PERKARA NAMA PENA

PERKARA NAMA PENA
Putus


__ADS_3

"Apa maksud kam–"


Cup!


Aku mematung dengan mata membeliak. Sebuah benda kenyal dan lembut menempel di pipi kananku. 


"Selama ini kami pacaran diam-diam," ungkap Aril.


Ini pertama kalinya aku dicium meski itu di pipi. Semua organ tubuhku syok. Mulai dari mulut, sampai telingaku saja mendadak tidak bisa menjalankan tugasnya. Bahkan, acara arisan sudah selesai pun aku tidak menyadarinya. Aku baru menyadari ketika aku sedang dibonceng seorang laki-laki.


Laki-laki? Bukankah seharusnya aku pulang bersama ibu? 


"ARIILL!" 


CIIIT! 


Motor Aril ngerem mendadak. 


"Kenapa tiba-tiba teriak?! Kagetin aja!" 


"Apa yang tadi kamu lakuin?!" Segera aku menggosok pipi kananku mengingat tadi ada yang menempel di sana. "Apa-apaan pengakuan tadi?!"


"Oh, udah sadar rupanya. Kamu kesenengan karena dicium sama orang yang kamu suka, makanya dari tadi sawan." 


"Aril! Nggak lucu ya! Udah aku bilang aku nggak suka sama kamu! Aku cuma minjem nama kamu! Apa-apaan pengakuan tadi itu?!"


"Aku cuma menyelamatkan diri."


"Ya tapi kenapa harus aku?!" Mana pakek nyium segala lagi. Pipiku ternodai sudah. Aku kembali menggosok pipiku. 


"Karena yang aku kenal di sana cuma kamu. Nggak usah digosok mulu tuh pipi, nggak akan keluar jin." Aril melihatku dari kaca spion. 


Ck, aish! 


"Pokoknya kamu harus tanggung jawab!" 


"Tanggung jawab apaan? Aku kan cuma nyium pipi?" 


"Bukan itu! Kamu punya tanggung jawab buat jelasin ke orang tua kita. Aku nggak mau disangka pacaran sama kamu!" 


"Dikira aku kesenengan ngakuin kamu sebagai pacar?" 


Aish, dasar! Ingin rasanya aku menjitaknya, sayangnya dia pakai helm. 


"Pokoknya kamu harus jelasin ke mereka!" 


"Hm." Aku berdecak kesal saat dia cuma berdehem. 


"Lagian kenapa aku bisa bareng nih orang, sih?" gumamku sambil meliriknya dari kaca spion ketika motor Aril kembali berjalan.


"Ibu kamu yang nyuruh. Kamu tadi waktu disuruh bareng aku diem aja, masih sawan," sahut Aril, sepertinya dia mendengar gumamanku. "Aku kan menantu idaman, jadi Ibu kamu seneng pas tau anaknya pacaran sama aku."


Dasar! Idaman apanya?

__ADS_1


***


Ketika sampai di rumah, aku melihat ibu yang sedang senyum-senyum sendiri sambil menatap ponsel. Sesekali kudengar ibu juga cekikikan. 


Nggak biasanya ibu gini. Biasanya ibu lebih suka bergosip dengan tetangga ketimbang main ponsel. 


Nggak mungkin kan kalau ibu ….


"Bu, kenapa sih senyum-senyum sendiri?" tanyaku sambil duduk di sampingnya dan berusaha untuk mengintip apa yang membuatnya cekikikan nggak jelas. 


"Ternyata lebih seru baca novel ya, ketimbang gosip sama tetangga. Apalagi baca novel anak sendiri." 


"Hah!? Apa!?" 


"Jadi kamu duluan yang suka sama Aril?" 


Jder! 


"Ibu baca novelku? Dari mana Ibu tau itu novelku?" 


"Dari nama pena kamulah." 


"Dari mana Ibu tau nama pena aku?" 


"Dari Andika." 


Aku langsung menoleh ke Andika yang dari tadi anteng bermain game. 


"Biasa aja kali nanyanya. Matanya nggak usah melotot gitu. Nanti nggelinding keluar, nggak bisa lagi liat matanya Mas Aril yang menawan." 


Heghh! Dika menyebutkan ciri-ciri karakter Aril di novel yang aku tulis. 


"Gimana aku nggak tau, orang teman-teman kelasku yang cewek pada ngomongin nama Kakak. Mereka heboh bahas author yang namanya Andiyas."


