
Amrita, biasa dipanggil Rita, adalah kakak perempuan Aril. Dia tinggal di kota, tapi entah kenapa malah muncul di sini di saat yang tidak tepat.
"Eh, Mbak Rita! Masuk Mbak. Kapan datang Mbak?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tadi pagi," ucap Mbak Rita yang mulai masuk. "Ini ada sedikit oleh-oleh." Mbak Rita memberikan keripik apel khas kotanya.
"Makasih ya Mbak. Repot-repot segala."
"Oh iya, yang masker tadi, aku nggak nyangka kalau Aril titip buat kamu. Soalnya dia bilangnya mau dipakai sendiri."
Duuhhh! Kenapa malah bahas itu lagi?
Semua mata kembali menatapku.
"B-bukan kok Mbak. I-ini aku beli sendiri!" Aku berusaha tidak tergagap. Tampak Mbak Rita keningnya berkerut.
"Masa sih? Tapi plastiknya juga sama lho!"
"M-mungkin kebetulan sama aja Mbak!" Aku memaksakan senyum.
Agak lega rasanya ketika Mbak Rita manggut-manggut dan tak bertanya lagi.
Segera aku menyimpan masker pemberian Aril di kamar agar tak ditanya-tanya lagi.
Ck, dasar Aril! Semua yang dilakukannya cuma menyusahkan orang saja.
"Nginep berapa hari di sini Rit?" tanya ibu ke Mbak Rita saat aku kembali ke ruang tamu.
"Dua minggu Tante. Di rumah sepi. Mas Dandi juga ke luar kota. Udah lama juga nggak ke sini. Jadi sekalian nginep lama. Biar ilang rindunya. Sini Yas, duduk di samping Mbak," ucap Mbak Rita saat melihatku kembali muncul.
"Udah gede aja kamu ya. Padahal dulu cuma pakai cel@na dalam sama singlet doang. Apalagi si Aril tuh, badannya udah kayak tiang!"
Aku yang merasa amnesia akan masa lalu hanya tersenyum kikuk dan malu.
"Kalian dulu sering main bareng tau."
Apa? Pandai mengarang banget Mbak Rita!
"Ke sana ke mari selalu gandengan, nggak mau dipisahin! Main masak-masakan bareng. Aku yang paling ingat itu, pas kalian main nikah-nikahan. Dan aku jadi penghulunya! Hahaha!"
Semua yang ada di sini tertawa lepas. Sementara aku menggeleng tak percaya.
Nggak! Mana mungkin aku dulu main gituan sama Aril!
Benar-benar berbakat jadi penulis nih Mbak Rita. Ngalir bener ceritanya.
"Kenapa ekspresimu gitu? Kamu nggak percaya?"
Tidak akan percaya! Itu cuma karangan yang tidak indah!
"Jadi kamu beneran nggak percaya? Tanya aja sama Ibu kamu!"
Ibu mengangguk membenarkan ucapan Mbak Rita.
"Oh iya, di rumah masih ada foto-foto kalian waktu masih kecil. Sebentar aku ambil albumnya biar kamu percaya." Mbak Rita berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari kami.
Tiba-tiba Puput menyenggolku. "Ternyata kalian sepasang kekasih dari kecil ya. Udah nikah lagi!"
__ADS_1
Aku melotot pada Puput, kucubit lengannya dengan keras.
Tak lama, datang Mbak Rita membawa sebuah album di tangannya.
"Nih, lihat nih foto kamu," ucap Mbak Rita.
Mataku membulat melihat foto yang ditunjuk Mbak Rita.
Di foto itu aku hanya memakai kaos singlet dan cel@na dalam sedang duduk bersanding dengan anak kecil yang sangat mirip dengan Aril. Kami sama-sama hanya memakai kaos singlet.
"Hahahaha!" Tawa Dika dan Puput yang paling keras di sini.
Nggak mungkin! Ini pasti editan!
Di sana aku memakai kalung yang terbuat dari gagang daun singkong yang berwarna merah.
Sementara Aril memakai daun nangka yang dibuat menyerupai peci. Dia sedang menjabat tangan Mbak Rita.
Mbak Rita yang berperan sebagai penghulu tampak ada warna hitam di bawah hidungnya. Entah dicoret pakai apa. Mungkin itu kumis maksudnya. Dia juga memakai daun nangka di kepala, yang dibentuk ala-ala peci yang sering dipakai pak penghulu.
