PERKARA NAMA PENA

PERKARA NAMA PENA
Kedatangan Mas Bayu


__ADS_3

Gimana ini? Aku harus jawab apa? 


Aku berusaha menghilangkan mimik panik dari wajahku demi mengusir kecurigaan di wajah bunda. 


"Eem … anu …." Kenapa mulutku hanya bisa mengeluarkan kata anu? Ayo Diyas, mikir! Pikirkan alasan yang masuk akal agar bunda tidak curiga. 


Kutatap Aril, tapi dia malah menggeleng. Tandanya dia tidak bisa menjawab bunda. 


Kenapa otak encernya itu tidak bisa bekerja di saat genting seperti ini? 


Aku menelan saliva untuk membasahi tenggorokan sebelum menjawab. 


"Ah, anu …." Kenapa yang keluar malah ana-anu terus?


"Itu … aku nggak boleh tidur di ranjang sama Aril karena belum mandi." Ucapanku mendapat pelototan mata dari Aril.


Apa? Aku benar kan? Aku memang tidak boleh tidur di sana karena belum mandi. 


"Aku mau mandi, tapi rebahan dulu sebentar karena masih capek, Bun," lanjutku. Alis bunda masih menyatu. Apa dia tidak percaya dengan alasanku? 


Satu detik, dua detik, tidak ada kata yang keluar dari bunda. Lagi-lagi aku menelan saliva.


"Ohh." Aku sedikit bernapas lega saat bunda mengucapkan itu. "Ya udah, setelah ini cepetan mandi ya, nggak bagus mandi malam-malam. Atau, kamu mau mandi air hangat? Biar Bunda masakin airnya. Kalau badan pegel-pegel, enaknya mandi air hangat."


Kepalaku langsung menggeleng. "Nggak usah, Bun. Nggak usah repot-repot, Diyas mandi air dingin aja." 


Setelah jawabanku barusan, akhirnya bunda keluar juga. Segera aku bangkit menuju daun pintu, lalu menguncinya. 


***


Sebelum subuh, aku terbangun dengan badan yang terasa pegal karena posisi tidurku yang terus meringkuk. Aku tidak bisa meluruskan kakiku karena tidur di sofa. 


Terdengar suara air di dalam kamar mandi. Kuregangkan tubuh dan menguap lebar. 


Tak berapa lama, Aril keluar dengan rambut basahnya. Semerbak bau sampo langsung menguar di dalam kamar. Masih ada beberapa tetes air yang jatuh dari pelipisnya. 


Handuk yang sebagian tersampir di pundaknya, sebagian lagi diusap-usapnnya ke kepala. 


Mataku tanpa sadar mengekorinya yang berjalan ke arah lemari. Segera aku membuang muka saat dia tiba-tiba menoleh ke arahku. 


"Malah bengong. Mandi sana. Habis itu kita sholat bareng sama Bunda." 


Aku langsung beranjak ke kamar mandi tanpa menjawabnya. Baru saja akan masuk ke kamar mandi, aku kembali menoleh ke Aril. 


"Ril, pinjam handuknya dong." 


"Nih." Aril melempar handuk basahnya kepadaku. Tanganku yang refleks segera menangkap handuk itu agar tidak mengenai wajahku. 


"Ck. Jangan handuk ini dong. Ini kan basah bekas kamu pakek," protesku.


Lagian rambutnya pendek, kenapa handuknya sebasah ini?


"Cerewet banget sih." Aril mengubek-ngubek lemarinya mencari handuk. 


Setelah mendapat handuk, aku gegas masuk ke dalam kamar mandi. Sisa harum sampo masih tercium. 

__ADS_1


Tok tok tok.


Suara pintu yang diketuk mengagetkanku. 


"Jangan lama-lama. Sudah ditunggu sama Bunda."


"Iya!" seruku. "Ish!"


Sholat kali ini rasanya berbeda dengan hari-hari biasa. Karena kami sholat berjamaah. Dengan hikmat aku mencium punggung tangan Aril setelah sebelumnya mencium punggung tangan bunda.


"Kamu pasti capek setelah acara resepsi kemarin. Kalau masih ngantuk, tidur lagi aja nggak papa. Nggak usah mikirin masak, biar bunda aja." 


Wah, ibu mertuaku benar-benar berbeda dengan mertua-mertua di dalam novel dan di sinetron. 


Tunggu-tunggu. Apa jangan-jangan ini hanya sebuah tes? Bunda berpura-pura menyuruhku untuk tidur lagi, semata-mata ingin mengetes tingkat kerajinanku. Bisa jadi sih. 


Aku tersenyum simpul. Maaf bunda, aku tidak akan masuk ke dalam jebakanmu.


"Ah, nggak capek kok, Bun." Bohong ini. Aku capek, apa lagi semalaman tidur dengan posisi meringkuk. Aku mengikutinya yang berjalan ke dapur. 


"Kamu nggak usah memaksakan diri, Yas. Bunda nggak papa masak sendiri, pasti capek seharian berdiri di pelaminan kemarin. Lagian, Bunda juga sudah biasa masak sendiri."


"Nggak kok, Bun. Aku nggak capek. Ini Bunda mau masak apa?" 


"Tumis kangkung." 


Kangkung lagi, kangkung lagi.


Saat semua masakan sudah matang, aku diminta untuk memanggil Aril agar sarapan. 


"Sarapan, Mas."


"Apa? Kamu barusan manggil aku apa?" Ekspresi wajahnya seperti akan tertawa gara-gara aku memanggilnya dengan sebutan mas.


