
Huaaa!
"Diyas! Kamu sengaja ya?!" Aril segera menaikkan celananya.
"Ma-maaf! Aku nggak sengaja!" Aku bangkit, tak berani menatapnya, malu.
"Halah, palingan sengaja! Nggak usah sok ngeliat ke arah lain!"
"Beneran Ril, aku nggak sengaja! Sumpah, aku nggak liat dalaman cokelat kamu kok!"
"Kalau nggak liat kenapa tahu warnanya?!"
Duuh, keceplosan aku!
"A-aku mau ke kamar mandi dulu!" Menghindar adalah cara paling jitu.
***
Malam harinya kami nonton TV bersama, ada Tante Rani, ibunya Aril. Tumben-tumbenan dia ke sini.
Aku serius menatap layar TV yang lagi menayangkan sinetron istri tersakiti. Lumayan, buat bahan tulisan nanti. Ditemani kacang asin kesukaanku.
Yang nonton TV cuma aku, orang tua pada ngobrolin topik yang aku nggak tau dan nggak peduli. Aril sama Dika sibuk main game.
"Ril, Yas, Bapak mau ngomong sesuatu sama kalian."
"Ya, Pak, ngomong aja," jawabku sambil mengunyah kacang. Mata masih fokus menatap layar TV. Lagi seru-serunya, si istri sedang dilabrak pelakor. Kok kebalik ya.
"Kalau ada orang tua ngomong itu diliat!"
Aku langsung memutar tubuhku begitu ibu bersuara. Kulihat Aril juga sudah berhenti bermain game.
"Kami ingin mengadakan resepsi pernikahan kalian."
"Uhuk uhuk uhuk!" Kacang yang baru kutelan rasanya nyangkut di tenggorokan gara-gara mendengar ucapan bapak.
"Kenapa, Yas?" tanya Tante Rani.
"Ng-nggak papa kok Tan."
"Tante?"
"Eh, maksudku, Bunda." Duuh, aku masih belum terbiasa manggil bunda.
"Jadi, kami berencana untuk mengadakan resepsi pernikahan kalian," bapak menegaskan sekali lagi.
Tenggorokan mendadak kering, kutatap Aril yang juga sedang menatapku.
__ADS_1
"Pak–"
"Kamu nggak usah bingung tenda nikahannya. Kita nyewa ke Pak Sriani, pasti nanti dapat diskonan, kan kita tetangga."
"Tapi–"
"Dekor sama make up-nya, Ibu sudah bilang sama Haji Amat. Kalau nyewa di sana bajunya bisa ganti berkali-kali," sela ibu.
"Kateringnya kita pakek katering Widya aja. Masakannya enak-enak," tambah bunda.
"Iya, nasi gorengnya katering Widya itu enak banget!" Si Dika malah ikut-ikutan. "Aku pernah makan di acara sunatan adiknya temenku."
"Nggak usah diadain resepsi juga nggak papa kok, Pak." Akhirnya Aril bersuara.
"Mana boleh gitu. Pernikahan itu sekali seumur hidup. Jadi harus dirayain," sahut bunda.
Justru karena sekali seumur hidup, makanya tidak usah resepsi, karena aku dan Aril nanti akan berpisah!
"Bener kata Aril, Pak, Bu, sebaiknya nggak usah resepsi segala, buang-buang duit. Mending duitnya buat yang lain aja."
Acara resepsi itu nggak boleh terjadi!
"Apanya yang buang-buang duit?" Ibu menatapku tidak setuju. "Acara ini itu penting. Masa nikah nggak diadain acara. Apa kata tetangga nanti? Masa pemilik warung bakso iga, anaknya cuma nikah di KUA?"
Siapa yang peduli dengan apa kata tetangga? Toh kita nikah nggak pakek uang mereka. Meskipun nggak diadain acara pun, mereka nggak akan rugi.
Gimana ini Ril? Tatapan mataku padanya seolah mengatakan itu.
Pada akhirnya kami tidak bisa menolak keinginan orang tua yang ingin mengadakan pesta pernikahan. Keputusan mereka sudah tidak bisa diganggu gugat.
"Gimana ini Ril?" tanyaku saat kami sudah berada di dalam kamar. Posisiku sekarang sedang rebahan di ranjang, sementara Aril tiduran di lantai dengan alas selimutku.
"Apanya yang gimana?" Aril mengubah posisi tidurnya menghadapku.
"Kok apanya sih, Ril? Pesta pernikahan itu, aku tidak ingin itu terjadi!"
"Besok aja bahasnya ya. Sekarang aku capek banget, badan meriang, kepalaku pusing, aku mau tidur." Suara Aril memang terdengar agak berbeda, seperti sedang pilek.
"Kamu pilek, Ril?"
"Pakek nanya! Emang tidur di lantai itu nggak dingin apa? Mana nggak dikasih selimut lagi! Badanku meriang gara-gara tidur di lantai selama beberapa hari ini!"
Masa sih gara-gara tidur di lantai jadi meriang? Duh, aku jadi merasa bersalah.
"Mana aku besok harus ke kota buat kontrol kafe yang ada di sana lagi."
"Mau aku kerokin nggak?" Aku menepuk mulutku karena tiba-tiba menawarkan bantuan.
__ADS_1
"Emang kamu bisa ngerok?" tanya Aril.
"Emang apa yang aku nggak bisa?" Aku merasa diremehkan.
"Ya udah kalau kamu memaksa buat ngerokin." Aril bangkit dari tidurnya.
"Siapa yang maksa?"
"Ya udah deh, nggak usah kalau gitu." Aril kembali tidur.
"Eh, bukan gitu maksudku! Ayo, aku kerokin." Kulakukan ini karena merasa bersalah. Nggak ada salahnya sekali-kali berbuat baik.
Aku bangkit mengambil balsem dan koin.
"Jangan pakek balsem, panas. Pakek minyak kayu putih aja," ucap Aril.
"Enakan pakek balsem, lebih manjur!"
Aril tak membantah. Kemudian dia naik ke atas ranjang dan duduk bersila di depanku. Tangannya memegang ujung baju, lalu mengangkatnya.
"Loh, loh, heh, kenapa buka baju segala?!" Aku segera memalingkan wajah.
"Kan mau dikerokin." Aril yang sedang duduk memunggungiku menoleh.
"Ya nggak usah dibuka segala! Kan bisa diangkat aja, nggak usah sampai dibuka!"
"Ribet amat sih? Niat ngerokin nggak? Kalau nggak, aku mau tidur aja nih!"
"Ck! Iya-iya!
Cklek!
Tiba-tiba pintu kamar dibuka. Aku mendelik tak senang ke orang yang membukanya.
"Kebiasaan! Kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu!" Aku mengomeli Dika. Sementara yang aku omeli tampak mematung.
"Ada apa?!" ketusku.
"Emm, tadinya mau minjem cas-casan, tapi nggak jadi deh! Maaf udah ganggu!"
Blam!
Pintu ditutup agak keras oleh Dika.
Ha? Ganggu? Aku tidak mengerti maksud Dika.
Kutatap punggung Aril yang tidak mengenakan baju. Seketika mataku melotot.
__ADS_1
Astaga! Pasti Dika salah paham!