Perjuangan Istri Yang Tersakiti

Perjuangan Istri Yang Tersakiti
Kekecewaan Seorang Anak


__ADS_3

***


Setelah kepergian Ayu dan dede Ayla dari ruang tamu, kini hanya ada dua pria yang saat ini masih berada di ruang tamu. dengan bang Lutfi yang masih terduduk di lantai merenungi semua kesalahan nya. sedangkan ustadz Ahmad pun duduk di lantai dengan posisi lebih dekat dengan pintu depan rumah.


Masih dengan menundukan kepala nya bang Lutfi merenungi segala kesalahan fatal yang pernah di lakukan nya satu tahun yang lalu, dan inilah hasil dari apa yang di perbuat nya di masa lalu pada keluarga nya.


" Mas Lutfi, saya minta maaf atas istri saya. apabila mungkin perkataan istri saya menyinggung perasaan mas Lutfi. dan saya mohon untuk mas Lutfi bisa memahami keadaan istri saya saat ini." ujar ustadz Ahmad membuka suara nya, setelah kedua nya dalam keterdiaman beberapa saat.


" Tidak apa - apa mas, karna ini semua memang kesalahan saya. karna apa yang di katakan ummi dari anak - anak, semua nya memang benar. saya memang tak mampu menjadi suami dan ayah yang baik serta bertanggung jawab untuk keluarga." dengan masih menundukan kepala nya bang Lutfi pun berujar pada ustadz Ahmad.


" Manusia tidak ada yang sempurna mas, manusia juga tempatnya salah dan dosa. akan tetapi, selama kita mau bertobat dan menyesali nya, insya Allah semua akan ada jalan dan kemudahan. inti nya sabar dan ikhlas mas, walau pun semua nya tak mudah." kali ini ustad Ahmad mencoba memberikan sedikit kata - kata bijak pada pria yang kini tengah di landa sebuah penyesalan.


Baru saja ustadz Ahmad akan kembali mengeluarkan perkataan nya, akan tetapi dari arah luar terdengar salam.


" Assalamualaikum .."


" Wa'alaikumus salam .."


" Ada apa by ? kata ummi aby ada perlu dengan aa ya .. ?." ujar aa Ilham sopan, saat setelah diri nya masuk dan memberi salam.


Saat ini aa Ilham masih belum sadar jika sang abah tengah terduduk bersimpuh di lantai. sejak diri nya masuk ke ruang tamu, karna arah pandangan nya hanya tertuju pada aby nya saja, tanpa mengedarkan pandangan nya ke arah lain.

__ADS_1


Sedangkan bang Lutfi yang mendengar putra nya hanya menyapa ayah sambung nya saja dan tanpa menyapa diri nya, membuat dada nya kembali sesak. tidak hanya menahan penyesalan karna kehilangan sosok istri sholehah seperti Ayu, tapi kini diri nya pun harus rela jika ke dua anak nya lebih menyayangi pria lain dari pada diri nya.


Kini hanya ada penyesalan yang tiada akhir yang di rasakan nya saat ini. bagaimana tidak, hanya demi nafsu dan sebuah kesenangan sesaat, diri nya dengan begitu kejam meninggalkan istri dan anak nya. bahkan di saat sang istri tengah mengandung anak kedua nya.


Walaupun diri nya kini telah menikah dengan wanita pilihan nya. entah mengapa, tak ada kenyamaan dan ketenangan yang di dapatkan nya ketika diri nya bersama dengan Ayu. setiap hari diri nya selalu merasakan resah, bahkan ketika diri nya bersama wanita yang telah di nikahi nya secara siri itu.


Selama satu tahun lebih diri nya meninggalkan dan berpisah dari keluarga, ada rasa yang hilang dalam diri bang Lutfi. diri nya seolah hidup tanpa tujuan, tak ada semangat seperti ketika saat diri nya masih menjadi suami sah dari gadis yang lima belas tahun lalu di nikahi nya secara resmi.


