
Kutatap lekat kedua mata Aril.
Apa benar dia menyukaiku?
Sedetik kemudian tawanya meledak.
"GR banget, sih. Siapa yang suka sama kamu? Aku cuma mau ngambil nasi di pipi kamu. Makan kayak orang kelaparan. Tuh liat, ada anak-anak yang dari tadi liatin kamu terus!" Aril menunjuk meja di samping kami dengan dagunya.
Benar, ada seorang anak laki-laki yang terus memperhatikanku, setelah itu dia membisikkan sesuatu pada ibunya sambil sesekali melirikku.
Apa mereka sedang membicarakanku?
"Malu, diliatin orang. Kayak lama nggak makan aja."
Aku hanya memutar bola mata malas.
"Bodo amat. Ngapain malu, kita nggak maling," balasku.
***
Beberapa hari kemudian, hubunganku dan Aril semakin baik, kami sudah jarang berselisih seperti dulu.
__ADS_1
Ibu dan bapak sibuk mencari tanggal dan hari baik untuk resepsi pernikahan.
Beberapa hari ini juga aku sering menulis novel di kafe Aril. Entah kenapa kamar yang selama ini menjadi tempat ternyaman untuk menulis, sekarang menjadi buntu saat aku mencoba menulis di sana.
Mungkin aku cuma butuh suasana baru.
Sesekali ditemani Aril duduk bersama di satu meja. Dia sibuk mengecek pemasukan dan pengeluaran kafe, sementara aku sibuk merangkai kata di dalam otak.
Hari ini aku sendirian, tidak lagi ditemani suami dadakanku.
Kuregangkan punggung setelah beberapa lama memandang laptop. Satu bab novel sudah selesai. Setelah menyimpannya, aku meraih ponsel yang ada di samping laptop.
Mengambil foto laptop dan cangkir yang ada di depanku, lalu menguploadnya di Facebook dengan caption, WiFi gratis, minuman gratis.
[ Sepertinya kita berada di tempat yang sama. ] Begitu isi pesannya.
Tak perlu berpikir lama, aku langsung membalas pesan itu.
[ Masa sih? ] Pesanku langsung dibaca.
Tak berselang lama, dia langsung mengirimiku pesan berisi foto.
__ADS_1
Meja yang di fotonya memang benar adalah meja yang ada di kafe Aril. Di foto itu memperlihatkan meja dengan nomor tujuh.
Segera aku menoleh mencari meja nomor tujuh. Bertepatan dengan itu, seorang laki-laki juga sedang melihat ke arahku, laki-laki yang mejanya nomor tujuh, laki-laki yang menabrakku beberapa hari yang lalu, ternyata dia adalah Bayu Aji. Penulis novel yang aku kagumi sejak dulu.
Aku tak bisa menyembunyikan gurat bahagia saat bertemu orang yang aku kagumi.
Dia menghampiri mejaku. "Jadi kamu Andiyas?" tanyanya.
Aku mengangguk cepat. "Iya. Kakak, Bayu Aji?" Aku tidak bisa mengontrol bibirku untuk tidak tersenyum lebar karena di saking senangnya.
Siapa yang bakalan menyangka aku akan bertemu dengannya di sini. Selama ini aku tidak pernah tau wajahnya karena dia termasuk penulis yang menurutku misterius. Terkenal, tapi tidak pernah menunjukkan identitasnya.
Dia mengangguk, kemudian tertawa lirih. "Panggil Mas aja, kalau Kakak rasanya terlalu kaku." Laki-laki dengan rambut agak gondrong itu tersenyum padaku. "Boleh aku duduk di sini?" Aku segera mengangguk.
Mas Bayu duduk satu meja denganku setelah mengambil komputer dari mejanya.
"Ternyata dunia sesempit ini ya, nggak nyangka kita bisa bertemu di sini," ucapnya.
"Dan yang lebih mengejutkan lagi, kita sudah pernah bertemu," lanjutnya.
Meskipun ini adalah pertemuan pertama, tapi obrolan kami mengalir begitu saja. Apalagi kami satu frekuensi yang menyukai hal yang sama.
__ADS_1
Aku menceritakan bahwa aku sangat menyukai karya-karyanya dan mengaku menjadi penulis karena terinspirasi dengannya. Aku juga mengatakan bahwa sangat ingin menyapanya di sosial media, tapi tidak berani karena takut tidak mendapat tanggapan.
"Kamu sudah punya pacar?" tanyanya tiba-tiba.