"Ekhem!" Aku memberi kode bahwa ada ibunya di belakangku. Keningnya berkerut, tanda bahwa dia tidak mengerti apa yang aku maksud. 


Namun detik berikutnya, mulutnya membentuk huruf O, akhirnya dia paham. 


Bunda baru saja masuk setelah membeli sayur di Pak Tarno ketika aku menganggil Aril untuk sarapan. Makanya aku memanggil dia mas.


Duduk di meja makan, bukannya mengambil nasi, Aril malah nge-cosplay jadi batu. Diam tanpa suara sambil memandangi masakan yang ada di meja. 


"Makan. Kenapa diem aja?" Mulutku memang tersenyum, nada bicaraku memang terdengar halus, tapi aslinya aku sedang geregeten padanya.


"Ambilin." Tanpa suara, mulut Aril mengucap itu. Aku mengernyit menatapnya, setelah itu menarik napas dan menghembuskannya perlahan. 


Apa perlu sampai sandiwara mengambilkan nasi segala? 


Segera aku meraih centong nasi, mengambilkan nasi ke piring Aril. Tumis kangkung yang katanya adalah makanan kesukaannya kuambilkan agak banyak. Sayuran yang tidak aku suka. 


"Bahan-bahan roti gimana, Bun? Masih ada?" tanya Aril di sela-sela makan. 


Suasana meja makan di sini benar-benar berbeda dengan di rumah. Tidak ada teriakan menyuruh makan, tidak ada sinar laser yang biasanya memancar dari mata ibu, tidak ada berdebatan seperti yang sering terjadi antara aku dan Dika. Benar-benar suasana yang tentram. 


"Masih banyak, Ril," sahut bunda. "Sekarang orderan lagi sepi." Aril manggut-manggut. 

__ADS_1


"Lagian kan sekarang sudah ada Diyas. Jadi, nanti kalau bahan roti habis, Bunda bisa ngajak Diyas. Sekalian jalan-jalan sama menantu." Bunda tersenyum ke arahku, yang kubalas dengan melotot. Canda. Tentu saja aku tersenyum manis, semanis madu.


Setelah Aril berangkat ke kafe, aku menyapu dan mengepel rumah. Masih berperan menjadi menantu yang rajin. Bekas hajatan kemarin membuat lantai kotor. Bekas-bekas tumpahan air di teras aku pel sampai bersih.


"Eemm, kalau di rumah sendiri nggak dipel," seru ibu dari teras rumah. 


Jiah, ibu. Padahal aku setiap hari, dulu juga nyapu ngepel. Mendadak lupa aja Paduka Ratu.


"Getok aja kepalanya kalau dia malas, Ran!" ucap ibu ke Tante Rani yang sedang menyiram bunga.


Tante Rani, eh bunda deng. Kan sekarang aku sudah menjadi menantunya, jadi harus terbiasa memanggil bunda. Bunda tersenyum menanggapi ucapan ibu. 


"Lah wong dia rajin gini, kok. Kenapa harus digetok?" 


Tuh kan, bunda emang beda dengan ibu. Jadi wajar kalau aku sering ngereog, kan ibunya juga gitu. 


Habis ngepel, aku kembali berkutat di dalam kamar. Kembali melanjutkan aktivitas merangkai kata untuk menyenangkan para pembaca. Ahay. 


Tring!


Kuraih ponsel untuk melihat pesan yang masuk di messenger. Pesan dari Mas Bayu.


[ Aku ada di depan rumah kamu. ] 


Di depan rumah? Rumahku? 


Gegas aku keluar. Dan benar saja, seorang laki-laki berkulit putih dengan gaya rambut baru sedang duduk di atas sepedanya, tepat di depan rumahku. 


"Cieeee rambut baru," celetukku setelah menghampirinya. Laki-laki itu tersenyum, tangannya meraba rambut yang sekarang dipotong ala tentara itu. Sebenarnya perawakan Mas Bayu ini sangat cocok menjadi tentara.


Lesung pipi tercetak di pipi kirinya saat tersenyum. Berbeda dengan Vino, pacar Puput, yang mempunyai dua lesung pipi, Mas Bayu hanya punya satu. 


"Mas tahu dari mana rumahku?" 


"Tanya ke orang-orang di sekitar." Mas Bayu tersenyum. Dia melihat orang-orang yang sedang membongkar tenda nikahan kemarin. 


"Ada apa ke sini?" tanyaku.


"Jadi aku nggak boleh ke rumah kamu, nih?"


"Eh, nggak, bukan gitu maksudku. Maksudku, apakah ada sesuatu yang sangat penting sampai-sampai Mas datang ke sini?"


"Aku mau minta pendapat kamu tentang novel baru yang akan aku tulis." 


Aku mengernyit. Kan bisa tanya lewat ponsel. 


"Kalau tanya lewat ponsel, kurang enak," ujarnya seakan tahu isi kepalaku. "Pas ke kafe, kamu nggak ada di sana." 


Setelah acara kemarin, badan agak pegel-pegel, makanya aku nggak ke kafe. 


"Suami kamu galak," celetuk Mas Bayu.


"Ha?" 


"Pas aku tanya kamu, jawabannya ketus." 

__ADS_1


Aku tergelak mendengar jawaban Mas Bayu. 


"Yas, kamu lagi ngobrol sama siapa?" Aku menoleh mendengar seruan ibu. Di ambang pintu sana, ibu berdiri dengan menatapku tajam.


__ADS_2