PERKARA NAMA PENA

PERKARA NAMA PENA
Tingkah Aneh Aril


__ADS_3

"Dia …."


"Perkenalkan, saya Bayu, Bu. Temannya Diyas." Mas Bayu turun dari sepeda motornya, menghampiri ibu yang berjalan ke teras, kemudian mencium punggung tangan ibu dengan takzim.


Ibu mengernyit, menatap Mas Bayu dari atas ke bawah. 


"Seingatku, Diyas tidak punya teman seperti kamu," ujar ibu. 


"Dia ini penulis, Bu. Teman Diyas nulis." Aku yang menyahut. 


"Oala … jadi kamu juga nulis cerita kayak Diyas. Apa judul ceritamu? Nanti tak baca. Semenjak baca cerita Diyas, Ibu jadi suka baca-baca cerita. Lebih seru ketimbang gosip ternyata." 


Jiah, ibu. Baru kenal udah nyerocos bae. Apa sikapku yang mudah akrab dengan orang baru menurun darinya?


"Ya mbok disuruh masuk dulu, Bu. Masa ngobrol sambil berdiri di luar gini," celetukku. 


"Oh iya. Ayo masuk dulu." 


"Nama pena kamu apa?" tanya ibu saat Mas Bayu baru saja duduk. Setelah Mas Bayu menyebutkan nama penanya, ibu langsung masuk ke dalam tanpa pamit.


"Mau minum apa, Mas?"


"Kalau aku jawab mau minum jus strawberry, ada nggak?" 


Aku tergelak. "Nggak ada buah-buahan, adanya wortel. Kalau jus wortel mau nggak?"


Kini Mas Bayu yang tergelak. "Yang ada aja, Yas. Kopi juga nggak papa. Buat amunisi biar kuat begadang nanti malam." 


"Oke." Aku menyatukan ibu jari dengan jari telunjuk membentuk huruf O. 


"Yas." Tegur ibu yang tiba-tiba muncul di belakangku ketika sedang menunggu air mendidih di dapur. 


"Ternyata dia lebih terkenal daripada kamu ya," ucap ibu, pandangannya mengarah pada ponsel yang berada di tangannya. "Ibu barusan cek nama penanya aplikasi. Karyanya ada banyak." 


Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah ibu. Ternyata dia buru-buru masuk tadi karena mau mengecek karya Mas Bayu. 


***


"Heegh! Bener-bener nggak tau malu! Dia yang pelakor, dia yang ngelabrak istri sah!" geram ibu. 


Aku hanya nyengir ke Mas Bayu. Padahal Mas Bayu ke sini karena ingin meminta pendapatku tentang cerita baru yang ditulisnya. Namun, kenapa ibu jadi ikut-ikutan baca juga? 

__ADS_1


"Kelanjutannya ada di aplikasi apa? Judulnya apa? Geretan! Pingin baca lanjutannya!" geram ibu.


Mas Bayu tertawa kecil melihat ibu yang ikut geram karena membaca cerita yang ditulisnya.


"Ini belum ada di aplikasi, Bu," jawab Mas Bayu.


"Cepetan ditaruh di aplikasi. Nggak sabar rasanya pingin baca," ujar ibu. Mas Bayu hanya tersenyum dan mengangguk melihat antusiasme ibu akan cerita yang ditulisnya. 


Setelah satu jam berbincang-bincang, akhirnya Mas Bayu pamit.


"Yas, kamu kan sekarang sudah menikah. Jadi, jangan terlalu dekat dengan laki-laki lain." Aku mengernyit mendengar apa yang diucapkan ibu barusan saat Mas Bayu sudah pergi.


"Ibu hanya menasehati, tapi ibu percaya sama kamu. Ibu juga percaya Bayu adalah laki-laki yang baik." 


Kurang lebih, aku menangkap apa yang dimaksud ibu.


"Iya, Bu," jawabku dengan menganggukkan kepala. 


***


Sore harinya, Aril pulang terlambat. Hingga magrib, dia masih belum pulang. 


Larut dalam bacaan istri tersakiti. Tak terasa, air mataku juga ikut luruh, sampai sesenggukan. Sebagai sesama perempuan, sesak di dada dalam tokoh fiksi terasa menyalur ke dada ini. 


Padahal tadi, niatnya baca cerbung bertema rumah tangga untuk referensi tulisanku sendiri. Bukannya terinspirasi, ini malah baper sampai mewek.


Cklek.


