
***
Hari demi hari kini telah berganti, tak terasa kini usia kandungan Ayu telah memasuki sembilan bulan, itu berarti sudah lima bulan Ayu berada di kota R bersama sang mama. setelah memasuki usia kandungan sembilan bulan Ayu menghentikan kegiatan nya sebagai buruh cuci baju, diri nya sudah tak sanggup lagi melakukan kegiatan yang membuat tubuh nya kelelahan.
Saat ini Ayu hanya menekuni pekerjaan nya sebagai freelance saja untuk mencukupi kebutuhan diri nya dan sang mama. sedang kan mama Ayu masih menjadi buruh di kebun milik salah satu tetangga Ayu. saat ini Ayu memang membutuh kan banyak biaya untuk persalinan, sedang Ayu sendiri sampai saat ini sama sekali tidak memiliki tabungan.
Sebenar nya Ayu memang memiliki tabungan saat itu. akan tetapi, dengan begitu tega nya bang Lutfi mengambil tabungan untuk biaya persalinan tanpa sepengetahuan Ayu. dan hal itu terjadi, sesaat sebelum diri pergi dari rumah. bahkan saat Ayu di rawat di RS, Ayu harus menjual perhiasan nya untuk biaya pengobatan Ayu
Itulah mengapa Ayu menerima pekerjaan nya sebagai buruh cuci baju, hanya untuk mencukupi kebutuhan kehidupan Ayu dan sang mama. Ayu rela melakuman nya meski dengan kondisi Ayu yang tengah hamil.
" Yu, Saat ini Ayu punya tabungan berapa untuk biaya persalinan ?." ujar mama pada Ayu, saat kedua ny tengah bersantai.
" Kalo tabungan, Ayu engga punya ma. penghasilan freelance Ayu juga kemaren habis buat beli perlengkapan dede bayi. itu juga Ayu cuma beli seadaanya, bahkan untuk beli baju dede, Ayu beli yang eceran biar lebih murah. terus nanti sisanya Ayu pakaikan saja baju a'a sewaktu bayi yang masih Ayu simpan." Ayu pun menjelaskan pada mama kondisi keuangan Ayu saat ini.
" Apa abah nya anak - anak memang sama sekali engga ada kirim buat biaya lahiran Yu ? apa setega itu dia menelantarkan anak nya yang belum lahir. dia boleh benci mama, karna mungkin engga bisa mendidik kamu menjadi istri yang baik. dia boleh nyakiti kita Yu, tapi bagai mana dengan darah daging nya yang masih belum lahir ?." ujar mama dengan nada yang sangat lirih, terlihat sangat jelas raut kekecewaan pada diri mama.
" Ma .. Allah engga tidur, Allah tau yang kita rasakan, Ayu yakin di balik ini semua ada kebahagian yang telah Allah persiapkan untuk kita. kita serahkan semua nya kepada Allah." kali ini Ayu harus kuat, tidak hanya untuk diri nya sendiri. akan tetapi, Ayu juga harus kuat untuk kedua anak nya dan sang mama.
" Iya, mama juga tahu Yu. hanya saja sebagai manusia biasa, tak dapat di pungkiri mama sangat kecewa, bahkan mungkin susah untuk melupakan dan memaafkan Yu. hati mama sakit Yu, sakit melebihi apa pun. bahkan mungkin rasa sakit ini sampai mati pun mama rasakan."
Selama ini mama begitu kuat di hadapan Ayu, tapi ternyata Ayu baru sadari nya saat ini. bahwa mama justru lebih hancur dan sakit melebihi diri nya. dengan mata yang berkaca - kaca dan nada yang sangat lirih mama mengungkapkan semua perasaan yang selama ini mama rasakan pada Ayu.
Karna selama ini Ayu tau, bagai mana perjalanan kehidupan sang mama tidak lah mudah. sebagai seorang single perent mama harus berjuang untuk anak - anak nya, walupun dengan keadaan yang pas - pasan.
" Huh .." Ayu hanya mampu mengela nafas nya.
" Ayu rencana nya mau jual beberapa barang di rumah ma, seperti kulkas dan lemari pakaian, untuk biaya persalinan. soal nya kalo jual sepeda motor, kasihan a'a kalo pulang ke rumah mau jalan engga punya sepeda. Ayu juga masih punya sisa uang belanja 500 ribu, dan semoga saja naskah Ayu di terima ma, jadi Ayu dapat royalti dari naskah yang Ayu tulis." Ayu hanya berharap sang mama tidak terlalu khawatir dengan biaya persalinan Ayu.
" Iya, semoga saja. nanti kalo masih kurang kita jual saja anting mama, biar buat tambah - tambah. lagian setelah dede lahir, kita butuh biaya juga buat acara selamatan." ujar mama memberikan pendapat nya pada Ayu.
__ADS_1
Selama obrolan berlangsung dengan sang mama, tidak henti - henti nya Ayu berdoa dalam hati. agar Allah selalu memberikan kekuatan pada Ayu, serta kelancaran dan kemudahan saat kelahiran nya nanti.
Dan setelah obrolan nya dengan sang mama, kini Ayu kembali berjuang untuk mencari biaya persalinan nya. Ayu benar - benar menjual beberapa barang di rumah nya yang ada di kampung.
Agar bisa mendapatkan biaya tanpa harus menjual perhiasan satu - satu nya sang mama. dan Allhamdulilah Ayu juga mendapatkan sedikit tambahan dari pekerjaan nya sebagai freelance.