"Hahaha. Ini itu aku dulu pakai arang untuk buat kumisnya!" ujar Mbak Rita yang masih tertawa riang.
"Siapa yang ngedit ini Mbak? Jago bener!"
Tawa Dika makin keras saja mendengar pertanyaanku. Aku yakin ini cuma editan. Buktinya aku nggak punya fotonya juga.
"Zaman dulu mana ada editan sebagus ini Yas!" celetuk Puput dengan tertawa. Dia sampai menangis gara-gara tertawa terus melihat foto-fotoku di album ini.
"Haduh, haduh! Perutku sakit, nggak kuat aku! Hahaha!" Dika memegangi perutnya.
"Mas suami datang menjemput istri!" Dika terpingkal-pingkal mengucapkan itu.
Aril yang tak mengerti hanya berjalan masuk dan duduk tanpa disuruh.
"Oh, jadi kalian ketawa karena foto jadul ini?" ucap Aril yang ikut melihat foto yang sedang dibalik-balik oleh Puput.
Apa? Dia udah tau foto ini? Dan ekspresinya biasa aja?
Cekrek! Cekrek!
"Put! Kamu apa-apaan sih! Hapus nggak!" seruku ke Puput yang mengabadikan fotoku di ponselnya.
"Kenapa sih Yas? Ini bagus tau, buat kenang-kenangan!" Puput terkekeh. "Buat story ah!"
"Awas aja kalau kamu sampai berani nyebarin aibku!" Aku melotot ke Puput.
"Ya ampun Kak, dosa tau bilang foto nikah Kakak adalah aib. Apalagi ada Mas suami!" timpal Dika.
"Ril! Kenapa kamu diam aja sih? Ngomong sesuatu kek!" omelku ke Aril karena dia diam saja, seolah menikmati ejekan Dika.
Aku berdecak kesal saat Aril hanya mengangkat bahunya.
Ck, dahlah. Ketimbang jadi bahan olokan, mending aku ke dalam aja. Aku pamit mandi dengan alasan gerah, padahal langit sore ini mendung karena habis hujan.
Habis mandi, orang-orang yang tadinya ada di ruang tamu pada ilang. Aku memutuskan untuk kembali bertapa di kamar.
Baru juga mau nulis, ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
__ADS_1
Siapa ya?
"Halo?" sapaku setelah menggeser kasur, eh, menggeser tombol hijau di layar ponsel.
"Nanti ke acara nikahan pakek apa?"
Aku terkejut mendengar suara laki-laki yang sangat kukenal.
"Dapat dari mana kamu nomorku?"
Ya, yang menelponku adalah tetangga yang suka naikin tensi darah, Aril.
"Nggak penting dapat dari mana. Jawab aja nanti pakek apa ke acara nikahan."
Aish! Ini kalau nggak Puput, pasti Dika yang ngasih nomorku.
"Ya pakek bajulah!"
"Iya, tau. Maksudku, warnanya apa?" tahya Aril dengan nada yang masih datar.
"Kepo banget sih. Dah ah, aku mau nulis ini."
"Kan bisa nulis sambil ngomong."
"Nggak bisa. Aku nulisnya dari ponsel."
"Bukannya kamu punya laptop ya?"
Aku mengernyit. "Kok kamu tau?"
"Dika pernah cerita kalau punya Kakak pelitnya minta ampun. Punya duit banyak, tapi beli laptop aja second."
Aish! Dasar adik laknat! Awas kalau nanti minta beliin kuota.
"Aku nggak nulis di laptop, lebih enak nulis di ponsel."
Gimana mau nulis di laptop, ngetik keyboard-nya aja masih satu-satu, kelamaan jadinya. Keburu ilang ide yang ada di kepala. Jadi mending nulis di ponsel aja, lebih cepet.
"Nanti pakek baju putih aja," ucap Aril.
"Emang harus samaan ya?"
"Iyalah, biar serasi. Nggak lucu dong kamu pakek baju merah, sementara aku pakek baju putih, udah kayak bendera aja."
"Hitam aja gimana? Aku nggak punya baju warna putih."
"Emang kita mau ngelayat pakek hitam-hitam? Ini ke acara nikahan Yas."
Perasaan ada tuh orang yang pakek baju hitam ke acara nikahan.
"Yaudah kalau kamu nggak punya baju warna putih, besok kita beli baju."
"Ngapain beli baju sega–"
Klik!
Heeghh! Belum juga selesai ngomong udah ditutup.
__ADS_1