
***
Masih berada di ponpes, setelah terjadi nya perdebatan kecil antara aa Ilham dan sang aby. kini mereka pun telah duduk bersama dengan menggelar karpet kecil yang sengaja di bawa oleh Ayu dari rumah.
Sedangkan bang Lutfi dan istri baru nya pun kini ikut bergabung bersama ustadz Ahmaf dan keluarga. karna atas permintaan dari ustadz Ahmad sendiri yang sengaja meminta kedua nya untuk duduk bersama sebagai orang tua dari kedua anak nya.
" Eemm .. emang masakan ummi engga ada dua nya, pokok nya aa suka." dengan terus memasukan sendok yang berisi nasi dan lauk ke dalam mulut nya.
Mendengar perkataan putra nya Ayu hanya tersenyum di balik cadar nya.
" Masakan ummi memangkan memang dari dulu selalu enak." ujar bang Lutfi menimpali perkataan sang putra.
Entah sadar atau tidak dengan perkataan nya, bang Lutfi seolah membandingkan masakan sang istri. sedangkan wanita yang ada di samping nya, hanya melirik sang suami dengan kesal tanpa berkata sepatah kata pun.
" Iya bah, masakan ummi memang enak. tapi sayang, abah engga bisa bersyukur." kali ini aa Ilham berucap dengan spotan.
Mendengar perkataan sang abah, mampu membuat aa Ilham merasa sangat kesal. diri nya sadar sebagai anak mungkin perkataan nya kurang sopan, hanya saja rasa kecewa nya sebagai seorang anak tak lagi mampu di tutupi nya.
Apalagi saat ini, sang abah berkunjung ke pondok pesantren untuk pertama kali nya, justru diri nya langsung di perkenalkan dengan wanita yang membuat malu sang putra. bagai mana tidak malu, jika wanita yang di perkenalkan sang abah mengenakan pakaian yang kurang sopan jika di kenakan saat berkunjung ke area pesantren.
Bahkan sejak kedatangan sang abah dan istri baru nya, mereka bahkan menjadi pusat perhatian dari wali santri yang saat ini tengah berkunjung ke pondok pesantren.
" Aa Ilham ..." kali ini sang aby langsung bersuara.
__ADS_1
Merasa sang putra yang kurang sopan pada ayah kandung nya, membuat ustadz Ahmad sebagai aby pun membuka suara sebagai bentuk teguran pada putra nya itu. sedangkan Ayu hanya mampu menghela nafas nya, tanpa ingin mengeluarkan sepatah kata pun.
Sedangkan sang abah sendiri hanya mampu tertunduk malu setelah mendengar perkataan dari putra sulungnya itu. karna pada dasar nya apa yang di katakan aa Ilham adalah suatu kebenaran yang diri nya sendiri tak mampu untuk membantah nya.
Lain hal nya dengan istri baru dari sang abah yang justru seolah tak perduli dengan pembicaraan orang - orang disekitar nya. dengan asyik memainkan ponsel di tangan nya, diri nya seolah cuek dan masa bodoh dengan apa yang di katakan putra dari suami nya itu.
" Maaf by, sebagai hamba Allah sekaligus seorang anak, aa Ilham hanya mengingatkan. buka niat berlaku kurang sopan, jika dengan makan saja kita tidak bisa bersyukur, lantas bagaimana dengan yang lain ?." meski dengan kepala yang tertunduk, aa Ilham kembali berujar.
Mendengar perkataan putra nya, ustadz Ahmad pun menghela nafas nya sebelum kembali berucap. diri nya mencoba memilih kata - kata yang baik tanpa harus menyudutkan atau menyinggung perasaan dari salah satu pihak.
" Menurut aby, jika sebagai hamba Allah tidak dan bukan sebagai seorang anak, mungkin perkataan aa Ilham saat ini bisa di terima nak. akan tetapi, jika sebagai seorang anak, aby rasa itu kurang sopan nak. bagaimana pun, tanpa kedua orang kita, maka kita tidak akan pernah ada di dunia ini. dan kewajiban kita sebagai seorang anak memang harus menghormati kedua nya, tanpa melihat seperti apa kekurangan dan kelebihan dari kedua nya. bukankan selama ini aa Ilham sudah mendapatkan hak aa sebagai seorang anak ? dan kedua orang tua aa Ilham juga sudah melaksanakan kewajiban nya sebagai orang tua terhadap aa Ilham bukan ? ingat satu hal nak ! sepintar dan sekaya apa pun seorang anak, bahkan kepintaran nya dan kekayaan nya tak akan mampu membalas budi kedua nya, terutama seorang ibu. jadi, aby mohon nak .. jangan sekekali bersikap tidak sopan pada kedua nya, sekecewa apa pun seorang anak, menghormati kedua nya adalah suatu kewajiban dan keharusan bagi nya." dengan nada suara yang tenang dan lembut, bahkan dengan mengusap kepala sang putra ustadz Ahmad berucap pada sang putra.
Setelah mendengarkan perkataan sang aby, aa Ilham pun hanya mampu menundukan kepala nya. sedangkan Ayu yang sedang memangku dede Ayla yang saat ini tengah tertidur pun hanya mampu meneteskan air mata dalam keterdiaman nya.
Sebagai seorang ibu Ayu merasa gagal mendidik putra nya , diri nya merasa belum cukup baik menjadi seorang ibu. bagaimana pun juga, seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak - anak nya. terlapas dari permasalahan Ayu dan mantan suami, putra nya tetap lah menjadi anak yang harus menghormati kedua nya.
