PERKARA NAMA PENA

PERKARA NAMA PENA
Telepon Dari Seorang Wanita


__ADS_3

Kriiiiiing!


Terdengar suara yang begitu nyaring terasa dekat di telinga, memaksaku untuk membuka mata. 


Astaga, ternyata tadi itu cuma mimpi! Kayaknya tadi malam aku lupa baca doa sebelum tidur. Makanya mimpi buruk. 


"Akhirnya bangun juga." 


Aku langsung menoleh begitu mendengar suara laki-laki. Terlihat Aril menjauhkan ponselnya dari telingaku. 


Apa-apaan itu?! Ternyata suara nyaring tadi berasal dari ponsel Aril yang didekatkan di telingaku. Apa tidak ada cara lain untuk membangunkan orang?! Kan bisa pakek ditepuk-tepuk aja. 


"Perempuan itu harusnya bangun pagi-pagi," ujarnya lalu keluar dari kamar. 


Rupanya aku bangun kesiangan. Sinar matahari menyusup melalui jendela kamar yang gordennya terbuka.


Dengan susah payah aku mencoba untuk duduk dulu. Badan rasanya kaku semua, efek jatuh kemarin. 


Ini si Aril nggak peka atau memang nggak peduli sih? Orang habis jatuh pasti jadi susah buat jalan. Bukannya bantuin malah pergi gitu aja. 


Dasar, tidak berperikemanusiaan!


Ah, lagi pula apa yang bisa aku harapkan darinya.


Aku berjalan pelan keluar kamar dengan pegangan pada dinding. Bau harum masakan menguar begitu aku membuka pintu kamar. 


"Eh, udah bangun, Yas? Mau ke kamar mandi? Sini aku bantu." 


Jiah, pinter akting banget nih orang. Mentang-mentang ada bapak yang sedang melihat, Aril pura-pura memapahku. 


Ingin kutonjok saja rasanya nih orang. Pakek acara nanya udah bangun segala lagi. Dia amnesia atau gimana? Emang siapa yang nyetel alarm di dekat telinga tadi?


"Nggak kau gendong saja aku sekalian?!" bisikku geram ketika melewati ruang TV.


Setelah keluar dari kamar, itu langsung mengarah ke ruang TV yang juga merangkap sebagai ruang tengah. Tempat kumpul-kumpul ketika malam tiba, tapi bukan berarti kalau siang nggak boleh kumpul di sana ya. 


"Meskipun badanmu kecil, tapi berat." 


Aku langsung menatap tajam Aril. "Pagi-pagi udah cari ribut! Katanya kemarin harus damai dan kerja sama?!"


"Tapi kamu memang berat kok. Badan aja kecil, kayaknya yang berat dosanya deh." 


"K*mpret kamu Ril! Heegh!" Kucubit pinggang Aril dengan kuat. 


"Sakit, Yas!" Demi menghindari cubitanku, Aril menjauh dan melepaskan lenganku yang sedang dipapahnya. Alhasil membuatku jatuh karena tadinya aku berpegangan padanya. 


"Kamu niat nggak sih bantuin orang jalan?!" geramku dengan suara tertahan agar tidak terdengar oleh anggota keluarga yang lain. 


"Ya makanya jangan nyu … Yas, kamu nggak papa?" Tiba-tiba Aril membantuku berdiri. 


Loh? Kenapa dia jadi berubah?


"Kan aku udah bilang, jangan jalan sendiri, kamu ngeyel sih." 


Aril ngomong apa sih?

__ADS_1


"Ada apa?" Terdengar suara ibu dari arah belakangku. 


K*mpret nih si Aril! Rupanya gara-gara ada ibu!


"Ini Bu, Diyas jatuh gara-gara ngeyel pingin jalan sendiri. Padahal kakinya pasti sakit gara-gara jatuh kemarin," sahut Aril.


"Yas, kamu itu udah nikah, mbok ya ngeyelnya dikurangi dikit," ujar ibu. "Mandi sana. Ibu sudah masak air hangat buat kamu, habis jatuh pasti badan kaku dan pegel semua."


Akhirnya aku balik lagi ke kamar untuk mengambil handuk sama baju ganti, tentunya dengan dipapah oleh Aril, karena kami dipantau oleh radar ibu yang berada di dapur sedang memasak ayam ungkep. Heem, baunya sangat menggoda.


"Jangan lupa keramas ya. Rambut kamu bau kecut," ucap Aril ketika kami sampai di kamar mandi.


Apa? Bau kecut?


Aku yang hendak menutup pintu kamar mandi jadi urung setelah mendengar ucapan Aril. 


