
Perempuan itu menatap marah Aril dan juga diriku dari tempatnya berdiri. Setelah itu dia berlari naik ke arah pelaminan.
Sebelum dia sampai ke pelaminan, orang-orang dengan sigap mencegahnya. Ada tiga orang yang memeganginya. Satu di kiri, satu di kanan, dan satu di belakangnya.
"Teganya kau mengkhianatiku!" Jari telunjuknya menunjuk Aril. Matanya merah melotot marah. Dia terus meronta-ronta dari cekalan orang-orang yang sedang menahannya.
"Kau bilang kau akan setia padaku!" lanjutnya berteriak histeris.
Aku menoleh ke Aril yang sedang menatap perempuan itu.
"Pacarmu, Ril?"
"Sontoloyo kamu!" sahutnya.
"Kenapa ada orang gila bisa masuk ke sini?" tanya ibu dengan mimik khawatir, pasalnya perempuan itu mengamuk. Kursi-kursi menjadi berantakan akibat ulahnya.
Pakaian perempuan itu compang-camping, kaki kirinya memakai sandal japit, sementara kaki kanannya tanpa alas kaki. Rambut panjangnya berantakan. Meskipun wajahnya kotor, itu tidak menutupi wajah cantiknya.
Dugaanku, dia pasti menjadi seperti ini gara-gara ditinggal nikah.
"Ril, kasian pacarmu. Samperin gih, aku ikhlas," ujarku yang hanya mendapati lirikan maut darinya.
Akhirnya perempuan itu bisa diamankan.
Para tamu undangan semakin banyak yang datang. Mereka menyalami kami dan berswafoto. Kakiku terasa pegal karena memakai high heels yang tingginya nggak kira-kira. Aku yang biasanya kalau menatap Aril harus mendongak, kini tetap mendongak juga sih, tapi cuma sedikit.
"Nggak nyangka ternyata malah kalian yang nikah duluan ya," ucap Ira ketika menyalami kami. Dia datang bersama calon suaminya.
Kami berempat merepet karena akan mengambil foto. Yang membuatku heran, Ira malah berada di samping Aril, sementara calon suaminya malah berdiri di sampingku.
"Cheese!" seru Ira, tangannya yang memegang kamera ponsel.
Ckrek!
"Lagi-lagi," serunya.
Aril menggeser tubuhnya mendekat ke arahku karena Ira terus memepetnya. Ini kenapa calon suaminya diem aja liat tingkah calon istrinya?
Bahkan setelah foto berempat, dia meminta untuk foto berdua saja dengan Aril. Katanya buat kenang-kenangan. Kenang-kenangan apaan? Calon suaminya juga malah membantu Ira mengambil foto.
Meskipun Aril terlihat risih saat lengannya digandeng oleh Ira dan berusaha menariknya, tangannya Ira tetap kekeuh menahan lengan Aril.
"Mas, kita foto berdua juga yuk!" Segera kuapit lengan kanan calon suami Ira.
"Eh?" Ira terlihat terkejut dengan apa yang kulakukan.
"Kamu kan foto sama Aril, aku juga mau foto sama calon suamimu!" Aku tersenyum sembari menaik-turunkan alis.
Ponsel yang berada di tangan calon suami Ira kuambil alih. Setelah tersenyum lebar, dan terdengar suara kamera mengambil gambar, aku memeriksa hasil fotonya. Tak lupa, aku juga menghapus foto Ira dan Aril, hanya menyisakan foto barusan dan foto kami berempat.
"Makasih ya, Mas." Kukembalikan ponsel itu. Aku sengaja tersenyum kecentilan padanya, membuat bibir Ira mengerucut. Matanya melirikku kesal. Dia langsung mengapit lengan calon suaminya dan buru-buru turun dari pelaminan.
Dasar! Laki orang digandeng-gandeng. Giliran kaki sendiri yang digandeng malah marah.
Aku kembali duduk karena tidak ada tamu undangan. Kubuka ponselku untuk menghilangkan rasa bosan. Ada notifikasi pesan masuk di Meesenger dari akun Bayu Aji.
[ Aku tadi ke kafe, tapi kafenya tutup. ] Begitu bunyi pesannya.
[ Iya, yang punya kafe lagi ada acara. ] balasku.
[ Kok kamu tahu? ] tanyanya.
[ Yang punya kafe Aril. ]
__ADS_1
Pesanku langsung dibaca olehnya. Jeda beberapa detik, sebelum akhirnya dia membalas.
[ Kamu manggil suamimu langsung dengan namanya? ]
Duh, pasti dia mengira aku adalah istri kurang ajar yang memanggil suaminya dengan nama langsung.
[ Emm, kami kenal sejak kecil. Jadinya masih belum terbiasa manggil Mas, dan kadang suka lupa. ]
[ Ooh, jadi kalian sudah kenal sejak kecil. Berapa umur pernikahan kalian? ]
[ Belum ada satu bulan. ]
[ Wah, masih pengantin baru ya. ]
"Chatan sama siapa, sih? Serius amat."
Segera kusembunyikan ponselku saat kepala Aril tiba-tiba mendekat ingin mengintip layar ponsel.