Aku yang sedang rebahan di sofa sambil membaca cerbung dari ponsel mendadak terdiam begitu mendengar suara pintu kamar yang terbuka. Posisi pintu kamar berada lurus di atas kepalaku.


Gawat. Itu pasti Aril. Kenapa dia datang pas lagi nangis bombay gini. Malu rasanya kalau sampai ketahuan menangis, pasti bakalan diejekin. Sangat terlambat untuk menyeka air mata berserta ingus, karena kudengar langkah kakinya sudah berada di atas kepalaku. 


Tidak ada pilihan lain. Akhirnya aku merem, pura-pura tidur. Sementara ponselku keadaannya masih menyala berada di tangan. 


"Yas?" Terdengar suaranya yang memanggil. "Loh? Tidur ternyata." Kudengar pergerakannya yang berada di depanku. Aroma khas parfumnya tercium sangat dekat. 


"Nangis? Mimpi apa dia sampai nangis gini?" 


Aku terkejut saat merasakan tangannya menyentuh pipiku, hampir saja aku refleks menangkis tangan itu. Dia mengusap dengan lembut sisa air mata di sana. Hingga beberapa saat, tangannya masih berada di pipiku.


Apa yang dia lakukan, sih? Kenapa tangannya masih nempel di pipi? 

__ADS_1


Terdengar hembusan napasnya yang pelan. Sementara tangannya masih setia berada di pipi ini. Napasku tercekat saat merasakan hembusan napasnya semakin terasa dekat, menerpa wajahku.


Dia mau apaaa? Kenapa rasanya dekat sekali? Jangan-jangan dia akan …. Nggak, nggak mungkin! 


Hembusan napasnya terasa semakin dekat saja. Tanpa sadar aku sampai menahan napas. 


Aaaaa. Ingin rasanya aku berteriak dan membuka mata saat itu juga. Namun, bila yang kupikirkan tak benar, bukankah aku yang akan malu sendiri? 


Tring! 


Aril langsung menyingkirkan tangannya begitu terdengar suara notifikasi dari messenger di ponselku. 


Kurasakan ponsel yang berada di tanganku diambilnya. Entah apa yang diperbuat Aril dengan ponselku. Apa dia membaca pesan yang baru saja masuk itu?


"Ck." Terdengar Aril berdecak. "Ngapain tanya-tanya makan segala. Ngasih beras aja nggak," ujarnya kesal. 


Siapa? Pesan dari siapa yang dibacanya sampai membuatnya kesal seperti itu.


Setelah itu, terdengar suara kakinya yang berjalan menjauh dariku. Sedikit kubuka mata ini untuk mengintipnya. Terlihat Aril mencharger ponselku. Setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi.


Haaah. Akhirnya aku bisa bernapas lega. Sedikit kuregangkan tubuhku tadi terasa tegang. Aku bangkit untuk melihat ponselku.


Saat kuperiksa aplikasi Messenger, tak ada riwayat pesan yang baru masuk. Aneh, padahal jelas-jelas tadi aku mendengar notifikasi pesan masuk.


Buru-buru aku berlari ke sofa dan merebahkan tubuh lagi saat melihat gagang pintu kamar mandi bergerak. Kembali aku pura-pura tidur. 


"Apa-apaan dia, nanya udah makan atau belum," gerutunya dengan suara lirih. "Emangnya mau ngasih beras, kalau jawab belum makan? Atau mau beliin nasi goreng? Hish. Kenapa aku jadi kesal gini?" 


Kubuka mataku sedikit untuk mengintipnya. Aril sedang duduk dengan menempelkan punggungnya di sandaran ranjang. Tangannya sibuk dengan ponselnya.


Tiba-tiba saja matanya melirikku. Segera aku menutup mata lagi. 


Gleg. 


Apa dia barusan melihat kalau aku sedang membuka mata? 


"Ada apa denganku? Kenapa rasanya aku kesal sekali hanya gara-gara itu?" Kembali Aril menggerutu.


Sebenarnya dia kenapa, sih? Dari tadi ngomel-ngomel terus. Nggak biasanya dia ngomel-ngomel kayak gini. 


"Ini lagi! Apa maksud cerita yang baru saja dipostingnya? Mencintai milik orang? Nggak bener ini! Entah kenapa aku merasa ini seperti menceritakan dirinya sendiri. Apalagi tokoh perempuannya, ini kan jelas-jelas mirip …."

__ADS_1


__ADS_2