Kali ini Ayu sudah tak mampu lagi menahan isak tangis nya. untung saja keberadaan Ayu sekeluarga saat ini berada jauh dari para wali santri yang lain. jadi apa yang terjadi saat ini tidak akan menjadikan nya sebagai pusat perhatian dari sekitar.
keberadaan Ayu sekeluarga saat ini berada di area samping aula, di sebuah pendopo pengajar yang letak nya bersebelahan langsung dengan asrama para pengajar. pendopo yang memang di khususkan untuk para pengajar yang ingin bersantai atau hanya sekedar rehat sejenak dari rutinitas sebagai pengajar.
Melihat sang istri yang menangis sungguh membuat ustadz Ahmad menjadi serba salah. diri nya langsung peka, jika apa yang di ucapkan oleh diri nya adalah sumber kesedihan sang istri. diri nya faham akan sosok Ayu yang selalu merasa bersalah jika itu menyakut keluarga.
" Yank .. kita pulang yuk. aku lagi malas nonton drama melow hari ini." dengan ketus istri dari bang Lutfi pun berujar.
__ADS_1
Sontak saja kini arah pandangan aa Ilham pun langsung teralihkan dengan tatapan tajam pada wanita yang menjadi istri dari sang abah. hal yang serupa pun di lakukan bang Lutfi, diri nya langsung merasa tak enak dengan Ayu dan sang suami atas apa yang di katakan sang istri.
" Kamu ngomong apa sich !!." bang Lutfi berujar dengan nada yang setengah berbisik agar tak terdengar oleh Ayu dan sang suami.
" Emang kenapa yank ? ada yang salah ya sama perkataan aku barusan ?." bahkan tanpa merasa bersalah diri nya berujar, bahkan kali ini nada suara nya pun di buat ketus.
" Bisa tidak di pelankan suara nya ? aku malu dek." masih dengan nada yang sama.
" Kenapa harus malu, dengar ya yank !! kamu sekarang suami aku ! jadi perasaan aku yang harus nya kamu jaga, bukan perasaan mantan istri kamu yang saat ini sudah menjadi orang lain !. sejak kita datang tadi, aku kamu cuekin terus, tapi aku hanya diam . bahkan anak mu saja tak ingin berbicara dengan ku, dan aku pun masih diam saja. bahkan sampai saat ini pun aku masih harus di suruh untuk diam juga ? sebenarnya apa salah ku ? hingga aku seakan terlihat buruk di mata kalian ?." ujar nya dengan nada kesal dan ketus, bahkan saat ini pandangan nya di arahkan nya pada Ayu.
Mendengar perkataan wanita yang menjadi istri dari mantan suami nya itu, membuat tangis Ayu terhenti seketika. bahkan diri nya tertegun dengan ucapan dari istri mantan suami nya itu. dan hal serupa pun kini terjadi pada ustadz Ahmad, diri nya bahkan hanya mampu mengedip - ngedipkan mata lucu nya pada Ayu.
Sedangkan bang Lutfi, jangan di tanya lagi seperti apa. dengan raut wajah yang memerah bahkan dengan mengepalkan kedua tangan nya, bang Lutfi hanya mampu terdiam dengan menahan amarah nya. jika saat ini diri nya tidak di lingkungan pesantren atau tidak di hadapan Ayu dan suami nya, mungkin saat ini juga akan ada pertengkaran antara suami dan istri.
Inikah wanita yang setahun lalu yang di katakan bang Lutfi lebih baik dari diri nya, wanita yang berani menyela suami nya di depan orang lain. wanita yang dengan berani mempertanyakan kesalahan nya pada wanita yang suami nya direbut oleh nya. seperti inikah wanita yang membuat seorang bang Lutfi tega meninggalkan istri yang tengah mengandung dan putra nya.
Bahkan selama menikah dengan mantan suami nya itu, tak sekali pun Ayu berani menyela perkataan sang suami dengan kasar didepan orang lain. meski diri nya tengah bertengkar dengan sang suami, karna Ayu pasti akan memilih diam jika kedua nya tengah bertengkar.
Tanpa mampu menahan lagi, aa Ilham pun kembali berucap pada wanita yang saat ini menjadi istri dari abah.
" Maaf tante, jika saya kurang sopan menurut tante. saya diam bukan berati saya tidak sopan, saya diam bukan berati menyalahkan, dan saya diam karna diam itu lebih menenangkan. jangan mempertanyakan kesalahan tante pada kami, karna kesalahan itu seharusnya tante lah yang menyadari bukan kami yang mempredeksi. kami bukan manusia tanpa dosa dan sempurna yang berhak mengatakan orang lain bersalah, kami hanya hamba yang selalu bersujud memohon segala ampunan dari Nya. karna apa yang kita lakukan selama di dunia, maka itu akan menjadi pertanggung jawaban kita di hadapan Allah. karna sejati nya menyadari akan lebih mulya dari pada menghakimi. jangan selalu sibuk melihat kesalahan orang lain, tapi kesalan diri sendiri pun sampai tak menyadari."
Dengan beranjak dari tempat duduk nya, dan segera pamit pada sang aby dan ummi untuk kembali masuk ke dalam pesantren. dan saat bersalaman dengan sang abah, diri nya pun tak mengeluarkan sepatah kata pun.
__ADS_1
***
Ayo dukung terus karya author biar tetap terus semangat ☺️.