"Makasih sarannya ya, Mas Aril." Aku tersenyum lebar. "Sekalian bantu aku buat keramas!" Kuraih tangan Aril dan menariknya masuk ke kamar mandi, secepat kilat aku meraih gayung dan menyiramnya. 


Byur!


"Diyas–" Teriakan marah Aril tertahan mengingat ada ibu di dapur. 


Aku tersenyum puas melihat bajunya yang basah kuyup. Rasain tuh!


Aril mengusap wajahnya yang basah, lalu menatapku yang sedang tersenyum senang. 


"Oh, jadi ceritanya kamu mau ngajak aku mandi bareng nih?" ujarnya sambil menyeringai.


"Eh?" Seketika senyum di wajahku langsung menghilang. Tiba-tiba Aril mengangkat kaos hitamnya. "Loh loh loh, heh, jangan dibukaaa!" 


***


Sialan Aril! 


Kulirik Aril yang sedang menikmati ayam ungkep buatan ibuku. Lihatlah wajahnya yang seolah-olah tidak terjadi sesuatu. 


Kami memang tidak mandi bersama, tapi Aril sempat mengangkat bajunya sampai dada, membuat roti sobeknya terlihat. Mataku yang suci, ternodai sudah. 


Aku memang pernah melihat perut kotak-kotak, tapi cuma dalam anime saja. 


Bisa-bisanya dia yang buka baju, tapi aku yang malu.


Ini Aril yang nggak punya malu, atau aku yang katrok karena baru pertama kali lihat perut laki-laki secara langsung? 


"Aku tahu Mas Aril itu ganteng, tapi liatinnya jangan gitu juga kali Kak." 


"Uhuk uhuk!" Aku tersedak nasi mendengar ucapan Dika.


"Malu sama Bapak dan Ibu. Emang belum cukup semalam full liat wajah Mas Aril?" 


Kupelototi Dika agar berhenti bicara. "Siapa yang liatin Aril? Aku–"


"Aril? Kamu masih memanggilnya dengan nama langsung?" potong bapak. "Aku tahu kalian itu sudah berteman sejak kecil, tapi Aril itu sudah jadi suamimu sekarang. Jadi, nggak sopan manggil nama aja, pakek Mas." 


Aku manggil Aril, Mas? 

__ADS_1


"Iya, Pak." Aku mengangguk meski sebenarnya tidak setuju. 


***


Ada untungnya juga jatuh dari pohon. Aku jadi terbebas dari kegiatan cuci piring dan menyapu rumah. 


Jarang-jarang habis makan langsung balik ke kamar. 


"Yas, aku mau berangkat ke kafe dulu." Aril menjulurkan tangan kanannya padaku. 


Apa maksudnya ini? 


"Berangkat ya berangkat aja, Ril–"


"Ekhem!" Aril berdehem sembari mengedip-ngedipkan satu matanya. 


Kenapa lagi sih, dia? Kelilipan? 


Bibir Aril bergerak-gerak seperti mengucapakan sesuatu. Sulit bagiku membaca gerak bibirnya itu. 


"Apa?" kesalku. 


"Ada Bapak!" lirih Aril. 


Aku langsung melirik ambang pintu melalui sudut mata. Benar, ada bapak berdiri di sana. 


"Oh, mau berangkat Mas. Ya udah, hati-hati ya." Kusambut tangan Aril dan menciumnya. Setelah itu, aku pura-pura menoleh ke ambang pintu. "Eh, Bapak? Ada apa Pak?" 


"Biasakan manggil Mas."


Aku hanya mengangguk sambil nyengir. 


"Ril, Bapak mau nebeng ke warung. Sambil ngobrol-ngobrol di jalan." 


"Oh, boleh Pak. Ayo, ini aku juga mau berangkat Pak." Aril meraih kunci motor di meja. 


Aku bernapas lega ketika dua laki-laki tadi sudah pergi. 


Triririring! 


Sebuah ponsel warna hitam yang tergeletak di pinggir ranjang berdering. Sepertinya Aril lupa membawa ponselnya.


Panggilan masuk dari nomor tanpa nama. 


Aku angkat nggak ya? Nggak usah deh. Kuabaikan ponsel yang terus saja berdering.


Tapi kalau penting gimana? Ah, angkat ajalah.


Kugeser tombol yang berwarna hijau, lalu menempelkannya ke telinga. 


"Halo Ril?" 


Aku tertegun mendengar suara lembut perempuan. Kutatap layar ponsel yang berisi deretan angka tanpa nama itu. 


"Halo?" Perempuan di seberang sana kembali bersuara. 

__ADS_1


Apa dia adalah pacarnya Aril? Eh, bukankah Aril mengatakan masih gebetan? 


__ADS_2