan tidak menyakiti nya saja itu sudah cukup. dan untuk kejadian tadi, saya juga memang menyayangkan hal itu bisa sampai terjadi. jadi, saya mohon mas, sebagai sesama lelaki kita saling menjaga, dan jangan sampai hal ini terjadi lagi kedepan nya. maaf mas saya tidak bisa berlama - lama, karna anak dan istri saya sudah menunggu di mobil. dan saya juga minta maaf jika kami sekeluarga ada salah pada mas dan istri." ujar ustadz Ahmad dengan menyodorkan tangan nya pada bang Lutfi untuk bersalaman.


" Baiklah, sekali lagi saya sebagai seorang abah dari anak - anak benar - benar mengucapkan terimakasih banyak ustadz untuk semua nya. dan jika ustadz tak keberatan tolong hubungi saya jika terjadi sesuatu pada anak - anak ustadz." kali ini dengan menyodorkan secarik kertas yang bertuliskan nomor ponsel diri nya.


" Baiklah mas, Insya Allah." ujar ustadz Ahmad dengan menerima kertas yang di sodorkan ke padanya.


Setelah berpamitan kini kedua nya pun langsung pergi, begitu juga dengan keluarga ustadz Ahmad yang kini pun telah keluar dari area ponpes di mana tempat sang putra belajar.


Saat mobil yang di tumpangi Ayu dan suami tiba di halaman rumah, kini di teras telah berdiri sosok wanita berhijab serta seorang pria yang tengah duduk di kursi yang ada di teras rumah Ayu.


Baru saja ustadz Ahmad turun dari mobil, wanita berhijab itu pun langsung berlari kecil ke arah nya dengan senyuman merekah bak bunga yang sedang bermekaran. bahkan tanpa canggung diri nya langsung menarik lengan baju suami Ayu.


" Assalamualaikum .. bang Ahmad." masih dengan senyuman yang tak luntur dari bibir manis nya.


" Wa'alaikumus salam ..." ujar ustadz Ahmad, dengan menarik berlahan tangan nya. Jelas terlihat dari raut wajah ustadz Ahmad bahwa diri nya kurang nyaman, bahkan terkesan risih. kini arah pandangan nya pun di alihkan nya pada Ayu yang baru saja turun dari mobil dengan menggendong dede Ayla yang terbangun dari tidur nya.


Melihat raut wajah sang suami, Ayu sudah dapat menebak bahwa wanita yang ada di samping sang suami adalah ulat bulu, yang mampu membuat diri nya sebagai istri gatal - gatal bahkan elergi.


' *Hadeehhh ... sungguh hari yang melelahkan, mas iya untuk kedua kali nya harus di hadapan kan dengan pelakor si*ch. tapi yang ini emang ngajak perang terbuka kaya.' monolog Ayu dalam hati, saat melihat gadis berhijab di depan nya.

__ADS_1


***


__ADS_2