
BRAK!
Pintu menghantam dinding dengan keras. Terlihat laki-laki dan perempuan sedang duduk berdua di kasur lantai.
"Eh?" Aku menatap mereka bingung.
Memang benar ada ada laki-laki di kamar ini, tapi laki-laki itu bukan Vino.
"Ada apa ini?!" Perempuan itu menatapku marah.
Masa iya aku salah kamar, atau Vino yang sudah pindah?
"Bukannya ini kamar Vino ya?" Puput yang bertanya.
"Vino siapa? Kami baru pindah ke sini tadi pagi! Lain kali jangan main buka pintu sembarangan dong!" sahut perempuan itu dengan raut wajah kesal.
"Ah, apa mungkin laki-laki yang baru pindah tadi pagi itu yang kalian cari?" celetuk si laki-laki.
"Apa dia memiliki lesung pipi?" tanya Puput.
"Iya."
Puput menghela napas lesu. Jadi si Vino sudah pindah lagi. Bener-bener ya tuh laki. Kenapa dia main kucing-kucingan terus?
***
__ADS_1
"Sabar ya, Put. Aku pasti bantuin kamu cari Vino sampai ketemu," ujarku ketika kami nongkrong di kafe Aril sepulang dari kosan tadi.
Entah kenapa jadi sering main ke sini semenjak menikah dengan Aril. Untung karyawannya belum tau kalau bos-nya sudah menikah denganku.
Kami duduk di meja paling pojok, agar pembicaraan ini tidak terdengar oleh orang lain.
"Makasih ya, Yas. Maaf, sudah bikin kamu jadi terseret masalah." Puput meraih tanganku yang ada di atas meja.
"Lebaran udah lewat, kenapa maaf-maafan sekarang?"
Puput tersenyum kecil mendengar kelakarku.
"Tapi, masalahnya sekarang adalah, orang tuaku ingin mengadakan resepsi pernikahan," lanjutku setelah sebelumnya menghela napas panjang.
"Ha? Terus gimana, dong?"
"Duuuh, aku benar-benar minta maaf ya, Yas." Puput menatapku dengan raut wajah bersalah.
"Dibilang lebaran udah lewat. Kenapa minta maaf lagi?" kelakarku.
Yang akan terjadi biarlah terjadi. Aku sudah pasrah dengan resepsi pernikahan itu. Percuma juga berusaha melawan arus, capek. Jadi, kita ikuti saja arusnya.
Entah sudah berapa jam kami berada di kafe milik Aril, tapi yang punya kafe tidak kunjung kelihatan batang hidungnya.
Loh, kenapa aku jadi nungguin Aril? Nggak, ini pasti gara-gara kelamaan ada di kafe Aril.
__ADS_1
Sebelum kembali memikirkan yang aneh-aneh, akhirnya aku mengajak Puput pulang.
Baru juga naik ke motor, sempat-sempatnya Puput mengecek wajahnya di kaca spion, mengecek bedaknya luntur atau tidak.
Aku iri padanya yang pandai memakai makeup. Sepertinya sepulang dari sini aku harus menonton tutorial makeup di YouTube.
"Kalau kamu ngaca terus, kapan kita pulangnya?" cibirku yang hanya dijawab dengan cengengesan oleh Puput.
Brak!
Sebuah sepeda motor menabrak kami dari belakang ketika Puput baru saja menghidupkan mesin, membuat kami jatuh tertimpa sepeda motor.
Aku dan Puput kompak mengaduh sakit.
"Put, kamu nggak papa?" tanyaku panik, begitu teringat dia sedang hamil. Takut terjadi sesuatu padanya.
"Aku nggak papa kok, Yas."
"Maaf, saya nggak sengaja." Seorang laki-laki mengulurkan tangannya padaku. Kusambut uluran tangan itu, laki-laki itu menarikku berdiri.
"Maaf ya, Mbak. Saya nggak sengaja." Sekali lagi, dia meminta maaf.
"Ada apa ini?" Tiba-tiba saja Aril muncul entah dari mana.
Tatapan mata Aril mengarah pada tanganku yang sedang bertautan dengan tangan laki-laki tadi, membuatku seketika langsung melepas tautan itu.
__ADS_1
Ada apa ini? Kenapa aku merasa seperti istri yang ketahuan pegangan tangan dengan laki-laki lain?