PERKARA NAMA PENA

PERKARA NAMA PENA
Opet


__ADS_3

Gimana nih? Aku harus jawab apa? Duuuh, harusnya tadi nggak aku angkat. 


"Halo, Ril?" Lagi, suara lembut itu kembali terdengar, menuntut jawaban dari Aril.


Klik!


Langsung saja aku memutuskan sambungan telpon. Sedetik kemudian, ponsel kembali berdering, dari nomor yang sama. Ponsel kukembalikan ke tempat semula, mengabaikan deringan yang terdengar merdu.


Lamaa sekali ponsel itu berdering. Ngebet banget nih orang. Dari suaranya lembut banget, kayaknya cantik orangnya. 


Bisa-bisanya dia kepincut sama Aril. Belum tau aja dia sifat Aril yang sebenarnya. 


Ah, apa aku kerjain aja si Aril supaya dia gagal jadian sama nih perempuan ya? 


Segera kusambar ponsel Aril yang masih berdering. Kuusap tombol hijau di layar.


"Halo?" Aku menyapa selembut mungkin, layaknya kucing manis, padahal aslinya reog. 


Hahaha, pasti dia sekarang lagi bingung kenapa yang menjawab suara perempuan. 


Mamam tuh Ril! Aku yakin kalian nggak akan jadian!


"Maaf, ini siapa ya?" tanyanya.


"Saya yang harusnya nanya, kamu siapa? Saya pacarnya Aril!" Aku tertawa tanpa suara. Dia pasti sedang terkejut sekarang. 


"Pacar?" 


"Iya, saya pacarnya Aril," tegasku. "Kamu siapa? Kenapa nelpon pacar saya? Kamu selingkuhannya?!" cecarku.  


"Saya buk–"


"Jadi bener kamu selingkuhannya Aril?!"


"Bu-bukan, saya--"


"Kalau bukan, terus kenapa kamu nelponin pacar saya?!"


"Saya--"


"Tolong jangan hubungin Aril lagi. Aril itu udah punya pacar! Awas aja kalau kamu berani nelpon pacar saya lagi!"


Klik!


Sambungan telpon kututup sebelum dia menjawab. 


Hahaha! Mamam tuh Ril. Aku masih baik ya, nggak ngaku sebagai istri. 


Tak lupa kuhapus riwayat panggilan supaya Aril tidak curiga. 


Ternyata ponsel Aril nggak ada sandinya. Jarang-jarang orang punya ponsel nggak dikunci. 

__ADS_1


Timbul dalam benakku untuk menggeledah isi ponselnya. Apa aku nggak sopan karena sudah membuka ponsel orang tanpa seizinnya?


Nggak, dong! Kan ini ponsel suami sendiri, hehehe. Di saat seperti ini mengakui sebagai suami. 


Aku membuka aplikasi hijau dulu, siapa tahu ada chat mesra Aril dengan perempuan di sana. 


Kok berasa jadi kayak istri yang lagi cek isi ponsel suaminya ya? 


Tak ada yang spesial di sana. Apa dia sudah menghapus pesan-pesan yang seperti itu ya? Bisa jadi sih. 


Aku mengernyit saat menemukan kontak bernama Opet di sana. Nggak ada foto profilnya, kosong. 


Siapa nih, Opet? 


Karena penasaran, aku memencet tombol telpon. 


Triririring!


Lah, kok malah ponselku yang bunyi? 


K*mpret nih Aril! Jadi Opet itu aku? Kurang ajar dia. Emang aku sejelek Opet di Upin Ipin kah? Sampai-sampai nomorku disimpan dengan nama Opet.


Pantesan nggak ada foto profilnya, kan yang bisa liat foto profilku cuma nomor yang kusimpan saja. Sementara nomornya tidak kusimpan. 


Awas aja nanti kalau dia pulang!


***


Baju yang dipakainya sudah ganti, bukan lagi baju yang sama seperti tadi pagi.