Entah mengapa diri nya begitu tega meninggalkan wanita yang telah menemani nya selama lima belas tahun dan bahkan telah memberi nya sepasang buah hati. diri nya tega menjandakan istri hanya demi seorang janda dua anak, yang bahkan dari segi apa pun istri nya lebih dari segala nya.


" Aa dari mana ?." kali ini bang Lutfi terpaksa mengeluarkan suara nya, saat melihat sang putra masih tak menyadari keberadaan nya.


Mendengar suara yang di kenali nya, kini aa Ilham pun langsung menoleh, dan di lihat nya sang abah yang tengah duduk bersimpuh di lantai, dengan raut wajah sedih. ini adalah pertama kali nya bagi Ilham kembali bertemu dengan sang abah, setelah setahun lebih sang abah pergi begitu saja meninggalkan ummi serta diri nya.


" aa Ilham, di tanya abah nak." ujar ustadz Ahmad, setelah melihat sang putra yang terdiam tanpa ingin menjawab pertanyaan abah nya.


" Main."


Jawaban singkat yang terkesan dingin, kini terlontar dari bibir sang putra.


Mendengar jawaban sang putra yang terkesan dingin, bang Lutfi hanya tersenyum kecut. sungguh mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari putra nya membuat hati nya hancur, bahkan lebih menyakitkan dari apa pun.

__ADS_1


" Nak ... salim sama abah." ujar ustadz Ahmad dengan mendekat ke arah Ilham dan menuntun nya mendekati sang abah.


Sedangkan Ilham hanya terdiam dan mengikuti saja apa yang di katakan oleh ustadz Ahmad. tanpa ingin mengeluarkan sepatah kata pun pada sang abah.


" Aby, boleh aa pergi sekarang ?." ujar Ilham sesaat setelah diri nya salim dengan sang abah.


Belum sempat ustadz Ahmad mengeluarkan perkataan nya, bang Lutfi terlebih dahulu bersuara.


" Aa marah sama abah nak ?." dengan memandang ke arah putra nya bang Lutfi berujar.


Mendengar perkataan sang abah, membuat aa Ilham berbalik menatap ke arah abah nya dengan tatapan yang penuh kekecewaan.


" Untuk apa aa marah dengan seseorang yang memang sengaja meninggalkan istri dan anak - anak nya hanya demi wanita lain ? apa marah aa juga akan mengembalikan semua nya seperti semula ? aa rasa itu tidak mungkin, karna rasa sakit yang di rasakan ummi tak akan hilang begitu saja. kejarlah semua kebahagian abah, karna aa tau, kebahagian abah bukan di sini. bukan pada ummi, bukan pula pada aa dan dede Ayla." Ilham berujar dengan berlalu pergi begitu saja dari hadapan sang abah, dan tanpa memberi salam Ilham pergi dari rumah.


Mendengar semua perkataan putra sulung nya, membuat bang Lutfi kembali mengeluarkan air mata nya. dengan kepala tertunduk tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun.


Sedangkan ustadz Ahmad hanya mampu menghela nafas nya, diri nya bahkan tak sempat mencegah kepergian putra nya itu dari rumah. di satu sisi diri nya memang membenarkan rasa kecewa putra nya pada sang abah.


Akan tetapi, melihat pria yang kini tertunduk dengan rasa penyesalan mendalam membuat diri nya tak tega, bahkan kini pria itu tengah bersimpuh dengan bahu yang bergetar yang menandakan diri nya saat ini tengah menahan isakan tangis nya.


" Sabar mas, untuk saat ini tolong beri waktu untuk anak - anak dulu. insya Allah saya akan coba memberikan pemahaman secara berlahan kepada kedua nya nanti." ujar ustadz Ahmad dengan mengelus pelan pundak bang Lutfi.

__ADS_1


Mendengar perkataan pria yang saat ini telah resmi menjadi aby bagi kedua anak nya, membuat bang Lutfi hanya mampu menganggukan kepala nya. diri nya masih tak mampu untuk mengeluarkan suara nya, seolah - olah ada sesuatu yang menceking leher nya hingga suara nya pun tak mampu untuk keluar.


***


__ADS_2