"Nama Andiyas kan bukan cuma satu orang. Bisa jadi itu–" 


"Udahlah Kak. Kakak nggak bisa ngelak lagi, semua karakter di novel itu sama persis kayak di dunia nyata. Apa lagi karakter Ibu yang cerewet itu, sifatnya mirip Ibu banget!"


Dika langsung menutup mulutnya begitu teringat sesuatu. Kami sama-sama menoleh ke ibu. Bisa gawat kalau ibu sampai mendengar dirinya dibilang cerewet.


Namun rupanya ibu tak mendengar, ibu sibuk membaca novel anaknya ini. 


"Segitu sukanya kamu sama Aril?" tanya ibu tiba-tiba. "Udah berapa lama kalian pacaran? Gimana kalau kalian menikah secepatnya aja? Ibu setuju banget."


Apa!? Nggak nggak nggak, aku nggak mau! Kenapa jadi gini? Ini semua gara-gara nama pena! 


***


Bukannya kelar masalahku dengan Aril, malah sekarang keluarga kami sedang berkumpul dan makan bersama. Entah ide siapa ini yang membuat kami berkumpul. 


Keluarga Aril cuma Tante Rani dan Mbak Rita. Sementara ayahnya sudah meninggal satu tahun yang lalu. Beruntung Mbak Rita yang katanya mau menginap lama di sini tidak jadi. Kalau ada Mbak Rita, bisa tambah heboh suasana sekarang.


Kutendang kaki Aril yang memang duduk sampingku. 

__ADS_1


"Apa sih nendang-nendang?"


"Kenapa kita malah kumpul kayak gini?! Bukannya aku udah bilang sama kamu buat jelasin semuanya?!" Aku berbicara dengan suara berbisik. 


"Aku belum nemu waktu yang tepat buat jelasin. Aku lagi sibuk sama urusan kafe," jawab Aril dengan berbisik juga.


"Ril, ini bukan saatnya menunggu waktu yang tepat! Situasi kita ini tidak bisa menunggu waktu! Bisa berabe nanti!"


Aku nggak mau nikah sama Aril!


"Bisik-bisik cintanya nanti saja. Sekarang waktunya makan dulu," celetuk Tante Rani, membuat semua orang yang ada di meja makan langsung menatap kami. 


"Dasar Kakak! Kemarin-kemarin aja sikapnya kayak orang musuhan setiap ketemu, ternyata bucin!" Aku langsung melotot ke Dika agar dia tidak bicara yang tidak-tidak. 


"Nggak nyangka ya, kita bakal jadi besan." Ibu tersenyum ke Tante Rani. 


Besan apaan?! Itu tidak akan pernah terjadi! 


"Siapa yang bakal menyangka kalau mereka pacaran? Aku pikir selama ini mereka itu musuhan, apalagi sedari kecil udah saingan mulu."


"Malahan Kakak berlajar mati-matian itu supaya bisa bersanding terus dengan Mas Aril Pak." Lagi-lagi mulutnya Dika bicara sembarangan. 


Hiiigghh! 


"Dari mana kamu tau itu?" tanya Bapak. 


"Dari novel Kakaklah. Malahan Kakak yang nembak Mas Aril duluan."


Aaargh! Nama pena sialan! Eh, itu kan namaku sendiri. Masa aku ngatain namaku sendiri sialan. 


"Dik, itu tuh cuma novel–"


"Gimana kalau kita nikahkan mereka secepatnya aja?" 


Duar!


Paduka Ratu membuat usulan yang sangat buruk. Dan parahnya, tidak ada yang keberatan dengan usulan itu. Bahkan Aril Noah palsu tidak ada niatan untuk menjelaskan. Dia malah diam saja seperti patung. 


"Kayaknya kita harus cari hari dan tanggal yang bagus sesuai weton mereka," timpal bapak. 


"Dekornya–"


"Nggak!" Aku berteriak, membuat semua mata memandang. "Aku sama Aril udah putus! Aril selingkuh!" Aril terkejut mendengar ucapanku. 


Ekspresi wajahnya terlihat tidak setuju karena kujadikan kambing hitam. Bodo amat, siapa suruh dari tadi cuma diam dan tidak membantu.


"Selingkuh?" Tante Rani menatap. anaknya.


"Aku–"


"Iya, Aril selingkuh," dengan cepat aku memotong ucapan Aril. "Aku tau itu tadi malam, dan langsung minta putus."


Otakku memang cemerlang. Dengan begini tidak akan ada besan-besanan, tidak akan ada mencari hari dan tanggal yang bagus, dan tidak akan ada dekor-dekoran. Selamat tinggal Aril.

__ADS_1


__ADS_2