Dia memakai celana training panjang warna hitam dan kaos oblong putih lengan pendek. Sepertinya sebelum ke sini, dia mampir dulu ke rumahnya. 


Aku mengernyit menatap tas yang baru saja diletakkannya di anjang. Kenapa dia membawa tas besar ke sini? Apa itu berisi bajunya? Jadi dia berniat tinggal di sini?!


"Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?" tanyanya ketika mendapatiku terus memperhatikannya.


Aish! Aku jadi kesal ketika teringat nomorku diberi nama Opet.


Tak kujawab pertanyaannya, sengaja kuputar Upin Ipin yang scene hantu durian runtuh, di mana ada Opet di sana. 


"Jiah, si bocil nonton Opet!" celetuk Aril yang hanya kulirik. 


"Emang kenapa kalau nonton 'Opet'?" Aku menekan kata Opet. 


"Ya, nggak papa sih." 


"Kenapa? Kamu mau bilang kalau Opet nonton Opet?" Kuputar badanku ke arah Aril yang berdiri tak jauh dariku. 


"Eh? Maksudnya?" Aril menatapku bingung.


"Emang aku sejelek itukah, sampai diberi nama Opet?" 

__ADS_1


"Ha? Maksud kamu ap–"


"Itu, di ponselmu, kenapa aku dikasih nama Opet?" 


"Kok kamu tahu?" Wajahnya terlihat sedikit terkejut.


"Taulah, tadi ak–"


M*mpus! Ini sama saja aku menggali lubang untuk diriku sendiri. Mengakui kalau aku tadi menggeledah isi ponselnya.


"Ooh, jadi tadi kamu buka ponselku?" Aril menatapku penuh selidik. 


"Aaa, eng …." Mendadak mulut ini tak bisa menjawab, otak tidak bisa diajak kerjasama untuk mencari alasan. 


"Kamu kira aku selingkuh?" Aril menaikkan satu alisnya. 


"Kamu mau selingkuh juga nggak ada hubungannya sama aku kali! Nggak peduli aku!" 


"Terus, ngapain cek ponselku segala?" selidiknya. 


"Eee … aku ... aku lagi mendalami peran istri yang diselingkuhi di dalam novelku!" Akhirnya nemu juga alasan, meski kedengarannya sedikit nggak masuk akal. "Ngecek isi ponsel suaminya dan menemukan chat mesra dengan perempuan lain!" 


Aril manggut-manggut, entah beneran percaya atau tidak. 


"Gimana? Nemu nggak?"


"Nemunya Opet," kesalku dengan suara lirih. 


"Kenapa kamu kesal aku kasih nama Opet? Kan cocok sama kamu, sama-sama pesek, mata panda!" 


Aku melotot saat dikatain pesek. 


"Karena Opet itu jelek!" sungutku. 


"Kata siapa?" 


"Banyak tuh yang bilang. Di meme sosial media!" 


"Bukannya Opet itu lucu ya, kayak anak panda." 


"Eh? Jadi aku lucu?" Demi apa, jadi Aril menganggapku lucu?


"Nggak sih, kamu jelek!" 


Aku melotot. "Dasar! Belum tau rasanya dipukul ya?!" Aku bangkit hendak memukulnya. 


Sayangnya karena terburu-buru, kakiku malah tersandung kursi yang sedang kududuki. Tanganku refleks meraih sesuatu agar tak jatuh, tapi sayangnya tetap jatuh. 


"Aduuh …," aku mengaduh sakit saat tubuh ini jatuh ke lantai. 


Sejurus kemudian, aku mematung menatap sesuatu yang kuraih tadi. Aku jatuh tepat di kaki Aril yang sedang berdiri, tanganku memegang kain berwarna hitam. Lebih tepatnya celana. 

__ADS_1


Mataku membulat menatap tangan yang memegang celana. Iya, celana Aril! Aku tidak sengaja melorotkan celana Ariill!


__ADS_2