"Kepo!"
"Sama penulis itu ya?" tanyanya.
"Kalau sudah tau ngapain masih nanya?" jawabku.
"Kamu suka sama dia?"
"Kepo banget, sih."
Alisnya tampak menyatu. "Apa semua penulis itu sukanya sama penulis juga?"
"Nggak juga."
"Jadi kamu nggak suka sama dia?"
"Jadi kamu suka sama dia?"
Kutatap Aril kesal. "Ck. Kenapa sih, nanya gituan. Aku sukanya duit!"
"Semua orang juga suka duit kali," sahutnya.
Aku tak menggubrisnya, dan terus bermain ponsel. Membaca komenan para pembaca ibarat membaca pesan dari pacar. Bibirku tak henti-hentinya mengulum senyum.
Mataku membulat saat menemukan sebuah komentar baru.
[ Gaes, minta doanya, penulisnya saat ini menikah. ]
Aku langsung menoleh ke Aril yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Ariil! Hapus komentar kamuu!"
***
Setelah resepsi pernikahan selesai, aku disuguhkan dengan sebuah tas besar yang berisi baju-bajuku. Ibu yang menyiapkannya.
"Jadi aku diusir?" Aku menatap ibu dan bapak secara bergantian.
"Bukan diusir, tapi setelah ini, kamu tinggal di rumah Aril," jawab bapak.
"Sama aja."
"Ya nggak sama tho. Kamu masih bisa main-main ke sini kok," sahut ibu. "Kasihan ibunya Aril kalau kalian tinggal di sini, dia jadi sendirian."
Setelah mencium punggung tangan bapak dan ibu, aku pergi ke rumah Aril.
__ADS_1
Kini, aku berdiri mematung di dalam kamar yang terasa asing. Harum khas Aril memenuhi kamar ini.
Sedari tadi aku terus berdiri, sementara yang punya kamar baru saja keluar dari kamar mandi. Di sini kamar mandinya ada di dalam kamar.
Aril menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk warna biru langit, mengabaikanku yang masih berdiri dari pertama masuk ke dalam kamar ini.
"Bajuku ditaruh di mana?" Aku menatap Aril yang sedang membuka lemari.
"Taruh aja di kolong ranjang."
"Ha?"
Aril menoleh. "Ya ditaruh di dalam lemarilah. Masa gitu aja masih nanya."
Aish, nih orang!
"Iya, aku tahu. Maksudku itu …."
"Mana." Aril mengambil alih tas besar yang sedari tadi kutenteng. Dengan cepat tangannya membuka resleting tas dan hendak memindahkan isinya ke dalam lemari.
"Eh, kamu mau ngapain?" Aku mencegahnya.
"Mau mindahin bajunya ke dalam lemari."
"Biar aku sendiri!" Bisa-bisanya dia mau mindahin bajuku. Kan di sini ada barang-barang pribadiku.
Baju-baju Aril yang ada di dalam lemari tertata rapi. Lebih rapi dibandingkan dengan bajuku di rumah.
Selesai menata baju, aku langsung merebahkan diriku di kasur, tapi langsung ditahan oleh Aril.
"Mandi dulu sana," ujarnya, tangannya memegang lenganku agar kembali duduk.
"Males ah, capek." Aku kembali hendak merebahkan tubuh, tapi lagi-lagi dicegah oleh Aril.
"Jorok! Mandi sana! Aku nggak mau tidur sama orang yang belum mandi!"
"Emang siapa yang mau tidur sama kamu?" Kening Aril mengernyit mendengar ucapanku.
"Maksudnya?"
"Kamu tidur di sofa itu!" Telunjukku menunjuk sofa yang yang berada di dalam kamar.
"Enak aja, ini kan kamarku. Kamu yang harusnya tidur di sana." Aril bersedekap tangan. "Lagian kita kan udah pernah tidur di satu ranjang, kenapa pisah lagi?"
"Itu karena terpaksa. Di kamarku kan nggak ada sofanya, aku kasihan sama kamu kalau tidur di lantai."
Aril mengangkat satu alisnya. "Ya kalau gitu, kamu yang harus tidur di sana, karena ini kamarku."
"Nggak boleh gitu dong, kamu kan laki-laki, harus ngalah sama perempuan!"
"Tapi ini kamarku, jadi aku nggak harus ngalah. Sana, tidur di sofa!"
"Tapi …."
"Kalau nggak mau mandi, jangan harap tidur di kasur!"
Ck. Dasar! Harusnya kan laki-laki itu mengalah. Ini malah nggak mau kalah.
Aku bangkit dari ranjang dan pindah ke sofa yang berwarna abu-abu itu. Kurebahkan diriku di sofa dengan kepala berbantalkan bantal sofa.
Ceklek!
Tiba-tiba pintu dibuka dari luar.
__ADS_1
"Eh, maaf. Bunda lupa tidak mengetuk pintu. Seingat Bunda kalian masih ada di rumah Diyas. Niatnya Bunda mau ngambil senter." Bunda menatap Aril yang berbaring di ranjang, lalu beralih menatapku yang berbaring di sofa. "Tapi … kok kalian tidurnya pisah?"