Saat ini Ayu merasa sedikit lega, karna dalam tiga pekan ini diri nya telah mendapatkan dana untuk biaya persalinan. tanpa harus mengemis pada mantan suami nya, walau pun dana yang Ayu punya saat hanya cukup untuk persalinan normal saja.
" Assatagfirullah .. !!" ujar Ayu terkejut sesaat setelah diri nya mendapatkan darah segar yang mengalir di kedua selah kaki nya.
Pagi ini di saat Ayu akan mandi, diri nya di kagetkan dengan keluar nya darah segar dari selah kaki nya secara tiba - tiba. sedangkan Ayu sendiri tidak merasan sakit pada perut nya. hanya saja darah yang mengalir dari rahim Ayu begitu deras, membuat Ayu panik.
Dengan sedikit cepat Ayu ingin mengambil ponsel nya, dan ingin menghubungi sang mama yang masih berada di kebun.
" Dret .. dret .. dret .." belum sempat Ayu menelpon, kini ponseln nya bergetar tanda seseorang sedang menghubungi nya.
Ayu sempat mengerutkan kening nya saat melihat nomor tak di kenal nya itu menghubungi diri nya. akan tetapi, tak ingin membuang waktu Ayu pun mengangkat panggilan masuk di ponsel nya.
" Wa'alaikumus salam .. Ayu ini ummi yu, Ayu apa kabar ?." terdengar suara wanita yang saat ini menghubungi Ayu.
" Ummi ? maaf ummi siapa yach ?." ujar Ayu yang masih belum mengenal siapa yang menelpon nya saat ini.
" Ya Allah, Ayu lupa sama ummi ? ini ummi Khadijah, teman ustazadzah Nurul. dan kita bertemu saat pengajian tiga bulan yang lalu." ujarnya menjelaskan pada Ayu.
" Sssttt ... ahh, ummi iya Ayu ingat." dengan suara sedikit tertahan karna menahan sakit yang kian menjadi pada perut nya.
" Ayu, Ayu kenapa ? Ayu sakit ?." terdengar suara kepanikan di sebrang telpon, saat mendengar suara rintihan dari Ayu.
" Mmmaaf ummi, ssttt ...bisa Ayu matikan telpon nya. Ayu ingin menghubungi mama di kebun, saat ini perut Ayu sangat sakit. ."
__ADS_1
" Ya Allah .. Ayu mau melahirkan ? baiklah kalo begitu, Assalamualaikum Ayu." dan tanpa mendengar jawaban salam dari Ayu, ummi Khadijah pun langsung mematikan ponsel nya.
Ketika panggilan dari ummi Khadijah berakhir, Ayu pun segera menghubungi sang mama. agar meminta nya segera pulang, karna saat ini seperti nya Ayu akan melahirkan.
Setelah mendapatkan telpon dari Ayu, mama pun langsung segera pulang dari kebun bersama kakak Ayu. kedua nya kini dengan tergesa - gesa menuju kontrakan yang di tinggali Ayu dan sang mama.
" Ya Allah Ayu ... !!" ujar sang mama, saat melihat kondisi Ayu yang tengah terduduk di lantai dengan meringis menahan sakit, bahkan di selah kaki Ayu mengeluarkan darah segar.
Melihat itu kakak Ayu pun tidak tinggal diam, diri nya langsung berlari keluar rumah untuk meminta tolong pada tetangga, agar kenan mengantarkan sang adik ke rumah sakit. apa lagi setelah melihat kondisi Ayu saat ini sangat lemah serta menahan sakit.
Dan tanpa meminta dua kali, para tetangga langsung bergerak dengan cepat menolong Ayu dan mengantarkan nya menuju rumah sakit. sesampai nya di rumah sakit Ayu langsung di bawa menuju ruang persalinan.
" Asstagfirullahalazim .. ssttt .. Ya Allah .. ssstt .. Asstagfirullahalazim.. la illaha'illalah .." dengan mengucapkan istigfar Ayu menahan sakit yang teramat sangat.
" Ayu kuat .. mama yakin Ayu bisa, putri mama pasti bisa." ujar mama pada Ayu.
Jika di saat seorang istri tengah berjuang melahirkan, maka yang di butuhkan nya hanya sebuah semangat dari sang suami. akan tetapi, saat ini justru mama Ayu lah yang selalu setia mendampingi Ayu, serta memberikan semangat pada Ayu.
" Ya Allah .. kuatkan Ayu, huh .. huh .. lancarkan lah kelahiran buah hati Ayu .. huh .." dengan terus mengeluarkan nafas teratur serta berusaha menahan sakit.
" Baik lah bu, seperti nya pembukaan nya telah lengkap. ibu Ayu ikuti intruksi dari saya ya ..' ujar dokter wanita yang membantu persalinan Ayu kali ini.
" Hhhmmm .." dengan deheman dan anggukan kepala Ayu mengiyakan sang dokter wanita yang membantu nya.
" Baiklah bu Ayu, tarik nafas ... tiupkan, tarik nafas .. tiupkan, tarika nafas .. tiupkan.
" Iya .. seperti itu, berikan dorongan saat bu Ayu meniupkan nafas .. bagus bu .. iya seperti itu.
Hampir dua puluh menit Ayu mengikuti saran sang dokter, dengan kekuatan dan perjuangan Ayu. Ayu mampu melahirkan seorang putri cantik nya kedunia dengan keadaan selamat.
__ADS_1
Seorang wanita harus berjuang menahan sakit untuk melahirkan buah hati nya. bertaruh nyawa untuk keselamatan anak nya. akan tetapi, rasa itu akan hilang dan di gantikan rasa bahagia, sebab kini telah dilahirkan sosok manusia yang hadir ke dunia.
***